NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemeriksaan Organ Utama

"Kau dimana?" tanya Pax Willson langsung pada intinya begitu panggilan teleponnya tersambung.

​Pax sedang berdiri di tengah ruang kerja dokter yang kosong setelah menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Tujuannya datang ke Willson Hospital pagi ini sangat mendesak—menyelamatkan aset masa depannya dari efek tendangan maut pelayan bar kemarin malam. Sebagai pewaris dinasti Willson yang dituntut melahirkan banyak penerus, ia harus memastikan organ vitalnya tidak mengalami cacat fungsi.

​"Rumah sakit," sahut Ansel Rodriguez seadanya. Suara adik sepupunya itu terdengar terlampau tenang di seberang sana.

​"Aku tahu!" Pax memutar bola matanya jengah. "Aku di ruanganmu sekarang dan kau tidak ada di sini."

​"Aku sedang mengantre di depan model pria yang sedang naik daun. Pria yang menjadi rivalmu. Adikku menginginkan tanda tangannya," jelas Ansel datar.

​"Katakan pada adik kita, kakak sepupunya ini jauh lebih menawan daripada si hidung raksasa itu!"

​Pax Willson mendengus kencang, memutar bola matanya

"Kita tidak bisa memaksakan selera, Pax. Aku tutup teleponnya. Aku sedang mengantre tanda tangan Kevin demi adikku. Salahkan aku yang terlalu menyayanginya."

​Pax mengetatkan rahang. Kevin adalah rival abadinya di dunia modeling, pria bajingan yang juga menjebloskannya ke sel tahanan kemarin malam. "Kenapa si hidung besar itu ada di rumah sakit? Kuharap dia kecelakaan dan hidungnya patah."

​"Selamat, doamu baru saja dikabulkan," potong Ansel cepat. "Dia babak belur di ruang rawat. Datanglah kemari kalau kau mau menertawakannya." Sambungan terputus sepihak.

​Langkah kaki Pax bergema cepat membelah koridor VIP. Seringai kemenangannya langsung mengembang begitu mendorong pintu kamar nomor 404. Di atas ranjang, Kevin terbaring dengan kaki dan tangan terbungkus perban ketat.

​"Wah, betapa cepatnya roda karma berputar," Pax tergelak puas, melipat tangan di dada tanpa ada sedikit pun binar prihatin.

​Kevin mendongak dengan tatapan membunuh. "Bukan urusanmu, Willson!"

​Ansel yang sedang memeriksa botol infus Kevin menyahut tanpa mengalihkan pandangan. "Asistennya bilang dia ditemukan pingsan di tengah jalan. Skenario perampokan yang aneh, karena tidak ada satu pun barang berharganya yang hilang."

​"Kau akan kehilangan banyak pekerjaan musim ini, Rekan," Pax menyunggingkan senyum sinis. "Tenang saja, aku akan mengirimkan karangan bunga terbesar untuk merayakan kariermu yang mulai meredup."

​"Enyah kalian berdua ke neraka!" desis Kevin, wajahnya memerah menahan frustrasi.

​"Berdirilah di sampingnya, Pax. Pasang wajah penuh simpati palsumu," perintah Ansel tiba-tiba, sudah menggenggam ponselnya di udara. "Aku akan mengambil foto kalian dan meminta temanku di media mempostingnya. Anggap saja ini pengumuman resmi bahwa model kesayangan Annina sedang tidak berdaya."

​Pax tertawa lepas, langsung merapat ke sisi ranjang Kevin dan berpose menawan. Di bawah ancaman foto itu akan merusak citranya, Kevin terpaksa menahan diri dari kepungan amarah, memasang wajah sekaku mungkin di depan kamera.

​"Kita impas, Dude. Anggap saja ini bayaran untuk malamku di kantor polisi," Pax menepuk kasar bahu Kevin sebelum melangkah pergi.

​"Bajingan keparat! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" teriak Kevin dari balik pintu yang menutup.

Sementara kedua sepupu itu masih tertawa atas ulah mereka.

​"Kau harusnya menjadi sutradara, Ansel. Bakat menusukmu sangat alami," puji Pax sembari merangkul pundak sepupunya di sepanjang selasar menuju ruang kerja dokter muda itu.

​"Lupakan itu. Ada apa kau datang kemari?" Ansel mengantongi ponselnya setelah mengirim foto Kevin ke meja redaksi media rekanan mereka. "Pemeriksaan rutinmu baru dua hari yang lalu. Jangan katakan kau meniduri wanita acak lagi hingga butuh konsultasi darurat? Ingat ajaran Bibi, Pax. Berhentilah membuang bibitmu sembarangan."

​Ansel mendorong pintu ruang kerjanya, mempersilakan Pax masuk lalu menawarkan kopi yang langsung ditolak. "Bagaimana kabar Lux, apa ia masih berkabung?"

​"Tadi malam ia mabuk berat. Mungkin sebentar lagi ia akan menghubungimu," jawab Pax, langsung menghempaskan tubuh ke kursi. "Lupakan tentang Lux. Tolong periksa milikku. Aku mendapat serangan mematikan semalam. Aku khawatir aset masa depanku tidak berfungsi lagi."

​Ansel mengernyit, tangannya bergerak cepat di atas keyboard laptop. "Serangan?"

​"Lutut seorang wanita. Tepat di sasaran utama."

​Ansel tergelak rendah. Alih-alih mengambil stetoskop, jemarinya mengetik sebuah kata kunci, lalu memutar layar laptopnya tepat ke hadapan Pax.

​"What the f—" Netra Pax melebar sempurna. Layar itu menampilkan adegan dewasa yang sangat vulgar. Sebagai pria normal, fokusnya langsung terkunci tanpa berkedip.

​Tap.

​Belum sempat dua menit berlalu, Ansel menutup layar laptopnya dengan kasar.

​"Apa yang kau lakukan?!" protes Pax tidak terima.

​"Apakah milikmu bereaksi?" tanya Ansel dengan ekspresi sedatar dinding.

​"Tuntutan biologis, tentu saja tegak lurus!"

​"Artinya tidak ada kerusakan saraf. Konsultasi selesai," Ansel berdiri, menunjuk ke arah pintu keluar dengan pulpennya. "Kau boleh keluar sekarang. Jangan lupa bayar biaya administrasi di depan."

​Pax melongo, tidak percaya dengan metode medis gila di hadapannya. "Dokter macam apa kau ini? Aku akan melaporkanmu ke komite medik keluarga!"

​"Pasienku banyak, Pax. Silakan keluar," ulang Ansel acuh tak acuh, sepenuhnya tahu ancaman kekanakan sepupunya itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada ulah mereka sebagai pria dewasa.

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!