Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Diketahui Mata-mata
Keesokan harinya, petang hari Kosim bilang kepada Bah Omod dan Ambu Usih akan ke rumah ibunya, Mak Tiah, karena khawatir sang ibu kenapa-kenapa setelah didatangi mertua perempuannya.
Meski Jojo telah mengabari bahwa Mak Tiah sehat-sehat saja, tetap saja hati Kosim tidak tenang. Rasa khawatir tetap saja ada, apalagi Mak Tiah di rumah hanya seorang diri.
Selain itu, Kosim pun sudah lama tidak menemui ibunya karena begitu dikekang oleh Amih Iah yang memperlakukannya sebagai pembantu bukan menantu.
"Ya silakan saja kalau begitu," ujar Bah Omod.
Memang semula Bah Omod bingung untuk mengizinkan Kosim dan Yani ke Mak Tiah. Diizinkan takut didakwa oleh Pak Haji Soleh yang seolah telah menitipkan kepada dirinya.
Di lain pihak, jika tidak diizinkan kasihan juga Kosim. Lagian Mak Tiah seorang diri tanpa suami dan kewajiban melindunginya tentu saja Kosim, anak satu-satunya walaupun Mak Tiah tak berharap banyak karena anaknya itu sudah berumah tangga, ada yang lebih berhak diperhatikan yaitu istrinya.
Oleh karena itu Mak Tiah siap berkorban demi sang anak. Apalagi diketahui bahwa nasib Kosim di rumah mertuanya mendapat perlakuan tak semestinya dari mertua perempuannya, dia berharap Kosim mampu mengubah perilaku buruk mertua perempuannya itu.
Di samping itu, Makk Tiah pun sangat menghormati keputusan Pak Haji Soleh yang tentu saja korban perasaan harus menikahkan putrinya nan cantik dengan seorang pemuda buruk rupa anak orang msikin.
"Ya, terima kasih kalau Abah mengizinkan. Sekarang juga kami akan ke sana, mungkin naik ojek saja," kata Kosim.
"Sebentar Den. Apakah Mak Tiah sudah tahu kalau Den Kosim dan Jeng Yani ada di sini?" tanya Bah Omod.
"Sudah Bah. Kosim sudah memberi tahu Jojo bahwa aku dan istri ada di rumah Abah dan Ambu biar Emak tidak khawatir kalau sudah mendengar kabar di mana-di mananya aku dan istri," balas Kosim.
"Iya bagus kalau begitu. Tapi hati-hati ya, jangan-jangan mata-mata Amih
Iah sudah disebar," nasihat Bah Omod yang sangat diperhatikan oleh Kosim.
"Iya Bah. Insyaallah kami sudah siap menghadapi risiko apa pun bahkan kematian kalau ada orang suruhan Amih yang mencoba akan melukai hingga harus mati sekalipun," kata Kosim dengan lantang.
Kosim sadar betul bahwa kewajiban anak laki-laki itu melindungi orangtuanya, terutama ibunya, apalagi ibunya sudah menjanda. Sedangkan kewajiban istri adalah membaktikan diri kepada suami.
Ketika Kosim dan Yani sudah bersiap-siap mau berangkat, tiba-tiba muncul Fitri dari dalam kamar dan sudah siap dengan tas kecil serta dandanan yang sepertinya akan bepergian.
"Mau ke mana kamu Fitri?" tanya Ambu Usih.
"Mau ikut dengan Jeng Yani dan Den Kosim ke rumah Mak Tiah," ujar Fitri tak ragu-ragu.
Keruan saja semuanya terkejut. Bah Omod saling pandang dengan Ambu Usih. Demikian pula Kosim dan Yani.
"Boleh 'kan Bah?" tanya Fitri minta keputusan kepada sang kakek.
"Kan besok kamu sekolah, Fit?"
"Enggak sekarang kan hari Sabtu besok Minggu," timpal Fitri lagi.
"O ya. Kalau begitu silakan. Titip ya Jeng, Den!" akhirnya Bah Omod mengizinkan cucunya ikut dengan Kosim dan Yani.
"Kalau begitu, ayo Fit ikut sama Teteh," ajak Yani sangat senang Fitri mau ikut.
Sebelum benar-benar keluar rumah Kosim menelepon dahulu Jojo dan mengabarkan bahwa dirinya bersama sang istri akan ke rumah Mak Tiah.
"Jo, tolong kabari Emak gue, gue sekarang mau ke sana ya!" kata Kosim di telepon.
"Iya, iya Kang Kosim. Ditunggu ya, entar dibilangin sama Mak Tiah, kebetulan beliau sedang berada di rumahku lagi ngobrol sama Emakku di teras rumah," timpal Jojo yang saat itu tengah rebahan di kamarnya.
"Iya gitu aja Jo. Lekum,"
"Lam," tukas Jojo.
Kemudian setelah tiba di jalan raya Kosim memesan ojek yang kebetulan lewat. Karena ojeknya cuma satu,
Kosim meminta tukang ojek itu untuk mencarikan tukang ojek lainnya karena ada tiga orang penumpang..
