Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kok Mbak Citra Bisa Sama Mas Bima?
Citra sebenarnya melarang Bima membiayai Ambar membuat SIM, karena selain Ambar tak mempunyai motor pribadi, adiknya itu selalu ngebut jika mengendarai motor, sehingga ia khawatir, kalau Ambar diberi kesempatan untuk mempunyai SIM dan mengendarai motor sendiri.
Namun, bisa apa Citra? Sekarang ini Bima seolah yang lebih mempunyai kuasa atas keluarganya sehingga Citra hanya bisa mengalah dan pasrah pada keputusan Bima.
Pukul 07.55 menit Citra sampai di kantor. Jika mengendarai motor, dia bisa sampai lebih cepat sepuluh menit dan tak terlalu mepet dari jam masuk kantor pada jam delapan pagi.
"Makasih Mas udah antar saya." Citra buru-buru melepas seat belt dan membuka pintu ketika sampai di depan gerbang kantor Citra sesuai permintaan wanita itu.
"Apa sudah terlambat?" tanya Bima melihat Citra yang tergesa-gesa.
"Lima menit lagi," jawab Citra seraya turun dari mobil.
"Besok saya akan jemput kamu lebih lagi."
"Assalamualaikum ...."
Bima dan Citra berucap secara berbarengan. Tapi, karena khawatir telat, Citra tak mendengar apa yang diucapkan Bima. Dia langsung berlari masuk ke pekarangan kantor Vista tanpa menunggu balasan salam dari Bima.
"Waalaikumsalam ..." Meskipun Citra tak mendengar, Bima tetap menjawab salamnya. Bima menatap Citra yang menjauh darinya. Dia merasa jika Citra sosok yang keras kepala. Mungkin jika wanita lain, akan mudah baginya menaklukan mereka tanpa perlu mengeluarkan keringat dan tenaga. Tapi, Citra memang berbeda dan itulah yang membuatnya jatuh cinta, bahkan sebelum ia mengenal wanita itu lebih dekat.
"Pagi..." sapa Citra pada Erwin dan Elis yang sudah tiba lebih dulu di ruangan mereka.
"Tumben telat, Mbak? Kirain nggak berangkat," tanya Elis karena biasanya Citra lebih awal datang dibandingkan dirinya ataupun Erwin.
"Ummm, iya tadi naik ojol, motorku bannya bocor, daripada harus ke tambal ban dulu mending pakai ojol saja." Citra terpaksa berbohong, tak mungkin dia menceritakan kalau Bima mengantarnya, akan jadi bulan-bulanan dirinya jika kedua rekannya itu tahu.
"Oh ..." sahut Elis kembali fokus dengan pekerjaan yang akan dimulai.
Citra menarik nafas lega, setidaknya pagi ini dirinya aman karena tidak ada yang tahu Bima lah yang mengantarnya ke kantor.
Klik
Citra mengambil ponselnya yang berbunyi. Dia mendengar notif pesan masuk ke dalam ponselnya tadi.
"Pulang nanti saya jemput kamu. Ada yang ingin saya kenalkan ke kamu."
Pesan dari Bima membuat mata Citra melebar. Siapa yang akan dikenalkan padanya? Apa keluarga Bima? Citra bertanya-tanya.
"Astaga! Secepat ini?" Citra gelisah ketika mengetahui akan dipertemukan oleh orang yang tidak ia tahu siapa. Sedangkan keluarganya saja belum tahu siapa Bima.
***
Sore harinya Bima menepati janji menjemput Citra. Dia menunggu wanita itu keluar dari kantornya. Dia memarkirkan mobilnya di seberang jalan kantor Citra.
Kerumunan karyawan terlihat meninggalkan kantor Vista, tapi Bima belum melihat penampakkan Citra hingga seperempat jam menunggu.
Bima mengambil ponselnya untuk mengecek Citra masih di kantor atau tidak? Dia khawatir Citra akan kabur tanpa sepengetahuannya.
"Kamu masih di kantor?" Bima hanya mengirim pesan, tak melakukan panggilan telepon, takut Citra masih sibuk dengan pekerjaan.
Tak ada jawaban dari Citra, bahkan pesannya pun tak dibaca, membuat dia harus benar-benar bersabar menunggu wanita itu.
Sepuluh menit berselang, pandangannya menangkap sosok Citra yang berjalan tergesa-gesa ke arah mobilnya. Senyuman pun seketika mengembang di bibir Bima dibarengi tarikan nafas lega melihat kemunculan Citra.
"Maaf, tadi saya menghadap Ibu Liza dulu." Ketika masuk ke dalam mobil, Citra menjelaskan alasan tak cepat keluar dari kantor.
"Tidak apa-apa." Bima mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area sekitar kantor Vista.
"Ummm, Mas mau bawa saya ke mana?" Citra menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak pagi.
