Kami menikah demi warisan milik Mbah Rangga.
Nama kami sama-sama Ariel. Kami sama-sama telah memiliki kekasih. Kami sama-sama saling membenci.
Setelah Mbah meninggal, aku mengajukan perceraian, toh uang sudah didapat. Tapi Ariel baru akan menceraikanku, kalau aku jadi jelek. Jadi aku berusaha tampil kusam, tapi Pacarku malah memutuskanku gara-gara hal itu!!
Di lain pihak pacarnya Ariel cemburu. Dia mengancam akan melaporkan kami berdua ke Yayasan. Posisi Ariel sebagai penerima beasiswa Univ. Negeri terancam kandas, Aku terancam dipecat atas karier yang sudah kuperjuangkan bertahun-tahun.
Kesialanku jadi Double Kill!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Pasar
Kelas 12-D IPS masih ribut saat aku memasuki ruangan itu. Aku tidak pernah memberikan mereka tugas untuk dikerjakan di rumah. Karena menurutku pelajaran ekonomi ini dapat dipelajari di mana pun. Tugasku adalah membuat pelajaran ini menarik, sehingga anak didikku dapat menjalani kehidupannya dengan lebih efisien.
Tidak dapat kita pungkiri, banyak anak muda tidak mengerti artinya ekonomi. Sebagian dari mereka hanya bilang itu urusan orang dewasa, sebagian lagi bilang saya akan belajar kalau sudah kerja saja, siapa tahu nanti malah dapat pekerjaan di bidang lain.
Padahal mereka bisa bersekolah di sini, bergaul dengan teman-teman mereka, gonta-ganti sepatu, tas, aksesoris, dan bahkan mereka bisa makan sehari-hari karena pengelolaan keuangan yang maksimal dari orang tua mereka.
Bukankah belajar ekonomi dan mempraktekannya saat masih muda malah akan menambah kualitas hidup mereka?
Seperti...
Itu cowok yang tidur di ujung sana, Ketua Osis calon CEO Topas Kencana RR.
Bagaimana ia bisa memimpin perusahaannya, mengatur strategi penjualan, memberi perintah saham mana yang harus di beli dan dijual, menambahkan proyek apa saja yang menguntungkan perusahaan, kalau pengertian deposito saja ia tidak tahu?!
Memang, Terkadang, merubah cara berfikir itu penting. Contohnya, "uang bukanlah segalanya tapi, segalanya perlu uang". Coba diubah menjadi, "segalanya perlu uang tapi, uang bukanlah segalanya". Sederhana tapi bermakna.
Seseorang pernah bilang padaku, Uang bisa membeli perhatian, tapi bukan ketulusan. Uang bisa membeli kecantikan, tapi bukan kesetiaan.
Inti ekonomi adalah... bagaimana caranya bisa mendapatkan semua itu. Ya perhatian, ya ketulusan, ya kecantikan, ya kesetiaan.
Mengatur uang.
Karena Uang adalah hamba yang baik tetapi tuan yang buruk. Karena itu dengan ekonomi, kita akan berteman dengan uang.
“Teman-teman,” desisku.
Semua langsung hening. “Hari ini kita akan membahas latihan soal UTBK Ekonomi. Maaf saya harus membahas lebih awal karena sebentar lagi kalian semua akan sibuk dengan berbagai tes yang datang.”
Semua tampak siap dengan tablet masing-masing. Mereka mulai melakukan pencarian untuk latihan soal UTBK tahun yang lalu.
“Kita mulai saja ya untuk pembahasan nomor satu. Pak Andi ingin membuka usaha photo copy. Setelah melakukan survei, tempat photo copy sangat dibutuhkan bagi lingkungan sekolah. Survei tersebut dilakukan untuk menjawab masalah pokok ekonomi yaitu…?
Barang apa yang akan diproduksi? Siapa yang akan memproduksi barang? Untuk siapa barang diproduksi? Bagaimana cara memproduksi barang? Untuk apa barang diproduksi?”
Lalu aku menatap satu persatu muridku. “Teman-teman, mungkin di antara kalian bersekolah asal sekolah saja asal dapat ijazah. Sebagian besar dari kalian adalah orang-orang dengan gaya hidup tinggi. Mohon maaf tidak selamanya kalian berada di atas. Manusia berjalan dengan TakdirNya. Jadi kalian butuh kami, sekolah, bekali dengan ilmu ini. Seandainya orang tua kalian sudah tidak bisa lagi membiayai kalian karena suatu hal, maka kalian masih bisa membiayai semuanya.”
“Tidak mungkin duit ortu kami habis, bu. Jumlahnya ratusan miliar. Sampai 13 turunan juga nggak habis...” kata salah satunya.
“Yakin?”
“Kalau saya sogok bu guru biar saya lulus dari sini dengan mudah juga bisa, nggak perlu harus ikut pelajaran.”
“Uang haram malah bikin timbangan saya berat saat kiamat. Maaf saya tolak.” Aku tersenyum ke si anak lancang itu.
Si anak tampak diam sambil cemberut.
“Pelajaran yang akan saya berikan ini berguna kalau suatu saat kalian jatuh cinta pada orang yang tidak se-level terus diusir dari keluarga, atau tiba-tiba orang tua kalian terjaring korupsi dan semua harta dibekukan oleh negara, atau tiba-tiba ternyata harta yang miliaran itu hutang dari orang lain, itu beberapa hal bisa membuat kalian miskin mendadak. Jadi ada baiknya kalian membuka PERUSAHAAN SENDIRI.” Kataku. “Jelas nggak sampai sini?”
