Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9.Anggun yang tersembunyi.
Sudah dilakukan sejak usia lima tahun... batin Li Hua, seakan kembali ke masa lalu yang jauh, ke kehidupan yang lain.
Di kehidupan yang dulu — di zaman modern — ia adalah putri tunggal Keluarga Han, keluarga bangsawan yang tujuh turunan menurunkan kekayaan dan kehormatan. Sejak kecil, hari-harinya terjadwal rapi tanpa celah: jam enam bangun, latihan tata krama; jam delapan pelajaran musik tradisional; siang melukis dan kaligrafi; sore pelajaran bahasa dan etika; malam diiringi bacaan sastra kuno. Pelayan selalu ada di mana-mana, menyajikan apa pun sebelum diminta, membukakan pintu sebelum ia mengetuknya. Ia tidak pernah sendiri, namun juga tidak pernah bebas.
"Kau harus sempurna, Li Hua," begitu kata Ayahnya setiap kali melihat hasil karyanya. "Nama Keluarga Han tidak boleh ternoda."
Hingga satu sore itu, pulang lebih awal dari sekolah, ia melihatnya sendiri — di ruang kerja Ayah, pintu yang sedikit terbuka, Ayahnya memeluk asisten pribadinya, menciumnya dengan cara yang seharusnya hanya milik Ibu. Dunia serasa runtuh. Ia berlari, tanpa pikir panjang, mendengar suara Ayahnya memanggil namanya di belakang, mendekat, semakin mendekat. Saat menyeberang jalan, kepanikan membuatnya tidak melihat kendaraan yang melaju kencang...
Saat membuka mata, ia sudah terbaring di gubuk reyot yang dingin, dibadan seorang gadis desa yang juga bernama Li Hua. Awalnya ia kira hanya pindah tempat tinggal — hingga perlahan menyadari sesuatu yang mengerikan: tempat ini adalah dunia novel yang sempat ia baca iseng beberapa halaman saja. Di sini, gadis bernama Li Hua ini dikirim menikah, lalu dibunuh — korban balas dendam Li Yun, Pangeran dari Negeri Tang Liang yang disiksa Keluarga Zhang hingga hatinya membeku menjadi es.
"Li Hua?"
Suara Nyonya Besar memecah lamunannya. Ia tersadar kembali ke ruangan luas itu, menatap wajah wanita yang melahirkannya namun membuangnya saat masih bayi.
"Kau terdiam saja," ucap Nyonya Besar lembut namun tegas. "Apakah kau benar-benar siap? Ingat, semua gerak-gerikmu akan dinilai."
Li Hua mengangguk tenang. "Saya siap, Ibu."
"Baiklah. Bibi Niang, mulailah."
Bibi Niang melangkah maju, tangannya masih sedikit gemetar. Ia menatap Li Hua, lalu berkata pelan, "Pertama... peragakan cara berjalan dan memberi salam di hadapan raja atau pejabat tinggi."
Shi Yin menyeringai tipis di sudut bibirnya, bersandar di kursi dengan tatapan meremehkan. Ia sudah membayangkan adiknya akan canggung, berjalan terburu-buru, salah menekuk lutut — persis seperti saat mereka berlatih di halaman.
Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat mulutnya hampir ternganga.
Li Hua melangkah maju. Kakinya bergerak teratur, langkahnya tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek, lutut sedikit terangkat namun luwes, bahu rileks, punggung tegak tanpa kaku. Tatapannya lurus ke depan, tenang, berwibawa. Sesampainya di hadapan Nyonya Besar, ia menunduk perlahan, punggung melengkung anggun, kedua tangan bertemu di depan perut, lutut sedikit menekuk — sempurna, persis seperti yang diajarkan dalam buku, bahkan lebih luwes, lebih alami.
"Salam hormat untuk Ibu," ucapnya, suaranya jernih, lembut namun terdengar jelas ke seluruh ruangan.
Bibi Niang membelalakkan mata. Itu... itu bukan sekadar benar. Itu sempurna. Lebih anggun dari siapa pun yang pernah ia ajar.
