Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~11
Kresss!
Mata pisau yang tajam itu tanpa sengaja menggores jari manis Salsa. Darah segar langsung merembes keluar dengan cepat.
"Aw! Sakit sekali, Mas..." rintih Salsa. Wajahnya seketika memucat, menahan perih yang menyengat.
"Astaghfirullahaladzim! Maaf, Mbak, maaf! Sebentar, saya ambilkan obat dulu!" Charis panik setengah mati. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari kencang menuju kantor santri putra yang berada tak jauh dari tempat itu.
Saat kembali dengan kotak P3K di tangannya, Ia kaget karena tidak menemukan Salsa di tempat semula. Dengan cemas yang semakin memburu, matanya mengedar ke sekeliling hingga menemukan gadis itu sedang berjongkok di dekat ujung keran air, mencoba membasuh lukanya yang terus mengalirkan darah segar.
Charis menghampirinya dengan langkah bergegas, lalu memintanya duduk kembali di bangku kayu. Beruntung, jarak mereka dengan kerumunan santri yang sedang kerja bakti cukup jauh, sehingga insiden berdarah itu tidak mengundang perhatian.
Dengan rasa bersalah yang terlihat, Charis memotong kain perban dan plester medis. Ia meletakkannya di atas meja agar Salsa bisa memasangnya sendiri. Sebagai seorang santri yang ketat menjaga syariat, Charis tetap menjaga jarak dan menolak keras untuk menyentuh kulit Salsa.
Setelah luka berhasil diperban dengan rapi, Salsa masih meringis. Ia meniup jarinya yang terasa berdenyut linu. Tak tega melihat gadis itu kesakitan, Charis secara spontan mengambil sebuah sampul buku tebal yang tergeletak bersih di dekatnya. Ia lalu mengibas-ngibaskannya dengan ritme lembut ke arah tangan Salsa, mencoba memberi angin sejuk untuk mengurangi rasa perih.
Sambil terus mengibas, Charis menundukkan pandangannya. Namun, dalam tunduknya, fokus Charis justru terkunci pada jemari Salsa yang terbalut kain kasa putih, perban yang ia potong sendiri dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
Jarak mereka yang hanya terpaut satu ubin semen itu mendadak terasa begitu sempit dan mencekam. Angin siang yang berembus hangat seolah berhenti berputar, menyisakan kesunyian asing yang mengikat mereka berdua. Untuk pertama kalinya dalam hidup Charis, benteng pertahanannya yang kokoh dan dingin terasa runtuh perlahan. Ada debaran halus yang asing sekaligus menakutkan, yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya saat mendengar rintihan lirih Salsa. Keberadaan gadis di depannya ini perlahan mengurangi seluruh fokusnya dari dunia sekitar.
Charis berdehem kecil, mencoba mengusir kekakuan yang mendadak mengunci lidahnya. "Maafkan saya, ya, Mbak. Gara-gara kecerobohan saya, kamu jadi terluka seperti ini." Suaranya yang biasa tegas dan berwibawa, kini terdengar agak serak dan sarat akan penyesalan yang mendalam.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa, ini hanya kecelakaan," sahut Salsa dengan senyum simpul yang dipaksakan di tengah rasa perihnya.
Salsa buru-buru menunduk. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. "Astaghfirullahaladzim, Salsa... ingat, Mas Charis itu calon suami Zia. Jaga hatimu!" batin Salsa menjerit, berusaha keras menepis pikiran keliru yang sempat melintas.
Namun, Salsa tidak tahu bahwa di balik wajah tenang dan sedingin es itu, pikiran Charis pun sedang berkecamuk hebat bagai dihantam badai. Sorot mata Salsa yang teduh namun menyiratkan rasa sakit tadi sempat mengunci pandangannya selama beberapa detik.
Charis, yang selama ini selalu berhasil menjaga jarak aman dengan santriwati, mendapati dirinya hanyut dalam momen sunyi yang berbahaya itu. Ia tertegun, menyadari ada getaran tak biasa yang ikut mengacaukan ritme detak jantungnya sendiri.’
"Astaghfirullah, apa ini...?’" Charis membatin. Cengkeramannya pada sampul buku mengencang hingga kukunya memutih. Kesadaran sebagai seorang guru dan komitmen besarnya langsung menampar logikanya. Ia segera beristighfar di dalam hati, memohon ampun atas rasa kagum dan debaran yang sangat tidak pada tempatnya itu.
Tepat di puncak momen yang mendebarkan sekaligus membingungkan bagi kedua hati tersebut, Sinta datang membawa nampan berisi deretan gelas kaca. Kehadirannya seketika memecahkan mantra sunyi yang sempat mengikat Charis dan Salsa.
Sinta langsung terpaku, menatap cemas ke arah tangan Salsa yang terbalut kain kasa."Astaghfirullahaladzim! Mbak Salsa kenapa?" tanya Sindi panik sambil buru-buru menaruh gelas yang dibawanya.
"Engak apa-apa, Sin. Cuma luka kecil aja," jawab Salsa mencoba menenangkan sahabatnya, meski suaranya sedikit bergetar karena salah tingkah yang luar biasa.
Charis menghela napas berat. Ia menatap Sinta dengan raut wajah yang kembali ditarik datar dan dingin, walau sisa kegelisahan di matanya tidak bisa berbohong. "Tadi Mbak Salsa tidak sengaja terkena pisau karena saya kurang hati-hati. Maafkan saya."
"Oalah... ya sudah kalau begitu, Mbak. Ayo kita kembali ke kamar saja agar bisa istirahat," ajak Sinta cemas sambil merangkul dan menuntun tubuh Salsa yang masih tampak lemas.
