NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 ~ Detak yang Tak Pernah Ia Sadari

Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, alarm Alya belum sempat berbunyi, namun dia selalu terbangun tiga menit lebih awal dari alarm itu. Kebiasaan lama dari zaman koas, ketika terlambat semenit saja bisa berarti kehilangan satu nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan. Sekarang dia perawat, bukan lagi mahasiswa yang gemetar tiap kali diminta memasang infus. Tapi kebiasaan itu menempel, seperti bekas luka yang tak lagi sakit namun tetap ada.

Kamar kosnya yang kecil, namun tertata rapi sesuai ukurannya sendiri. Semua barang punya tempat, semua sudut punya alasan. Di jendela, satu pot mint kecil yang dia siram setiap pagi sebelum menyentuh apa pun yang lain, sisa kebiasaan dari masa kecil yang tak pernah benar-benar dia jelaskan ke siapa pun, termasuk ke dirinya sendiri. Dia meregangkan tubuh mininya di atas kasur, menyeduh kopi hitam tanpa gula. Bukan karena diet, tapi karena dulu, di rumah yang penuh dengan enam saudara dan satu kantong gula yang harus dijatah, dia belajar bahwa rasa pahit itu jujur. Manis harus diperjuangkan. Dia tak pernah mengeluh soal itu. Dia hanya mengingatnya.

Ponselnya menyala sebelum dia sempat menyentuh gelas kopi. Panggilan video, jam segini, hanya bisa berarti satu orang.

"Pagi, Nona Perawat," suara Bayu muncul lebih dulu daripada wajahnya, serak karena baru bangun, rambutnya berantakan di layar. "Aku cuma mau lihat mukamu sebelum kamu dikelilingi orang sakit seharian."

"Kamu sendiri belum mandi." Alya tertawa, menyandarkan ponsel di kaca supaya kedua tangannya bebas mengikat rambut.

"Belum. Tapi aku udah kangen." Dia mendekatkan wajahnya ke kamera, cukup dekat hingga gambar buram, lalu mengecup ujung jarinya dan menempelkannya ke layar. Gestur konyol yang sudah mereka lakukan sejak pacaran, jauh sebelum ada cincin di jari Alya. "Nanti malam telepon lagi?"

"Kalau nggak ada kode biru." Dia menempelkan jarinya sendiri ke layar, membalas kecupan main-main itu. "Kerja yang bener, Calon Suamiku."

"Siap, Bu Suster." Dia nyengir, lalu layar gelap.

Alya menatap layar hitam itu sebentar lebih lama dari yang dia sadari, sebelum akhirnya bergegas. Seragam biru muda RS Prawira Husada, dilipat rapi di dalam tas, akan dia kenakan di loker, bukan karena aturan, tapi karena dia tak suka seragamnya kusut sebelum shift dimulai. Detail kecil. Tapi bagi Alya, detail kecil adalah caranya bilang pada dunia bahwa dia serius pada apa pun yang dia kerjakan.

Dia tidak tahu dan tidak akan tahu untuk waktu yang cukup lama bahwa tiga blok dari halte tempatnya menunggu bus, sebuah mobil hitam berhenti sejenak. Cukup lama untuk melihatnya naik, lalu melanjutkan perjalanan tanpa pernah benar-benar berhenti mengikutinya.

Di loker lantai tiga, Alya mengganti bajunya di antara deretan pintu logam yang berderit kalau dibuka terlalu cepat. Dia sudah tahu triknya, tarik pelan, dorong ke samping, baru angkat. Di dalam lokernya, ditempel dengan selotip yang mulai menguning di sudut, ada foto dirinya dan Bayu di pantai tahun lalu, tertawa lepas dengan rambut berantakan diterpa angin. Dia menyentuhnya sebentar sebelum menutup pintu loker. Kebiasaan lain yang tak pernah dia sadari sudah jadi ritual.

