Di usia yang baru menginjak 17 Tahun baru menyelesaikan pendidikan SMA. Kini Dinda harus di hadapkan dengan masalah besar yang tak pernah dia pikirkan akan menikah mudah di usia yang seharusnya dia bersenang-senang.
"Kenapa harus aku? aku ingin mengapai impian ku terlebih dahulu sebelum menikah!" Protes Dinda menolak.
"Impian yang kau katakan? Apa kau lupa Mama mu juga sama pernah berkata seperti itu, tapi lihat sekarang apa Mama mu berada di sisi kita setelah tergapai impian nya?" Tanya Papa Bara lantang menatap tajam putri kandung nya.
"Sudah sayang, ikuti mau Papa kamu jangan membantah. Anggap saja semua ini balas budi setelah apa yang di lakukan Mama mu, hanya Papa yang setia merawat dan membesarkan mu." Kata Mama Rita. Mama tiri Dinda.
"Baiklah." Ucap Dinda tanpa bisa berkata lagi. Hatinya kini sakit mengucapkan kata Baik yang berarti setuju dan siap menerima kehidupan yang akan terjadi ke depan nya.
Apa pernikahan Dinda akan membawa kebahagiaan yang mengubah kehidupan nya? Atau masih ada keterpurukan hidup yang harus di lalui Dinda?
Yuuk ikuti kisah kehidupan Dinda🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencintai tidak harus memiliki
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Dinda kaget melihat pelaku nya adalah Alvaro.
"Apa yang kakak lakukan?" Tanya Dinda, wajah keduanya sangat dekat.
"Aku ingin hak asu Kanaya!" Ucap Alvaro, setelah itu sedikit menjauh dari wajah Dinda.
"Tidak, aku tidak akan biarkan itu terjadi. Kanaya putri ku, tidak ada yang boleh mengambil nya dari ku." Tegas Dinda menatap tajam Alvaro yang engan melihat nya.
"Aku tidak butuh persetujuan mu, Kanaya juga putri ku. Aku Daddy kandung nya." Balas Alvaro lebih tegas dari Dinda, bahkan ucapannya terdengar tidak becanda.
Dinda menatap tidak percaya dengan pria yang berdiri tepat di wajahnya. Setelah lama mencampakkan nya sekarang dengan mudah mengambil hak asu Kanaya.
Apa otaknya berpikir Kanaya adalah sebuah barang, yang bisa di rebut pelanggan kapan saja dia mau.
"Aku Ibu kandung nya, aku mengandung nya selama 9 bulan, bahkan bertarung nyawa demi putri ku kanaya. Dan Kakak dengan mudah berbicara ingin mengambil kanaya dari ku. Apa kakak pikir aku akan membiarkan begitu mudah? tidak. Aku tidak akan biarkan semua itu terjadi. Sebelum menyentuh kanaya, hadapi aku. Kakak bisa ambil kanaya, tapi setelah aku tiada di dunia ini." Tegas Dinda, tanpa bisa menahan bendungan air dari kelopak matanya.
Alvaro melihat tetesan bening menghiasi kedua pipi Dinda merasa bersalah membuat wanita yang di cintai sedih.
"Satu hal yang perlu kakak ingat, jika sekali kakak coba merebut kanaya dari ku. Aku akan sangat membenci kakak." Tegas Dinda seraya mengusap cairan bening nya.
Saat kaki ingin melangkah pergi meninggalkan Alvaro, tangannya ditahan.
"Lepaskan, jika tidak akan teriak." Ancam Dinda tanpa menoleh.
"Silakan teriak lah, aku tidak melarang. Semua akan tau jika kamu istri ku." Kata Alvaro menantang balik Dinda.
"Mantan istri." Ucap Dinda membenarkan Perkataan Alvaro yang salah.
"Terserah apa katamu, karena sampai sekarang aku belum mengurus surat cerai kita."
"Surat cerai bisa di urus kapan saja, tapi tidak dengan hubungan suami istri. Kata talak dari suami, sudah menjelaskan selesai nya hubungan rumah tangga. Dan itu tidak bisa di hindari lagi. Jika kakak masih menganggap ku istri terserah kakak, tapi tidak dengan ku. Aku hanyalah seorang janda anak satu, dan suami ku menceraikan ku hanya karena sebuah fitnah tanpa ingin mendengar penjelasan sang istri. Bahkan pernyataan cinta nya di anggap sebuah pembelaan diri yang biasa di lakukan wanita agar di maafkan pria." Jelas Dinda panjang lebar mengingat masa lalu.
Hatinya kembali sakit mengingat kenangan buruk yang di alami.
"Maaf." Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibir Alvaro.
"Maaf, sebuah kata akhir setelah datangnya penyesalan setiap perbuatan. Dan itu tidak akan mengubah semua hal yang terjadi. Maaf hanyalah satu kata, apa dengan satu kata dari maaf dapat mengembalikan semua? jawabannya pasti tidak. Ya jelas, tidak. Allah menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Bahkan manusia tidak ada yang bersih akan dosa, karena manusia tempat berbuat salah." Jelas Dinda terlanjur kecewa pada Alvaro.
