NovelToon NovelToon
Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi

Status: tamat
Genre:Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

"Hamili aku, please!"

Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya lalu melirik dan meneliti gadis di depannya dengan seksama.
"Badan kamu ngga se mok, terkesan kaya orang kampung, mana bau kembang 7 rupa! Mana gue nav su!" gidiknya acuh sama sekali tak tertarik, bahkan mantan-mantannya 3 kali lipat lebih sempurna darinya.

Sontak saja mata bulat itu membola, "kamu ngga tau saya siapa?! Saya R.Rr. Rashmi Sundari Kertawidjaja!" logatnya sundanese banget.
Alva malah meneguk air mineral dalam botol sampai tandas, lalu berdiri. Tingginya cukup membuat gadis itu mendongak kaya lagi liatin jerapah, "lo kayanya kurang minum, dehidrasi bikin lo halu."

"Tunggu! Rakyat jelata!" jeritnya meneriaki Alva yang sudah berlalu.

Warna-warni kisah kasih si princess Rashmi yang ternyata seorang keturunan menak bersama Alvaro si pemuda datar, cuek terhadap sekitarnya terkesan apatis, mencintai kehidupan dari sisi hitam.
Bagaimana lika-liku perjalanan cinta keduanya, ditengah aturan dan pemahaman aristok rat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BCR # 29. FASE DENIAL

~ Rashmi ~

"Mi, mau ke rumah engga?" tanya Elisa, menarik tali tas selempangnya.

Asmi menggeleng, "mang Dedi udah jemput di gerbang keluar," jawabnya tersenyum getir, ia terbiasa tersenyum namun Elisa dapat melihat ada kegetiran disana.

"Baik-baik aja kan, Mi?" ia mennyentuh bahu sang kawan.

Asmi mengangguk yakin, "baik. Asmi baik-baik aja," alisnya sampai naik saking yakin.

"Ngga mau ketemu kang Alva?!" coleknya menggoda, raut wajah Asmi berubah seketika, namun Asmi kembali meyakinkan dirinya dan Elisa, "engga. Kasian mang Dedi," jawabnya lagi seolah sedang memikirkan sesuatu.

Asmi mengingat kejadian kemarin, dimana mang Dedi pun ikut terkena imbasnya. Dianggap tak becus menjaga Asmi.

"Mi," Elisa bergumam lirih merasa ada sesuatu yang Asmi sembunyikan.

"Ya?"

Elisa menggeleng, "engga jadi. Ya udah yuk!"

"Mi, Sa...ngantin moal?!" Fajrin langsung melesak diantara Asmi dan Elisa, membuat keduanya sedikit terdorong dan berdecak, "euhhh!" Elisa mendorong kepala Fajrin, "apa lagi ini teh dorong-dorong!"

"Pikiran kamu mah makanan aja, Jrin! Asmi mau ke perpus bentar pinjem buku buat makalah, terus pulang!" jawab Asmi sengak dan menepis tangan Fajrin dari bahunya yang seenak jidat mengalung.

"Oh heem ya, makalah. Anak mama rajin!" Fajrin malah menepuk-nepuk kepala Asmi yang kembali ditepis Asmi.

Selesai meminjam buku, jantung Asmi semakin berdegup tak karuan, jika ingin menuju ke gerbang keluar maka ia akan melewati fakultas antropologi budaya, itu artinya kemungkinan besar Asmi akan bertemu dengan Alvaro.

Dan benar, dia disana....akang kumannya disana bersama anak Rampes lainnya, sedang mengobrol bersama Saka, Sony, dan yang lain. Dia terlihat datar seperti biasanya agak sedikit berdecak, mungkin sedang kesal. Asmi menggeleng tersenyum.

"Hayoo, senyum-senyum sendiri, samperin atuh! Jangan nanti nasib kamu sama kaya aku, Mi!" Elisa merengut melihat Cintya yang tengah bergandengan dengan Anjar disana.

"Move on atuh Sa!" tepuk Fajrin keras di punggung Elisa yang kaya akan lemak.

"Arghhh! Maneh ih! Sakit !" sengit Elisa dibalas tawa cengengesan Fajrin dan Asmi, "sorry---sorry, gue kira mah kalo yang berisi mah kebal rasa sakit!" (kamu)

Asmi tertawa mendengar keduanya bertengkar, setidaknya bisa mengalihkan perhatian Asmi sejenak.

"Sapi limosin!" angguk Asmi setuju dengan Fajrin.

"Asmi!" sebuah panggilan menggema yang tak mungkin Asmi hindari, bahkan semut di dalan lubang saja bisa mendengarnya.

