NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Ustadz Ghaib Bernama Malik

Kain kafan bayi yang basah di bawah Beringin Kembar itu masih di sana.

Aku tidak berani sentuh lagi setelah kejadian santet salah alamat yang hampir bunuh Sari. Aku hanya berdiri menatap kain kafan kecil itu, yang ukurannya untuk bayi baru lahir, tapi basah, berlumpur, dan ada bercak darah segar.

Malik datang dari belakang, wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia, wajah Ustadz Ghaib yang selalu teduh itu terlihat marah dan takut.

"Jangan sentuh, Arga," kata Malik, suaranya berat. "Itu bukan kain kafan bayi manusia. Itu kain kafan anak Banaspati. Banaspati marah besar karena santetnya gagal. Sekarang dia panggil anaknya."

Aku menoleh. "Anak? Banaspati punya anak? tanyaku.

Malik mengangguk, lalu duduk di akar beringin, seolah kakinya lemas. Dia menatap masjid tanpa karpet yang retakannya masih 3 meter menganga.

"Arga, kamu sudah jadi penjaga, tapi kamu belum tahu siapa saya sebenarnya. Kamu hanya tahu saya santri 1947 mati dibantai Belanda. Itu tidak lengkap. Malam ini, sebelum perang besar, kamu harus tahu. Karena kain kafan bayi ini adalah masa lalu saya...."ucap Malik.

Angin dari Alas Purwo bertiup kencang, membawa bau anyir.

Malik mulai cerita, dan untuk pertama kalinya, dia cerita dengan mata berkaca-kaca cahaya.

"Nama lengkap saya Malik bin Alwi bin Hasyim. Saya bukan orang Krajan. Saya santri dari Pondok Tebuireng, Jombang. Tahun 1947, umur saya 22 tahun, saya diutus Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari untuk ikut perang gerilya di hutan Banyuwangi melawan Belanda. Pasukan kami 30 santri, dipimpin Kiai Mursyid." Kami sampai di Alas Purwo,kami bikin markas di dekat Pohon Beringin Kembar ini. Waktu itu beringin ini belum jadi gerbang, masih pohon biasa. Tapi di hutan ini sudah angker. Belanda takut masuk." Suatu malam, malam Jumat Kliwon juga, seperti ini, pasukan Belanda menyerang markas kami. Tembak-tembakan. 29 teman saya mati syahid semua, tertembak. Saya satu-satunya yang hidup, tapi perut saya tertembak, kaki putus kena mortir." Aku merangkak Arga, Merangkak ke bawah beringin ini, sambil pegang Quran kecil di saku. Darahku habis. Di depan mataku, aku lihat Belanda pergi, tapi yang datang bukan manusia." Yang datang adalah mereka Jin Kafir. Pemimpinnya Banaspati yang baru jadi Raja waktu itu. Dia lihat saya sekarat, dia tawarkan: 'Mau hidup? Jadi anak buahku. Jadi Jin Kafir sepertiku, abadi, bisa balas dendam ke Belanda..."Aku menolak,Aku baca ayat kursi sampai darah di mulutku. Banaspati marah, dia robek perutku, dia keluarkan ususku, dia mau jadikan aku tumbal untuk buka gerbang pertama kali di pohon ini..."cerita Malik tentang dirinya.

Malik membuka jubah putihnya.

Aku menjerit tertahan.

Di perut Malik yang bercahaya, ada bekas robekan besar, ususnya terlihat, tapi ususnya bukan usus manusia, ususnya adalah cahaya putih yang mengalir seperti ayat-ayat Quran.

"Saat Banaspati mau robek Quran kecilku, tiba-tiba tanah di bawah beringin ini terbuka, keluar cahaya putih sangat besar. Dari cahaya itu keluar sosok kakek tua berjubah hijau, Mbah Suro Joyo, kakek buyutmu, Arga. Waktu itu dia masih muda, umur 40 tahun, dia adalah penjaga pertama yang ditunjuk Jin Islam..."ucap Malik.

