Warning ya!!!
Anget-anget kuku, bikin gerah, ketawa, dan menangis.
Harap baca 'My Sexy Old Man' agar mengenal karakter protagonis prianya.
Emanuel adalah pria yang gemulai yang mempunyai sifat yang lembut bagaikan kapas.
Sedangkan Afika larasati adalah gadis kecil yang baru berusia 17 tahun itu mempunyai sifat yang keras, tomboi dan jago bela diri.
Bagaimana jika dua manusia berbeda karakter itu di satukan dalam ikatan pernikahan?
Bagaimana kisah selanjutnya?
Penasaran? Yuk simak terus kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas dan gerah
Ema menggandeng tangan Fika sangat mesra saat menuruni anak tangga. Wajah pria itu terlihat berbinar namun berbeda dengan wanita yang ada digandengnya yang terlihat cemberut karena masih kesal dengan tingkah suaminya.
"Pagi Den dan Neng Fika." Sapa Bibi, sembari tersenyum malu saat melihat pasangan itu berjalan menuju ruang makan.
"Pagi juga, Bi." Balas Fika dan Ema bersamaan.
Fika mengerutkan keningnya saat melihat wanita yang memakai daster merah bermotif bunga itu tersenyum tidak jelas dari tadi, namun Fika memilih diam dan ia segera mendudukan diri di kursi yang sudah di tarikan oleh suaminya diruang makan itu.
"Pelan-pelan duduknya, Yank." Ucap Ema, membuat Fika mencebikkan bibirnya kesal.
"Kamu berlebihan, aku tidak apa-apa kok." Jawab Fika, menahan rasa malu karena perkataan Ema di dengar oleh Bibi.
"Iya itu kamu 'kan—"
"Sttt, sarapan dulu?" Fika, memotong ucapan suaminya dengan cepat. Kemudian ia ingin mengambilkan nasi goreng untuk suaminya.
"Sarapan roti selai strobery saja." Ucap Ema, sembari menatap wajah istrinya dengan penuh cinta, membuat Bibi yang menyaksikannya turut baper sendiri.
"Nggak nasi goreng? Bibi sudah masak banyak loh." Fika mengingatkan suaminya.
"No! Sarapan itu tidak boleh dengan makanan yang berat seperti nasi goreng itu yang mengandung karbohidrat yang tinggi. Kalau pagi lambung kita itu tidak boleh bekerja keras, maka dari itu kita dianjurkan sarapan yang ringan saja, seperti roti, susu, dan buah." Jelas Ema, membuat Fika memutar kedua matanya dengan malas.
Ya, begitulah Ema yang sangat menjaga pola makan dan berat badan, agar tubuhnya tetap ideal tanpa melakukan olah raga.
"Banyak omong kamu!" Kesal Fika, lalu mengambil sepiring nasi goreng dan meletakkannya di diatas meja tepat di depan suaminya.
"What!! Sayang—"
"Apa?!" Jawab Fika dan menatap tajam suaminya. "Duduk manis dan makan sarapanmu, hargai Bibi yang sudah lelah memasak untuk kita. Dan seharusnya kamu bersyukur karena kamu bisa makan enak setiap hari." Ucap Fika panjang lebar, membuat Ema terdiam dan menatap kagum istrinya. Begitu pula dangan Bibi yang menatap Fika dengan tatapan haru, kemudian Bibi meninggalkan pasangan itu dan melanjutkan pekerjaanya yaitu membersihkan kamar pengantin baru itu.
"Oke, maaf." Jawab Ema, tersenyum manis dan menatap istrinya dengan lembut.
Ah, sepertinya badanku akan melar. Batin Ema, sembari menatap sepiring nasi goreng yang ada di hadapannya.
Kemudian keduanya mulai memakan sarapannya dengan tenang tanpa adanya perdebatan lagi. Setelah selesai sarapan Fika dan Ema berpamitan dengan Bibi, karena keduanya itu akan pergi ke salon.
"Bibi tidak perlu memasak untuk makan malam, karena nanti kita akan menginap di rumah Ayah." Jelas Fika.
"Iya, Neng." Jawab Bibi tersenyum senang, karena hari ini ia bisa pulang lebih cepat dan menyambut kedatangan suaminya.
Saat di garasi mobil, Fika menggerutu kesal kepada suaminya.
"Kenapa lagi sih, Yank?" Tanya Ema heran, saat akan membuka pintu mobil.
"Sudah aku bilang 'kan ganti bajunya, lihat kamu ganteng banget aku nggak rela kalau kamu di lihat sama perempuan lain." Ucap Fika kesal, sambil memanyunkan bibirnya. Ema tergelak saat mendengar ucapan istrinya dan ia pun langsung menghampiri Fika, lalu memeluk tubuh ramping itu dengan erat.