"Selanjutnya..." Bibi Niang berdeham, berusaha tetap tenang. "Cara menerima hadiah dari orang yang lebih tua."
Li Hua berdiri tegak kembali. Saat Bibi Niang menyodorkan sebuah kotak kecil, ia melangkah mendekat, menunduk sedikit, kedua telapak tangan menerima kotak itu dengan sopan, jari-jarinya rapi, tidak mencengkeram sembarangan. "Terima kasih atas kemurahan hati Ibu," ucapnya lembut, lalu mundur selangkah sambil tetap menunduk sedikit sebelum berdiri tegak kembali.
Nyonya Besar mengangguk pelan, matanya melebar penuh kekaguman.
"Lanjut... cara duduk dan berbicara saat makan bersama keluarga besar," perintah Bibi Niang, suaranya kini mulai bergetar karena terharu.
Li Hua duduk di kursi yang ditunjuk. Punggungnya tegak, pinggul menempel pada sandaran namun tidak kaku, kedua tangan diletakkan rapi di pangkuan, kaki sejajar. Saat ditanya pertanyaan, ia menjawab dengan tenang, menatap mata lawan bicaranya, tidak memotong, tidak menunduk takut. Setiap gerakan tangannya saat mengambil cangkir, menyesap teh, meletakkannya kembali — semuanya luwes, indah, tanpa sedikit pun kekikukan.
Tidak ada yang salah. Tidak ada yang kurang.
Shi Yin mulai gelisah di kursinya. Ia melipat tangan di dada, menekan bibirnya rapat-rapat. Sejak kapan gadis desa ini bisa seanggun ini? Di halaman saja ia duduk sembarangan, memetik bunga, tertawa keras... apa yang terjadi?
Nyonya Besar mencondongkan tubuhnya, menatap Li Hua tak lepas. "Siapa yang mengajarimu semua ini, Li Hua?"
Li Hua tersenyum tipis. "Saya membaca buku yang Bibi berikan, Ibu. Lalu berlatih sendiri."
"Hanya itu?" Nyonya Besar tampak tak percaya. "Bibi Niang bilang kau malas, sering kabur saat diajak berlatih."
"Itu karena saya butuh waktu sendiri untuk memahami maknanya, Ibu," jawab Li Hua tenang. "Etika bukan sekadar gerakan tubuh. Ia ada di hati. Jika hati sudah tenang, tubuh akan mengikuti dengan sendirinya."
Nyonya Besar terdiam, lalu perlahan tersenyum — senyum yang tulus, hangat, penuh kebanggaan. Ia mengulurkan kedua tangannya. "Kemarilah, anakku."
Li Hua bangkit, berjalan mendekat, lalu dipeluk erat oleh ibunya itu. Aroma wangi bunga melati menyelimutinya. Nyonya Besar menepuk punggungnya pelan, berbisik, "Maafkan Ibu... maafkan Ibu yang membiarkanmu tumbuh jauh dari sini. Kau luar biasa, Li Hua."
Dari lehernya, Nyonya Besar melepaskan seutas gelang giok merah yang indah, berkilau lembut terkena cahaya matahari. Gelang itu berwarna merah darah yang jernih, diukir halus dengan motif bunga teratai. Ia memasangkannya perlahan di pergelangan tangan Li Hua.
"Ini milikmu sekarang," ucapnya lembut. "Gelang ini turun-temurun di keluarga kita. Hanya putri yang paling dihormati yang boleh memakainya. Dan kau pantas menerimanya."
Wajah Shi Yin memucat seketika. Ia menatap gelang itu, matanya memancarkan kecemburuan yang tajam. Selama bertahun-tahun ia mengagumi gelang itu, berharap suatu hari menjadi miliknya... dan sekarang diberikan begitu saja kepada gadis yang baru datang?
"Terima kasih, Ibu," ucap Li Hua lembut.