"Mi, si Cin-cin manggil!" tunjuk Fajrin melewati wajah Elisa, sontak saja Elisa ngamuk dan memukul lengannya, "tangan kamu ah! Nyolok!" sungutnya, Asmi kembali tertawa bersama Fajrin.

Asmi terpaksa menoleh dan mengulas senyuman, dan benar saja Alva sedang melihatnya.

Kangen akang kuman! Tapi ngga bisa....

3 pesan masuk menyerbu nomor wa'nya.

Ting---ting---ting----

Kang Alvaro (Rampes)

Mau kemana?

Buru-buru?!

Sampai ngga mau ketemu dulu?!

Asmi menatap lama ponselnya sambil berjalan pelan, hembusan nafas beratnya keluar. Sudah seharusnya ia menjaga jarak ssjak awal, tapi ia tak bisa membohongi perasaannya jika ia menyukai Alvaro. Maka untuk salam perpisahan, ia akan menyatakannya pada Alvaro, terserah pemuda itu menganggapnya sebagai salah satu gadis diantara puluhan gadis yang baperan karena Alva.

Kang kuman, Asmi pulang dulu. Salam buat ibun...kalo ketemu Asmi takut....

Takut nanti ngga mau pulang, pengen terus bareng akang kuman....

"Mi, kenapa?" Elisa membuyarkan Asmi yang berlarut dalam kesedihan.

"Ha? Engga, ngga apa-apa, itu mang Dedi udah nunggu..." jawabnya memasukan ponsel ke dalam tas.

"Mang, yuk pulang!" Asmi berdadah ria pada Elisa dan Fajrin lalu masuk ke dalam mobil.

"Bi Asmi!" Dhara berlari menyambut gadis yang baru saja pulang dari kampus tepat waktu makan siang.

Nawang memperhatikan *wajah topeng* adik iparnya, ia tersenyum meski menyimpan seribu beban di pundak dan hati.

"Teh, Asmi pulang..." bisik Katresna, kedua keluarga kakaknya ini sengaja berkunjung demi melihat Asmi setelah kejadian kemarin, meskipun tanpa sepengetahuan Asmi ataupun apih dan amih.

"Teh, lagi pada ngumpul nih! Biasanya kesini kalo weekend, tumben!" Asmi menggidikan bahunya.

"Lagi pengen weh! Ngga boleh nih? Pengen ngajak Asmi, amih sama teh Nawang nyeblak!" jawab Katresna.

"Ngga usah nyeblak juga disini mah udah suhah-suhah teh," jawab Asmi mengu lum senyum, siap-siap menyemburkan tawa. Ketiga adik--kakak ipar ini masuk bersamaan ke arah gawang pintu masuk, hingga kemudian Nawang mengalah saat di gawang pintu, sadar jika masuk bertiga bersamaan tak akan muat, maka ia berjalan di belakang karena Asmi dan Katresna yang terus berjalan tanpa melihat arah mereka melangkah.

"Kenapa, mulut amih pedes ya tiap hari!" bisik Katresna, langsung meledaklah tawa keduanya sementara Nawang hanya terkekeh di belakang mereka, emang paling doyan keduanya ngomongin amih.

"Mi," panggil Nawang.

"Ya teh?" ia memutar badan sebelum masuk kamar.

"Kamu sakit?"

Asmi menaikan kedua alisnya, "engga."

"Lagi ada masalah?" tanya Nawang lagi. Asmi melirik Katresna usil lalu tertawa, "ah ngaco! Teteh yang sakit kali! Asmi mah oke, sehat wal'afiat!"

"Beneran neng?" Kini Katresna bersuara.

"Bukannya kemaren abis dihukum amih?" tanya Katresna si ember bocor. Asmi memundurkan wajahnya, "dihukum? Pasti Sasi da yang laporan? Dasar cepu..." desis Asmi.

"Gara-gara macet jadi kena hukum amih, teh. Ck!" jawabnya menyangkal dan lebih menyalahkan hal lain.

"Ngga apa-apa teh, Asmi mah oke! Teteh kaya ngga tau Asmi aja, Asmi mah setrong," jawabnya dengan wajah meyakinkan.

Katresna mengehkeh, "setrong tuh stress tak tertolong?!" ia tertawa.

"Enak aja, ngga mungkin Asmi stress! Udah ah, Asmi gerah!" jawabnya mengelap keringat yang tiba-tiba saja membanjiri wajah cantiknya.

Air muka Nawang langsung serius melihat Asmi yang justru menghindari eye contact dengannya dan langsung masuk ke dalam kamar.

Sejenak Katresna dan Nawang terdiam di depan pintu kamar Asmi, "gimana teh?" tanya ibu dari Dhara ini.

