NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014

Peringatan

Target dijemput Hartono lagi.

Pesan itu sampai ke Kevin Wijaya pukul satu lewat dua belas malam.

Ia belum tidur. Club Lumine masih berdenyut di bawah lampu biru dan ungu, tetapi ruang privatnya sudah kosong dari teman-teman yang tadi tertawa terlalu keras. Di layar ponselnya, foto mobil Reynard meninggalkan apartemen Natasha tampak kabur, diambil dari jarak jauh. Namun cukup jelas untuk membuat Kevin melihat satu hal.

Seraphina kembali masuk ke mobil pria itu.

"Jadi begitu," gumam Kevin.

Ia melempar ponsel ke sofa. Gelas yang retak sebelumnya sudah diganti, tetapi rasa panas di kepalanya belum hilang. Bagi Kevin, penolakan Seraphina seharusnya hanya masalah waktu. Perempuan seperti itu, keras di depan, tetap akan melunak kalau keluarga dan lingkaran sosial menekan cukup lama.

Masalahnya, Reynard Hartono berdiri di tengah jalan.

Keesokan paginya, Seraphina menemukan satu mobil sport merah berhenti di depan gedung Astoria.

Mobil itu terlalu mencolok untuk gedung komersial lama. Beberapa staf gedung menoleh. Dua orang karyawan Astoria berhenti di dekat pintu, wajah mereka tidak nyaman.

Kevin bersandar pada kap mobil, kacamata hitam di wajah, senyum malas seperti ia sedang menunggu seseorang di depan klub, bukan kantor.

Seraphina berhenti dua langkah dari pintu.

"Bu Sera," staf operasional berbisik di sampingnya, "kami sudah minta security menegur, tapi katanya beliau tamu Ibu."

"Dia bukan tamu saya."

Kevin melepas kacamata. "Pagi, Seraphina."

"Pak Kevin, ini area kerja. Kalau ada urusan profesional, buat janji lewat email kantor."

"Kaku sekali. Aku cuma ingin mengantar kopi."

Ia mengangkat dua cup kopi dari atap mobil. Logo kafe mahal terlihat jelas. Beberapa orang mulai memperhatikan dari lobi.

Seraphina tidak mengambilnya. "Saya tidak menerima minuman dari orang yang tidak saya percaya."

Kevin tertawa pendek. "Kau pikir aku akan meracunimu?"

"Saya tidak memberi ide gratis."

Senyumnya memudar.

"Kau makin sombong sejak dekat dengan Reynard."

"Saya sudah sombong sebelum mengenal dia. Hanya saja dulu Anda belum cukup memperhatikan."

Kevin melangkah maju.

Sebelum jaraknya terlalu dekat, dua pria berbatik dari keamanan gedung bergerak mendekat. Mereka bukan petugas yang biasa berjaga. Seraphina menyadarinya dari cara mereka berdiri, tenang, terlatih, dan tidak mudah diprovokasi.

Kevin juga menyadarinya.

"Oh," katanya pelan. "Ternyata benar. Hartono sudah memasang orang."

Seraphina menatap dua pria itu, lalu kembali ke Kevin. Ia tidak suka mengetahui dirinya diawasi. Namun pagi itu, ketidaksukaan itu kalah oleh fakta bahwa Kevin benar-benar datang.

"Pak Kevin," kata salah satu pria berbatik, sopan tetapi tegas. "Area drop-off tidak boleh dipakai parkir. Mohon pindahkan kendaraan."

Kevin menatapnya. "Kau tahu siapa aku?"

"Tahu, Pak. Karena itu kami bicara baik-baik."

Kalimat itu cukup halus, tetapi tajam.

Seraphina hampir ingin bertanya siapa yang melatih orang-orang Reynard berbicara seperti itu.

Kevin mengambil kopi dari atap mobil, lalu melempar salah satunya ke tempat sampah dekat pintu. "Sampaikan pada majikanmu, jangan terlalu percaya diri."

"Saya tidak punya majikan di sini," jawab Seraphina.

Kevin menatapnya. "Kita lihat nanti."

Ia masuk ke mobil dan pergi dengan suara mesin yang sengaja dibuat keras.

Di lantai atas, tim Astoria menunggu dengan wajah tegang. Seraphina tidak memberi ruang untuk gosip.

"Rapat lima menit lagi. Yang terlambat karena menonton drama parkiran akan kutambah tugas testing."

Semua orang langsung bergerak.

Namun begitu ia masuk ruang kerja, Seraphina menutup pintu dan mengirim pesan kepada Reynard.

Orangmu di gedungku?

