NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulah Izarra

🦋

Hari Minggu yang harusnya jadi hari napas lega buat Nadira malah berubah jadi awal dari kekacauan kecil. Semua bermula ketika Izarra dengan senyum penuh rahasia khas dia menepuk bahu Nadira sambil berkata.

"Diraaa, hari ini ikut aku main ke pantai yuk. Wilona sama Vanya juga ikut kok."

Nadira yang lagi enak-enaknya rebahan cuma bisa mendongak lemas. "Zarra… aku mana boleh keluar? Kakek pasti nggak ngizinin."

"Kamu tenang aja. Biar aku yang izin. Kalo sama aku, kakek pasti ngasih lampu hijau."

Dan benar saja, entah pakai mantra apa, Izarra berhasil meyakinkan Kakek Wiratama. Dalam lima menit, izin itu keluar seolah nggak pernah ada drama apa pun.

***

Perjalanan ke pantai terasa damai. Angin masuk dari celah jendela mobil, rambut Nadira berkibar, dan Wilona sibuk memotret awan sambil bilang,

"Aduh ini aesthetic banget sumpah."

Vanya cuma cengengesan, "Lah kamu kan semua hal dibilang aesthetic."

Nadira tersenyum kecil. Setelah berminggu-minggu dipenuhi teror Jaka, rasanya dia baru sedikit bisa menghirup udara tanpa ketakutan.

Tapi kedamaian itu berhenti… tepat ketika mereka turun dari mobil.

Nadira membeku.

Di kejauhan, tepat dekat garis pasir, Jaka berdiri. Bersama beberapa temannya. Dan Izarra dengan santainya langsung melambaikan tangan.

"Jakaaa! Siniii!"

Nadira serasa ditampar angin kencang.

Wilona langsung menoleh cepat. "Dira… kamu tau dia bakal ada di sini?"

"Gak, Wil," suara Nadira lirih, hampir patah.

Vanya memicingkan mata. "Kayaknya Zarra udah ngerencanain semua ini deh."

Nadira menelan ludah. "Tapi… buat apa dia ngelakuin ini?"

Belum sempat ada jawaban, Jaka mendekat. Langkahnya mantap, wajahnya penuh senyum yang dari jauh terkesan ramah… tapi buat Nadira, senyum itu punya luka dan ancaman tersendiri.

"Hai, mantan," sapa Jaka santai, seolah mereka temenan akrab bertahun-tahun.

Nadira mundur setengah langkah. "Ngapain kamu di sini?"

"Cuma mau main. Masa aku nggak boleh ikut?"

"Aku nggak nanya boleh atau enggaknya. Aku nanya ngapain kamu nyamperin aku."

Jaka tertawa kecil, tawa yang sama dengan waktu dia sedang marah tapi menahan diri. "Kamu sensian banget sekarang."

Nadira langsung memalingkan wajah. "Aku mau main sama Wilona dan Vanya."

Tanpa menunggu balasan, dia pergi.!Menyusuri pantai. Berharap angin laut mampu menyingkirkan keberadaan Jaka dari hidupnya.

Wilona dan Vanya cepat menyusulnya.

"Dira, kamu gapapa?" tanya Wilona.

Nadira menarik napas panjang, "Aku beneran nggak ngerti kenapa Zarra ngundang dia. Aku kira kita cuma mau main."

"Zarra lagi ketemu pacarnya tuh," ujar Vanya sambil menunjuk ke jauh, tempat Izarra sedang ketawa-ketawa manja bersama pacarnya.

Nadira memejamkan mata. "Harusnya aku tau kalo Zarra bakal ngelakuin ini."

Tapi daripada memikirkan itu, Nadira berusaha menikmati hari. Mereka bermain air, memotret sunset tipis yang mulai muncul, bahkan sampai lomba siapa yang paling jauh lari dari ombak.

Sayangnya, Jaka sesekali melirik ke arah mereka. Pandangannya penuh obssesi, seperti seseorang yang yakin sesuatu masih jadi miliknya.

Nadira memilih mengabaikannya.

Saat matahari mulai turun dan pasir mulai dingin, Izarra kembali menghampiri mereka. "Ayo kita makan dulu sebelum pulang!"

Nadira mengangkat alis. "Zarra… jangan bilang..."

"Jaka yang traktir!" potong Izarra sambil senyum lebar.

Vanya dan Wilona saling pandang dengan ekspresi oh great, ini lagi.

"Aku gak mau." Nadira langsung menolak.

"Tapi gratis, Dira…" goda Wilona pelan.

"Wil…" Nadira memandangnya penuh kode tolong ngerti dong.

Wilona, yang aslinya gampang luluh kalau urusan makan, hanya bisa cengengesan.