"Alya, buruan, sepuluh menit lagi apel pagi," panggil seorang rekan dari ujung lorong, dan dia bergegas, seragam masih sedikit kaku karena baru dicuci, wangi detergen bercampur aroma antiseptik yang sudah jadi napas kedua rumah sakit ini.

RS Prawira Husada berdiri seperti mercusuar di tengah kota. Dua puluh dua lantai kaca yang memantulkan langit pagi, dibangun dari nol oleh satu orang dalam waktu yang menurut banyak media "mustahil". Lobinya selalu dingin dan senyap jam segini, hanya berisik oleh suara sepatu perawat yang bergegas dan dengung lift yang naik-turun tanpa henti.

Alya sudah bekerja di sana delapan bulan, dan dia masih hafal aturan tak tertulis lantai tiga seperti hafal namanya sendiri.

Jangan biarkan bel pasien berbunyi lebih dari tujuh detik tanpa disambut.

Bukan peraturan resmi dari manajemen. Tapi semua perawat tahu, dulu ada yang membiarkannya berbunyi terlalu lama, dan yang terjadi setelahnya membuat orang itu resign minggu itu juga tanpa pernah menjelaskan alasannya ke siapa pun.

Pagi itu dia mulai dari kamar 301. Pasien dengan nama Pak Handoko, usia tujuh puluh dua tahun, pascaoperasi katup jantung, cucu laki-lakinya baru masuk kuliah kedokteran bulan lalu.

"Suster Alya," panggilnya, suaranya masih lemah tapi matanya jenaka. "Cucu saya telepon semalam. Katanya dia lulus ujian anatomi."

"Wah, hebat, Pak." Alya memeriksa selang infus sambil merapikan bantal di belakang punggungnya, gerakannya cepat tapi tidak tergesa, seolah dia punya waktu tak terbatas meski jadwalnya padat. "Nanti kalau udah jadi dokter, jangan lupa cerita Bapak yang ngajarin dia sabar nunggu jadwal operasi."

Pak Handoko tertawa, lalu terbatuk, lalu tertawa lagi. Alya menunggu sampai batuknya reda sebelum melangkah ke ranjang berikutnya.

"Suster juga sudah punya calon suami, kan?" Pak Handoko bertanya, matanya masih berbinar sisa tawa. "Istri saya dulu bilang, cari yang sabar. Bukan yang kaya."

"Calon saya sabar, Pak. Cuma nggak bisa masak," Alya membalas sambil merapikan selimut, dan tawa lemah Pak Handoko kembali pecah, diiringi bau kopi pagi yang menguar samar dari troli obat yang lewat, bercampur cahaya matahari yang baru mulai masuk lewat tirai setengah terbuka.

"dr. Raze ada jadwal visit dadakan hari ini," bisik Suster Ratna, muncul di sampingnya sambil menyodorkan map rekam medis pagi. Suaranya berat dan pelan, gaya bicara orang yang sudah dua puluh tahun berdiri di ruangan yang sama, melihat ratusan wajah baru datang dan pergi. "Nggak ada di jadwal resmi. Tapi dia selalu begitu. Datang pas kita nggak siap, buat lihat siapa yang beneran kerja dan siapa yang cuma pura-pura."

"Aku belum pernah lihat langsung," Alya berkata jujur, mengetuk gelang nama pasien berikutnya dua kali dengan jari telunjuknya. Ritual kecil yang tak pernah diajarkan siapa pun, lahir dari satu kesalahan kecil bertahun-tahun lalu yang tak pernah dia ceritakan ke siapa pun. Delapan bulan, dan namanya dr. Raze Aldevar hanya pernah menjadi tanda tangan di ujung instruksi, suara dari balik pintu ruang operasi, atau bahan bisik-bisik di ruang istirahat.

