Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
Pagi hari di kelas 12 IPS 2 diwarnai riuh celoteh para siswa yang sibuk bertukar tugas dan menyalin PR Matematika. Namun di pojok barisan ketiga dekat jendela, atmosfer di meja Naya dan Saskia terasa jauh lebih tegang dari biasanya.
Saskia tidak sedang memegang pulpen atau buku pelajaran. Cewek itu duduk menyamping di kursinya, menyilangkan tangan di dada, dan menatap Naya dengan mata yang menyipit sangat tajam—bagaikan seorang detektif senior yang sedang menginterogasi tersangka utama kasus kejahatan besar.
Naya yang merasa ditatap seperti itu berpura-pura sibuk merapikan isi tempat pensilnya. "Sas... lo ngapain sih ngeliatin gue kayak gitu dari tadi? Muka gue ada beleknya ya?"
"Nay," panggil Saskia dengan nada suara yang sengaja dipelankan, namun sarat penekanan. "Gue mau nanya sesuatu. Dan lo harus jawab jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi."
Naya menelan ludah kasar, berusaha mempertahankan raut wajah santainya. "Nanya apaan sih? Soal PR Pak Danu? Gue juga belum selesai nomor lima—"
"Bukan soal PR," potong Saskia cepat. "Ini soal Arka Pradipta."
Jantung Naya mendadak berdegup kencang. Ia menghentikan gerakan tangannya di dalam tempat pensil. "A—Arka? Kenapa sama si robot kaku itu?"
Saskia memajukan tubuhnya ke depan, menopang dagu di atas meja Naya. "Seminggu terakhir ini, gue merhatiin keanehan lo berdua. Dan makin hari, keanehan itu makin nggak masuk akal."
"Aneh apanya sih, Sas? Orang kita biasa aja," elak Naya dengan tawa garing yang dipaksakan.
"Biasa aja dari mana?!" seru Saskia pelan. "Kemarin pas rapat panitia, pas Pak Danu nanya alamat rumah Arka buat pengiriman dokumen OSIS, lo refleks nyebut nomor rumah sama nama bloknya secara detail banget sebelum Arka sempat buka suara! Dari mana lo bisa tahu nomor rumah Ketua OSIS, Naya Aurelia?!"
Naya membeku. Matanya membelalak lebar saat memori kejadian kemarin sore melintas di kepalanya. Mampus! Gue kemarin keceplosan gara-gara udah kebiasaan hafal alamat rumah Tante Elena!
"I—itu..." Naya gelagapan, otak cerdasnya mendadak berputar keras mencari alibi. "Itu... kan gue udah bilang, orang tua kita sahabat lama! Waktu kecil gue pernah diajak Bokap main ke rumahnya sekali! Ya... ya pantes lah gue ingat!"
Saskia tidak tampak puas dengan jawaban itu. Cewek itu makin menyipitkan matanya. "Oke, anggaplah lo ingat alamat rumah masa kecilnya. Terus gimana soal tempat minum stainless steel warna hitam yang kemarin lo pakai di kantin?"
Naya mengedipkan matanya bingung. "Tempat minum gue? Kenapa?"
"Di bagian bawah botol itu ada ukiran inisial kecil: A.P. 09," tembak Saskia tepat di sasaran. "Itu botol minum limited edition kepunyaan Arka Pradipta yang selalu dia bawa pas latihan basket kelas 11 dulu! Kenapa botol minum itu bisa ada di dalam tas lo dan lo pakai minum santai di depan umum?!"
Brak!
Naya hampir saja menyenggol botol minum di atas mejanya hingga jatuh. Wajah Naya seketika pucat pasi, lalu berubah merona merah padam gara-gara panik luar biasa. Kemarin pagi ia terburu-buru mengambil botol minum dari atas konter dapur tanpa melihat bahwa itu adalah botol kesayangan Arka yang biasa dipakai cowok itu.
"I—ini..." Naya megap-megap, tenggorokannya mendadak terasa kering seperti padang pasir. "Ini... botolnya tertukar! Iya, tertukar!"
"Tertukar di mana?" pancing Saskia tajam.
"Di... di ruang OSIS!" jerit Naya tertahan. "Waktu gue ngumpul laporan dekorasi minggu lalu, botol kita mirip banget! Jadi gue nggak sengaja kebawa! Asli deh, Sas, cuma tertukar!"
Naya buru-buru menyambar kotak susu cokelat dari tasnya dan menyedotnya kasar untuk menutupi kepanikannya. Namun gara-gara terlalu panik dan tergesa-gesa, Naya justru tersedak hebat.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Naya batuk-batuk histeris sampai matanya berair.
"Eh! Pelan-pelan, Nay!" Saskia mengelus-elus punggung Naya sambil menyodorkan tisu. "Nggak usah spaneng gitu dong nanggapinya kalau emang nggak ada apa-apa!"
