NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022

Ruang Ganti di Senopati

Yola akhirnya datang ke acara Celine karena satu alasan sederhana: ia tidak ingin keputusan hidupnya terus ditentukan oleh rasa takut.

Naomi menentang sejak awal.

"Ini jebakan," katanya di telepon malam sebelum acara. "Aku belum tahu jebakan model apa, tapi ini Celine. Dia nggak pernah kasih panggung gratis."

"Aku tahu."

"Terus kenapa tetap datang?"

Yola memandang kartu undangan putih di meja kamarnya. Dress code soft ivory, sesi networking, preview brand perempuan, buyer butik kecil, dan satu panel singkat tentang artisan product. Semua terdengar terlalu berguna untuk ditolak.

"Karena kalau aku menolak semua pintu yang dibuka orang tidak baik, aku mungkin tidak akan pernah keluar rumah."

Naomi diam beberapa detik.

"Bawa aku."

"Undangannya personal."

"Aku bisa datang tanpa undangan."

"Kamu Naomi Hartono. Kalau kamu datang tanpa undangan, acara Celine berubah jadi acara keluargamu."

Naomi mendengus. "Bagus dong."

Yola tersenyum kecil. "Aku bawa Sari. Rizal juga ikut dari jauh."

"Kabarin aku tiap setengah jam."

"Naomi."

"Tiap setengah jam, Kak Yola."

Maka sore itu, Yola tiba di hotel butik Senopati dengan Sari di sampingnya dan Rizal di mobil depan gedung. Ia mengenakan dress ivory sederhana dengan blazer tipis warna krem. Tidak ada perhiasan selain cincin Kevin dan anting mutiara kecil. Di tasnya ada tiga strip tester dengan aroma percobaan Pear Blossom, bukan untuk dipamerkan, hanya untuk berjaga-jaga jika ada percakapan yang benar-benar berguna.

Lobi hotel kecil itu dipenuhi perempuan berpakaian lembut, meja display aksesori, skincare lokal, kain tenun modern, dan bunga putih yang terlalu banyak. Musiknya pelan. Lampunya hangat. Semua tampak aman.

Justru itu yang membuat Yola lebih waspada.

Celine menyambutnya di dekat meja registrasi.

"Yola, kamu datang."

"Terima kasih atas undangannya."

Celine mencium udara dekat pipi Yola, gerakan sosialita yang tidak benar-benar menyentuh. "Aku senang kamu berani. Atelier Yola sudah mulai dibicarakan, lho."

Yola tahu itu tidak mungkin benar. Atelier bahkan belum punya papan nama.

"Masih sangat awal."

"Semua brand dimulai dari cerita." Celine menoleh kepada Sari. "Asisten boleh menunggu di lounge. Area preview hanya untuk undangan utama dan founder."

Sari langsung menegang. "Saya menemani Nona Yola."

"Tentu." Celine tersenyum manis. "Sampai batas area tamu. Ini aturan hotel dan sponsor, bukan aturanku."

Yola menatap meja registrasi. Ada beberapa asisten dan sopir perempuan memang diarahkan ke lounge samping. Aturan itu tampak nyata.

"Aku tidak lama," kata Yola kepada Sari.

Sari ragu. "Nona..."

"Tunggu di lounge. Kalau ada apa-apa, aku telepon."

Sari akhirnya mengangguk, tetapi wajahnya tetap khawatir.

Celine menggandeng udara di dekat siku Yola, tidak menyentuh. "Ayo. Aku kenalkan ke beberapa orang."

Selama satu jam pertama, acara itu benar-benar berguna.

Yola bertemu pemilik butik kecil dari Bandung, buyer parfum niche yang mencari produk lokal premium, dan seorang editor majalah gaya hidup. Celine memperkenalkan Yola dengan kalimat yang sempurna: "Ini Yola, founder baru Atelier Yola. Konsepnya personal fragrance dengan pendekatan memori dan botanical notes."

Tidak ada hinaan. Tidak ada sindiran.

Yola semakin sulit menebak di mana durinya.

