NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — SURAT DARI MASA LALU

​Hujan gerimis yang menyiram Istana Valerian sejak petang meninggalkan hawa dingin yang menusuk tulang. Di dalam kediaman utama Paviliun Barat, aroma teh chamomile hangat berpadu dengan wangi kayu manis dari tungku pembakaran.

​Alena baru saja selesai mengikat tali kemeja tidur Elian. Anak kecil itu sudah mengantuk berat setelah seharian bermain di istal, dan kini tersenyum tipis sembari memeluk bantal bulunya di ranjang.

​"Ibu..." gumam Elian parau dalam kantuknya. "Besok kita boleh lihat kuda putih itu lagi?"

​Alena tersenyum lembut, mengusap helai rambut cokelat keemasan putranya yang lembut. "Kalau Elian tidur nyenyak malam ini dan tidak lupa minum obat, besok Ibu antar lagi."

​"Janji ya, Ibu..." bisik Elian sebelum perlahan matanya terpejam, napasnya kembali teratur masuk ke dalam alam mimpi.

​Alena berdiri dari tepi ranjang, merapikan selimut tebal Elian hingga menutup dada anak itu. Ia memadamkan salah satu lilin di samping meja tempat tidur, menyisakan Pendar keemasan redup dari sudut ruangan, lalu melangkah keluar menuju ruang duduk utama.

​Di ruang duduk, Mira sedang berdiri kaku di samping meja mahoni. Wajah sahabatnya itu pucat pasi, matanya membelalak menatap selembar kertas perkamen kecil yang tergeletak di atas piring perak.

​"Mira?" panggil Alena heran, mempercepat langkahnya. "Ada apa? Kenapa kau berdiri seperti itu?"

​Mira tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah kertas perkamen tersebut.

​"Pagi tadi... saat kau sedang menemani Elian di istal," bisik Mira, suaranya tercekat di tenggorokan, "seorang pelayan junior mengantarkan surat ini. Dia bilang surat ini diselipkan di balik celah pintu luar paviliun kita."

​Alena mengerutkan keningnya. Rasa cemas yang samar mulai merayap di dadanya. Ia meraih kertas perkamen kusam tersebut.

​Kertas itu tebal, bertekstur kasar khas perkamen tua yang diproduksi di ibu kota. Tidak ada segel lilin, tidak ada nama pengirim, dan tidak ada alamat tujuan. Hanya ada satu kalimat yang ditulis menggunakan tinta hitam pekat dengan gaya tulisan tangan kaku yang disengaja agar sulit dikenali:

​“Aku tahu apa yang terjadi tujuh tahun lalu.”

​Darah di tubuh Alena serasa membeku seketika.

​Tangan Alena yang memegang perkamen itu gemetar hebat. Kalimat singkat itu terasa seperti bongkahan es yang menghantam dadanya, memutus aliran napasnya untuk beberapa detik yang menyiksa.

​Siapa? batin Alena menjerit dalam ketakutan yang luar biasa.

​"Alena..." suara Mira bergetar, melangkah mendekat dan meremas jemari dingin Alena. "Siapa yang menulis surat ini? Apakah... apakah ini dari orang-orang Pangeran Adrian? Atau orang-orang Duke Ardent?"

​"Tidak..." Alena menggelengkan kepalanya panik, hatinya berdegup kencang secara tak teratur. "Ini bukan gaya Adrian. Jika Adrian yang memegang bukti, dia akan datang langsung dan menuntut jawaban dariku seperti yang dipakukannya kemarin. Ini juga bukan cara Duke Ardent... Darius Ardent akan menggunakan dewan atau belati rahasia, bukan surat peringatan seperti ini."

​"Lalu siapa lagi, Alena?!" desak Mira, matanya berkilat penuh kepanikan. "Siapa lagi di istana ini yang tahu rahasia kehamilanmu tujuh tahun lalu selain Penasihat Rowan yang sudah mati?!"

​Alena terduduk lemas di atas kursi kayu berukir. Pikirannya berputar liar, menyusuri kembali lorong-lorong ingatan kelam dari malam ketika ia melarikan diri tujuh tahun lalu.

​Malam itu... tujuh tahun lalu... Alena hanyalah seorang gadis muda berusia tujuh belas tahun yang ketakutan. Ia dipanggil oleh Penasihat Rowan ke Menara Selatan dan diancam akan dieksekusi bersama bayinya jika tidak segera menghilang. Rowan yang memberinya pilihan kejam itu. Rowan yang memaksanya menulis surat pengkhianatan palsu untuk Adrian.

​Namun... apakah Rowan bergerak sendirian saat itu?

​Alena mengingat kembali detail malam pembantaian harapannya tersebut. Di ruangan Menara Selatan yang gelap malam itu, bukan hanya ada Rowan. Ada sesosok pria lain yang berdiri di balik bayangan kanopi jendela—pria berbadan tegap dengan zirah perak. Dan ada seorang pelayan senior yang membawakan tempat tinta dan perkamen untuknya.

​Bahkan saat ia keluar melalui gerbang barat, ada seorang penjaga gerbang malam yang membukakan palang kayu tanpa mencatat namanya di buku log perjalanan.

​"Seseorang..." bisik Alena, suaranya parau oleh ketakutan yang teramat sangat. "Seseorang dari masa lalu yang membantu Rowan atau memfasilitasi pelarianku... masih hidup di istana ini."

​"Tuhan..." gumam Mira, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Artinya rahasiamu tidak pernah benar-benar terkubur, Alena. Orang ini menyimpan rahasia itu selama tujuh tahun, dan sekarang... sekarang setelah kau kembali sebagai selir, dia menagih keberadaannya!"

​Alena mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas pangkuannya, meremas surat perkamen itu hingga remuk di dalam genggamannya.

​Ancaman ini jauh lebih mengerikan daripada konfrontasi terbuka dengan Adrian. Musuh di balik surat ini adalah musuh dalam selimut—sosok tanpa wajah yang mengetahui rahasia terbesar hidupnya dan bisa menggunakan rahasia itu kapan saja untuk menghancurkannya, memerasnya, atau melempar Elian ke hadapan algojo kerajaan.

​"Apa yang harus kita lakukan, Alena?" tanya Mira, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Apakah kita harus memberi tahu Gareth? Atau... Pangeran Adrian?"

​"Jangan!" potong Alena cepat dan tegas. Ia mendongak, menatap Mira dengan mata hijau hazelnya yang memancarkan keteguhan luar biasa di balik ketakutannya. "Kita tidak bisa memberi tahu siapa pun! Jika Adrian tahu tentang surat ini, dia akan ngamuk dan memicu penyelidikan terbuka. Hal itu justru akan membongkar identitas Elian sebelum kita sempat mengamankan posisi!"

​Alena berdiri dari kursinya, melangkah mendekati tungku pembakaran yang menyala merah di sudut ruangan. Tanpa ragu-ragu, ia melemparkan surat perkamen yang sudah remuk itu ke dalam kobaran api.

​Kertas tua itu dengan cepat terlahap lidah api, berubah menjadi abu hitam yang terbang bebas di udara tungku.

​Alena memperhatikan abu itu hancur, dadanya naik turun seiring napasnya yang memburu.

​"Pengirim surat ini ingin melihatku panik," kata Alena, suaranya kini kembali membeku oleh keberanian seorang ibu yang siap bertarung. "Dia ingin aku melakukan kesalahan, berlari, atau bertindak bodoh. Tapi aku bukan lagi gadis tujuh belas tahun yang mudah diintimidasi, Mira."

​Alena berbalik menghadap sahabatnya.

​"Mulai esok hari, pasang matamu baik-baik pada setiap pelayan, pengawal, dan juru tulis yang mendekati paviliun ini. Siapa pun pengirim surat ini... dia ada di dalam dinding istana ini. Dan aku akan menemukan orang itu sebelum dia sempat menyentuh sehelai rambut pun dari kepala putraku."

​Di balik keheningan malam yang diguyur hujan, perang dingin di Istana Valerian telah memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya. Dan Alena tahu, ia tidak boleh lengah sedikit pun jika ingin memastikan Elian tetap bernapas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!