NovelToon NovelToon
Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Dark Romance / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Larissa Marcelle

Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.

Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".

Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 - Aku Menginginkanmu Lagi

...FIORELLA FERRAZ...

Aku pulang dengan hati sesak. Kata-kata itu begitu indah. Inilah yang selalu kuinginkan, pria seperti Jared. Aku tidak mengerti kenapa ayahnya selalu menentangnya. Begitu aku masuk, Loretha meraih lenganku dan memintaku menceritakan semua detail jalan-jalan kami. Bisa kubilang aku sangat menyukainya, Jared sopan sepanjang waktu, belum lagi tempat itu indah sekali. Aku makin senang waktu tahu kami hanya akan berdua. Aku tidak ingin berkenalan dengan teman-temannya dan dia menyadari itu. Jared tampaknya peka.

Tangan tunanganku di tubuhku masih terasa. Kalau Argo Romanov sampai tahu, aku tidak mau membayangkannya. Hari makin malam dan aku gelisah, aku ingin tahu kenapa dia memberiku headset itu. Aku makan malam tanpa Argo, sepertinya dia di luar seharian.

Aku sedang menonton film dan sudah menyerah menunggu ketika ponselku berbunyi. Aku bangkit dari ranjang dengan semangat dan penuh harap.

📱 Kamu di kamar?

Aku tersenyum lebar melihat namanya.

📱 Iya.

📱 Kunci pintunya.

📱 Sudah terkunci.

📱 Kamu pakai apa?

📱 Piyama, aku mau tidur.

Jantungku langsung berdegup kencang mendengar pertanyaan itu.

📱 Ambil benda yang kuberikan dan sambungkan ke ponselmu.

Bersemangat dan sudah terangsang, aku bangun dan menyambungkannya. Tak lama dia menelepon, panggilan video. Dia duduk di kursi, di layar tampak wajah dan sebagian besar tubuh atasnya, dasinya longgar.

"Dengarkan baik-baik, Fiorella. Hanya aku yang bicara. Kamu tutup mulut." Aku mengangguk. "Taruh ponsel itu di suatu tempat, aku mau melihatmu membuka pakaian untukku."

"Apa? Tidak!"

"Bukannya sudah kubilang diam? Ada yang bisa mendengarmu. Sekarang lakukan perintahku!"

Aku tidak boleh melewatkan kesempatan untuk tahu ke mana dia mau membawa ini. Kutaruh dua bantal di tengah ranjang dan kutegakkan ponselku di sana. Argo tampak santai di kursinya. Bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan sebagian dadanya.

"Sekarang buka, pelan-pelan." Suaranya terdengar di headset. Aku melepas blusku dan dadaku terbuka sepenuhnya. Di layar kulihat dia menjilat bibirnya. Lalu kulepas celana pendekku, tinggal celana dalam.

"Celana dalamnya juga," perintahnya. Aku melepasnya pelan-pelan dan melemparnya jauh. "Aku mau lihat memek itu terbuka."

"Wah, Tuan halus sekali memilih kata," keluhku.

"Sst. Bicara pelan, dan jangan sebut namaku, ada yang bisa dengar."

Kuatur ponsel di depan bantal-bantal itu lalu duduk bersandar di kepala ranjang. Layar panggilan video itu tepat di antara kedua kakiku, jadi kubuka lebar. Dia punya pemandangan yang sempurna.

"Kamu sudah basah, Fiorella. Binal dari neraka. Tampar memek itu." Dia menggeliat di kursinya.

"Kayaknya tidak, aku lagi tidak mood." Begitu aku bilang begitu, dia kembali membenahi posisi duduknya.

"Tidak mood? Kamu banjir begitu."

"Aku mau minta sesuatu."

"Tidak!" jawabnya tanpa menunggu aku bicara.

"Ya sudah." Kupegang ponselku.

"Oke! Bicara, kamu mau apa?"

Aku menahan senyum dan mengembalikan ponsel ke posisi semula.

"Aku mau Blake berjaga di luar, bersama yang lain." Sambil bicara, kugerakkan satu jari di bagian intimku. Dia menarik napas dalam dan membenahi posisi duduknya sekali lagi. Aku yakin dia sudah gila ingin menjilatiku, dia gelisah sekali.

