Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
Pagi datang membawa udara yang masih terasa sejuk. Sinar matahari baru saja terbit menyilaukan deretan atap rumah warga ketika Rina bersiap-siap berangkat kerja. Ia berdiri cukup lama di depan cermin kamar.
Wajah yang terpantul di dalam kaca terlihat jauh berbeda dibanding biasanya.
Kulitnya pucat pasi. Di bawah kedua matanya tercetak lingkaran hitam tebal akibat semalaman tak sanggup memejamkan mata. Bibirnya pun nampak kering memutih.
Rina menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang sayu. Ia memoleskan sedikit bedak padat untuk menyamarkan raut keletihan yang teramat sangat. Namun, seberapa tebal pun riasan yang ia sapukan, sisa-sisa ketakutan hebat itu tetap tak bisa disembunyikan.
Semalaman bayangan sosok perempuan bergaun kusam yang berdiri di sudut kamarnya terus terngiang-ngiang. Tatapan mata hitam kelam tanpa selaput putih itu tercetak amat jelas di memorinya. Begitu pula desis suara parau yang tak henti-hentinya menuntut hal yang sama.
"...gaun...ku..."
Rina memejamkan mata sejenak, meremas jemarinya kuat-kuat demi mengusir bayangan mengerikan itu dari otaknya.
"Aku harus kerja," gumamnya lirih pada diri sendiri.
Ia tak sudi terus-terusan berdiam diri di rumah seorang diri. Berada di sanggar bersama Anindiya dan dikelilingi riuh aktivitas orang lain terasa jauh lebih aman ketimbang harus mengurung diri bersama ketakutannya.
Setelah memastikan seluruh pintu dan jendela terkunci rapat, Rina melangkah keluar dan menyalakan motornya.
Perjalanan menuju sanggar terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Berulang kali mata Rina memandang ke kaca spion—bukan karena ada kendaraan yang membuntutinya, melainkan karena rasa waswas yang belum sepenuhnya sirna dari dadanya.
Beruntung, jalanan pagi itu sudah dipadati warga yang hendak berangkat beraktivitas dan anak-anak sekolah. Keramaian lalu lintas sedikit memberi ketenangan pada jiwanya yang koyak.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rina tiba di halaman sanggar.
Mobil milik Anindiya sudah terparkir rapi. Berarti atasannya itu sudah datang lebih awal.
Rina menarik napas dalam-dalam untuk menata mentalnya sebelum melangkah masuk. Begitu pintu kaca terdorong, aroma kosmetik harum dan kesegaran bunga langsung menyambut inderanya. Suasana sanggar tampak normal seperti sedia kala.
Manekin yang mengenakan gaun pengantin putih gading itu masih berdiri anggun di dekat jendela.
Rina refleks melihat pandangan ke sana. Jantungnya seketika berdegup kencang.
Namun, pagi ini tidak ada hal aneh. Tak ada bayangan berputar, tak ada aroma melati busuk, dan tak ada sosok perempuan kusam yang mengintip dari balik kainnya.
Meski begitu, Rina buru-buru memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup menatap gaun itu terlalu lama.
"Selamat pagi, Rin." Suara Anindiya memecah hening dari arah ruang kerja.
"Pagi, Mbak," sahut Rina berusaha terdengar wajar.
Anindiya melangkah keluar seraya membawa map tebal berisi daftar jadwal rias klien. Namun baru beberapa langkah mengayun, kakinya mendadak terhenti. Matanya memicing menatap paras Rina.
"Kamu kenapa, Rin?"
Rina mengukir senyum tipis yang dipaksakan. "Nggak apa-apa kok, Mbak."
Anindiya mengernyitkan alis, melangkah mendekat. "Wajahmu pucat banget. Kamu semalam kurang tidur ya?"
Rina terbungkam sejenak. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Iya, Mbak... agak susah tidur."
Anindiya menyentuh bahunya. "Kepalamu masih pusing? Kalau memang masih kurang sehat, mending kamu istirahat saja di rumah. Mbak bisa cari tenaga pengganti buat bantu-bantu hari ini."
Rina menggeleng cepat. "Nggak usah, Mbak. Aku masih kuat kerja kok."
Anindiya tak memaksakan kehendak. Ia paham betul asistennya ini sangat bertanggung jawab dan enggan merepotkan orang lain. "Ya sudah. Tapi nanti kalau badannya makin drop, langsung bilang ya. Jangan dipaksa."
"Iya, Mbak."
Percakapan mereka selesai di situ.
Sebenarnya, ada dorongan kuat di dalam dada Rina untuk menceritakan seluruh teror mengerikan semalam pada Anindiya. Tentang sosok perempuan bermata hitam yang datang ke kamarnya. Tentang cengkeraman tak kasat mata yang mencekik lehernya hingga sesak.
Namun, niat itu diurungkannya bulat-bulat.
Ia sudah tahu pasti bagaimana reaksi Anindiya. Atasannya itu pasti akan merasionalkannya sebagai mimpi buruk biasa atau halusinasi akibat kelelahan emosional. Bagi Anindiya, tak ada tempat untuk hal gaib jika belum ada bukti logis.
Maka, Rina memilih untuk bungkam. Menyimpan teror itu rapat-rapat dalam dirinya sendiri jauh lebih baik daripada mendengar keraguan yang meremehkan ketakutannya.
Aktivitas sanggar pun dimulai. Beberapa calon pengantin datang bergantian untuk melakukan fitting baju dan berkonsultasi mengenai riasan. Rina sibuk merapikan peralatan kosmetik dan menata gaun-gaun lainnya, berjuang keras tampil biasa di depan para klien.
Namun, tiap kali langkahnya terpaksa melintasi area ruang koleksi, gerakannya mendadak melambat kaku. Ia tak berani lagi melirik gaun pengantin putih gading itu secara langsung. Ada intuisi kelam yang membisikkan bahwa kain megah itu sedang "menunggu" mangsa berikutnya.
Menjelang siang, seorang calon pengantin meminta diantarkan untuk melihat koleksi gaun paling eksklusif. Anindiya dengan ramah memandu klien tersebut masuk ke ruang koleksi, sementara Rina menyusul dari belakang.
Begitu Rina melintasi ambang pintu ruangan, hawa dingin yang tak wajar mendadak menyergap kulitnya. Ia diam-diam mengusap kedua lengannya yang merinding.
Sebaliknya, sang calon pengantin justru mengamati gaun-gaun itu dengan mata berbinar.
"Bagus banget gaun yang ini, Mbak... Cantik sekali!" puji perempuan itu seraya melangkah tepat ke depan manekin gaun putih gading milik Anindiya.
Jemarinya terangkat, hendak menyentuh permukaan kain berhias payet mewah tersebut.
Melihat jemari itu hampir bersentuhan dengan kain, Rina yang diliputi panik refleks berseru pelan, "Jangan...!"
Seketika seluruh orang di ruangan itu menoleh menatap Rina dengan raut kaget.
Rina tersentak tersadar dari paniknya. Ia buru-buru menyusun alasan. "M-maksud saya... pelan-pelan saja, Mbak. Takutnya ada benang payet yang tersangkut di perhiasan."
Calon pengantin itu tersenyum mengerti lalu mengangguk pelan. Sementara Anindiya sempat menatap Rina agak lama—sebuah tatapan penuh selidik yang mempertanyakan kondisi mental asistennya. Namun Anindiya memilih tak berucap apa pun.
Setelah janji konsultasi selesai dan klien pamit pulang, Rina menghembuskan napas lega begitu melangkah keluar dari ruang koleksi.
Sore harinya, saat pelanggan mulai surut, Anindiya kembali menghampiri Rina yang sering tertangkap mata sedang melamun menatap lantai.
"Rin, kalau capek banget, kamu boleh pulang duluan kok," tawar Anindiya lembut.
Rina menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Mbak. Aku bertahan sampai tutup saja."
Ia menolak bukan karena fisiknya telah pulih. Melainkan karena ia terlalu takut untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Rumah yang selama ini menjadi tempat perlindungan paling aman, kini berubah menjadi tempat yang paling mengerikan di benaknya. Ia teror bayang-bayang malam yang bakal datang kembali—takut jika lampu kamarnya mendadak padam, takut aroma melati busuk merayap masuk, dan takut jika sosok bermata hitam itu berdiri tepat di samping tempat tidurnya lagi.
Sementara itu... tanpa pernah disadari oleh Anindiya maupun siapa pun di sanggar...
Di balik cermin berdiri berukuran besar yang bersandar di ruang koleksi...
Sebuah bayangan perempuan perlahan-lahan muncul dari kegelapan kaca.
Ia berdiri kaku, tepat membayangi manekin yang mengenakan gaun pengantin putih gading. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, dan seluruh rongga matanya berwarna hitam kelam.
Namun kali ini...
Sudut bibir pucat milik sosok di balik cermin itu terangkat naik... membentuk senyuman lebar yang teramat dingin dan mengerikan.
Seolah-olah ia sedang begitu menikmati rasa takut murni yang kini pelan-pelan meremukkan jiwa dan kehidupan Rina.