Nyonya Besar melepaskan pelukannya, tersenyum puas. "Istirahatlah, anakku. Besok kita bicarakan persiapan ke istana."
Ia berjalan keluar ruangan, diikuti Bibi Niang yang menunduk hormat sambil tersenyum bahagia. Pintu tertutup, dan kini hanya tersisa mereka berdua — Li Hua dan Shi Yin.
Keheningan yang tegang menyelimuti ruangan itu. Shi Yin berdiri perlahan, melangkah mendekat, senyumnya yang manis perlahan lenyap, digantikan tatapan dingin dan tajam.
"Adik..." suaranya berubah, tidak lagi ramah. "Serahkan gelang itu."
Li Hua menatapnya tenang, tidak terkejut. Akhirnya membuka topengnya, pikirnya.
"Kulitmu pucat dan kusam," lanjut Shi Yin sinis, menunjuk gelang itu dengan dagunya. "Giok merah ini membutuhkan kulit yang cerah dan mulus untuk menampilkannya. Kulitmu tidak cocok. Serahkan saja padaku."
Li Hua menatap kakaknya sejenak, lalu perlahan melepaskan gelang itu dari pergelangan tangannya. Ia memegangnya di telapak tangan, menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Kau benar, Kakak," ucapnya lembut. "Warna ini memang terlalu cerah untukku. Tapi..." Ia menyodorkan gelang itu ke arah Shi Yin. "Saya tidak bisa memberikannya. Ini pemberian Ibu. Namun kalau Kakak hanya ingin meminjam sebentar... silakan."
Shi Yin menyambar gelang itu dengan kasar dari tangan Li Hua, wajahnya bersinar kemenangan. Ia segera memasangkannya di pergelangan tangannya, mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk dilihat ke segala arah.
"Lihat!" serunya bangga, menatap Li Hua dengan tatapan meremehkan. "Di tanganku sangat indah, bukan? Bersinar sempurna. Berbeda dengan di tangan gadis desa kotor sepertimu. Giok ini tahu siapa pemilik yang sebenarnya."
Li Hua tersenyum tenang, tidak sedikit pun terlihat terluka atau marah. "Benar, Kakak. Sangat cocok."
"Tentu saja!" Shi Yin mendengus, membetulkan letak gelang itu sekali lagi. "Kau pikir dengan menampilkan sedikit kemampuan kau bisa menggantikanku? Jangan bermimpi, Li Hua. Aku adalah putri sulung, yang selama ini menghibur Ibu, yang dididik dengan baik. Kau hanyalah pengganti, ingat itu."
"Saya ingat," jawab Li Hua lembut.
Shi Yin mendengus lagi, lalu berbalik berjalan pergi dengan kepala tegak, gelang itu masih terpasang di tangannya. "Sampai kapan pun kau tidak akan setara denganku," ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.
Suara langkah kakinya perlahan menjauh. Li Hua tetap berdiri sendirian di ruangan itu, senyumnya tidak hilang, namun ada kilatan cerdik di matanya. Ia mengusap pergelangan tangannya yang kini kosong, lalu berbisik pelan, cukup untuk dirinya sendiri:
"Kakak... memangnya segampang itu barang milikku kau rebut?"
Ia tersenyum lebih lebar, matanya berbinar penuh keyakinan. Giok itu hanyalah permulaan. Jika Shi Yin ingin bermain, maka ia akan bermain — dan Li Hua tahu persis bagaimana permainan ini berakhir.
"Ibu memberikannya padaku bukan karena kebetulan," gumamnya pelan. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang menjadi hakku. Tidak lagi."
Li Hua berjalan keluar ruangan itu dengan kepala tegak, langkahnya tenang dan yakin. Di kejauhan, di balik jendela yang sedikit terbuka, sepasang mata mengawasinya — Li Yun, yang melihat semuanya, yang mendengar semuanya, dan yang kini menyadari satu hal penting: gadis ini bukan sekadar tahan banting. Ia jauh lebih cerdas, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berbahaya daripada yang mereka semua kira.