Salsa berpamitan dengan suara lirih tanpa berani menatap mata Charis lagi. "Permisi, Mas. Assalamu’alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Charis pelan.
Dengan perasaan bersalah yang bercampur aduk dengan debaran asing yang belum sepenuhnya reda, Charis berdiri mematung. Tatapannya yang dalam dan tak lagi sedingin biasanya terus tertuju pada punggung Salsa yang perlahan berjalan menjauh. Ia memandanginya dengan rasa yang sulit diartikan, sampai bayangan gadis itu benar-benar hilang di balik belokan koridor pesantren, meninggalkan Charis yang masih terpaku mengingat kelalaiannya.
***
Setelah selesai memenuhi panggilan Abah, Zia segera kembali ke dapur untuk membantu teman-temannya. Berkat kabar gembira yang baru diterimanya, Zia melangkah sambil tersenyum lebar layaknya orang yang baru saja memenangkan lomba "Assalamu'alaikum!" salam Zia penuh semangat membara begitu melewati pintu dapur.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang serentak, kompak dengan nada penasaran.
Ratna yang menyadari senyum sumringah Zia yang kelewat tidak biasa itu seketika mengernyitkan alis. Ia langsung bertanya dengan nada menyelidik yang kocak, "Mbak, itu wajah kenapa kayak ada aroma-aroma dapet mukjizat ya? Ada kabar apa nih? Minimal berbagi takjil lah kalau bahagia!"
"Iya, nih. Tumben banget datang-datang mukanya langsung cerah kayak abis pakai skincare sepuluh lapis, senyam-senyum terus!" Sindi menimpali, ikut penasaran.
Zia menghela napas sejenak, lalu duduk di sebelah mereka yang sedang manis menunggu masakan matang.
Di depan mereka, sudah tersaji satu teko besar es teh manis dan beberapa potong tempe mendoan hangat yang melambai-lambai minta dieksekusi.
Alih-alih langsung menjawab, Zia yang tahu dirinya sedang menjadi pusat perhatian malah sengaja mengulur waktu. Dengan santainya, ia menuangkan es teh, meminumnya perlahan, lalu menyambar satu mendoan besar dan melahapnya tanpa dosa.
"Ihhh, buruan cerita! Ditungguin juga, malah mukbang!" ketus Rara yang sudah gemas tingkat dewa.
"Iya maaf, maaf. Tanggung, ini mendoannya keburu dingin," sahut Zia sambil mengunyah cepat, menghabiskan sisa mendoan di tangannya sebelum kembali bercerita. "Coba tebak, kabar gembira apa ini?" tanya Zia penuh teka-teki, memancing emosi.
"Nggak tahu! Apa coba? Kamu baru dapet transferan gaib? Dapet hadiah umrah gratis? Atau dapet beasiswa jalur langit ke luar negeri? Yang mana?!" duga Sindi tanpa jeda.
"Ih, bukan itu! Coba tebak lagi," goda Zia lagi, sengaja memancing keributan kecil sambil tangannya kembali melahap satu mendoan lagi.
"Nggak tahu ah! Nggak usah bikin penonton naik darah deh, buruan cerita!" ketus Rara yang sudah kehilangan kesabaran, tangannya bahkan sudah siap merampas mendoan ketiga dari tangan Zia.
Zia terkekeh puas melihat kepo tingkat akut yang melanda sahabat-sahabatnya ini.
"Iya, jadi..." Ia sengaja memutus kalimatnya di tengah jalan demi efek dramatis ala sinetron.
"Jadi apa?!" seru Ratna dan yang lain makin tidak sabar.
Zia tertawa renyah melihat kehebohan sahabat-sahabatnya.
"Jadi... seleksinya dimundurin! Artinya, aku punya banyak waktu buat belajar!" jelas Zia penuh binar bahagia.
"Beneran, Mbak?!" tanya Rara memastikan dengan mata membelalak serius.
"Beneran dua rius!" tegas Zia.
"Alhamdulillah! Berarti pokoknya kamu harus bener-bener persiapkan mental kamu, jiwa kamu, tubuh kamu, pokoknya semuanya, oke? Kalau perlu, nanti kita masakin kamu makanan yang paling bergizi sedunia. Harus mengandung zat-zat ajaib supaya badan kamu sehat, pikiran kamu fokus, dan otak kamu makin cemerlang pas mikir!" cerocos Sindi tanpa jeda, sementara tangannya sibuk bergerak heboh.
"Iya, kali ini aku setuju 100 persen sama pendapat Sindi," Rara menimpali sambil mengangguk mantap.
"Aku juga ikut!" Ratna tak kalah bersemangat.
Eemm... makasih banyak ya, kalian. Terharu deh aku," ucap Zia berkaca-kaca.
Mereka pun akhirnya hanyut dalam pelukan yang hangat di tengah dapur yang mengepul. Rasa pertemanan mereka sangat terasa. Bagi mereka, hubungan ini bukan lagi sekadar sahabat biasa, melainkan sudah seperti rumah tempat saling pulang, bertukar cerita, mengapresiasi, dan saling mendukung tanpa syarat.
Namun, tepat setelah mereka melepas pelukan hangat itu, suasana mendadak berubah drastis. Tegangan di udara mendadak naik.
Sreeek... Pintu dapur terbuka.
"Assalamu'alaikum..."Sinta masuk ke dalam dapur, berjalan beriringan dengan Salsa. Detik itu juga, perhatian semua orang langsung tersedot pada pemandangan ganjil, tangan Salsa tampak terbalut perban putih yang cukup tebal akibat luka pisau saat bersama Charis tadi.
"Waalaikumsalam,"jawab mereka serentak.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca