NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Nilai Sebuah Kerajaan Di Atas Bukit

Di balik gerbang baja tebal, ketegangan membeku di udara malam. Cahaya lampu sorot yang benderang menusuk mata para penyintas, memperlihatkan betapa menyedihkannya kondisi mereka saat ini. Baju seragam yang dulu rapi kini robek dan bernoda darah kering, wajah-wajah yang dulu dipuja di sekolah karena kecantikan atau ketampanan kini kotor dan pucat oleh histeria serta kelaparan.

Shido Koichi—yang tadinya begitu angkuh memprovokasi pengusiran Thomas—langsung mengubah raut wajahnya menjadi senyuman palsu yang manis. Ia mengambil satu langkah mendekati speaker interkom.

"Ah! Kau rupanya, anak muda!" panggil Shido dengan nada suara yang dibuat-buat ramah, seolah-olah pengusiran di bus tak pernah terjadi. "Sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa! Sebagai seorang pendidik, aku sangat lega melihatmu selamat. Kami di luar sini sedang dalam situasi darurat. Kami butuh makanan, air bersih, dan perawatan medis. Buka gerbang ini dan biarkan kami masuk. Sebagai imbalannya, aku bisa memimpin tempat ini bersamamu dengan penuh kearifan!"

Di dalam ruang kontrol yang hangat, Thomas duduk sembari memegang cangkir kopi. Mendengar ucapan Shido, senyum sinis yang teramat dingin terukir di bibirnya.

"Memimpin?" suara Thomas bergema lewat speaker, terdengar datar tanpa emosi sedikit pun. "Kau pikir jabatan gurumu dan omong kosong kepemimpinanmu itu masih punya arti di dunia sekarang?"

Shido tersedak oleh ludahnya sendiri, wajahnya memerah karena malu dan marah.

"Thomas!" kini giliran Saya Takagi yang berteriak. Gadis berambut merah muda itu memegang kacamata retaknya, membusungkan dada dengan sisa-sisa keangkuhannya sebagai putri dari keluarga politisi kaya. "Kau tidak bisa bersikap sekejam ini! Makanan dan fasilitas di dalam benteng itu pasti sangat banyak! Kau sendirian di sana, sedangkan kami kelaparan! Berbagi adalah hal yang wajib dilakukan oleh manusia beradab!"

"Beradab?" Thomas terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. "Saat kalian mengusirku dari bus karena takut aku merebut posisi kepemimpinan kalian, di mana peradaban yang kau bicarakan itu, Takagi?"

Saya membeku. Bibirnya bergoyang, namun tak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya.

Takashi Komuro melangkah maju ke depan gerbang, mengacungkan tombak rakitannya yang sudah bengkok ke arah kamera pengawas. Rahangnya mengatup rapat, matanya dipenuhi rasa cemburu dan amarah yang meluap-luap melihat tempat tinggal Thomas yang bagaikan istana baja di tengah neraka kiamat.

"Kami tidak butuh kasihanmu!" gertak Takashi dengan ego khas remaja yang terluka. "Rei, Saeko, dan yang lainnya sudah berjuang mati-matian! Kau punya tempat aman seperti ini tetapi hanya bersembunyi seperti penakut! Kalau kau punya sedikit saja jiwa laki-laki, buka pintu ini dan hadapi aku!"

Thomas menatap layar monitor yang menampilkan wajah Takashi. Di mata Thomas yang kini telah berevolusi ke Tier 1, Takashi tak lebih dari seekor serangga yang sedang berteriak ke arah gunung.

"Menghadapimu?" balas Thomas tenang. "Gelar 'pahlawan' yang kau sandang di sekolah tidak bisa mengenyangkan perutmu, Komuro. Keberanian konyolmu tidak bisa membeli sebotol air steril. Di dunia baru ini, kecantikan para gadis di belakangmu, kepintaran Takagi, dan status Pak Guru Shido... semuanya tak lebih berharga dari kotoran di bawah sepatuku."

iconic, kata-kata Thomas menghantam dada mereka seperti pukulan gada.

"Hanya ada tiga hal yang menentukan hukum di dunia baru," lanjut Thomas dingin. "Makanan, Air, dan Kekuatan. Dan kalian... tidak memiliki satu pun dari ketiganya."

CLIK.

Thomas mematikan sambungan interkom secara sepihak. Ia tidak mematikan lampu sorot, membiarkan cahaya terang itu tetap menyorot rombongan yang berdiri kaku di depan pintu bentengnya yang terkunci rapat.

align, di luar gerbang, Rei Miyamoto terduduk di tanah, meremas perutnya yang perih melilit. Saeko Busujima hanya diam berdiri, menatap kamera pengawas dengan tatapan penuh pemahaman. Saeko tahu, Thomas tidak salah. Dunia lama telah hancur, dan mereka yang tidak mau menerima realita kejam itu hanya sedang menunggu waktu untuk binasa.

"Ayo pergi..." bisik Saeko pelan pada rombongan. "Pria itu... tidak akan pernah membuka pintu ini untuk kita."

Pesan dari author: (Kumohon maafkan aku saeko!!!)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!