NovelToon NovelToon
Aku (Bukan) Selingkuhan

Aku (Bukan) Selingkuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Action / Contest / Tamat
Popularitas:910.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Monica Dewi

Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.

Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.

Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Kesepian

Setelah perdebatan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka pun berhenti, dalam keadaan suara yang serak karena terus berteriak dan memaki satu sama lain sejak tadi. Jesslyn pun memberikan minuman air hangat kepada kedua orang itu.

"Minumlah ini."

Alicia dan Samuel pun menerima minuman itu dan langsung meminumnya. Air hangat sangat tepat untuk meredakan tenggorokan mereka yang sakit.

"Terima kasih," ucap Alicia dan Samuel serentak, dan Jesslyn pun tersenyum. Ia kemudian duduk di sofa di sebelah Alicia.

"Apa kalian selalu seperti ini? Bertengkar setiap hari?"

"Tidak. Jika di depan publik kami harus bersikap seperti layaknya sepasang kekasih," terang Alicia.

"Iya, dan itu sangat membuatku menderita karena tak bisa melirik gadis lain."

"Cih! Kau pikir aku senang berdekatan denganmu!" cibir Alicia yang ingin memulai perdebatannya lagi dengan Samuel.

"Ya ampun. Sudah, hentikan."

"Maaf, Jessy, karena kami, acara makan malam ini jadi rusak."

Alicia menyesal karena tak dapat mengontrol emosinya jika berhadapan dengan Samuel. Pria ini selalu saja membuatnya kesal setengah mati.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Lain kali aku yang akan memasak untukmu."

"Bagaimana jika kau bawa pulang saja? Aku akan menyiapkannya untukmu." Alicia bangkit dari sofa dan ingin membungkus makanan itu untuk Jesslyn, tetapi Jesslyn menolaknya.

"Tidak perlu, Alice. Aku tidak bisa makan terlalu banyak karena aku akan mual lagi nanti. Oh iya, ini sudah malam. Aku harus segera pulang."

"Baiklah, aku akan mengantarmu."

Samuel dan Alicia saling menatap, karena lagi-lagi mereka berbicara secara serentak.

"Mengapa kau selalu mengikuti ucapanku?" tanya Alicia kesal.

"Kapan aku mengikuti ucapanmu? Aku yang membawa Nona Jiang ke sini, tentu saja aku yang harus mengantarnya pulang."

"Tidak bisa! Siapa yang tahu kau akan mengantarnya pulang atau malah membawanya ke hotel?" sinis Alicia.

"Apa kau pikir aku adalah seorang pria yang akan melakukan hal bejat seperti itu?"

"Haish! Kalian ini. Sudah, hentikan!" Jesslyn memegangi kepalanya yang terasa pusing karena mereka berdua kembali berteriak dan saling tuduh. "Tidak perlu mengantarku. Aku bisa naik taksi. Lagi pula kalian belum makan malam, 'kan? Lihat makanan itu masih sangat banyak. Kalian nikmati saja. Aku akan pulang dulu."

"Tetapi, Jessy ...!"

"Sudah. Tidak apa-apa. Aku pulang dulu. Ok?"

"Kau sungguh akan pulang sendiri. Aku mengkhawatirkanmu, Jessy. Ini sudah cukup larut," ujar Alicia cemas.

"Tidak apa-apa, Alice. Jangan khawatirkan aku. Aku pamit dulu. Sampai jumpa."

Jesslyn pun memeluk Alicia dan berpamitan dengannya.

"Sampai jumpa, Tuan Lee." Jesslyn menjabat tangan Samuel.

"Kau tidak memelukku, Jessy?" tanya Samuel dan Alicia pun segera berdiri di tengah-tengah kedua orang itu untuk memisahkan mereka.

"Jangan macam-macam!" ucap Alicia seraya mengepalkan tangannya ke arah pria itu.

Jesslyn tertawa melihat tingkah Tom dan Jerry itu. Ia pun melambaikan tangannya dan segera pergi dari apartemen Alicia.

Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu dan Alicia pun segera berjalan ke arah ruang makan.

"Kau mau makan tidak? Jangan bilang aku kejam dan tidak memberikanmu makan."

Hening. Tidak ada yang menjawab ucapan Alicia. Ia pun segera menolehkan kepalanya dan mendapati jika hanya ia sendiri yang berada di sana.

"Ke mana si br*ngsek itu?" tanya Alicia bingung, tetapi ia pun segera menyadari ke mana Samuel pergi.

"Dasar. Kau tidak menyerah rupanya."

.

.

.

Kediaman Keluarga Gao

Jesslyn tiba di rumahnya saat jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Ia pun segera melangkahkan kakinya masuk ke rumah besar itu. Begitu Jesslyn menghilang dari balik pintu, sebuah mobil yang terus mengikutinya sejak tadi pun segera melaju pergi.

'Syukurlah dia sudah sampai di rumah dengan aman. Selamat malam, Jessy. Selamat tidur. Mimpikanlah aku.'

Samuel tersenyum dan melajukan mobilnya meninggalkan kompleks perumahan mewah itu. Karena mengkhawatirkan Jesslyn, maka diam-diam, ia pun terus mengikuti taksi yang ditumpangi oleh wanita itu tadi.

Samuel pun lega saat Jesslyn sudah sampai di rumah dengan selamat. Ia pun segera mencatat dan mengingat alamat rumah Jesslyn untuk menjemput wanita itu lain kali.

Jesslyn masuk ke rumahnya dan tak bertemu dengan ibu mertuanya yang kemungkinan sudah tidur, maka ia pun langsung berjalan menuju ke kamarnya. Kamar itu terlihat masih dalam keadaan gelap gulita, yang menandakan bahwa tidak ada seorang pun di kamar itu.

'Apa Peter belum pulang?'

Jesslyn menyalakan lampu dan kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah beberapa saat pun, akhirnya Jesslyn keluar dari kamar mandi dan melihat ke sekeliling kamarnya yang masih tampak sepi.

'Peter, kapan kau akan pulang? Apa kau tidak merindukanku dan bayi kita? Kami membutuhkanmu, Peter,' gumam Jesslyn yang melihat jika ternyata Peter belum pulang juga meskipun hari semakin gelap.

Jesslyn menyeka bulir air mata yang perlahan turun dari kedua manik coklatnya. Ia kemudian naik ke atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan tentang nasib rumah tangga dan bayinya kelak.

Bersama dengan para sahabatnya tadi begitu menyenangkan, tetapi ketika sampai di rumah ia merasa kesepian. Kamar tidur yang luas dan indah ini terasa begitu sunyi dan sepi.

Bukan hanya saat ia sedang sendiri, tetapi juga saat Peter berada di sini pun sama saja. Mereka bagaikan dan orang asing yang hanya berbagi ranjang bersama.

Tak ada kehangatan apalagi canda tawa penuh cinta yang pernah terdengar di kamar ini, karena Peter memang lebih banyak terdiam saat bersama dengan Jesslyn. Mereka hanya berbicara seperlunya saja.

Jesslyn yang memang pendiam pun tak mengerti harus berbicara apa kepada Peter yang bersikap begitu dingin padanya. Ia tidak pandai merayu, melontarkan gurauan ataupun sekedar membahas topik pembicaraan yang menyenangkan.

Jesslyn benar-benar buta akan hal ini, ia tak memiliki pengalaman dalam berhubungan dengan pria. Waktunya hanya dihabiskan untuk belajar dan bekerja saat kuliah dulu. Dan Peter adalah pria pertama yang begitu dekat dengannya.

Jesslyn pernah mencoba berbicara lebih dulu mengenai topik liburan saat tahun baru kemarin, tetapi bukan hanya tidak merespon, Peter bahkan meninggalkannya begitu saja di kamar saat handphone-nya berdering dan tak kembali lagi ke kamar mereka malam itu.