Dinda hancur ungkapan perasaan cintanya dulu di anggap pembelaan diri.
Alvaro diam beribuh bahasa, yang di katakan Dinda semua nya benar. Semua tidak kembali semula dengan permintaan maaf.
"Aku sadar dengan semua yang ku perbuatan dulu. Aku terima jika kau tidak bisa memaafkan ku. Tapi, apa boleh aku sesekali mengunjungi Kanaya, aku tidak meminta apapun selain bisa berada di sisi Kanaya." Ucap Alvaro sadar kesalahan nya cukup besar, bahkan tidak ada hak atas Kanaya.
"Oke, aku akan ijinkan mu bertemu Kanaya, tapi sesekali."
"Iya, tidak apa-apa begitu sudah lebih baik. Sekali lagi aku minta maaf atas semua yang ku perbuatan, aku janji tidak akan menggangu kehidupan mu, bahkan aku akan secepatnya mengurus surat cerai kita." Kata Alvaro berusaha tegar, sejujurnya hati nya sakit harus berkata seperti ini.
Namun sekarang semua telah terjadi, tidak ada yang bisa lakukan atau di rubah, selain menerima dan pasrah.
Alvaro akan berusaha ikhlas melupakan Dinda. Sekarang ia sadar mencintai bukan harus memiliki, mencintai harus rela melihat orang yang kita sayang bahagia dengan orang lain, meski sakit melihat orang tersebut bahagia dengan orang lain.
"Semoga kamu bahagia, aku do'akan kamu segera mendapat pendamping yang baik dapat membuat bahagia. Wassalamu'alaikum." Pamit Alvaro salam seraya meninggalkan tempat nya.
Dinda mematung mendengar perkataan Alvaro sangat menyentuh relung hatinya. Perkataan nya tadi terdengar tulus.
Dinda memandang kepergian Alvaro, dengan cairan bening yang jatuh dari pelupuk mata.
"Kenapa dengan hati ku? bukannya aku sudah membuat keputusan yang tepat? kenapa sekarang menjadi seperti ini?" Dinda memaki dirinya tidak bisa mengontrol diri.
"Ayo Dinda kamu bisa, jalan mu masih panjang, jangan tengok kebelakang atau kamu akan terjatuh. Tatap ke depan semua akan baik hingga selesai." Ucap Dinda menyemangati diri sendiri.
****
Sore hari.
Setelah menceritakan semua pada Kanaya, Kakek dan Nenek bekerja sama untuk membantu Kanaya mempersatukan Mommy dan Daddy.
Sekarang Alvaro telah berada di kediaman Pak Naldo setelah mendapat telpon dari Papa sambung Dinda.
"Daddy." Teriak Kanaya dari atas tangga sambil berlari kecil menghampiri Alvaro.
"Jangan lari Naya, nanti jatuh." Pesan Alvaro khawatir langsung bangkit dari duduk.
"Naya tidak akan jatuh, Naya anak yang kuat seperti Mommy. Daddy kenapa tidak memberitahu Naya jika Daddy adalah Daddy Naya?" Tanya Naya.
"Maaf, kan Daddy sayang. Daddy rencana nya ingin memberi Naya kejutan, tapi Naya sudah terlanjur tau."
"Benarkah? kejutan apa yang Daddy siapkan untuk Naya?" Semangat Kanaya dengan wajah berbinar.
"Hmm, apa ya?" Ucap Alvaro meletakkan tangan pada jidat sebelah kiri seperti orang yang sedang berpikir.
"Daddy cepat katakan? apa kejutan nya?" Desak Kanaya sudah sangat penasaran.
"Coba Naya tebak kejutan apa yang ingin Daddy berikan pada Naya?"
Kanaya mencoba berpikir seperti orang dewasa yang berpikir. Tangan di letak kan sebelah kiri jidat, bibir sedikit maju ke depan, wajah yang di buat jelek.
Mereka yang melihat tingkah mengemaskan Kanaya tidak tahan dan langsung mencubit wajah gemas nya.
"Sudah, jangan di terus kan. Daddy tidak bisa lihat wajah imut Naya seperti ini." Mengalah Alvaro tidak mampu melihat wajah putri nya. Ia langsung mencubit dan membawa kedalam pangkuan nya.
Papa Naldo dan Mama Sofia melihat keakraban anak dan Bapak menjadi terharu. Seharusnya mereka melakukan ini dari dulu agar Kanaya dapat merasakan sosok Daddy dari bayi.
Kedua berdo'a dalam batin agar putri nya dapat kembali membuka lembaran baru bersama mantan suami serta anaknya.
"Maafkan Mama, Dinda. Mama lakuin ini agar kamu bahagia. Mama tidak ingin Kanaya tumbuh besar tanpa sosok Daddy." Batin nya.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
2)Alvaro TERPERANGKAP melihat Dinda begitu cantik, TERPERANGKAP itu maksudnya apa thor??
walaupun tidak tau seperti apa nantinya