"Orang yang dekat dengan saya. Karena saya ingin melamar kamu, kamu harus kenal dia," jawaban Bima masih menjadi teka-teki bagi Citra.
"Orang yang dekat dengan Mas Bima?" Citra khawatir dia akan dipertemukan dengan keluarga mantan suaminya, karena dia belum siap untuk bertemu mereka kembali.
"Siapa, Mas?" tanya Citra berharap Bima memberitahu ke mana tujuan mereka.
Bima menoleh pada Citra dengan senyum tipis di bibirnya, seperti tersenyum meledek.
"Kamu berharap saya pertemukan dengan siapa? Mantan suamimu?"
"Nggak!" Dengan cepat Citra menyangkal. "Kalau bisa, saya justru nggak kepingin ketemu mereka lagi," sambungnya membantah.
Bima kembali tersenyum. Entahlah, sejak bertemu kembali dengan Citra, senyuman seolah akrab di bibirnya. Seperti hilang sudah sikap dingin yang selama ini seperti melekat pada dirinya bila berhadapan dengan orang lain terutama kaum hawa.
"Saya ingin kenalkan kamu dengan sahabat saya. Dia sangat dekat dengan saya dan sudah seperti saudara laki-laki saya, jauh lebih dekat dibanding saya dengan Bayu." Bima akhirnya menjelaskan ke mana mereka akan pergi.
"Dia ingin saya mengenalkan kamu agar dia yakin kalau saya serius ingin menikahi kamu. Karena selama kami berteman sejak kuliah, saya tidak pernah membawa dan mengenalkan seorang wanita pun padanya. Dia ingin tahu, seperti apa wanita yang sudah mencuri hati saya ini," sambungnya menerangkan.
Semburat merah tanpa bisa Citra cegah kini mewarnai wajahnya. Tidak menyangka kalimat-kalimat seperti tadi bisa terucap dari bibir Bima yang selama ini dia anggap pria yang kaku.
Ciittt
Citra terkejut ketika Bima tiba-tiba menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Kenapa, Mas?" Citra bingung, apalagi melihat Bima menoleh ke arah belakang.
"Saya seperti melihat Laras di halte." Bima kemudian menggerakkan mobilnya mundur menuju halte yang tadi mereka lewati.
"Laras?" Mata Citra membeliak. Laras yang dimaksud Bima pasti adik Bima juga Bayu. "Astaga! Bahaya kalau Laras lihat aku sama Mas Bima." Laras saat ini tinggal bersama Arini, bisa-bisa kebersamaan dirinya dengan Bima akan segera diketahui oleh mantan mertuanya itu.
Citra menutupi wajah bagian kiri dengan tangannya, sehingga Laras tidak akan bisa melihat wajahnya jika Bima menurunkan kaca jendela.
"Laras, sedang apa kamu di sini?" Benar saja, Bima menurunkan kaca jendela si samping Citra dan menyapa adiknya.
"Mas Bima?" Laras berlari mendekat ke mobil kakaknya. "Mau pulang, Mas." Laras memperhatikan sosok wanita yang duduk di samping sang kakak dengan menutupi wajahnya.
"Mas Bima sama siapa?" tanya Laras penasaran. Ini pertama kalinya ia melihat Bima bersama dengan seorang wanita dan tentu saja dia ingin tahu siapa wanita yang bersama kakaknya itu.
Bima melihat Citra yang menutupi wajahnya dari pandangan Laras. Dia mengerti kenapa Citra melakukan hal tersebut.
"Masuklah! Mas antar kamu pulang." Bima tak menjawab apa yang ditanya Laras, tapi menyuruh adiknya ikut dengannya.
Laras pun mengikuti apa yang diminta sang kakak, tapi matanya terus memperhatikan wanita yang masih menyembunyikan wajahnya, seperti takut ia lihat.
"Kamu tidak ingin menyapa Laras?" Setelah adiknya masuk, Bima bertanya pada Citra. Dia tak ingin Citra terus bersembunyi dari Laras. Apalagi setahunya Laras sangat menyukai Citra.
"Memang siapa sih, Mas?" Makin penasaran pada wanita di sebelah Bima, Laras menggerakkan tubuhnya ke depan untuk lihat siapa wanita itu? Dia pun menarik pundak Citra agar orang yang masih belum ia ketahui menoleh ke belakang.
Bola mata Laras melebar dengan mulut terbuka ketika melihat wanita yang bersama Bima adalah orang yang dulu sangat dekat dengannya.
"Mbak Citra?" Pandangannya kini berpindah pada Bima. "Kok, Mbak Citra bisa sama Mas Bima?" Berbagai pertanyaan kini muncul di benak Laras melihat kebersamaan kakak dan mantan kakak iparnya dulu.
❤️❤️❤️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best