Sejak saat itu Jesslyn berpikir jika Peter tak suka membahas hal yang tak penting dan ia pun tak pernah mencobanya lagi. Meskipun Peter selalu bersikap dingin kepadanya, tetapi setidaknya pria itu ada di sisinya. Tidak seperti sekarang yang tidak pulang selama beberapa hari dan terus mengabaikannya.

Malam semakin larut. Rasa kantuk pun mulai menghinggapinya. Kehamilan ini memang membuatnya cepat lelah. Jesslyn bersiap untuk tidur saat handphone-nya berdering.

Dengan secepat kilat, ia pun bangkit dari tempat tidur dan langsung menyambar handphone-nya, kemudian menekan tombol jawab tanpa melihat lagi siapa orang yang sedang menghubunginya.

"Halo, Peter?!" jawabnya antusias.

"Peter?! Ini aku Martha. Apa suamimu tidak ada di rumah?"

Jesslyn melihat kembali nama yang tertera di handphone-nya. Tertulis CEO Huang. Martha menggunakan handphone suaminya untuk menelepon Jesslyn.

"Dia sedang bertugas ke luar kota," kilah Jesslyn, "mengapa menggunakan handphone suamimu? Lagi pula ada hal penting apa kau meneleponku selarut ini?"

"Oh, handphone-ku sedang di-charge. Apa aku tidak boleh meneleponmu jika tidak ada hal yang penting?" rajuk Martha.

"Bukan begitu maksudku, Nyonya Huang. Karena hari sudah larut, jadi jika tidak ada hal penting maka kau tidak mungkin akan meneleponku sekarang, bukan?"

"Ya. Kau benar. Aku meneleponmu karena aku sedang kesal."

"Ada apa dengan suamimu?"

"Bukan Ryan! Tetapi, kamu! Mengapa kau tak memberitahuku jika kau sudah dipecat dari MD Inc.?!" teriak Martha yang membuat Jesslyn harus menjauhkan handphone itu dari telinganya.

Jesslyn memang tak memberitahu Martha mengenai hal ini karena ia tak ingin membuat Martha khawatir, dan tadi tanpa sengaja Ryan-lah yang mengatakannya kepada istrinya itu, bahwa Jesslyn bukan sekretarisnya lagi di MD Inc.

"Hey! Hey! Nyonya Huang, ini sudah larut. Kau tidak kasihan dengan suami dan bayimu yang tidak bisa tidur karena teriakanmu?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab aku!"

"Aku memang tidak bekerja lagi sebagai sekretaris suamimu, tetapi aku langsung bekerja pada bos besarnya sebagai sekretaris Presdir Zhou di Zhou Corp.," terang Jesslyn.

"Apa?! Kau sekarang menjadi sekretaris Presdir Zhou?!" tanya Ryan karena Martha menelepon Jesslyn menggunakan loud speaker.

"Apa yang kau lakukan? Cepat pijat lagi. Ini pembicaraan antar wanita. Jangan ikut campur," ujar Martha kepada suaminya yang sedang memijatnya sebagai hukuman karena tak memberitahukan tentang masalah Jesslyn kepadanya.

"Iya, benar. Tadi adalah hari pertamaku bekerja di sana. Maaf, aku tak memberitahukan hal ini kepada kalian."

"Syukurlah, jika kau tidak jadi dipecat. Aku lega mendengarnya. Kau memang sangat beruntung, Jessy, bisa bekerja bersama dengan para pria tampan itu setiap hari."

"Pria tampan?" Jesslyn mengerutkan dahinya.

"Presdir Zhou. Ia sangat tampan, bukan? Oh ya, jangan lupakan asisten gagahnya itu. Ia juga tidak kalah tampan dari bosnya."

"Sayang, Presdir Zhou sudah bertunangan, sedangkan Asisten Wei juga sudah menikah. Ada aku di sini. Aku juga tak kalah tampan dengan mereka. Tetapi, mengapa kau malah melirik pria lain?"