"Kita juga sekalian nemenin kamu, kok," ujar Wilona mencoba meyakinkan.

Vanya menambah, "Iya, daripada kamu pulang sendirian. Mending kita bertiga bareng."

Nadira akhirnya, dengan berat hati, mengangguk. "Yaudah… tapi sebentar aja ya."

Izarra langsung bersorak kecil, "Asiiiik!"

Sementara di sisi lain, Jaka tersenyum seakan rencananya berjalan mulus.

***

Restoran kecil pinggir pantai itu cukup ramai. Aroma seafood memenuhi udara, lampu-lampu gantung berkelap-kelip, dan musik akustik pelan terdengar dari sudut ruangan.

Nadira duduk di ujung meja, paling jauh dari Jaka. Wilona dan Vanya duduk di sampingnya, seperti dua bodyguard pribadi.

Jaka duduk tepat di seberang, dan Nadira bisa merasakan mata itu… mengamatinya… terus-terusan.

"Kamu makin kurusan," komentar Jaka tiba-tiba.

Nadira tidak menoleh. "Biasa aja."

"Kamu masih marah sama aku?"

"Mantan, Jaka. Mantan. Aku nggak punya kewajiban buat marah atau nggak" balas Nadira singkat.

Wilona dan Vanya langsung uh-oh dalam hati.

Izarra malah sibuk dengan pacarnya, tertawa geli tanpa sadar menciptakan lubang kekacauan buat Nadira.

"Masa gitu aja kamu ngejauhin aku?" suara Jaka turun menjadi lirih tapi tegas.

Nadira mengangkat wajahnya, mata penuh keberanian yang muncul dari kelelahan panjang. "Kamu ngasih aku alasan buat pergi. Terlalu banyak."

Jaka mengepalkan tangan di bawah meja. Tapi dia tersenyum palsu, "Aku udah berubah kok sekarang. Kita bisa mulai dari awal lagi."

Nadira menahan napas. Tuhan, aku cuma mau makan lalu pulang. Jangan bikin drama di sini.

"Jaka… aku udah nggak mau sama kamu. Jadi tolong berhenti," ucap Nadira perlahan tapi jelas.

Suasana meja langsung sunyi.

Vanya melirik Wilona dan Wilona meremas tangan Nadira pelan.

Jaka menunduk. Sekilas terlihat tenang… tapi semua orang di meja bisa melihat rahangnya mengeras.

"Kalau kamu mikirnya gara-gara Keenan, kamu salah," ujar Jaka dengan senyum tipis penuh racun.

Nadira menahan sakit di dadanya. "Ini bukan soal orang lain. Ini soal kamu."

"Tetep aja…" Jaka menyandarkan punggungnya. "Dia itu cowok yang kamu suka dari dulu, kan?"

"Cukup." Nadira bersuara dingin.

Tapi Jaka bukan tipe yang gampang berhenti.

"Gampang ya kamu berpaling dari aku, Dira."

Nadira berdiri.

Wilona dan Vanya otomatis ikut berdiri.

Izarra baru sadar dan menoleh dengan bingung. "Eh, kok"

"Kita pulang," kata Nadira tegas.

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia melangkah pergi.

Di belakangnya, Jaka mengetukkan jarinya ke meja, suaranya pelan tapi jelas terdengar.

"Percuma kamu kabur. Aku tetap bakal ngejar kamu."

Vanya menoleh tajam. "Coba aja kalau berani."

Wilona juga ikut menatap Jaka penuh peringatan. Tapi Jaka’s obsession… terlihat jelas masih jauh dari selesai.

***

Di perjalanan pulang, suasana mobil sunyi karna semuanya terdiam lama. Izarra akhirnya membuka suara pelan.

"Dira… maaf ya. Aku nggak tau kalo Jaka bakal"

"Kamu sengaja kan, Zarra," potong Nadira tanpa emosi.

Izarra terdiam.

"Kenapa kamu lakuin itu?" tanya Nadira, tidak marah… tapi hancur.

"Aku cuma mikir… mungkin kalian masih bisa baikan. Jaka tuh sayang banget sama kamu."

"Sampai bikin aku takut setiap hari?" Nadira tersenyum getir.

Izarra menunduk, wajahnya memucat. "Aku… nggak mikir sejauh itu."

"Justru itu, Zarra." Nadira memandang ke luar jendela. "Kamu nggak mikir."

Wilona menggenggam bahu Nadira dari belakang kursi. "Kita ada kok buat kamu, Dira."

Nadira mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. "Aku cuma pengen tenang."

Dan untuk kesekian kalinya dalam hidupnya… dia sadar kalau rasa takut dari Jaka mungkin belum selesai.

Tapi setidaknya, dia tidak sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!