Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekening Rahasia Reza
Lampu meja dengan sorot kuning remang membiaskan pendar redup di atas berkas-berkas audit internal Pratama Group yang menumpuk rapi di ruang kerja Arga. Udara malam di lantai teratas gedung pencakar langit itu hening, hanya diisi gema desing pendingin udara dan ritme ketukan jemari Arga yang membentur permukaan kayu mahoni.
Di hadapannya, Bimo meletakkan sebuah paspor diplomatis palsu serta dokumen tebal bersampul abu-abu dengan cap rahasia dari sebuah lembaga forensik keuangan independen di Swiss.
"Semua jejaknya sudah terkunci total, Pak Arga," ujar Bimo, suaranya tenang namun sarat ketegasan. "Rekening rahasia atas nama entitas cangkang Valencian Holdings di Zurich—rekening yang selama dua tahun ini digunakan Pak Reza untuk menampung pelarian dana operasional serta hasil penjualan aset terselubung—resmi dibekukan sore tadi oleh otoritas perbankan internasional."
Arga meraih cangkir kopinya yang mulai dingin. Ia tidak langsung membuka berkas itu. Matanya menatap keluar jendela kaca setinggi plafon, memperhatikan pendar lampu kota yang membentang luas di bawah sana.
"Berapa sisa saldo yang berusaha dia amankan di sana, Bimo?" tanya Arga datar.
"Tujuh puluh lima miliar rupiah, Pak," jawab Bimo seraya membukakan halaman tengah berkas tersebut. "Itu adalah seluruh dana cadangan darurat yang disiapkan Pak Reza sebagai benteng terakhirnya. Rencananya, begitu proses hukum di Indonesia sedikit mereda, tim kuasa hukumnya di luar negeri akan mengeksekusi penarikan bertahap untuk membiayai kehidupannya setelah bebas nanti."
Sebuah senyum tipis—senyuman dingin yang tak tersentuh emosi—terukir di sudut bibir Arga. Ia menggeser cangkirnya, lalu menatap lembar demi lembar rekapitulasi transaksi pada rekening rahasia itu.
Di dalam benaknya, Arga membayangkan bagaimana Reza merancang tempat persembunyian finansial ini dengan begitu teliti. Dua tahun lalu, saat Reza masih menjabat sebagai mitra kepercayaannya, pria itu dengan sabar menyisihkan pecahan-pecahan dana kecil dari setiap nilai kontrak proyek, mengalirkannya melewati tiga lapis bank pelantara di Asia Tenggara, sebelum akhirnya bermuara di rekening Zurich tersebut. Bagi Reza, rekening rahasia itu bukan sekadar tumpukan uang; itu adalah simbol keunggulan logikanya atas Arga—sebuah bukti mutlak dalam pikirannya bahwa ia berhasil mempecundangi Arga tanpa pernah terdeteksi.
Namun, Reza lupa bahwa di dunia keuangan modern, tidak ada jejak digital yang benar-benar bersih bagi mereka yang serakah.
"Pak Reza saat ini sudah menerima pemberitahuan resmi dari pihak kejaksaan mengenai pembekuan rekening ini di dalam selnya," tambah Bimo.
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kebesarannya, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Bagaimana reaksinya?"
"Pihak sipir melaporkan bahwa Pak Reza sempat histeris dan mencoba menyerang pengacaranya sendiri saat mendengar kabar itu. Dia menyadari bahwa seluruh tabungan masa depannya telah lenyap."
Di saat yang sama, di dalam sel isolasi yang pengap dan temaram, suasana mencekam merayap di setiap sudut.
Reza duduk membungkuk di atas selimut tipis yang terbentang di lantai semen. Rambutnya yang kusam berantakan, dan seragam tahanan berwarna oranye yang melekat di tubuhnya tampak makin kebesaran. Kedua tangannya menggenggam erat surat pemberitahuan dari kejaksaan yang kini telah kusut dan koyak di beberapa bagian akibat remasan jemarinya yang gemetar hebat.