"Baik!" katanya pelan.

"Apa?"

"Kusuruh dia di luar, sekarang lakukan perintahku."

Kutampar pelan, hanya sentuhan ringan, tapi cukup membuatku panas membara.

"Tampar lagi, lebih keras." Kutampar lagi dan kulihat dia mengurut dirinya dengan satu tangan di bawah sana. "Isap jarimu, aku mau lihat kamu memuaskan diri untukku."

Aku sudah gila dan hanya karena dia menerima permintaanku, aku mau melakukan apa pun yang dia minta. Kuisap jari tengahku dan kumasukkan ke dalam dengan mudah, aku mulai meniduri diriku sendiri pelan-pelan.

"Aku mau tiga, tiga jari." Aku hanya mendengar dan menurut, punggungku melengkung dan kepalaku terlempar ke belakang ketika kumasukkan dua jari lagi. Kudengar dia mengerang hanya lewat napasnya. Sedikit sakit, dan sulit memasukkan tiga sekaligus, tapi aku begitu basah sampai itu tidak menghentikanku untuk memaksa.

"Pelan-pelan, bocah. Kalau kamu klimaks tanpa kuminta, aku akan menghukummu." Kutarik jariku dan kuisap, merasakan rasaku sendiri. "Kamu jalang kecil, Fiorella."

Aku kembali menggerakkan tangan, membuat gerakan melingkar. Kulihat dia menggerakkan lengannya, meja menghalangi pandanganku sehingga aku tidak bisa melihatnya membelai penisnya.

"Aku... aku mau..." Tubuhku masuk ke dalam ekstasi, kenikmatan, getaran hebat menguasaiku dan aku harus mengerang, kuerangkan pelan supaya tidak ada yang dengar. Kugigit bibirku sendiri dan menikmati sensasinya.

"Ayo, Fiorella. Klimaks untukku." Dan aku pun melakukannya. Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir, dan Argo Romanov melihat semuanya lewat layar ponselnya. Aku begitu terbuka sampai takut dia bisa melihat ke dalam diriku.

"Bersihkan itu dan isap." Aku mengangkat kepala dan melihat dia masih membelai dirinya, kali ini lebih pelan. Kuoleskan jariku ke cairanku sendiri lalu kumasukkan ke mulutku.

"Sialan, kamu harus melakukan itu di mulutku, Fiorella."

"Kayaknya tidak, Tuan Argo," kataku sambil memulihkan napas.

"Aku yang menentukan aturan. Putar pantatmu ke sini, aku mau lihat lubang pantatmu."

Kugeser ponsel ke belakang bersama bantal-bantalnya dan aku merangkak. Untuk membuatnya gila, kusentuh tepat di tengah bokongku.

"Kamu belajar semua itu dari mana, bocah? Pantat itu akan jadi milikku, kalau perlu dengan paksa. Berbaliklah, aku mau kamu lihat sesuatu."

Aku berbalik, dia memegang ponselnya dan akhirnya aku bisa melihatnya memuaskan diri. Argo mendekatkan ponsel ke penisnya, cairan pra-ejakulasinya mulai menetes. Aku ingin menjilat benda itu, besar sekali. Dia menyemburkan cairan dalam semburan, tiga kali, aku menghitungnya. Menyenangkan melihat kejantanan pria ini. Setelah akhirnya berhenti memancar, dia mengembalikan ponsel ke meja.

"Aku akan meniduri kamu lagi dan aku tidak main-main, Fiorella."

"Bukannya perjanjiannya cuma satu malam?"

"Aku baru saja mengubah perjanjian itu." Dia menutup panggilan di mukaku.

Pria yang panas dan tak tahu sopan santun. Kalau dia kira cukup menggonggong aku akan datang, dia salah besar. Aku sudah berhasil menyingkirkan Blake dari dalam sini, langkah berikutnya tidak ada pengawal sama sekali. Aku terjatuh ke ranjang lagi dengan kaki lemas dan kehabisan tenaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!