NovelToon NovelToon
Kontrak Gadis Bayaran

Kontrak Gadis Bayaran

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / One Night Stand / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Pasha Ayu

📌 Ambil hikmahnya jika ada... Tidak pun, jangan ditiru perilaku yang tidak baik dan melanggar norma...

Satu malam panjang, membawa Elea si gadis 18 tahun kepada hubungan yang tidak sama sekali dia sangkakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 [Hancur]

Kabar mencengangkan dari kedua asisten membuat Ezra harus mendobrak properti milik kakeknya.

Benar kata Ken dan Dipa, penjagaan di dalam lebih ramai daripada di luar. Belum apa-apa dua orang pengawal menghalangi masuknya.

"Maaf Tuan muda. Kami diminta..." Belum selesai kalimat pria itu, Ezra sudah berhasil menciutkan nyalinya dengan lirikan tajam.

Kembali Ezra melangkah panjang, menyisir ruangan demi ruangan yang dijaga pengawal, dia terus bergumam sengit, untuk apa Badai harus menjaga seketat ini saat ingin bertemu dengan Elea.

Sampai kemarin ia masih yakin Elea perempuan baik-baik. Entah lah dirinya mulai kacau, benarkah yang Rigie bilang, kalau Elea rela melakukan apa pun demi uang; termasuk menjual dirinya pada sembarang pria.

"Papi..." Kaki Badai terkunci tepat di ruangan yang di isi beberapa anggota keluarganya.

Dhyrga kakeknya, Queen neneknya, Badai ayahnya, Cheryl ibunya, dan yang paling membuat dirinya mengerut kening, semungil balita gemuk berkulit putih kemerahan yang bernaung di gendongan Elea.

Pikiran jahat yang sempat meliar, sempat bertanya-tanya, sempat menduga-duga, tentang apa yang sebenarnya ayah dan mantan istrinya lakukan di rumah sepi ini, telah menguap.

"Pi..."

Ezra menatapi satu persatu wajah keluarganya. Dari kakeknya sampai ibunya, lalu ke arah duduk Elea yang diam tanpa suara.

"Bee..."

Dipandanginya wajah mungil yang sangat mirip dengan dirinya itu. Bayi berusia delapan bulan tersebut hanya membalas tatapannya polos.

Riuh celotehannya membuat Ezra tersenyum di tengah ketidak tahuannya. Tak ada kata yang Elea ucap, dia bahkan menjauh tanpa bercakap, berlari dan hanya ada derap yang terdengar mengiringinya.

"Gimana pernikahan mu, Sayang?" Queen menegur. Senyum getir wanita itu seolah sedang menertawakan kegagalan cucunya.

Ezra terduduk di sofa. Banyak yang ia tidak tahu, tapi malu untuk bertanya. Untuk apa, siapa, dan mengapa masih berdesakan di dalam otaknya.

"Kamu lihat, bayi yang Elea bawa lari, Eza. Dia putra yang kau sia-siakan." Seketika, wajahnya ia usap secara pelan namun penuh tekanan.

Putra?

Marah, ingin menangis, ingin mengumpat, ingin berteriak sekeras-kerasnya, segala macam bentuk emosi telah bercampur aduk menjadi satu.

Namun, tak ada yang bisa dia lakukan selain bergeming membiarkan keluarganya pergi meninggalkan dirinya, satu persatu.

Sekali lagi Ezra mengangkat kepala, menyisir seluruh ruangan dengan manik biru yang perlahan memburam karena luapan air pilunya. Ini ruangan bercat warna warni cerah yang diisi dengan mainan mainan bayi delapan bulan.

Di atas nakas, berjajar foto-foto di mana Elea dan bayi itu tampak menikmati waktunya, tertulis di setiap momennya, dimulai dari Minggu pertama, Minggu ke dua, Minggu ke tiga dan berlanjut hingga ke bulan ke tujuh.

