NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001

Gadis dari Surabaya

Pintu gerbang hitam itu lebih tinggi dari semua keberanian Seline.

Taksi daring yang membawanya dari Stasiun Gambir berhenti tepat di depan pagar besi rumah tua di kawasan Menteng. Dari balik kaca mobil, Seline melihat halaman luas yang teduh, pohon-pohon besar, lampu taman yang belum menyala, dan bangunan putih bergaya kolonial yang berdiri jauh di dalam sana seperti tempat yang tidak akan pernah bisa disentuh orang biasa.

Di pangkuannya, ponsel murahnya bergetar lemah karena baterai tinggal enam persen. Pesan terakhir dari Tante Chen masih terbuka.

Kalau sudah sampai, bilang ke satpam. Tante sedang sibuk.

Hanya itu. Tidak ada nomor lain. Tidak ada instruksi lain. Bahkan tidak ada kalimat, Seline, Tante tunggu.

"Kak," bisik Darren dari sampingnya.

Anak laki-laki sebelas tahun itu memeluk ransel hitam yang sudah pudar warnanya. Matanya yang biasanya keras kepala kini bergerak cemas dari gerbang ke wajah Seline.

"Ini benar rumah Tante?"

Seline menelan ludah. Lehernya terasa kering setelah perjalanan panjang dari Surabaya, tapi ia tetap mengangguk.

"Benar. Alamatnya sama."

Sopir taksi melirik mereka lewat kaca spion. "Mbak, saya turun di sini ya? Kalau masuk ke dalam, biasanya harus lapor dulu."

Seline hampir mengoreksi panggilan itu. Ia bukan mbak dalam rumah ini, bukan siapa-siapa. Tapi di luar pagar tinggi itu, panggilan sederhana dari sopir taksi terasa lebih ramah daripada semua kemewahan yang sedang menatapnya diam-diam.

"Iya, Pak. Terima kasih."

Ia membayar ongkos dengan uang tunai yang sudah ia pisahkan di saku jaket. Setelah menghitung kembalian dua kali, ia baru berani keluar. Udara Jakarta sore itu lembap, bercampur bau aspal panas dan wangi tanah dari halaman besar di balik pagar. Seline menarik dua koper tua dari bagasi, satu biru kusam miliknya, satu cokelat kecil berisi pakaian Darren.

Begitu taksi pergi, suara jalan seakan menjauh.

Yang tersisa hanya mereka berdua, dua koper, dan sebuah gerbang yang membuat dada Seline terasa semakin sempit.

"Kakak yang bicara," kata Seline pelan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada Darren. "Kamu berdiri dekat Kakak. Jangan panik."

Darren mengangguk, tapi jemarinya mencengkeram ujung jaket Seline.

Seline melangkah ke pos satpam. Dua penjaga berseragam hitam berdiri di sana. Salah satunya, pria berusia sekitar empat puluhan dengan name tag bertuliskan Agus, menatap mereka dari kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti pada koper tua, lalu pada sandal Darren yang ujungnya mulai mengelupas.

"Mau ke mana?" tanya Pak Agus.

"Saya Seline. Ini adik saya, Darren. Kami diminta datang oleh Tante Chen. Beliau tinggal di sini."

"Tante Chen?" Satpam yang lebih muda menoleh ke dalam pos. "Maksudnya Nyonya Felicia?"

Seline ragu sesaat, lalu mengangguk. "Iya. Tante Felicia Chen."

Pak Agus tidak langsung membuka gerbang. Ia mengambil buku tamu, membalik beberapa halaman, lalu mengerutkan kening.

"Tidak ada nama tamu dari Surabaya hari ini."

Jari Seline yang memegang ponsel langsung dingin. "Mungkin Tante lupa memberi tahu. Saya punya pesannya."

Ia menunjukkan layar ponsel. Pak Agus membaca sekilas, wajahnya tetap datar.

"Ini cuma pesan. Saya harus konfirmasi ke dalam."

"Silakan, Pak."

Pak Agus masuk ke pos dan mengangkat telepon. Seline berdiri di bawah matahari yang mulai miring, mencoba menjaga punggungnya tetap tegak. Ia tahu seperti apa tampang mereka sekarang. Dua anak dari luar kota, turun dari taksi, membawa koper tua, mengaku punya hubungan dengan keluarga Hartono.

Di Surabaya, rumah kontrakan mereka sempit tapi tidak pernah membuatnya merasa sekecil ini.

Darren menggeser posisi. "Kak, kalau Tante nggak mau terima kita..."

"Jangan bicara begitu."

"Tapi kalau..."

Seline menoleh dan menatap adiknya. "Kita sudah sampai. Kita coba dulu."

Kalimat itu keluar tenang. Terlalu tenang sampai ia sendiri hampir percaya.

Di dalam genggaman kirinya, gantungan kecil di ritsleting koper menyentuh kulitnya. Di balik kain tipis saku dalam jaket, ada liontin giok tua yang selalu ia bawa sejak kecil. Benda itu dingin, seperti sisa rumah yang tidak pernah ia kenal. Ibu angkatnya pernah berkata dengan suara hampir habis, Kalau suatu hari tidak ada tempat untuk pulang, carilah keluargamu di Jakarta.

Jakarta ternyata dimulai dari gerbang yang tidak mau terbuka.

Pak Agus keluar lagi. "Nyonya Felicia belum bisa dihubungi."

Seline merasakan perutnya turun. "Boleh saya menunggu sebentar di sini, Pak?"

"Di luar saja. Aturan rumah tidak mengizinkan orang masuk sebelum ada konfirmasi."

"Tapi kami keluarga," Darren menyela, suaranya naik.