Ia bahkan sempat mengeluarkan satu strip tester Pear Blossom ketika editor majalah bertanya tentang aroma pertama. Perempuan itu mencium kertas kecil tersebut, lalu mengangkat alis.

"Ini lembut, tapi tidak tua. Ada sedihnya sedikit, tapi bersih."

Yola tersenyum. "Saya masih memperbaiki formulanya."

"Jangan hilangkan sedihnya semua. Justru itu yang membuatnya hidup."

Kalimat itu tinggal di dada Yola.

Untuk beberapa saat, ia lupa bahwa Celine ada di ruangan yang sama.

Lalu seorang pria datang.

Ia memakai jas biru gelap, rambutnya disisir rapi, senyumnya terlalu percaya diri. Celine menyambutnya dengan hangat yang berbeda dari sikapnya kepada tamu perempuan.

"Marco, akhirnya datang."

Pria itu mencium punggung tangan Celine sekilas, lalu menatap Yola.

"Ini?"

"Yola," kata Celine. "Founder Atelier Yola. Kakak ipar Rayhan."

Kata terakhir itu sengaja diletakkan seperti pin kecil di kain halus.

Marco tersenyum. Matanya turun terlalu cepat ke tangan Yola, ke cincin Kevin, lalu kembali ke wajahnya.

"Oh. Yang itu."

Yola langsung tidak menyukainya.

Celine seolah tidak melihat. "Marco Wijaya. Keluarga Wijaya Logistics. Kamu mungkin kenal Daniel?"

"Saya kenal Pak Daniel," jawab Yola pendek.

Senyum Marco berubah tipis. "Tentu. Daniel memang suka membantu."

Nada itu membuat Yola ingin segera menjauh.

Sebelum ia bisa mencari alasan, seorang staf hotel datang membawa gantungan pakaian berisi beberapa dress ivory.

"Nona Celine, fitting untuk sesi foto mini sudah siap."

Celine menoleh kepada Yola. "Ah, iya. Kami ada sesi foto founder kecil-kecilan untuk dokumentasi media. Aku sudah siapkan satu outer yang cocok dengan konsep parfum kamu. Tidak wajib, tapi sayang kalau dilewatkan. Editor tadi juga ikut sesi itu."

Yola ragu. "Saya tidak diberi tahu soal sesi foto."

"Mendadak. Sponsor meminta. Kamu boleh menolak, tentu saja." Celine tersenyum. "Tapi exposure kecil seperti ini lumayan untuk brand yang baru mulai."

Sekali lagi, tawaran itu menyentuh titik yang sulit.

Yola melihat ke arah lounge. Sari tidak terlihat dari posisinya.

"Saya perlu memberi tahu asisten saya."

"Staf bisa panggilkan. Ruang ganti hanya di koridor sebelah, dua menit."

Marco mengangkat gelasnya. "Saya tunggu hasil fotonya. Pasti menarik."

Yola mengabaikannya.

Celine memberi isyarat kepada staf perempuan. "Antar Yola. Aku menyusul setelah bicara dengan sponsor."

Staf itu tersenyum sopan. "Silakan, Nona."

Yola mengikuti melewati koridor samping. Musik dari ruang acara perlahan mengecil. Koridor itu dilapisi karpet tebal, membuat langkah mereka hampir tidak terdengar.

"Ruang gantinya di sini," kata staf itu, membuka pintu putih.

Di dalam ada cermin besar, sofa kecil, gantungan pakaian, dan lampu yang terlalu terang. Aman. Bersih. Kosong.

Yola masuk setengah langkah.

"Saya tunggu di luar?" tanya staf.

"Tolong panggil Sari dulu."

"Baik, Nona."

Pintu tertutup pelan.

Yola meletakkan tasnya di sofa, lalu mengambil ponsel. Sinyalnya hanya satu bar.

Ia baru mengetik nama Sari ketika gagang pintu bergerak lagi.

Yola menoleh, mengira staf itu kembali.

Yang masuk adalah Marco Wijaya.

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!