"Mbah Suro Joyo melawan Banaspati sendirian, pakai tasbih kayu. Dia menang, tapi tidak bisa bunuh Banaspati, hanya bisa kunci dia di bawah beringin dengan perjanjian darah. Dan dia temukan saya sekarat." Mbah Suro bilang, 'Nak, kau mati syahid, tapi Allah belum izinkan kau ke surga. Kau harus jadi jembatan seperti saya. Kau harus jadi Jin Islam penjaga'. Dia baca doa, dia teteskan Banyu Suci ke mulutku."Detik itu tubuh manusia saya mati. Tapi ruh saya tidak naik. Ruh saya berubah jadi Jin Islam. Saya hidup lagi, tapi bukan manusia. Saya jadi seperti Kiai Jirji, tapi lebih kuat karena saya dulu manusia. Sejak 1947 sampai sekarang, 79 tahun, saya jadi Ustadz Ghaib di masjid tanpa karpet ini...."cerita Malik lagi.

Malik menutup lagi jubahnya, air mata cahayanya menetes ke akar beringin.

"Dan kain kafan bayi ini, Arga, adalah anak saya.."ucap Malik.

Aku membeku. "Anak? tanyaku.

"Sebelum saya berangkat perang 1947, istri saya di Jombang sedang hamil 9 bulan. Namanya Fatimah. Setelah saya mati, dia melahirkan anak saya. Tapi anak saya meninggal saat lahir karena tidak ada dukun. Banaspati yang tahu darah saya, dia ambil arwah anak saya dari Jombang, dia bawa ke Alas Purwo, dia jadikan anaknya. Anak saya yang seharusnya jadi santri, sekarang jadi anak buah Banaspati, jadi salah satu dari 20 anak bermata hitam yang meneror kamu adalah anakku..." Anak yang pakai kain kafan bayi ini, yang ditaruh di beringin malam ini, adalah anak saya sendiri yang mau diadu dengan kamu...."jawab Malik.

Tubuhku lemas. Malik, Ustadz Ghaib yang selama ini aku anggap guru sakti, ternyata korban paling brutal Banaspati. Istrinya mati, anaknya dicuri jadi Jin Kafir..."batinku.

Dari dalam akar beringin, kain kafan bayi itu bergerak sendiri. Terbuka.

Di dalamnya tidak ada bayi. Hanya ada foto hitam putih. Foto seorang santri muda 22 tahun yang mirip Malik, menggendong bayi.

Di belakang foto ada tulisan Arab Pegon: "MALIK, KEMBALILAH, ANAKMU MENUNGGU - BANASPATI"

Ini bukan santet lagi. Ini perang psikologis.

Banaspati mau Malik berkhianat, mau Malik kembali jadi Jin Kafir demi anaknya.

Malik melihat foto itu, tangannya gemetar hebat, cahaya di tubuhnya berkedip-kedip, antara putih dan hitam.

"Arga..." bisik Malik dengan suara yang hampir hilang. "Kalau saya berkhianat malam ini, kalau saya ambil foto ini dan masuk ke dalam akar beringin... saya akan jadi Raja Kafir baru dan kamu akan sendirian lawan satu kampung Jin. Bunuh saya, Arga... kalau saya hitam..."ucap Malik.

Aku melihat tongkat cendana Malik yang tergeletak di tanah, yang bercahaya putih.

Aku ambil tongkat itu dan Berat.

Di depan aku, Ustadz Ghaib Bernama Malik sedang berperang dengan dirinya sendiri, antara jadi Jin Islam 79 tahun atau jadi ayah yang ingin bertemu anaknya.

Dan di bawah Beringin Kembar, akar yang menganga tiga meter itu terbuka lebih lebar, empat meter, dan dari dalamnya terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras, memanggil "Ayah... Ayah..."

Banaspati memainkan kartu paling brutal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!