Ezra terhenyak. Jelas kakek dan neneknya takkan pernah membiarkan satu bayi lagi terpisah, sudah cukup Shanshan saja yang telat mendapat pengakuan dari keluarga Miller.

Putra Elea langsung mendapatkan pengakuan dari keluarga besarnya, sementara dirinya tak tahu menahu soal itu. Dirinya acuh, dirinya terlalu asyik dengan dunianya sendiri.

Elea tidak pernah pergi, Elea tidak pernah jauh, Elea masih di kota ini, selama ini Elea hanya sibuk dengan kehamilan dan kelahiran darah dagingnya.

Sejauh ini, yang dia lakukan hanya berusaha keras melupakan Elea. Bukan mencari Elea dengan kesungguhannya, ia justru kerap mendatangi kelab malam demi mencari pengganti Elea.

Tidakkah itu juga bagian dari lawakannya? Itu bukti bahwa dirinya benar-benar tak pantas tahu tentang putranya. Elea pantas membenci dirinya. Ezra meneriakinya dalam batin.

^^^,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.^^^

,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.

^^^,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.^^^

"Kita masih perlu menjual satu mobil lagi, Bos. Baru setelah itu akan bisa ketutup semua denda pinaltinya."

Ken dan Dipa sibuk menghitung berapa banyak kerugian yang dialami sang Tuan setelah satu bulan tak bekerja.

Diputus kontrak kerja sama. Sejumlah brand menarik kembali uang endorsment yang telah dia gunakan.

Satu bulan pergerakan Ezra mati total. Tak ada syuting film, sinetron apa lagi iklan.

Terkuaknya nikah kontrak yang dilakukannya terhadap Elea, juga pengakuan Rigie pada sejumlah media berhasil menghancurkan karir yang telah dia tekuni sedari kanak-kanak.

Film baru yang akan rilis, mendapat cibiran dari masyarakat. Mereka membuat hastag untuk boikot King of drama seperti Ezra.

"Jual saja semua." Lelaki berambut acak acakan itu berkata lirih seperti tak terlihat hasrat untuk melanjutkan hidup.

Saudara, kerabat, hampir semua tak ada yang mau mendukung dirinya. Semuanya hancur, ia benar-benar tengah berada di titik terendah.

Dirinya sudah menjual seluruh aset untuk membayar denda pemutusan kontrak di puluhan kerja sama, hingga di detik itu pun ibunya tak mau menelepon sekedar bertanya 'Are you okay?'

"Itu berarti Bos hanya tinggal memiliki rumah ini saja." Dipa tak kalah lirihnya. Ikut merasa sedih atas bangkrutnya Ezra Laksamana.

"Kalian boleh mengundurkan diri." Lemas, Ezra bangkit dari sandaran sofanya, meraih botol wine dari meja. "Ambil pesangon dari hasil jual mobilnya," tambahnya.

Ken menggeleng pelan. "Kami masih setia Bos. Tenang dulu. Kau belum sebangkrut itu."

Ezra terkekeh getir. Dia rasa, Ken hanya sedang menghibur dirinya. Nyatanya, miris, dia hanya memiliki rumah ini dan kenangan Elea.

"Apa hidup mu berakhir, Sayang?"

Ken dan Dipa memberikan tundukkan pamit setelah tahu kehadiran Tuan besarnya. CEO tampan itu berdiri di sisi sofa dengan kedua tangan yang tersimpan di dalam saku celana.

Ezra tak menggerakkan sedikitpun kepalanya. Ezra tahu, kedatangan ayahnya hanya untuk melihat keterpurukannya, tertawa di atas deritanya.

Badai duduk di sofa lainya, menatap iba pemuda tampan yang dua puluh tahun lalu masih bermain di pangkuan ibunya. "Sedih mu tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dialami Elea, Za."

"Aku tahu." Ezra ketus. "Tidak usah terus diingatkan. Aku sudah kalah, sekarang, Papi puas? Putra pembangkang mu hancur."

