"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadilan Tanpa Hakim
Layar putih itu menyala dengan dengung pelan tapi mampu mendebarkan. Suara musik dangdut yang sebelumnya mengalun di halaman langsung dimatikan oleh panitia, seolah semua orang sadar sesuatu yang jauh lebih serius sedang mengambil alih ruangan.
Gambar pertama muncul.
Rekaman CCTV rumah sakit.
Tanggal di pojok layar jelas, meskipun sedikit buram tertulis enam tahun yang lalu.
Lorong sempit dengan lampu neon berkedip. Bau obat dan cairan desinfektan seperti ikut merembes keluar dari layar. Seorang anak kecil duduk di kursi roda, kakinya diperban, wajahnya pucat. Di sampingnya, sepasang orang tua tampak gelisah.
Beberapa tamu langsung mencondongkan badan, berusaha menangkap detail video itu.
Lalu sosok perempuan masuk ke dalam frame dengan wajah angkuhnya.
Mirna...
Lebih muda. Rambutnya digelung dengan rapi, riasannya tebal, seragam perawat magang melekat di tubuhnya.
Bisik-bisik mulai terdengar lirih.
"Bukankah Itu Mirna?"
"Kayaknya iya..."
Mirna berdiri kaku di pelaminan. Dunia di sekelilingnya seperti mengerut, menyisakan suara jantungnya sendiri yang berdentum tidak beraturan. Tangannya gemetar hebat, tapi tubuhnya seakan terkunci.
Dalam video, Mirna terlihat berbicara dengan seorang dokter pria... tampan. Wajahnya tersenyum-senyum sendiri, yang kini terasa asing dan mengerikan bagi semua orang yang melihatnya.
Suara rekaman muncul, sedikit terdistorsi, tapi cukup jelas untuk didengar. Karena semua orang sudah terfokus.
"Kasus ini bisa disederhanakan, Dok. Orang tuanya tidak punya uang. Kalau laporan dibuat kecelakaan biasa, rumah sakit juga tidak ribet."
Beberapa tamu langsung menutup mulut mereka.
Di layar, kamera berpindah. Anak kecil itu, Naufal. Terlihat berusaha berdiri, lalu jatuh tersungkur. Tangisnya pecah.
Ibunya berteriak histeris.
Layar kemudian menampilkan rekaman lain. Kali ini dari ponsel. Suara seseorang terdengar di balik kamera.
"Tolong... anak saya cuma mau terapi, Dokter bilang harus segera."
Mirna di video menoleh, wajahnya berubah dingin.
"Kalau tidak bisa bayar, jangan maksa. Karena semua ada prosedurnya, ada aturannya." Ucapnya.
Video berhenti.
Keheningan jatuh begitu berat, seperti palu hakim yang menghantam meja hijau di pengadilan.
Bu Dinda di barisan depan tak lagi mampu menahan tangis. Tangannya memeluk Naufal yang terdiam, matanya nampak kosong menatap layar. Seakan tubuh kecil itu mengenali kembali rasa sakit yang pernah ia lalui enam tahun lalu.
Erlangga menoleh ke Mirna. Wajahnya pucat, bukan karena terkejut semata, melainkan karena potongan ingatan mulai menyatu dan kini menjadi satu diagnosa yang tak mungkin salah.
"Kamu bilang..." Suaranya parau. "Kamu cerita ke semua anggota keluarga, kamu adalah korban fitnah di rumah sakit saat kamu magang. Lalu memaksaku memasukkanmu di Puskesmas Desa dengan jabatanku sebagai taruhannya. Ini sungguh konyol." Ucap Erlangga.
Mirna membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar.
Dira berdiri beberapa langkah dari panggung, tapi Dia tidak menatap Mirna. Pandangannya hanya lurus ke layar, seolah semua ini bukan balas dendam, melainkan kewajiban sesama manusia.
"Video kedua." Ucapnya tenang.
Layar kembali berubah.
Terdengar rekaman percakapan telepon. Hanya suara, tanpa gambar.
"Tenang saja, Bu. Laporan itu sudah saya urus. Anak ibu memang lahir dengan kelainan saraf ringan. Bukan karena salah penanganan." Suara Mirna terdengar tanpa empati.
Kemudian Bu Dinda tersentak keras.
"Itu bohong!" Teriaknya pecah. "Anak saya sehat sebelum kecelakaan itu!"
Keributan mulai tak terbendung. Beberapa tamu berdiri. Ada yang mengambil video dengan ponsel, ada yang berbisik panik, ada pula yang terang-terangan menatap Juragan Karsa.
Pria tua itu berdiri dengan wajah memerah.
"Matikan!" Bentaknya. "Matikan sekarang!"
Namun sebelum panitia bergerak, Dira mengangkat tangan, meminta satu menit lagi.
"Belum selesai, Pak."
Juragan Karsa maju satu langkah. "Kamu mau apa sebenarnya, Dira? Menghancurkan nama baik keluarga kami?"
Dira akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tapi tetap tenang dan elegan.
"Nama baik yang dibangun di atas penderitaan orang lain, Pak? Bukan kehormatan. Itu namanya hutang."
Dira memberi isyarat kecil.
Video ketiga diputar.
Kali ini, dokumen.