"Enggak mungkin... ini enggak mungkin..." bisik Reza dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Matanya yang merah dan cekung menatap baris demi baris tulisan di kertas itu dengan pandangan liar. "Bagaimana bisa Arga tahu soal Valencian Holdings...? Itu rekening pribadi! Tidak ada nama perusahaanku di sana! Tidak ada tanda tangan Nabila di sana!"
Napas Reza memburu, tenggorokannya terasa kaku dan panas seolah baru saja menelan bara api.
Rekening rahasia di Zurich itu adalah satu-satunya alasan mengapa Reza masih sanggup bertahan melewati hari-hari kelam di balik jeruji besi. Di dalam sel yang dingin ini, saat ia harus tidur berdampingan dengan penjahat jalanan dan menyantap makanan kusam, Reza selalu menghibur dirinya dengan satu pemikiran: Aku memang kalah hari ini, tapi sepuluh atau lima belas tahun lagi saat aku keluar, aku masih seorang jutawan. Uang tujuh puluh lima miliar itu akan menjamin sisa hidupku di Eropa.
Ilusi masa depan itulah yang menjadi penopang jiwanya. Itu adalah benteng terakhir dari harga dirinya yang tersisa.
Namun malam ini, benteng itu telah runtuh total. Pembekuan rekening rahasia itu memutus harapan terakhirnya, menyisakan kenyataan telanjang bahwa saat ia keluar dari penjara kelak, ia tidak lagi memiliki apa-apa—hanya seorang mantan narapidana miskin yang dihancurkan oleh dosanya sendiri.
"Argaaaaa!" jerit Reza histeris, suaranya melengking memecah keheningan koridor tahanan yang sepi.
Ia melemparkan kertas kusut itu ke udara, lalu menghantamkan kedua tinjunya ke lantai semen dengan penuh amarah dan keputusasaan. Rasa sakit di buku-buku jarinya tidak sebanding dengan rasa hampa yang membakar dadanya. Air mata frustrasi dan kekalahan yang mutlak meledak deras membasahi pipinya yang tirus.
"Kamu ambil semuanya, Arga! Kamu ambil semuanya dari aku!" teriaknya lagi, tubuhnya terguncang hebat oleh tangisan yang pecah.
Dari luar sel, suara langkah sepatu bot sipir terdengar mendekat dengan cepat. "Tahanan nomor 42! Diam! Jangan bikin keributan malam-malam!" bentak petugas seraya memukul batang besi sel dengan tongkatnya.
Brak! Brak!
Bunyi benturan logam itu bergaung keras, memantulkan gema dingin yang makin menegaskan batas kebebasan Reza. Reza merayap mundur ke sudut dinding yang basah, memeluk kedua lututnya erat-erat di tengah kegelapan sel. Rasa superioritas, kecerdikan palsu, dan chemistry kejayaan yang dulu ia banggakan bersama Nabila kini telah berubah menjadi abu yang sia-sia.
Sementara itu, di ruang kerjanya yang luas dan terang, Arga meletakkan berkas Valencian Holdings ke dalam mesin penghancur kertas.
Srrr ... srrr ...
Suara dokumen yang terpotong menjadi serpihan halus memenuhi ruangan. Arga memperhatikan kertas-kertas itu hancur tanpa ada sedikit pun raut penyesalan di wajahnya.
Logika pembalasan dendamnya telah tuntas dengan sempurna. Arga tidak hanya mengambil kembali harta dan kehormatan yang dicoba dirampas darinya, tetapi ia juga telah menguras habis setiap harapan dari jiwa orang-orang yang pernah mengkhianatinya.
Arga melangkah menuju meja kerjanya, mengambil jas hitamnya, dan mengancingkannya dengan rapi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dinding—seorang pria yang telah melewati badai pengkhianatan paling kelam, kini berdiri lebih kuat, lebih bijaksana, dan sepenuhnya terbebas dari jeratan masa lalu.
Ketika Arga mematikan lampu ruang kerjanya dan melangkah keluar menuju lift, koridor gedung terasa begitu tenang. Di luar sana, kota Jakarta membentang luas di bawah langit malam, menyambut langkah Arga Pratama menuju babak baru kehidupannya yang murni dan tak terkalahkan.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt