Perang besar antar tiga benua mengubah segalanya. Ribuan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Penculikan dan penindasan hampir terjadi di setiap sudut, tidak ada kata aman lagi.
Di dunia yang kacau inilah seorang anak kecil yang memiliki tubuh surgawi lahir namun sayang Ia tidak bisa berkultivasi.
Sampai akhirnya Ia bisa berkultivasi dan mengubah takdirnya sendiri dengan caranya.
Dimulai dari membantu sesama sampai membangun sebuah desa yang aman bagi para pengungsi yang tidak memiliki tempat lagi dan tidak tahu harus kemana.
Desa Ye, begitulah nama yang diberikan para pengungsi, mengikuti namanya, Ye Chen.
Ye Chen tersenyum kecil.
"Gawat! cepat menghindar!" teriak salah satu tetua, namun terlambat.
Ye Chen telah bergerak, cepat sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Sekte Racun Darah
"Aku hanya bertanya sekali saja, aku juga bertanya baik-baik. Lalu kenapa kalian ingin mati?" Kata Ye Chen datar.
Craas...
Ye Chen memotong salah satu dari mereka menjadi tiga bagian, bahkan teriakan pun tak sempat terdengar dari mulutnya.
Aaaahh...
Teriakan orang kedua terdengar keras, Ye Chen menusuk perutnya dan memotong dua tangannya, membiarkannya mati kehabisan darah.
Orang ketiga juga bernasib sama, mati mengenaskan.
Orang keempat adalah ketua sekte, karena telah terluka, Ye hanya menjambak rambut dan menyeretnya menjauh lalu melemparnya.
Orang kelima dan terakhir hanya diam, tak bisa berkata apa-apa menyaksikan kematian rekan-rekannya.
Ye Chen hanya melihatnya sekilas dan berbalik ke tempat Ia melempar ketua sekte.
Tidak lama Ia kembali, entah apa yang Ia lakukan, di tubuhnya ada banyak tanah yang menempel.
Orang ke-empat yang tadi sempat lega ketika Ye Chen meninggalkannya kembali berkeringat dingin.
Diam, hanya itu yang bisa Ia lakukan saat Ye Chen menggeledah tubuhnya dan mengambil sebotol pil dari saku bagian dalamnya.
Tanpa peringatan, Ye Chen memaksa orang kelima ini menelan semua pil yang ada didalam botol.
Orang kelima panik, Ia tau jelas apa yang barusan ditelannya. Itu adalah pil racun darah, pil andalan sektenya.
Ia memang kebal dengan racun ini tapi tidak jika dalam jumlah yang banyak, apalagi ini Ia menelannya sekaligus.
Ye Chen yang melihatnya biasa2 saja hanya diam, Ia lalu memeriksa tiga orang anggota sekte yang tewas dan menemukan tiga botol pil. Satu botol pil berisi lima butir pil darah.
Pil darah di tiga botol ini semua lenyap ke dalam perut orang kelima. Pil racun pelan-pelan bereaksi, orang kelima berteriak-teriak kesakitan dan tewas menyusul rekan-rekannya, seluruh pori-pori di tubuhnya memgeluarkan darah.
Ye Chen kembali duduk, seolah tidak ada yang terjadi.
"Saudara Sun Li kau saja yang bicara."
"Jangan aku, kau saja... eh, atau nona Xiao Yun saja." Kata Sun Li.
Ye Chen yang mendengar ini berpaling melihat ketiga bawahan yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu.
"Ada apa, katakan saja." Kata Ye Chen.
"Tu... tuan muda... ketua itu berhasil keluar dari tanah." Kata Xiao Yun memberanikan diri berbicara.
"Nona Xiao, kebetulan aku bisa menepati janjiku. Tadinya kupikir kau akan marah padaku." Ye Chen ingat janjinya kepada Xiao Yun untuk tidak membunuh ketua sekte.
Atas perintah Ye Chen, ketua sekte dibawa kehadapannya. Tidak perlu bertanya lagi, ketua sekte Racun Darah ini langsung menceritakan semua tentang sektenya.
Markas sekte Racun Darah ada di beberapa tempat, salah satunya di tempat ini.
Markas ini adalah markas terluar, ada satu markas lagi setelah ini dan terakhir sebagai markas pusat adalah sebuah rumah makan di kekaisaran Ye.
Patriark sekte dibantu tiga tetua dan masing-masing tetua dibantu oleh satu ketua. Kultivasi tertinggi adalah patriark sekte yang berada di tingkat Langit Menengah, tiga tetua di tingkat Langit awal dan ketua berada di tingkat Bumi menengah dan awal.
Masing-masing tetua sekte memimpin satu markas.
Ketua ini juga menjelaskan bahwa tetua yang menjadi pimpinan di sini pergi ke markas pusat.
Ye Chen manggut-manggut sambil memutar-mutar cincin hijaunya mendengar informasi dari ketua sekte.
Ketua sekte yang sesekali meludah saat menuturkan keadaan sektenya melihat empat anak buahnya yang tewas mengenaskan. Tubuhnya bergidik lalu berkata.
"Tuan muda, bisaka aku pergi sekarang?" Ucapnya sambil menatap Ye Chen penuh harap.
Tapi Ye Chen mengabaikannya.
"Nona Xiao..." Kata Ye Chen, dan Xiao Yun yang mengerti arti ucapan Ye Chen bergerak cepat memisahkan kepala ketua sekte.
"Um... ya sudah, baiklah mati cepat juga bagus." Gumam Ye Chen pelan.
Xiao Yun mengerti arti gumamam Ye Chen, bukan tidak mau tapi Ia tidak bisa membunuh seperti yang Ye Chen lakukan.
Sedari tadi dendamnya juga telah menguap saat melihat Ye Chen mengubur hidup-hidup ketua sekte.
"Eh kalian masih di sini? bukankah aku tadi meminta kalian Mengumpulkan semua sumber daya di tempat ini?" Tanya Ye Chen bingung.
"Ha baiklah, karena kalian masih di sini, ada yang ingin aku sampaikan," kata Ye Chen. "kalau kalian masih ingin tinggal dan menetap di desa, kalian harus saying jaga. Aku tidak mau ada keributan apalagi sampai ada korban jiwa, ikuti aturan desa dengan baik."
Ye Chen menegaskan lagi bahwa tidak ada perkumpulan lain selain perkumpulan desa, setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah.
"Kalau ada yang merasa keberatan, lebih baik batalkan niat kalian dari sekarang. Karena aku sendiri yang akan menghukum siapapun yang berani mengganggu ketentraman desa." Ye Chen mengakhiri pidatonya.
Ye Chen kemudian mempersilahkan meninggalkan tempat ini jika tidak setuju dengan aturan yang Ia buat.
Diam...
Tak ada yang bergerak, masih terbayang anggota sekte yang tewas di depan mereka. Ketuanya lebih parah lagi, di kubur hidup-hidup.
Seorang dari tawanan berkata dengan agak gugup.
"Pemimpin, aku membawa tiga puluh orang keluargaku. Bagaimana aku tinggal nanti, bolehkah aku membangun tempat tinggal sendiri? Rasanya lebih nyaman kalo aku dekat dengan keluarga sendiri." Orang yang berbicara ini adalah seorang pria paruh baya, seorang kultivator. Di tempat asalnya, Ia adalah seorang yang di hormati dan cukup berkuasa.
"Maka tidak usah pergi, carilah jalanmu sendiri." Kata Ye Chen acuh.
Merasa tidak nyaman dengan aturan yang dibuat di desa, pria paruh baya ini lalu mengumpulkan keluarganya dan bersiap pergi.
Dengan arahan darinya, beberapa pemuda dari mereka berlari ke dalam gedung ketua sekte dan ketika kembali, bisa di lihat mereka menarik gerobak berisi pakaian, makanan dan uang.
"Pemimpin, kami akan pergi," katanya pada Ye Chen yang masih berdiri. "Saudara-saudara, jika ada di antara kalian yang ingin ikuti denganku, mari kita pergi bersama. Jujur saja aku tidak suka dengan aturan desa yang ketat, pemimpinnya seperti orang yang haus darah." Lanjutnya mengajak yang lain untuk ikut dengannya.
Para tawanan bingung, satu sisi mereka agak kuatir dengan aturan desa yang seolah mengikat mereka. Mau ikut pergi juga tidak tau mau pergi kemana, mereka masih trauma dengan apa yang mereka alami.
Akhirnya hanya bisa diam dan pasrah, memilih untuk tetap tinggal.
"Sun Yi tolong urus mereka," Ye Chen menunjuk ke arah kelompok pria paruh baya yang bersiap pergi.
"Kecuali pakaian, tidak ada yang boleh mereka bawa, umm...," Ye Chen berpikir sejenak. "Satu orang tiga keping emas, satu keping perak dan makanan untuk tiga hari, jangan lupa tinggalkan gerobak itu." Kata Ye Chen yang melihat Sun Yi kebingungan dengan perintah pertamanya.
