"Dia istriku."
"Tapi dia milikku, Kak."
---------
Menggantikan sang Adik dalam sebuah pernikahan tak pernah menjadi mimpi dalam hidup Dirgantara Avgian. Sebuah kejutan yang disusun sebaik mungkin untuk sang adik nyatanya menyeret Gian dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak dia inginkan.
Bagaimana mungkin ia mencintai gadis yang sudah bertahun–tahun menjadi kekasih adiknya, dan bagaimana mungkin ia menjalani pernikahan dengan gadis kecil yang masih sibuk dengan pelajaran Matematika, sungguh tidak dapat dipercaya.
ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Mandi.
Brugh
Gian menghempas tubuhnya, sungguh ia lelah. Mendapatkan kamar seadanya namun tetap nyaman membuatnya lelahnya seakan berkurang.
Ia hendak menenangkan diri sejenak, mandi dan tidur dengan pakaian yang memang Jelita siapkan. Karena rencana mereka akan menginap meski tak lama, namun kejadian tak etis yang terjadi di rumah Maya membuat semuanya gagal.
"Tutup pintunya, Zura."
Gian berucap tanpa membuka mata, tetap dengan satu lengan di atas wajahnya. Sejak ia masuk, Radha hanya terpaku di dekat pintu dan meneliti setiap sudut kamar itu.
Sungguh tidak nyaman, bahkan tempat tidur itu terlalu kecil untuk berdua. Radha menghela napas kasar, ingin menolak dan meminta kamar lain rasanya tak mungkin. Ingin tidur bersama Jelita, sudah tentu Raka takkan mengizinkannya.
"Zura," panggil Gian lagi, wanita itu terperanjat kaget, memalingkan wajah dan kini mulai mendekat. Lupa dengan perintah Gian yang pertama.
"Ra, pintunya gimana?"
Pria itu menatap tajam Radha yang hendak mendudukkan tubuhnya di sofa. Masih dengan posisi yang sama, hanya saja ia sengaja memperhatikan gerak gerik Radha.
"Iya, Kak. A-aku lupa."
Radha berjalan lunglai, ia sengaja melakukannya. Bahkan jika bisa ia ingin pintu itu terbuka hingga esok hari. Dengan gerakan lambat, tanpa niat Radha menutup pintu itu perlahan. Menatap nanar luar kamar yang akan segera hilang di balik pintu itu.
"Kunci jangan, kunci jangan."
Ia membatin sembari menatap lekat kunci yang menggantung di sana. Menoleh sejenak memastikan bagaimana Gian saat ini. Masih sama, pria itu memang terlihat lelah, bahkan sangat lelah.
Lima menit berlalu, ia masih saja berkutat dengan pintu itu. Radha mengambil napas dalam-dalam, memutuskan hal sepele saja ia bahkan tak bisa.
Ceklek
Tangan kekar itu kini mengambil alih jemarinya. Memutarkan kunci itu karena mungkin Gian gemas menunggunya.
"Ck, kau lupa caranya atau memang tak mengerti? Hem?" tanya Gian dengan suara khas orang mengantuk.
Radha mendongak, tampaklah wajah tampan itu menatapnya dengan tatapan tak terbaca, mata itu membuat Radha takut dan berdesir. Segera ia kembali menunduk dan memejamkan matanya erat.
Perasaan ini selalu ia dapatkan saat bersama dengan Gian, bahkan ia tak pernah merasa segugup ini kala bersama Haidar. Telapak tangannya terasa dingin, benar adanya bahwa ia tak mampu berhadapan dengan hal ini.
"Kak," keluh Radha dengan wajah yang semakin memerah, ia benar-benar malu berada dalam situasi ini.
"Hem, kenapa? Apa yang kau inginkan?" tanya Gian dengan suara lembut nan halus, ia menarik sudut bibir kala menangkap pergerakan Radha yang ia rasa cukup menggemaskan.
"Le-lepaskan tanganmu, a-aku mau mandi, Kak."
Gian tertawa menang, memang ini yang ia inginkan. Tetap saja meski ia sesenang apapun, wajah datarlah yang akan ia perlihatkan. Menyaksikan Radha yang begitu gugup merupakan suatu kesenangan baginya.
"Mandi?"
"Iyaa ... mandi,"
"Apa? Coba ulangi sekali lagi,"
"Mandi ... Gi-an."
Radha mulai kesal, ia paham betul saat ini Gian tengah mempermainkannya. Namun hendak berontak, ia takut Gian akan lebih nekat.
"Hem, ide yang bagus," celetuk Gian membuat Radha membeliak.
Tawa sumbang Gian membuat Radha semakin bertanya-tanya, pria itu melepaskan genggaman tangan dan mundur beberapa langkah. Tetap tak melepaskan Radha dari pandangannya meski semenit saja.
"Hahahaha!!"
Gian tak mampu menahan tawanya, keringat Radha yang berucuran di lehernya membuat wanita mungil itu tampak lucu saja di mata Gian.
Radha mencebik menatap ulah suaminya, ingin rasanya ia melemparkan sepatu di wajah tampan itu. Membentak diam dan berkata banyak pun ia masih tak mampu.
"Ehem,"
Pria itu kembali berubah, sungguh cepat bak membalikkan telapak tangan. Ia benar-benar kagum akan kemampuan Gian menyesuaikan dirinya.
"Mandilah lebih dulu, aku akan menunggumu."
Gian berucap datar seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya, pria itu duduk di sofa sembari memainkan benda pipih yang ia keluarkan dari sakunya. Wajahnya yang serius lagi-lagi menimbulkan tanya bagi Radha.
Hendak melangkah, namun ia penasaran siapa yang Gian hubungi. Hingga ia tersadar dan memilih untuk berlalu, untuk apa ia peduli, pikir Radha mencebikkan bibirnya.
"Apa?!"
"Kau gila?!!"
"Lakukan dengan benar, Rick, Aku akan pulang esok hari."
Rahangnya mengeras, tangannya kini mengepal. Radha yang bahkan hendak mandi memilih menunda dan kini mengintip di balik pintu itu. Benar-benar jiwa penasaran yang hakiki.
"Apa yang kau lihat?" tanya Gian sesaat setelah menyadari sepasang mata yang kini menatapnya.
"Ti-tidak, siapa yang melihat Kakak."
Radha menyesal, andai saja ia memilih meneruskan rencana tanpa ingin tahu banyak hal. Tentu hal semacam ini takkan terjadi.
"Lalu kenapa kau belum juga mandi? Ha?"
"Oh, aku tau, kau memintaku menemanimu kan, Zura?" tanya Gian dengan mata yang sangat amat Radha hindari, benar-benar menyebalkan.
Brak
Tak ingin lebih lama menjadi bahan godaan Gian, segera ia menutup pintu itu dengan kasar lantaran gugup dan takutnya bercampur menjadi satu. Ia paham betul suaminya adalah pria dewasa yang tentu saja butuh dengan hal semacam itu.
Seharian setelah menikah, Radha mencari pentunjuk sendiri di berbagai artikel. Meski ia sempat menganga dan setengah tak percaya, bahkan sempat menolak beberapa fakta yang ia dapatkan. Namun, semua itu terpatahkan kala ia menemukannya dalam diri Gian.
"Astaga, benar-benar cari masalah."
Radha terduduk lemas, bersandar di pintu sembari sesekali mengusap wajahnya kasar. Belum juga mandi, tapi ia sudah memikirkan bagaimana nantinya ketika usai dan harus kembali bertatap muka dengan pria mesum itu.
Tbc