NovelToon NovelToon
Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:84.9k
Nilai: 4.3
Nama Author: Ai Bori

"Anak laki-laki, walaupun sudah menikah ia tetap menjadi milik Ibunya."


Namaku, Adhira Ulya. Ibuku pernah mengingatkan kata-kata itu padaku. Itulah yang membuatku berusaha menuruti keinginan Ibu mertuaku.
Lantas, haruskah selamanya kehidupan rumah tanggaku berdasarkan apa yang beliau inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai Bori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MKA 29

Waktu begitu cepat berlalu, tak di sangka semuanya terjadi begitu saja. Semenjak saat itu, aku mulai menutup diri di rumah ini. Aku pikir rumah mertua juga rumahku, ternyata aku hanyalah orang asing yang harus sadar jika saat ini sedang numpang di rumah ini.

Menurutku menjaga jarak dengan orang di rumah ini adalah salah satu cara yang tepat. Walaupun sudah seminggu berlalu, kami juga sudah saling bermaafan tetapi rasanya aneh saja jika harus berpura-pura lupa dengan kejadian itu.

Caci maki di rumah ini yang selalu masuk di telingaku masih jelas di ingatanku. Nggak nyangka saja, seorang anak kecil seperti Felixia bisa berbicara yang tidak sopan pada orang yang lebih dewasa. Anehnya lagi, orang tuanya tidak melarang. Katanya anak-anak Mama Rima adalah orang yang berpendidikan, pintar, dan sopan. Nyatanya, anak sekecil itu berbicara seolah dia 'lah yang paling benar.

Ck! Rasa sakit di hatiku membuatku menjadi benci dengan orang-orang yang berada di rumah ini. Sejauh ini, apa aku salah?

"Sayang, kamu mikirin apa?" Mas Rayyan mendekatiku.

"Eh, Mas!" Aku benar-benar tersentak kaget.

"Jawab dong, kamu mikirin apa?"

"Mikirin uang kita kapan bertambah ya, Mas? Dhira pengen beli rumah."

"Kamu sudah nggak betah ya? Apa kita ngontrak rumah saja?"

Aku terdiam sejenak, memikirkan kehidupan di luar sana jika mengontrak. Gaji Mas Rayyan hanya lima juta, kebutuhan di kota ini lumayan besar, belum lagi soal biaya bulanan rumah beserta air dan listriknya. Aku menggelengkan kepala dengan cepat, "Kita tunggu uang terkumpul saja, Mas."

"Kamu nggak pa-pa?"

"Dhira nggak pa-pa, Mas."

"Apa kamu bisa sabar sampai hari yang kita tunggu itu tiba?"

"Dhira akan berada di samping Mas, kita suami istri. Kita harus bergandengan tangan Walau badai itu menerpa. Di sini Dhira cuma punya Mas, kepercayaan Mas yang Dhira jadikan penyemangat."

"Mas bangga punya istri seperti kamu!"

Aku hanya bisa tersenyum, hanya suamiku yang bangga dengan diriku. Sementara mertua dan iparku sudah tidak menyukaiku. Mungkin di rumah ini aku tak di anggap ada.

'Drddddd!

Ponselku bergetar, aku langsung melihat nama yang tercantum di sana. 'Bapak!' tumben sekali Bapak meneleponku, ada apa ini?

Aku mengangkatnya, tak lama kemudian aku melepaskan ponselku dalam genggamanku. Aku tak sanggup berbicara, hanya deraian air mata yang mampu menjawab segalanya. Mas Rayyan pun mengambil ponselku, bertepatan dengan itu Mama Rima ikut masuk ke kamar karena mendengar suara tangisanku.

"Ada apa ini?" tanya Mama Rima, lalu beliau terdiam saat Mas Rayyan memberikan jari telunjuknya memberikan isyarat agar tidak berbicara terlebih dahulu.

Wajah Mas Rayyan juga berubah menjadi sedih, ia langsung mematikan ponselnya setelah mendapatkan kabar dari Bapak. "Besok kita pulang!" titah Mas Rayyan, aku mengangguk kepala, aku senang ternyata Mas Rayyan mengerti perasaanku.

"Ada apa, Ray?" Mama masih terlihat penasaran.

"Ibu sakit, Ma. Sudah seminggu di rumah sakit dan keadaannya semakin drop."

"Ya sudah kalian pulang besok! Barang-barang kalian kau siapkan saja dulu, Dhir. Zavier biar Mama yang jaga!"

"Makasih, Ma."

Aku tercengang, saat ini Mama Rima tak seperti biasanya. Ia sangat perhatian, ternyata masih ada jiwa kemanusiaannya padaku. Aku hanya bisa berharap jika suatu saat nanti Tuhan memberikan keajaiban-keajaiban lainnya untukku di keluarga ini.