Secara kebetulan datang dua pengojek temannya dan langsung dia meminta temannya behenti utuk menarik tiga orang penumpang keluarga Bah Omod yang sudah dikenal oleh para pengojek itu.
"Mau ke mana Kang?" tanya seorang pengojek.
"Ke Warnasari Kang," timpal Kosim.
"Oke mangga (silakan) naik," balas si tukang ojek.
"Kosim pun segera naik jok ojek, pun Yani, dan Fitri. Lalu ojek melaju menuju Kampung Cilame Desa Warnasarari yang notabene kampung halaman Amih Iah dan Pak Haji Soleh dan tentunya Yani.
Setengah perjalanan sudah dilalui, tiba-tiba Kosim yang menaiki ojek paling belakang melihat ada sepeda motor dari belakang seperti tengah mengejar rombongan ojek yang tengah dinaiki Kosim.
Kosim tanpa curiga, mungkin itu hanya tukang ojek biasa yang lagi berjalan atau melaju mencari penumpang atau pulang mengantarkan penumpang.
Namun sesekali si penunggang motor itu mendekati dan pandangannya mengawasi penumpang ojek seolah tengah menyelidiki dengan fokus untuk memastikan benar tidaknya.
Kosim, demikian pula pengojek tak peduli dengan orang yang mengenakan helm itu sehingga tak jelas siapa-siapanya.
Akhirnya perjalanan pun sampai di mulut gang menuju rumah Mak Tiah yang menjorok ke sisi dekat sawah dan kebun itu.
Pengojek pun berhenti. Lalu Yani memberikan ongkos sesuai dengan yang diminta para pengojek. Pengojek pun lalu balik arah dan kembali ke kampung Bah Omod di Kampung Dadap, Desa Sukasari.
Baru saja Kosim akan melangkah, tiba-tiba pemotor yang tadi menguntitnya menghampiri lalu menghentikan motornya.
Kosim pun terhenyak kaget. Siapa dia ada urusan apa dia, kok mendekati? Si pemotor itu lalu membuka helmnya dan teryata....si Oyot.
Sejak tadi mengintai dari rumah Bah Omod dan melihat ada Kosim dan Yani serta seorang gadis, si Oyot bukan main girangnya karena apa yang telah ditugaskan oleh Amih Iah untuk memata-matai anak dan menantunya itu akhirnya berhasil.
Setelah mebuka helm yang dikenakanya, Si Oyot lalu tersenyum senang begitu bertatapan muka dengan Kosim demikian pula dengan Yani dan Fitri.
Tentu saja Kosim dan Yani terkejut melihat si Oyot padahal semalam sudah diwanti-wanti oleh Mang Koyod agar waspada kalau melihat si Oyot sebab dia mata-mata Amih Iah yang kalau melihat keduanya tentu akan melaporkannya kepada Amih Iah.
"Mau apa kamu senyam-senyum, Oyot?" tanya Jeng Yani dengan penuh keberanian.
Demikian pula Fitri yang semalam telah mendengar apa yang dikatakan bapaknya bahwa si Oyot adalah mata-mata Amih Iah. Fitri sudah menyingsingkan lengan bajunya siap menghajar si Oyot. Tak peduli dia berotot dan jagoan, Fitri takkan takut.
"Eh, enggak apa-apa, cuma nanya aja dari mana mau ke mana?" si Oyot malu-malu kucing.
"Mau nanya kok menghentikan sepeda motor?" ketus Yani.
"Ayo katakan, kamu sengaja memata-matai kami atas perintah ibuku bukan?" tanya Yani tak basa-basi lagi.
Deg!
Oyot benar-benar terkejut mendengar omongan Yani. Ternyata Yani telah mengetahui apa yang sedang dilakukannya yaitu memata-matai Kosim dan Yani.
Tahu bakal seperti ini, Oyot tentu takkan membuka helmnya, cukup mengabari Amih Iah bahwa Kosim dann Yani ada di dekat rumah ibunya Kosim dan pasti akan ke rumah ibunya.
"Kamu pulang aja Yot! Kami akan ke mertua. Tapi awas jangan bilang sama Amih, mengerti?" tanya Yani dengan wajah memerah saking amarah.
"Tapi Jeng, Oyot hanya melaksanakan tugas. Sekarang telah berhasil melihat keberadaan Den Kosim dan Jeng Yani, ya tentu saja Oyot akan lapor ke Amih. Maaf-maaf saja," kata Oyot.
"Apa untungnya kamu memberi tahu Amih tentang aku dan suamiku?"
"Jelas untung Jeng. Kata Amih jika aku berhasil memberi tahu keberadaan Den Kosim dan Jeng Yani Amih akan memberi hadiah berupa uang," kata Oyot berterus terang.
"Sudah diterima uangnya belum? Berapa jumlahnya?"
"Belum, entah berapa jumlahnya. Kan baru akan dilaporkan. Mungkin kalau sekarang Oyot segera lapor ya bayarannya akan segera Oyot terima."
"Jangan mimpi!" kata Yani membuat si Oyot melongo.
(Bersambung)