"Syukurin kalau belum." Ratna menepuk bahunya, seperti memberi restu sebelum perang, lalu menambahkan, seperti mengingat sesuatu yang selalu dia ceritakan ke perawat baru. "Katanya rumah sakit ini dibangun cuma dalam dua tahun. Orang-orang masih suka heran, gimana caranya, dari mana uangnya, kenapa dia yang masih semuda itu bisa punya semuanya sendirian. Katanya dia juga punya bisnis lain di luar sini. Properti, tambang, entah apa lagi, aku juga nggak hafal semua. Tapi nggak ada yang pernah lihat dia di luar rumah sakit ini. Kayak dia nggak punya kehidupan lain selain kerja." Dia merendahkan suara lagi. "Sekali dia natap kamu karena kamu salah, kamu bakal inget seumur hidup. Tapi kalau kamu bener, dia nggak akan bilang apa-apa. Dia cuma akan ingat."

Kalimat itu menempel di kepala Alya lebih lama daripada seharusnya.

Kode biru berbunyi pukul sebelas siang, tepat saat Alya sedang mengganti infus di kamar 308.

Bukan pasiennya. Kamar 312, Namun pasien yang berada di ruangan tiga pintu dari tempatnya berdiri. Seorang pasien pascaoperasi jantung yang tiba-tiba tekanan darahnya anjlok, monitor berteriak dengan nada yang membuat siapa pun yang cukup lama bekerja di rumah sakit merasakan dingin yang sama, setiap kali.

Alya berlari, bukan karena diminta, tapi karena tubuhnya sudah tahu jalan sebelum otaknya sempat memutuskan. Suara sepatunya beradu dengan lantai keramik, tenggelam di antara bunyi monitor yang semakin cepat, bau alkohol dan keringat yang mulai bercampur, dan teriakan singkat "code blue, kamar tiga satu dua" yang menggema dari interkom.

Ruangan itu sudah penuh saat dia masuk. Dua dokter jaga, satu perawat senior bernama Dewi yang tangannya gemetar. Dan di tengah kekacauan itu, satu sosok yang berdiri diam, tenang seperti mata badai. Tinggi, hampir menyentuh ambang pintu, jas putihnya masih rapi meski dunia di sekelilingnya berantakan. Suaranya, ketika keluar, memotong semua suara lain di ruangan itu tanpa perlu keras.

"Epinefrin, sekarang."

Tidak perlu keras. Setiap orang di ruangan itu bergerak seolah suara itu adalah gravitasi.

Dewi mengambil ampul yang salah. Tangannya terlalu gemetar untuk membaca label dengan benar.

Alya melihatnya sepersekian detik sebelum ampul itu masuk ke spuit dan tanpa berpikir panjang, tanpa sempat sadar dia baru saja menyela seorang dokter kepala di tengah kode biru, dia meraih pergelangan tangan Dewi.

"Itu bukan epinefrin. Itu kalsium klorida. Botolnya mirip."

Ruangan membeku setengah detik. Bahkan bunyi monitor terasa seperti menahan napas.

Mata itu, mata yang selama ini hanya dia dengar lewat cerita berpindah menatap ke arahnya. Tajam, tapi tidak marah. Menilai. Seperti sedang membaca sesuatu yang jauh lebih panjang dari satu kalimat yang baru saja Alya ucapkan.

"Benar," katanya, singkat, lalu menoleh kembali ke pasien seolah tak terjadi apa-apa. "Ambilkan yang benar. Dewi, mundur, biarkan yang lain." Lalu, tanpa jeda. "Suster yang baru bicara ganti posisi. Tangan paling stabil di ruangan ini sekarang tangannya."

Alya maju tanpa diminta dua kali.

Tangannya bekerja cepat, presisi, jarum menembus vena dengan satu gerakan bersih. Di tengah tekanan yang bisa membuat siapa pun gemetar, dia merasa aneh tenang sampai dia sadar kenapa. Pria itu berdiri persis di belakangnya, cukup dekat hingga dia bisa merasakan hangat napas terkendali di tengkuknya. Satu tangan besar terangkat mendekati bahunya. Bukan menyentuh, hanya menahan, seolah bersiap menangkapnya kalau dia goyah.