Ryan kesal karena Martha selalu membandingkannya dengan pria lain. Di handphone Martha juga terdapat banyak sekali foto dirinya bersama dengan Samuel saat mereka bertemu kemarin.

"Kau dengar?! Suamimu cemburu. Rasakan itu!" ejek Jesslyn seraya tertawa.

"Kau tahu, akan bosan jika setiap hari hanya memakan ikan saja. Kau harus memvariasikan berbagai macam menu seperti ayam dan sayuran segar. Maka baru dapat dikatakan seimbang dan menyenangkan. Sesekali wajar saja jika kita menginginkan memakan daging lain," terang Martha.

"Apa?! Kau samakan aku dengan ikan dan kau berniat mencari daging lain? Akan kutunjukkan kehebatan ikan ini dalam bertempur."

"Apa? Tunggu ... tunggu, Ryan. Jessy masih online. Ah! Ryan, singkirkan tanganmu. Aku belum bisa melakukan itu."

Jesslyn pun langsung memutuskan panggilan itu begitu ia mendengar desahan Martha yang membuat panas telinganya.

"Dasar gila!" umpat Jesslyn kesal karena kedua orang itu telah membuat kantuknya menghilang.

Ia sangat iri dengan Martha yang mempunyai suami sebaik Ryan. Jesslyn kemudian mencoba menutup matanya dan tertidur. Namun, ia pun harus kembali terperanjat kala handphone-nya itu berdering lagi.

'Handphone sial!'

.

.

.

1
Sindyy
astagayyy🤣
anie Yustiani
duh...padahal bibinya Jayden ahli obat2an herbal kasihan Jessy
anie Yustiani
hadeeeuh Lydia kamu menggali kuburanmu sendiri
anie Yustiani
aiiish nikahnya kok gak ngundang2 diem2 bae 🤭🤣🤣
anie Yustiani
yg datang pasti bibinya Jayde nih
anie Yustiani
waahh Eric kamu gak kapok ya gimana murkanya Jayden habislah kamu 🤔
anie Yustiani
kasihan amat sih Jessy jadi pihak yg teraniaya selalu
anie Yustiani
hmmmm puaasss wkwkwkwk
anie Yustiani
paling sebel klo cerita novel ada pembulyan
anie Yustiani
seandainya Jessy tau bahwa peterlah yg telah menjualnya kepria lain dan seandainya Jessy tau klo peter seorang gay?
anie Yustiani
aku kok gak setuju klo jessy balikan lagi dg peter apa lagi ibunya peter yg toxic pemeras lagi
anie Yustiani
haiiish sumpah aku sih pinginnya Jessy sama Jayden hayolah bongkar bongkar smua klakuan peter biarJessy mantap utk cerai, jujur greget dg karakter Jessy yg mau2nya bertahan dg ibu mertua toxic bgitu spt gak punya hrg diri ...😠
anie Yustiani
steve sabar...jangan buruk sangka mulu sama boss aroganmu nanti kau akan terkejut sendiri stelah tau mksd dan tujuannya jayden wkwkwk
anie Yustiani
Morgan atau Zach ayahnya Jessy jika benar ternyata Jassy kturunan sultan juga donk
anie Yustiani
ibu mertua yg bener2 gak punya akhlak karakternya turun ke peter, aku greget sama jessy knp gak minta cerai aja sih sdh jelas2 terzolimi kok ya msh bertahan dg keluarga yg toxic
anie Yustiani
waah sptnya Morgan ayah kandung Jessy
anie Yustiani
knp gak dibuka aja kelakuan peter terhadap istrinya biar Jessy melek mata siapa peter sbnrnya
anie Yustiani
kereen lah ...akhirnya Peter Eric merasakan senjata makan tuan..
anie Yustiani
wah klo Jayden tau habislah si Peter ini smg di celaka krn penyakit HIV
anie Yustiani
duh smg alur crtnya gak ber tele2 yaaa othor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!