Seline cepat memegang lengannya. "Darren."

"Kakak capek, Pak. Kami dari pagi di kereta. Tante Chen yang suruh kami datang."

Pak Agus menatap Darren, kali ini agak tidak nyaman. Mungkin karena anak itu masih kecil, mungkin juga karena suara Darren terlalu mirip sesuatu yang tidak pantas didengar di depan rumah sebesar ini.

"Saya paham. Tapi saya cuma menjalankan aturan."

Aturan.

Kata itu jatuh seperti pagar kedua.

Seline menarik napas pelan. "Baik, Pak. Kami tunggu."

Mereka berdiri di sisi gerbang, tidak berani duduk di pinggir trotoar karena takut terlihat semakin menyedihkan. Koper biru Seline miring sedikit, roda kirinya rusak sejak di stasiun. Darren berkali-kali menatap gerbang, lalu menunduk, lalu menatap kakaknya lagi.

"Kak, haus."

Seline membuka ransel kecilnya. Botol minum mereka sudah kosong. Ia meremas botol itu sekali, lalu memasukkannya kembali.

"Tahan sebentar. Nanti kalau sudah masuk, Kakak ambilkan air."

"Kalau nggak masuk?"

Seline tidak menjawab.

Sebuah motor melintas, lalu mobil sedan putih, lalu suara kota kembali menyusut ketika jalan di depan rumah itu mendadak lengang. Dari kejauhan, terdengar deru mesin yang halus, berbeda dari kendaraan lain. Pak Agus yang tadi bersandar di pos langsung berdiri tegak.

Gerbang hitam itu bergerak.

Perlahan, tanpa suara keras, dua daun pagar terbuka ke dalam. Seline otomatis menarik koper agar tidak menghalangi jalan. Darren ikut mundur, bahunya menabrak lengan Seline.

Sebuah mobil hitam masuk dari ujung jalan. Bukan mobil yang sekadar mahal, tapi mobil yang membuat orang di sekitarnya tahu harus memberi ruang. Catnya mengilap, kaca jendelanya gelap, bannya berhenti tepat beberapa meter dari pos satpam.

Pak Agus membungkuk sedikit. "Selamat sore, Ko Kevin."

Nama itu membuat Seline mengangkat wajah.

Kaca jendela belakang turun setengah.

Pria di dalam mobil itu menoleh.

Ia masih muda, tapi ada ketenangan dingin di wajahnya yang membuatnya terlihat jauh dari usia orang biasa. Kemeja putihnya rapi tanpa satu kerut pun. Jam hitam di pergelangan tangannya tampak sederhana, justru karena tidak perlu berteriak mahal. Matanya gelap, datar, dan untuk satu detik yang terlalu panjang, mata itu berhenti pada Seline.

Tidak pada koper rusak.

Tidak pada Darren.

Pada Seline.

Seline tidak tahu harus menunduk atau menjelaskan. Ia hanya berdiri di sana dengan rambut sedikit berantakan karena perjalanan, jaket tipis yang mulai kusut, dan tangan yang masih memegang gagang koper seperti pegangan terakhir agar ia tidak jatuh.

"Ada apa?" suara pria itu rendah.

Pak Agus langsung menjawab, "Ada tamu mengaku keluarga Nyonya Felicia, Ko. Dari Surabaya. Belum ada konfirmasi dari dalam."

Pria itu tidak mengubah ekspresi. "Namanya?"

"Seline, Ko. Adiknya Darren."

Untuk pertama kalinya sejak kaca mobil turun, tatapan pria itu bergeser ke Darren. Darren menegang, tapi tetap berdiri di samping Seline.

Seline cepat berkata, "Maaf mengganggu. Tante Chen yang meminta kami datang. Kalau memang belum bisa masuk, kami bisa menunggu sampai beliau..."

Pria itu menatapnya lagi. Kalimat Seline mati sebelum selesai.

Bukan karena ia membentak. Bukan juga karena ia menunjukkan marah. Justru karena ia tidak menunjukkan apa pun. Tatapannya seperti pintu kaca yang tertutup dari dalam, bening, dingin, dan tidak memberi izin siapa pun untuk mengetuk terlalu lama.

"Biarkan mereka masuk ke ruang tunggu depan," katanya akhirnya.

Pak Agus tampak lega. "Baik, Ko."

Kaca jendela mulai naik.

Seline baru sadar ia belum mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Ko..."

Kaca sudah hampir tertutup ketika pria itu menoleh sekilas, seolah ucapan itu tidak penting. Mobil hitam itu bergerak masuk melewati gerbang, meninggalkan bau samar kulit mahal dan udara dingin dari AC yang sempat bocor keluar.

Darren berbisik, "Kak, itu siapa?"

Seline memandang punggung mobil itu sampai hilang di tikungan halaman.

"Ko Kevin," jawabnya pelan, mengulang nama yang tadi disebut satpam.

Gerbang rumah Hartono akhirnya terbuka untuk mereka, tapi Seline tidak merasa lebih lega. Di balik pagar itu, halaman luas terbentang seperti dunia lain. Pak Agus memanggil petugas lain untuk membantu koper, sementara Darren menarik napas seolah baru saja selamat dari sesuatu.

Seline melangkah melewati garis pagar.

Saat itulah ia menoleh sekali lagi ke arah jalan masuk tempat mobil hitam tadi menghilang.

Tatapan pria itu masih tertinggal di kulitnya, dingin dan ringan, seperti debu yang tidak bisa ditepis.

Tatapan itu bukan belas kasihan, bukan sambutan.

Tatapan itu seperti sedang melihat benda asing yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!