"Asmi lagi ada dalam fase denial, menyangkal dan memilih menyalahkan hal lain untuk semua kesi alannya. Teteh liat dia tadi mendadak keringetan, ngga berani natap langsung orang yang nanya kaya takut ketauan boong,"

"Bahaya?" tanya Katresna meredup khawatir.

"Kalau dibiarkan bahaya."

"Tapi amih sama apih ngga akan percaya kalo ngga ada bukti medis," balas Katresna.

"Apa harus nunggu Asmi depresi dulu?!" tanya Nawang langsung melangkah tergesa ke dalam menuju kamar Bajra.

Asmi merebahkan dirinya di kasur, tangannya menyeka keringat dan memijit kepala yang cenat-cenut.

"Kayanya sakit nih," Asmi bergumam lirih dan merangkak ke arah yang lebih nyaman lalu menarik selimutnya.

Beberapa saat gadis itu berhasil memejamkan matanya, hingga suara Lilis mengetuk pintu kamar menyadarkan pendengarannya.

"Den rara, dipanggil raden nganten sama raden mas buat makan..."

Tak ada balasan dari dalam Lilis kembali mengetuk dan berteriak, "den...den rara..."

"Iya ambu, Asmi keluar sebentar lagi." Jawabnya.

Langkah yang belum sepenuhnya tegak membuatnya diam sejenak di tepian kasur, Asmi melangkah ke dalam kamar mandi lalu mencuci mukanya, mengambil wudhu dan bermunajat.

Dilihatnya kedua kakak ipar bergabung di meja makan bersama keponakan-keponakan lucunya.

"Huu, lama!" cibir Sasi, tak ada balasan usil seperti biasanya dari Asmi, ia hanya memeletkan lidah dan duduk di samping amih, menjadi anak patuh yang tak bernyawa.

"Bajra pulang jam berapa neng?" tanya amih pada Nawang.

"Nanti jam 3 mih,"

Amih berohria, "ya sudah makan siang duluan saja. Biar Bajra sama Candra menyusul nanti," timpal apih.

"Neng, raden Agah ada kasih kabar?"tanya amih menyendok nasi untuk apih.

"Ada mih," jawab Asmi. Di sebrang meja sana Nawang dan Katresna saling lirik.

"Kalo raden Agah kasih pesan itu dibales, ngga sopan dianggurin!"

"Iya mih," angguk Asmi.

"*Udah ngga beres ini mah*," gumam Nawang.

Diantara makan siang yang tenang diiringi gemericik air kolam dan angin sepoi-sepoi segar, tiba-tiba Asmi mendorong kursi yang di dudukinya.

Huwekkkk!

"Astagfirullah, neng!"

"Bi Asmi," seru kedua keponakannya.

"Lis! Lilis! Yani!" teriak amih memanggil para ambu sambil terulur memijit tengkuk Asmi.

Katresna langsung mengambil air minum, sementara Nawang segera mengambil peralatan prakteknya.

.

.

.

.

.

1
ngakaakk
😭😭😭😭😭
udh brpa x baca part ini bikin nangisss😔😔😔
tunggu rakyat jelata
part bikin ngakak👏👏👏
😁😁
nesiew fatt
Kl sunda gaul masih ngerti klo sunda alus priyayi gini loading juga 🤭
Anonymous
/Good//Good//Good//Good//Good/
Erni Fitriana
asikkkkkk
Erni Fitriana
JLEBBBB YA GAS😁😁😁😁
Erni Fitriana
😘😘😘😘😘😘....teh sin...hbs ini tolong bikinin cerita keluarga kakaknya raden amar yah...plisssd🙏🙏🙏🙏
Erni Fitriana
28 november ultah akuuuuuu😊😊😊😊😊
Erni Fitriana
sashiiii🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣gesrek
Erni Fitriana
inalillahiwainaillaihi rojiuun...abah menghembuskan nafas hidupnya setelah menunaikan kejujuran leluhur😭😭😭😭
Erni Fitriana
jalele jayyyy😁😁😁😁😁
Erni Fitriana
Rahmi😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
oala keturunan agah tohhh...circle nyaaaaa menak....dan ternyata alvaro berdarah biru juga
Erni Fitriana
bulu kuduk kuhhhhh😖😖😖😖😖... percaya tidak percaya..kekuatan farah..kekuatan silsilah tidak bisa disembunyikan..abah eman bisa melihat itu didiri alvaro
Erni Fitriana
berasa aya sesuatu nyak bah ..abah bertatapan sama kang kuman😊
Erni Fitriana
jarrrr..Cintya menghilang elisa datanggggggg😆😆😆😆
Erni Fitriana
kang kuman👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾...teh sin,nuhun tos berbesae hati menterjemahkan suju sundanies..jasi berasa kita ijut KKN nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!