"Mana mungkin wanita diluar sana tertarik dengan pria gemulai sepertiku. Kecuali kamu wanita yang berbeda dan mempunyai hati yang tulus juga mencintaiku dan menerimaku apa adanya." Ucap Ema, dengan penuh kelembutan dan mengecup pucuk kepala Istrinya dengan penuh cinta.
Fika mengurai pelukannya kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya itu dengan lembut.
"Sok tahu! Aku mencintaimu karena uangmu banyak." Ucap Fika, sambil menahan tawanya saat melihat wajah suaminya kesal, kemudian Fika berjinjit dan mengecup bibir suaminya dengan lembut.
Tentu hal yang mengenakan itu tidak di sia-saikan oleh Ema, dengan cepat ia menekan tengkuk istrinya dan memperdalam ciumannya. Ema melahap habis bibir manis yang sudah menjadi candunya itu dengan sangat rakus, sedangkan Fika langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh itu dan ia pun membalas ciuman suaminya tak kalah rakus.
"Emphh, Sayang.... Cu.. kup." Ucap Fika terbata, saat ciuman itu semakin menuntut dan ia langsung mendorong dada bidang Ema, saat ia merasakan sesuatu yang mulai mengeras dibawah sana.
Nafas keduanya masih terengah karena cukup lama bibir mereka saling bertaut tanpa jeda.
"Ah, aku jadi pengen lagi." Gerutu Ema, sambil memejamkan matanya dan menyenderkan tubuhnya di badan mobil.
"Tahan dulu ya, karena sarang burung elangmu masih sakit." Goda Fika, membuat Ema semakin frustasi.
"Kamu harus tanggung jawab dong." Keluh Ema.
"He he hee, ayo berangkat kesalon sekarang karena sudah siang dan jadwal kita hari ini banyak, sia-sia aku bolos hari ini kalau tidak berfedah." Ucap Fika.
"Menyenangkan suami itu sangat berfaedah ditambah dapat pahala banyak lagi." Gerutu Ema, dan disambut gelak tawa Fika. Kemudian keduanya kini mulai memasuki mobil menuju Salon.
*
*
*
Saat ini keduanya sudah berada di dalam salon Ema yang super elit di kalangan para Artis ternama di tanah air.
Fika sangat kesal dan menatap malas suaminya yang sedang berbicara dengan salah satu pegawainya.
Bagaimana tidak kesal? Saat ia dan Ema sudah memasuki salon, banyak wanita cantik dan seksih yang menyapa suaminya itu, bahkan ada beberapa wanita disana mencium pipi suaminya tanpa tahu malu dan lebih parahnya lagi Ema tidak menolak saat di cium pipinya, bahkan pria itu terkesan menikmati dan juga tersenyum manis kepada para wanita itu, membuat darah Fika langsung naik keubun-ubun.
"Sayang, kenapa cemberut begitu sih?" Tanya Ema, yang kini berjalan menghampirinya.
"Aku mau pulang!" Ucap Fika, dan memalingkan wajahnya.
"Loh kok? Kamu kenapa? Kamu nggak nyaman ada disini?" Ema melontarkan banyak pertanyaan saat mendengar istrinya ingin pulang.
"Iya aku nggak nyaman, tapi lebih tepatnya aku panas berada disini." Ketus Fika, dan berjalan menuju pintu keluar.
"Yank, kamu kenapa sih? Bahkan kita saja baru sampai loh." Ucap Ema, menahan tangan Fika.
Sepertinya Ema belum sadar jika dirinya melakukan kesalahan.
"Aku nggak apa-apa, cuma nggak nyaman aja disini, gerah!" Fika menyentakkan pergelangan tangannya, agar cekalan itu terlepas dan segera melanjutkan langkahnya lagi.
"Kamu ngomong dong, kalau aku punya salah." Ucap Ema dan mencekal tangan Fika lagi.
"Percuma! Kamu saja tidak peka!" Ketus Fika, dan menarik pergelangan tangannya dengan pelan dari tangan Ema.
"Please, kasih tahu salah aku di mana." Ucap Ema, dengan ekpresi wajah memohon.
"Sudahlah, antar aku kerumah Ayah." Ucap Fika, memalingkan wajahnya.
"NO! Kita kedokter kandungan dulu." Ucap Ema, lalu membawa istrinya menuju parkiran Mobil.
Konfliknya sudah mulai muncul yah, 🤭
Jangan lupa dukung terus karya Ema ini ya dengan cara tekan Favorit, like, votem, komentar dan kasih Gift,, Love you all😘
Bonus visual Ema dan Fika
Seperti ini penampilan Nue yang bikin Fika kesell
Gantengnya kelewatan sih 😍😍
Afika