Dia tidak goyah.

Tapi tangan itu tetap di sana, sepanjang tiga puluh detik yang terasa jauh lebih lama, sementara suaranya yang rendah mengalir tepat di atas kepalanya, menghitung dosis, memberi instruksi ke dokter lain, tanpa sekali pun nada itu berubah. Seolah dia bisa mengendalikan satu ruangan penuh kepanikan hanya dengan menahan diri sendiri tetap diam.

Monitor akhirnya berbunyi stabil. Seluruh ruangan menghela napas bersamaan.

Tangan besar itu baru turun dari bahunya setelah itu, dan untuk sepersekian detik sebelum benar-benar lepas, jari-jarinya sempat menyentuh kulit Alya. Ringan, hampir tidak disengaja, tapi cukup lama untuk terasa seperti keputusan, bukan kecelakaan.

"Nama?" suaranya, tepat di dekat telinganya, rendah, tanpa nada terburu-buru sama sekali meski baru saja nyawa seseorang di ujung tanduk.

"Alya. Alya Nireva." Dia berbalik, dan baru sadar betapa dekat jarak mereka. Dia harus mendongak jauh, dan untuk sepersekian detik, dia menangkap sesuatu di mata pria itu yang tidak seharusnya ada di situ. Bukan puas karena krisis berhasil dilewati. Sesuatu yang lebih dekat dengan lapar yang ditahan mati-matian.

Lalu hilang, secepat munculnya.

"Bagus," katanya, dan mundur selangkah. Jarak yang tepat, jarak yang sopan, seolah tiga puluh detik sebelumnya tidak pernah terjadi. "Buat laporan insiden untuk kesalahan ampul. Nama Dewi, bukan namamu."

"Baik, Dokter."

Dia sudah membalikkan badan menuju pintu ketika Alya, entah kenapa, merasa harus bertanya. "Dokter belum pernah lihat saya sebelumnya. Kenapa dokter percaya saya benar?"

Langkahnya berhenti, tapi tidak berbalik.

"Karena kamu benar," katanya. Lalu, setelah jeda yang terlalu panjang untuk sekadar basa-basi. "Dan karena kamu belum sempat sarapan pagi ini. Kopi hitam tanpa gula bukan sarapan, Suster Nireva."

Dia pergi sebelum Alya sempat bertanya bagaimana dia tahu itu.

Di koridor, setelah semuanya reda, dua perawat lain berbisik-bisik dekat pintu, tidak menyadari Alya masih berdiri cukup dekat untuk mendengar.

"Nggak pernah lihat dia pegang tangan siapa pun selain buat prosedur," salah satu berbisik. "Bahkan sama Dewi yang udah kerja delapan tahun di sini juga nggak pernah."

"Mungkin cuma refleks," yang lain menjawab, meski nadanya sendiri terdengar tidak yakin. "Tapi tadi lama banget, ya? Tiga puluh detik itu kelamaan buat sekadar jaga-jaga."

"Kamu ngitung?"

"Nggak sengaja."

Alya berjalan melewati mereka tanpa menanggapi, menuju ruang perawat untuk mengambil map berikutnya. Pintu ruang kerja pribadi dr. Raze sedikit terbuka saat dia lewat, dan suara telepon dari dalam terdengar sekilas. Bukan suara yang sama dengan yang baru saja memberi instruksi di kamar 312. Nada itu lebih dingin, lebih pendek, seperti berbicara dengan seseorang yang tidak akan pernah dia panggil "Suster" dengan sopan.

"selesaikan malam ini. Aku tidak mau dengar alasan kedua."