***

Hari berganti, koper-koper yang akan di bawa pun sudah tersusun rapi. Aku berpamitan dengan Mama Rima, Papa Sam dan Felixia. Walau terkesan kaku, tetapi aku harus pamit pada mereka. Kami sengaja pulang naik Bus, karena perlu ongkos yang mahal jika harus naik pesawat. Selain untuk irit, di sana kami juga butuh duit. Karena walau gimana pun kami adalah anak perantau, orang-orang tahunya jika kita pulang kampung itu tandanya uang sudah mencukupi padahal tak semua orang seperti itu.

"Sudah siap?" tanya Mas Rayyan.

"Sudah!" jawabku sambil menggendong Zavier.

Bismillah, kami melangkahkan kaki masuk ke dalam bus yang cukup besar ini dengan sangat hati-hati. Karena aku membawa Zavier dalam gendonganku, bayiku itu tidak mau di gendong sama ayahnya. Padahal lagi situasi seperti ini, tetapi masih saja ia manja padaku.

Di balik kaca yang tembus pandang keluar, Mama Rima dan yang lainnya melambaikan tangan ke arah Zavier. Aku pun membalasnya dengan menggerakkan tangan Zavier. Untung saja Zavier malah terkekeh melihatnya.

Tiga hari dua malam, begitulah jarak tempuh dari Medan ke kampungku. Cukup jauh dan sangat lama di jalan. Zavier terlihat anteng, mungkin dia mengerti perasaanku sebagai ibunya. Jalan yang memabukkan membuatku tak bisa banyak bergerak, aku memang tidak bisa berada di perjalanan jauh dengan jalan darat seperti ini. Ah entahlah, rasanya pusing sekali.

Setelah tiga hari, akhirnya kami sampai di kampung halamanku. Tangisan ku semakin pecah, ini adalah tanah lahirku. Sudah dua tahun aku tudak menginjakkan kaki ke sini.

"Kenapa menangis?" Mas Rayyan menggenggam tanganku.

"Dhira senang, Mas. Dhira rindu sama kampung."

"Jangan sampai menetes air mata juga, Sayang. Kasihan Zavier, dikiranya kamu pasti sedang sedih."

Astaga! Aku sampai lupa jika saat ini aku sedang menggendong Zavier. Benar kata Mas Rayyan, Zavier sedang menatapku. Ku cium keningnya dengan lembut, "Bunda nggak pa-pa, Nak. Bunda lagi senang sebentar lagi kamu bakalan ketemu sama Nenek dan Kakek."

Sementara menunggu Mas Rayyan memesan ojek online, aku dan Zavier duduk di sebuah kedai kopi. Aku memang tidak meminta Kakakku untuk menjemput, karena Kakak pasti sibuk mengurus Ibu di rumah sakit.

"Sayang, itu mobilnya. Ayo naik!" kata Mas Rayyan.

1
Emily
Rayyan jgn sampe nyesal kehilangan istri
Emily
cerita yg real di kehidupan nyata..mertua yg suka ikut campur dan julid sama nenantu
Hairani Marasabessy
banyak promonya,up nya dikit,,bosan
Putik
terlalu bnyk promosi
Wynda
semakin dibaca semakin menarik
Wynda
Kecewa
Yuliana Tunru
cerita x.lumayan cm sampe bab ini msh z dhira terkungkung dgn sikap mertua x ntah sampe kapan ada ketenangan salaah mulu ya thor
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus kak
ythksrh: terima kasih, kakak😍😍
total 1 replies
Fatma Kodja
good, ceritanya
ythksrh: terima kasih❤️
total 1 replies
Sky Blue
Samngt betkarya kax🥰🥰

D tungguin klanjutnnnya🥰
ythksrh: terima kasih❤️
total 1 replies
Mbak Dil
bagus aja
𝕾𝖊𝖗𝖊𝖓𝖆𝖉𝖊 𝕰𝖚𝖓𝖔𝖎𝖆
wah, mas rayyan Gimana sih? 💆
ZidniNeve IG : @irmayanti_816
keren
Chui Lhan Sheng
dapat mertua seperti itu, akan aku cabe mukanya😅 lah mertua tha nyuruh2 aja udah Tha pelototin,😅
ZidniNeve IG : @irmayanti_816: biasa aku mampir cuma sebagai pembaca gelap eh pas liat ada neng syantik koment muncul deh aku
total 3 replies
Baby_Miracles
cerita ok, iklan dan bunga meluncur
🖤
Semoga Dhira bisa menjalani hari-harinya dengan sabar
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "ketika suami ku mendua" makasih kak🙏
total 1 replies
Yulia Kurnia
kak... mungkin maksudnya "kebaikan sebesar apapun tak akan ada nilainya bagi beliau" iya ya?... maksudnya sebaik apapun si menantu, tetep aja ada cacat nya dimata mertua....
ythksrh: nah, iya itu maksudnya kak
total 1 replies
Herlyanti Budi Utami
semangattt othorr🥰 aku lagi maraton novel ini
Laurina M. Halean
lanjut thoor.....🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!