Surat medis yang telah direvisi. Tanda tangan palsu. Bukti transfer dari rekening pribadi atas nama Mirna untuk beberapa orang yang kredibilitas kerjanya patut dipertanyakan. Meskipun jumlahnya tidak besar, tapi cukup untuk membeli kebisuan dan kebebasan.
Satu per satu, fakta ditampilkan tanpa emosi. Seperti membacakan vonis.
Mirna jatuh terduduk di kursi pelaminan. Kebaya putih gading yang dia kenakan kini tampak seperti kain kafan. Air matanya mengalir deras tanpa suara. Mirna hancur!
"Bukan seperti itu... aku... aku bisa jelaskan kenapa aku melakukannya. Aku terpaksa! Keadaan yang telah memaksaku... Aku terpojok dan tidak punya pilihan lain." Sangkalnya lemah.
"Diam!" Bentak keras Juragan Karsa.
Erlangga ikut bersuara, pelan. Tapi ketajamannya mampu meruntuhkan keteguhan Mirna.
"Alasan apa lagi yang bisa membenarkan perbuatanmu itu Mirna? Jadi kamu meminta perjodohan ini karena ingin menjebakku, ingin menjadikanku tameng?"
Untuk kesekian kalinya, Erlangga melihat wanita yang akan dia nikahi. Keponakan Ibu angkatnya, hanyalah seseorang perempuan dengan kebohongan berlapis-lapis.
"Jawab!" Desak Erlangga dengan tatapan bagaikan ingin menguliti hidup-hidup.
Mirna menggeleng, menangis. "Kalau aku bicara... aku hancur... Mas."
"Kamu sudah hancur." Potong Erlangga cepat.
Lalu Erlangga menoleh ke Dira. "Kamu tahu ini sejak kapan?"
"Sejak beberapa hari yang lalu." Jawab Dira dengan jujur. "Saya hanya menunggu saat semua bukti cukup kuat. Dan saat orang-orang yang dirugikan siap bersuara."
"Andai Mirna tidak mengusik ketenanganku, mengambil Hearing Aid dari telingaku lalu membuangnya ke semak-semak. Sambil menghinaku dengan sangat keterlaluan. Aku tidak mungkin membayar dua orang detektif untuk mengorek masa lalunya yang telah dia kubur. Sekarang karena kejahatannya sudah terbongkar, aku harap Mirna mau bertanggung jawab setelah selama ini sembunyi."
Bu Dinda bersuara, meskipun suaranya bergetar. "Kami sudah lama ingin bicara." Katanya sambil menghela panjang.
"Tapi setiap kali mencoba, laporan kami langsung ditolak. Kami diancam. Bahkan Naufal... pernah hampir 'hilang'. Padahal Naufal adalah korban, Mbak Mirna sudah menabraknya hingga cacat."
Pernyataan itu membuat ruangan berdesis.
Beberapa tamu langsung saling pandang. Ancaman itu bukan main-main.
Juragan Karsa mundur selangkah, tubuhnya oleng. "Apa maksudmu?" Tanyanya kaku.
Dira menjawab tanpa ragu, "Maksudnya, Pak. Kekuasaan keluarga Anda bekerja terlalu jauh. Sampai menghilangkan rasa aman warga kecil seperti mereka."
Keheningan kembali jatuh.
Kali ini lebih dingin.
Erlangga menarik napas panjang. Tangannya mengepal. "Pernikahan ini..." Katanya pelan, "saya batalkan." Kalimat itu jatuh seperti bom nuklir.
Mirna menjerit. "Tidak! Mas Angga... tolong! Aku bisa jelaskan!" Ucapnya.
Namun Erlangga sudah melangkah turun dari pelaminan, mengabaikan tangisan Mirna.
"Saya tidak akan mengikat hidup saya dengan kebohongan." Katanya tegas. "Dan saya tidak akan menutup mata atas kejahatan." Lanjut Erlangga.
Dia menatap semua orang.
"Silakan lanjutkan acara ini sebagai pesta," Ucapnya pahit. "Tapi tanpa saya."
Langkah kakinya menggema saat ia berjalan pergi meninggalkan pelaminan pernikahannya.
Mirna ambruk di lantai sepenuhnya. Tangisnya pecah, histeris, tanpa lagi peduli pada riasan atau tamu.
Dira mendekati Bu Dinda dan Pak Usman.
"Kita ke kantor polisi," katanya. "Semua sudah siap."
Bu Dinda mengangguk, air mata mengalir, tapi kali ini bukan karena putus asa dan kesedihan. Ini air mata dari kelegaan.
Sebelum pergi, Dira menoleh sekali lagi ke arah Mirna.
Tidak ada kebencian terlihat.
Hanya jarak.
"Ini bukan akhir hidupmu, Mirna." Ucapnya pelan. "Tapi akhir kebohonganmu."
Dira melangkah pergi bersama tamunya, yang memberanikan datang karena menuntut keadilan yang telah lama dibungkam.
Di belakangnya, pesta pernikahan itu runtuh menjadi puing-puing bisik. Kamera, dan wajah yang baru sadar bahwa kejahatan, seberapa rapi dikubur, selalu menemukan panggungnya sendiri.
"Padahal masih ada kejutan yang belum aku berikan." Gumam Dira.
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