Sang pewaris tunggal telah menghilang bak di telan bumi. Dia mengalami amnesia dan memiliki kehidupan yang baru.
Setelah sekian lama, kebenaran baru terungkap. Akankah dia mengingat keluarganya kembali?
Diantara dua wanita yang ada di dalam hatinya, siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan tinggalkan aku
Sesampainya di rumah. Bimo langsung berpamitan pulang setelah mengantarkan Bintang dan Alana sampai rumah. Namun berbeda ketika Bimo sudah pulang. Alana melayangkan protes terhadap ibunya, karena tidak membiarkannya menginap di rumah Lily dengan alasan sudah mengganggu tidurnya.
"Sayang, apa kurangnya kami? kami selalu ada buatmu. Memberikan apa yang kau mau, tapi nyatanya kau yang selalu menolak berbicara dengan kami. Alasanmu ya itu itu saja, menganggap kami terlalu kolot memahami masalah anak remaja sepertimu." Ucap Quenby di akhiri ******* kecewa, menatap Alana.
"Aku tahu, oma. Bukan maksudku seperti itu, tapi aku tidak mau membebani kalian." Bantah Alana.
"Maumu apa Alana? lebih baik kau bicara, jangan bersikap seperti ini." Timpal Viona, mulai geram dengan sikap Alana.
"Kau jangan ikut campur kak, bukankah kau juga sibuk dengan pasienmu ketimbang mengajak adikmu jalan?" ucap Alana, tersenyum sinis.
"Bukankah ada ibu, nak?" tanya Bintang, matanya berkaca kaca. "Katakan, ibu harus apa?"
"Ibu terlalu lemah, ibu sibuk dengan pekerjaan dan memikirkan perasaan ibu saja!" sungut Alana.
"Alana!" pekik Viona mulai tidak tahan. "Jaga bicaramu!"
"Alana, kenapa kau seperti ini nak?" tanya Avram, menggelengkan kepalanya.
"Hah terus saja cari muka!" sindir Alana, menatap tajam Viona.
"Apa maksudmu?" tanya Viona.
"Kakak lupa? atau pura pura lupa?" tanya Alana balik. "Kakak itu hanya anak pungut!"
"Plakk!!"
Viona menampar Alana cukup keras, hingga oleng kesamping.
"Viona!" pekik Bintang, lalu menghampiri Alana dan memeluk tubuhnya, tapi Alana menolak dan mendorong tubuh Bintang.
"Siapa yang mengatakan kebohongan itu, nak?" tanya Quenby, air matanya tak dapat ia bendung lagi.
"Kebohongan kalian bilang? itu bukan kebohongan tapi fakta!" seru Alana.
Viona menggelengkan kepala, dadanya terasa nyeri di sebut anak pungut. Selama ini, Bintang dan yang lain tidak pernah menganggapnya orang lain.
"Alana..." ucap Viona pelan, lalu melangkah gontai memasuki kamarnya.
"Pergi saja kak! kau memang kakak tidak berguna!" seru Alana lantang.
"Alana cukup!" bentak Bintang, menatap marah ke arah Alana.
"Bela saja terus! ibu lebih sayang kakak, dari pada aku!" Alana berlari menuju kamarnya dan tidak memperdulikan Bintang.
Tak lama, Viona keluar dari kamar pribadinya. Membawa koper berisi pakaian miliknya.
"Viona, kau mau kemana?" tanya Bintang, terisak, memperhatikan koper yang di bawanya.
Namun Viona hanya menggelengkan kepala, melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah.
"Viona!" panggil Quenby, hendak menyusul Viona. Bersamaan dengan Alana, keluar dari kamar pribadinya dengan tas ransel di punggung.
"Kau juga mau kemana, Alana?" tanya Avram, menarik tangan Alana. Namun gadis itu menepis tangan Avram.
"Biarkan aku pergi!"
"Alana! apa salahk!!" pekik Bintang, berlari menyusul Alana lalu memeluknya erat. "Kau mau kemana, Nak?"
"Lepas Ibu!" Alana mendorong tubuh Bintang. "Aku mau kerumah tante Lily. Mereka lebih mengerti aku dari pada ibu."
"Alana...."
Alana berlalu dari hadapan Bintang, tak memperdulilan bagaimana perasaannya saat ini.
"Sayang..." Quenby memeluk Bintang dengan erat.
"Ibu, apa salahku.." ucap Bintang terisak.
Tidak ada guru melebihi seorang ibu. Ibu yang mengajari putra putrinya dari mulai A, I, U. Paling terampil menjawab semua pertanyaan aneh sejak balita.
Bintang melepaskan pelukannya, berjalan gontai menuju kamar Viona. Sesampainya di dalam kamar Viona, Bintang menemukan berkas yang terjatuh di dekat lemari pakaiannya. Kemudian ia memungut berkas di lantai, lalu duduk di tepi tempat tidur menatap berkas di tangannya.
Bintang menyeka air matanya, perlahan membuka berkas di tangannya. Matanya melebar, membaca setiap detail keterangan yang tak lain hasil tes DNA milik Raiden.
"Ti, tidak mungkin..."