Squel (Stuck With Hot Brother)
Karena sebuah tragedi penggrebekan, mereka terpaksa menikah dan menjalani rumah tangga tanpa cinta. Apalagi status sebagai guru dan murid, membuat mereka menyembunyikan ikatan suci itu di depan orang lain.
Lantas bagaimana bahtera rumah tangga mereka akan berjalan? Sementara sang pemegang kendali hanyalah seorang pemuda SMA yang dikenal brutal dan nakal.
Ikuti kisahnya hanya di sini🤗
Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Ke Rumah Zio
Untuk mengganti makan malam yang sempat tertunda. Zio mengajak Aura ke rumah keluarganya, beruntung Aura setuju sehingga Zio langsung mengemudikan kembali motornya untuk sampai di sana.
Ketika kaki Aura baru saja berpijak, dia langsung dibuat melongo karena kemegahan rumah keluarga suaminya yang tampak sangat apik itu. Ya, lain dengan keluarganya yang hidup sederhana. Jika dibandingkan, sungguh akan jauh berbeda.
Sebelum masuk Zio lebih dulu menggenggam tangan Aura. Karena dia tidak mau sang istri merasa canggung. Apalagi ini kali pertamanya Aura datang ke rumahnya.
Merasakan sebuah sentuhan, Aura pun lantas mengangkat kepala hingga tatapannya beradu dengan manik mata Zio. Pemuda itu melempar senyum, dan membuat Aura ikut tersenyum pula. Detik selanjutnya mereka pun melangkah bersama.
"Mommy, Mommy, anak ganteng dateng nih," teriak Zio saat melewati pintu utama. Aura langsung mengerutkan dahi melihat kelakuan suaminya yang persis seperti bocah baru pulang sekolah.
Dan yang lebih membuat Aura terperangah adalah saat Arabella memanggil nama Zio dengan sebutan lain.
"Cio, kok mau dateng nggak bilang-bilang Mommy?" balas Arabella yang saat itu mendengar jelas teriakan sang anak. Wanita itu keluar dengan baju yang dilapisi celemek, karena dia memang sedang membantu para asisten rumah tangga untuk memasak makan malam.
Tanpa ba bi bu Arabella langsung memeluk putra bungsunya. Namun, seketika fokus wanita itu beralih pada Aura yang berdiri mematung. "Eh, ada Aura juga?"
"Iya, Mom, kita mau makan malem di sini. Ganti yang waktu itu," balas Zio.
"Oh, bagus deh, sini, Sayang, nggak usah malu-malu. Ini juga rumah kamu," ujar Arabella sambil merangkul lengan menantunya. Namun, karena belum terbiasa Aura pun merasa kikuk sendiri.
"Eum, Mommy—"
"Ya?"
"Aku mau minta maaf untuk yang waktu itu. Karena aku sempat menolak undangan makan malam dari Mommy," ujar Aura, berusaha membiasakan diri memanggil sang mertua dengan sebutan yang sama seperti Zio.
"Aduh, kenapa harus minta maaf segala? Namanya juga ada urusan mendadak, ya tidak apa-apa. Lagi pula kan masih ada hari lain, contohnya hari ini," balas Arabella yang tak merasa keberatan sedikit pun. "Oh iya, sekarang Aura istirahat dulu aja. Atau mau keliling rumah sama Cio? Soalnya Mommy lagi masak dulu. Cio Sayang, nanti ajak Aura ke kamar kamu, biar dia istirahat."
"Oke, Mom," balas Zio cepat.
"Eum, Mom, gimana kalo aku bantu-bantu masak aja?" ujar Aura, merasa tak enak jika harus berdiam diri di rumah mertua.
"Eh nggak usah, di sini udah banyak pembantu, lagi pula Mommy tahu kamu udah capek ngeladenin Cio. Ah, iya dia nggak nyusahin kamu 'kan?"
Kedua wanita itu melirik ke si empunya nama. Namun, Zio malah tersenyum tanpa dosa.
"Zio bantu-bantu Aura kok, Mom, ya kan, Yang?"
Pemuda itu meminta pembelaan terhadap sang istri. Namun, perhatian mereka teralihkan pada sosok yang baru saja masuk, dia adalah Amora yang telah menghabiskan waktu liburnya dengan bermain di luar.
"Heh, abis ke mana lu?" todong Zio yang membuat langkah Amora terhenti, gadis cantik dengan rambut bergelombang itu menoleh dan mendapati sang paman beserta istrinya, juga sang nenek. Hah, andai hanya ada Zio, mungkin Amora akan langsung melengos begitu saja.
Amora mendekati ketiganya kemudian menyalimi tangan Arabella dan Aura saja. Tidak dengan Zio.
"Yeh, kurang ajar bener nih bocah," cetus Zio, padahal dia sudah mengulurkan tangan tetapi Amora tidak meraihnya.
"Lagian Om resek, aku males!" balas Amora tak kalah ketus.
Zio langsung mengeluarkan taring, berbeda dengan Arabella dan Aura yang terkekeh kecil.
"Tapi gini-gini gue juga orang tua. Kudu dihormatin, mau jadi apa lu kagak sopan begitu?"
"Anak aku lebih sopan ya dari pada kamu!" timpal Lily yang baru saja keluar dari kamar. Tidak terima jika Amora dikatai seperti itu oleh adik iparnya.
"Tapi gue lebih baik dari Kak Ghara!" balas Zio.
"Udah kenapa malah jadi ribut? Amora itu baru punya pacar, mereka abis jalan," seru Arabella menengahi. Namun, pernyataan itu membuat Zio melebarkan kelopak matanya.
"Pacar? Pacaran sama siapa lu?" tanya Zio dengan mimik serius juga menuntut.
"Ish, itu bukan urusan Om!" jawab Amora, kemudian melenggang pergi ke arah kamarnya. Akan tetapi Zio tak menyerah, dia segera mengejar Amora dan terus menanyakan hal yang sama.
Di tempatnya Arabella dan Lily sama-sama menggelengkan kepala. Sementara Aura merasa jealous melihat Zio memperhatikan gadis lain, meskipun itu keponakannya sendiri.