Badai menggeleng pelan. Sejenak biar dia puaskan memandang wajah putra arogannya rekat-rekat.

Dia seperti berkaca pada masa lalunya, di mana dia juga tak melihat tumbuh kembang anaknya sampai usia Ezra 7 tahun besarnya.

Ezra laksana dirinya yang selalu menyala-nyala dalam berbicara. Ketus, tak bisa lepas dari mode santai.

"Kau tahu? Papi orang yang paling tidak ingin melihat keterpurukan mu." Badai meneduh suaranya, berharap putranya mau kembali ke dalam rangkulannya. "Disaat mereka yang hanya bisa kamu singgahi, Papi rumah untuk mu pulang."

Ezra terdiam terenyuh.

Yah... Meski Ezra lahir dari sebuah kesalahan satu malam, Badai tak pernah sekalipun berpikir, Ezra anak sial melainkan buah cinta bersama sang istri.

Mengingat, dia rela bekerja keras banting tulang di negara orang. Lari dari keempat orang tua yang kaya raya hanya karena tidak ingin dipisahkan dari istri dan anaknya.

"Papi beritahu. Orang yang mencintai mu. Mereka yang tak pernah punya sedikitpun niat untuk menghancurkan mu. Mereka yang akan memilih diam, daripada membalas kesakitan yang kau torehkan," ujar Badai.

"Elea dan Rigie. Mereka sama-sama memiliki harapan besar terhadap mu. Tapi, untuk cinta dan ketulusan, kau bisa lihat sendiri."

Ezra mendongak menatap ayahnya. Dan itu pula alasan kenapa Elea memilih tak bersuara dan terkesan menghilang.

Elea tak mau melihatnya hancur meski dirinya telah dengan tega meleburkan harapan harapan wanita itu.

Sadar akan nyata itu, Ezra menunduk secara dalam, ia malu, betapa pecundang dirinya.

"Papi tidak lebih baik dari mu. Tapi Papi bisa kasih saran yang terbaik. Perbaiki semuanya sebelum kau benar-benar kehilangan yang kau punya. Percayalah, ada saat di mana kau tak bisa lagi menganggap bahwa uang bisa membeli segalanya, Eza."

1
Rahmawati Rahmawati
aku baru beres baca ini d th 2026 🤭cuss ngebut yg lainnya...ngomong" cerita galaxy ada ga sich
Murni Binti sulaiman
baru baca kak🙏🙏🙏
Mutiara Gea
kenapa harus nyebut nama sih, kenapa gk langsung"aku" aja.
PASHA: Nggak usah berisik... gratis ini
total 2 replies
apajalah
🍂🍁🍂🍁🍁🍁🍂
apajalah
🍂🍁🍂🍁🍁
LikCi Vinivici
rigie jg g punya malu.. bisa gitu nekat nikah dg ezra tanpa restu ortu ezra🤭🤭
LikCi Vinivici
duhh ngebet nya
LikCi Vinivici
tbh gendeng ni bocah
LikCi Vinivici
pasangan koplak, rigie& ezra
LikCi Vinivici
ampyunnnn🤭🤭
LikCi Vinivici
terlalu mudah & singkat... muga2 aja setelahnya tidak ada murka yg menggelora 🤣🤣
LikCi Vinivici
ada kah didunia nyata yg begini?? 🤭
nobita
nah gitu kan Elea jujur lebih baik
nobita
benar yang diucapkan Ezra... berbahagialah kamu Elea... dengan pilihan mu
nobita
rupanya Eleea cemburu... katakan Elea bahwa kamu masih mencintai mantan suami mu...
nobita
wow sungguh amazing karya mu thor... bikin aku bacanya maraton
nobita
salah faham berakibat fatal..
nobita
tuuh kan jadi jatuh cinta beneran sama Elea...
nobita
duuhh aku jadi takut bacanya thor.. saat Eza.. bilang putus dengan Elea... menyakitkan... bikin sesek
nobita
semakin seruu aja nihh👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!