Naya menyapu bibirnya dengan tisu, bernapas tersengal-sengal dengan pipi yang masih memerah cerah. "Gue... gue kaget aja gara-gara lo menuduh yang enggak-enggak!"
Saskia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Naya dari atas ke bawah dengan pandangan yang teramat curiga.
"Jujur sama gue, Nay..." bisik Saskia pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Naya. "...jangan-jangan selama ini lo sama Arka punya rahasia besar yang sengaja lo tutup-tutupi dari gue?"
Jantung Naya berdetak begitu keras hingga rasanya ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Keringat dingin merembes di telapak tangannya. Rahasia pernikahan mereka—janji yang ia dan Arka pegang teguh—terasa berada di ujung tanduk saat ini.
"Rahasia apaan sih, Sas?!" elak Naya dengan nada tinggi yang dibuat-buat, berusaha bersikap segalak mungkin. "Gue sama si robot itu tuh cuma musuh bebuyutan! Gue benci banget sama dia, dan dia juga gak suka sama gue! Nggak ada rahasia-rahasiaan!"
"Masa sih?" gumam Saskia pelan, menyunggingkan senyum misterius yang sama sekali tidak percaya pada kata-kata Naya. "Tapi insting cewek gue bilang hal yang beda. Dan mulai hari ini, gue bakal merhatiin gerak-gerik lo berdua lebih detail lagi."
Saskia memutar tubuhnya kembali menghadap papan tulis, meninggalkan Naya yang lemas tak berdaya di atas kursinya.
Saat jam istirahat kedua di area lorong perpustakaan lantai dua, Naya sengaja mencegat Arka yang sedang berjalan sendirian membawa sebundel dokumen kedisiplinan.
Naya menarik lengan jas OSIS Arka secara sembunyi-sembunyi ke balik pilar bangunan yang sepi.
"Arka! Gawat!" bisik Naya panik, matanya menyapu sekeliling untuk memastikan tidak ada siswa lain yang melihat mereka.
Arka tersentak kaget saat ditarik tiba-tiba, namun dengan cepat menguasai dirinya. Laki-laki itu menatap Naya yang napasnya memburu dengan kening berkerut. "Ada apa, Naya? Kenapa kamu panik begitu?"
"Saskia!" rintih Naya pelan, meremas ujung kemeja seragam Arka tanpa sadar. "Saskia udah mulai curiga banget sama kita! Tadi pagi di kelas gue diinterogasi habis-habisan gara-gara gue tahu alamat rumah lo sama gara-gara botol minum lo terbawa sama gue!"
Arka menegang tipis mendengar laporan itu. Manik mata hitamnya berkilat cemas, namun ia berusaha keras tetap memancarkan ketenangan khasnya untuk menenangkan Naya.
"Lalu... kamu jawab apa?" tanya Arka pelan.
"Gue ngarang cerita kalau botolnya tertukar di ruang OSIS!" aduh Naya. "Tapi Saskia tuh peka banget, Arka! Dia bilang mulai hari ini dia bakal ngawasi gerak-gerik kita berdua secara diam-diam!"
Arka menghembuskan napas panjang lewat hidung. Tangan kanannya terangkat pelan, secara refleks memegang bahu Naya untuk menenangkan cewek itu. "Tenang, Naya. Jangan panik. Kalau kamu panik dan bersikap aneh di depan Saskia, dia bakal makin curiga."
"Gimana nggak panik coba?!" bisik Naya cemas. "Kalau sampai Saskia tahu kita udah nikah, habis kita, Arka!"
Arka menatap Naya lurus-lurus, jemarinya meremas pelan bahu Naya dengan kehangatan yang mantap. "Selama kita berdua tetap tenang dan menjaga jarak sesuai aturan baru kita, Saskia tidak bakal punya bukti apa pun. Serahkan sisanya ke saya. Nanti saya yang minta Dito buat mengalihkan perhatian Saskia kalau dia mulai bertanya macam-macam."
Naya menatap mata hitam Arka yang tenang dan penuh keyakinan. Perlahan-lahan, degup jantungnya yang liar mulai stabil kembali di bawah sentuhan hangat dan tatapan protektif Arka.
"Beneran aman, kan?" tanya Naya memastikan dengan suara cemberut yang pelan.
Arka menyunggingkan senyum tipis nan sangat halus di bibirnya. "Aman. Percaya sama saya."
Arka membetulkan letak kerah kemeja Naya yang sedikit kusut, lalu melangkah mundur menjaga jarak kembali sebelum ada siswa lain yang melintas di lorong.
Naya menyentuh bahunya yang baru saja diusap Arka, menatap punggung tegap sang Ketua OSIS yang melangkah menjauh. Meskipun ancaman kecurigaan Saskia masih membayang-bayang rapat, Naya menyadari satu hal: selama Arka berdiri di sampingnya untuk menghadapi masalah ini bersama, rasa takut itu tak lagi terasa terlalu menakutkan.