Balasan datang kurang dari satu menit.

Jarak aman. Tidak masuk kantor. Tidak mengganggu pekerjaanmu.

Kau tidak menjawab pertanyaanku.

Aku menjawab hal yang akan membuatmu paling marah.

Seraphina menatap layar, kesal karena ia benar.

Aku tidak suka diawasi.

Aku tahu. Karena itu aku tidak memberitahumu.

Rey.

Maaf.

Kata itu berhenti di layar. Singkat. Tidak membela diri.

Seraphina menghela napas. Ia masih marah. Namun pagi tadi, ketika Kevin melangkah terlalu dekat, ia juga tahu apa yang mungkin terjadi jika tidak ada orang di sana.

Sebelum ia sempat membalas, pesan lain masuk.

Malam ini datang ke Teluk Mutiara. Aku memasak. Kau boleh memarahiku sambil makan.

Seraphina membaca kalimat itu, lalu tanpa sadar tersenyum tipis.

Di sisi lain Jakarta, Kevin tidak sempat kembali ke Club Lumine.

Mobil sport merahnya dihentikan di pintu masuk sebuah gedung parkir privat. Dua SUV hitam menutup jalan keluar. Bukan ramai, bukan kasar. Hanya cukup rapi untuk membuat sopir Kevin mengunci pintu otomatis.

Reynard berdiri di depan salah satu SUV, tanpa jas, lengan kemeja digulung, wajahnya tenang.

Kevin keluar dengan marah. "Apa maksudnya ini?"

"Peringatan."

"Kau pikir bisa mengancamku?"

"Aku tidak berpikir. Aku sedang melakukannya."

Kevin tertawa, tetapi suaranya kering. "Seraphina bukan milikmu."

Mata Reynard menggelap. "Dia bukan milik siapa pun."

"Lalu kenapa kau ikut campur?"

Reynard melangkah mendekat. Tidak cepat, tetapi Kevin tetap mundur setengah langkah sebelum sadar.

"Karena kau tidak mengerti kata tidak."

Kevin mengatupkan rahang. "Hati-hati, Hartono. Keluargaku bukan orang kecil."

"Bagus. Kalau begitu mereka akan punya cukup ruang untuk menanggung akibat perbuatanmu."

Beberapa detik, hanya suara mesin mobil yang terdengar.

Reynard berhenti tepat di depan Kevin. "Jangan datang ke kantor Seraphina. Jangan kirim orang. Jangan kirim bunga, pesan, atau hadiah. Kalau namamu muncul lagi di sekelilingnya tanpa izin, aku tidak akan bicara langsung padamu."

"Lalu?"

"Aku akan bicara dengan semua orang yang selama ini menutup matamu."

Wajah Kevin berubah.

Reynard tidak menunggu jawaban. Ia berbalik, masuk ke SUV, dan dua mobil hitam itu pergi seolah tidak pernah ada.

Kevin berdiri beberapa detik di tengah parkiran, wajahnya pucat karena marah. Ponselnya bergetar sebelum ia sempat masuk mobil.

Nama Herman Wijaya muncul di layar.

"Apa yang kau lakukan lagi?" suara ayahnya langsung terdengar begitu panggilan tersambung.

Kevin menggertakkan gigi. "Tidak ada."

"Jangan bodoh. Orang Hartono baru saja menghubungi salah satu stafku menanyakan jadwal pertemuan lama kita dengan Lim. Kalau kau membuat masalah yang menyentuh proyek keluarga, Papa tidak akan membersihkan semuanya untukmu."

Panggilan itu terputus.

Kevin menatap layar gelap ponselnya. Amarahnya tidak padam. Hanya berubah arah, menjadi sesuatu yang lebih hitam dan lebih sabar.

Malamnya, ketika Seraphina tiba di Teluk Mutiara, dapur sudah dipenuhi aroma bawang putih, jahe, dan kaldu. Reynard berdiri di depan kompor, mengaduk sesuatu dalam panci, Sejuta duduk patuh di dekat pintu dapur seperti penjaga yang menunggu komando.

Seraphina melepas tasnya di meja.

"Aku datang untuk memarahimu," katanya.

Reynard menoleh sekilas. "Aku sudah menyiapkan makan malam."

"Itu tidak membatalkan kemarahanku."

"Tidak. Tapi membuatmu punya tenaga untuk menyampaikannya."

Seraphina menatap punggungnya, rahang tegasnya, lengan kemeja yang digulung, dan entah kenapa semua kalimat marah yang sudah ia susun sejak sore menjadi berantakan.

Sejuta menguap pelan.

Seraphina melangkah ke dapur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!