Ariel tunjuk tangan.
Mau apa lagi dia?!
“Yaaa, Mas Ketos?” ujar malas-malasan.
“Jawabannya, ‘Untuk siapa barang diproduksi?’ yang penting target market harus jelas dulu kan Bu Ariel?” tanyanya.
“Betul.” Kataku. “Mari kita ambil contoh dari Louis Vuitton. Familiar dong sama merk itu?”
Sebagian besar anak mengangguk.
Dasar kaum hedon...
“Tahu tidak dulu itu dia hanya anak petani miskin? Masa mudanya bekerja di pabrik pembuat koper, dan suatu saat Napoleon Bonaparte melakukan kudeta dan sedang mencari pembuat koper? Vuitton tidak melepaskan kesempatan untuk melamar menjadi pembuat koper khusus kerajaan. Target pasarnya dari awal adalah Kalangan Atas, bangsawan, dan Kerajaan. Makanya koper yang dia buat harus dengan bahan sangat eksklusif dengan penjahitan yang rapi, dengan model yang tak pasaran karena bangsawan tidak ingin disamakan dengan rakyat jelata.. Hal itu terbawa sampai sekarang, imej saat kita menggunakan tas Luise Vuitton adalah, kita ini golongan orang kerajaan. Benar? Dari sini kita juga bisa lihat Politik sangat berperan penting dalam Ekonomi. Kalian mau jadi Louise Vuitton? Belajarlah kedua ilmu itu.’
“Belajarlah cara liciknya kapitalis dan pongahnya pejabat negara.” tambah Ariel dari belakang sana.
“Saya tidak akan membenarkan atau menyalahkan hal itu,” kataku.
Pelajaran kami hampir usai dengan banyaknya siswa yang bolak-balik bertanya mekanisme ekonomi. Antusias, hal itulah yang menjadi titik ukur kalau metode pengajaranku berhasil.
Caraku yang seperti ini hanya berhasil saat mengajari anak-anak orang kaya yang angkuh. Dan bisa jadi dianggap kasar kalau mengajari anak sekolah biasa.
Anak-anak di depanku ini sedari kecil dididik untuk memimpin. Jadi pengajarannya berbeda dengan masyarakat biasa.
Mereka kritis dalam bertanya, seperti begini contohnya :
“Bu, seandainya Napoleon tidak Kudeta, belum tentu Louise Vuitton bakalan jadi pembuat koper kerajaan kan?”tanya salah satu anak. Pertanyaan ini tidak mungkin diajukan oleh siswa biasa di sekolah biasa.
“Oooh saya yakin dia akan tetap masuk ke kerajaan, tapiiii, gaya tasnya akan berbeda. Mungkin lebih feminin sesuai dengan Raja dan Ratu yang memimpin saat itu. Marie Antoinette. Dan bisa jadi dijual jauh lebih mahal mengingat Marie Antoinette menyukai barang glamor yang mahal. Gaya norak tak masalah yang penting mahal. Kebetulan, Istri Napoleon lebih menyukai barang elegan, sederhana, yang banyak fungsi. Jadi begitulah gaya Louise Vuitton sampai sekarang.”
“Pasti ada anggapan orang yang : ah terlalu mahal. Tas segitu kecil 50juta mending gue ini mending gue beli itu.” Celetuk salah satuanak.
“Ya bu, menurut saya Louise Vuitton nggak asik gayanya. Gitu-gitu aja. Beda sama Chanel atau Dior yang lebih ekspresif.”
“Karena Target pasarnya berbeda. Dari pertama Dior diciptakan untuk kaum hedon yang senang berpesta. Makanya gayanya ekspresif. Kalau Chanel menyasar ke istri-istri bangsawan yang suka penampilan mewah tapi elegan, jadi modelnya lebih feminin. Nah... tinggal kalian. Kalian mau menciptakan barang untuk siapa? Untuk dijual ke mana? Fokuslah dengan target pasar.”
“Itulah yang dinamakan Target Pasar, teman-teman. Kalian Mau Jual Ke Siapa?” aku semakin bersemangat mengajar. “Baiklah ke kaum hedon. Kaum Hedon yang seperti apa? Bapak-bapaknya? Istri-istrinya? Anak-anaknya? Berbeda loh ya seleranya... Nggak bakal laku kalau mau jual Rolex ke tukang jam di pasar. Cuma 50ribu paling ke jualnya. Apalagi mau jual Rolex ke kalian yang anak CEO, pasti akan bilang ‘halah jamnya nggak asik amat, nggak ada fitur ini-itu, gaya monoton’. Beda kalau jual Rolex ke Club Golf di Green Lake City. Belum kamu sebut harga mereka pasti langsung nawar 150juta.”
Dunia ini sangat luas, dan anak-anak ini adalah lembaran kosong.
"Ada yang lebih penting lagi dari Target Pasar bu..." kata Ariel.
Aku menghela nafas. "Ya Ariel, bisa bantu saya, apa yang lebih penting dari target pasar?"
"Kegigihan berjualan, karena semua nggak instan... bertahun-tahun prosesnya."
Dia benar, tapi aku kok malas ya mengakuinya.