Pintu tertutup sebelum Alya sempat mendengar lebih jauh, dan dia memilih untuk tidak memikirkannya. Bukan urusannya. Dunia seorang dokter kepala yang juga menjalankan sepuluh perusahaan pasti penuh telepon semacam itu.

Dia tidak tahu bahwa dia baru saja melewati satu-satunya pintu di gedung ini yang menyimpan versi lain dari pria yang baru saja menyentuh bahunya.

Di dalam ruangan itu, pintu sudah tertutup rapat. dr. Raze meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan yang terlalu terkendali untuk seseorang yang baru saja menyelesaikan panggilan sesingkat itu. Dia duduk diam sebentar, matanya terpaku ke monitor kecil di sudut meja ke arah rekaman kamera lorong lantai tiga, ia hentikan sejenak rekaman tersebut. Terlihat seorang gadis bertubuh mungil, tangannya terulur menahan pergelangan tangan orang lain, wajahnya penuh keyakinan yang tidak diminta siapa pun.

Dia menekan tombol jeda sekali lagi, meski gambar itu sejak awal memang sudah berhenti. Jarinya mengetuk meja tiga kali, ritme yang sama seperti detik yang selalu dia hitung setiap kali bel pasien berbunyi terlalu lama tanpa disambut. Delapan bulan dia menahan diri untuk tidak melakukan persis apa yang baru saja terjadi di kamar 312. Hari ini, untuk pertama kalinya, dia berhenti berpura-pura itu mudah.

Sore itu, Alya duduk di ruang istirahat, map rekam medis di pangkuannya, tapi pikirannya melayang jauh dari kertas-kertas itu. Delapan bulan bekerja di rumah sakit yang sama, dan hari itu adalah pertama kalinya dr. Raze Aldevar tahu namanya.

Setidaknya, itu yang dia kira.

Kopi hitam tanpa gula bukan tebakan yang mustahil. Semua orang tahu kebiasaan sepele bisa terbaca dari cara seseorang memesan minuman di kantin. Tapi dia tidak pernah memesan kopi di kantin hari itu. Dia bahkan belum sempat ke kantin sama sekali.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Bayu, seperti biasa, di jam yang salah.

"Gimana hari ini sayang? Aku kangen."

Dia mengetik balasan, lalu berhenti, jarinya melayang di atas layar lebih lama dari yang seharusnya, memikirkan tangan yang sempat menahan bahunya, suara yang tahu isi cangkirnya sebelum dia sempat bercerita. Tanpa sadar, jempolnya sendiri menyentuh bahu yang tadi disentuh tangan itu. Gestur kecil yang langsung dia hentikan begitu sadar, seperti memergoki dirinya sendiri melakukan sesuatu yang tidak seharusnya berarti apa-apa.

Dia menyelesaikan balasannya untuk Bayu, "Capek tapi baik-baik aja. Kangen juga." lalu meletakkan ponselnya, menatap pot mint kecil yang terbayang di kamarnya, jauh di seberang kota, yang akan tetap dia siram nanti malam seperti biasa. Rutinitas yang sama. Hari yang sama. Setidaknya, begitu yang dia yakini.

Dari kejauhan di luar jendela ruang istirahat, lampu ruang kerja di lantai dua puluh dua, lantai yang hanya bisa diakses dr. Raze masih menyala, meski jam kerjanya seharusnya sudah lama selesai.

Alya tidak tahu bahwa di balik jendela itu, seseorang sedang menatap ke arah yang sama persis dengannya, memikirkan gadis yang baru saja, untuk pertama kalinya secara resmi, menyebutkan namanya sendiri pada seseorang yang sebenarnya sudah menghafalnya jauh sebelum hari ini.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈❤︎ꔛ❜•❤︎ꔛ❜┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

Ada yang mengenal detak jantungmu jauh sebelum kau sempat memperkenalkan diri dan yang paling menakutkan bukanlah saat kau menyadarinya, tapi saat kau baru sadar sudah terlambat untuk bertanya sejak kapan.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!