"Pemimpin, apa ini! ini semua harta kami, tidak ada sepeserpun yang bukan hak kami." Protes pria paruh baya.
Sun Yi tentu saja mengacuhkan protes ini dan tetap melaksanakan perintah Ye Chen.
"Nah pergilah! asal kau tau, kalian semua ini adalah tawanan, aku tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan kalian. Aku tidak perduli apakah kalian mau bergabung atau tidak dengan desaku." Ucap Ye Chen yang mulai terlihat kesal.
"Nona Xiao tolong..."
Xiao Yun mengerti ucapan Ye Chen. Ia lalu mengatur semua tawanan, mulai mengumpulkan semua sumber daya dan bersiap berangkat bersama rombongan Ye Chen. Sesekali mereka melihat kepergian pria paruh baya dan kelompoknya yang terlihat geram.
Semua siap berangkat dan masih menunggu Ye Chen.
"Aku tau kalian mungkin tidak setuju dengan tindakan tuan muda," kata Xiao Yun yang masih melihat wajah-wajah kuatir dari para mantan tawanan ini. "Asal kalian tau, tuan muda bukan orang yang setega itu atau orang yang miskin. Setidaknya tuan muda memiliki jutaan emas dan perak yang di simpannya." Lanjut Xiao Yun yang asal saja menyebut jutaan. Ia tidak bisa mengira berapa banyak uang yang Ye Chen bawa.
Para mantan tawanan ini melongo mendengar jumlah yang Xiao Yun sebutkan.
Xiao Yun hanya tersenyum, omongannya berhasil pikirnya, lalu melanjutkan berbicara lagi.
"Kalau saja pria itu hanya tidak setuju dengan aturan desa, tuan muda pasti akan diam saja dan mungkin akan menambah bekal untuk mereka. Bukan berterima kasih sudah di tolong, malah menyebut tuan muda orang yang haus darah."
Diam sejenak.
"Coba kalian pikir baik-baik, sudah di tolong dengan taruhan nyawa malah bicara sembarangan. Bisa saja, setelah menyelamatkanku, kami semua pergi meninggalkan kalian semua."
Orang-orang yang memilih mengikuti Ye Chen ini mulai sadar dan mengangguk-angguk mengerti tindakan Ye Chen.
"Mengenai aturan desa, kalian sungguh naif jika berpikir aturan desa Ye ini mengekang kebebasan kalian. Coba pikirkan lagi, jika setiap yang datang ke desa meminta perlindungan dan tempat tinggal membangun wilayah sendiri dengan orang-orang sendiri, apa yang akan terjadi dengan desa?" Lanjut Xiao Yun menjelaskan panjang lebar.
Jika ini terjadi maka lambat laun desa Ye akan terkotak-kotak, terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil.
Bagi kelompok dengan anggota yang banyak, tentu ini sangat menguntungkan. Lalu bagaimana dengan yang hanya berjumlah dua atau tiga orang saja? tunggu saja, cepat atau lambat pasti akan terjadi ketimpangan dan lambat laun penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah akan terjadi.
Inilah kenyataannya, di mana saja pasti yang kuat akan menindas yang lemah tapi dengan adanya aturan yang mengikat, paling tidak bisa menekan hal ini terjadi.
Tidak membolehkan ada kelompok sejenis di dalam desa adalah aturan yang Ye Chen buat untuk mencegah adanya diskriminasi kelompok.
"Bibi berapa jumlah anggota keluargamu yang ikut?" Tanya Xiao Yun pada seorang ibu yang duduk di dekatnya.
"Kami berlima Nona. aku, suamiku dan dua anak serta menantuku." Jawabnya.
"Aturannya begini, nanti bibi akan tinggal bersama suami dan anak bibi, anak bibi yang lain dan menantumu akan tinggal di rumah yang lain lagi. Letak rumah kalian nanti tidak boleh berdekatan." Ucap Xiao Yun.
"Tetangga bibi nanti nanti adalah saudara bibi yang baru, tidak ada larangan jika bibi ingin berkunjung kerumah anak menantu nanti."
Sekali lagi Xiao Yun menjelaskan dengan sabar aturan desa, mulai dari luas rumah yang sama untuk setiap keluarga sampai cara mendapatkan pekerjaan dan terakhir adalah larangan memperjualbelikan lahan atau rumah. Jika ada masalah, wajib melapor ke aula desa.