Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membantah
BRUGH!
PRANG!
Dirga tak sama sekali kaget begitu mendengar keributan itu.
Pintu ruangannya yang selalu diketuk dengan sopan itu kini didobrak dengan begitu lancangnya, namun sama sekali tak membuat petinggi Mahargabhi itu marah.
Malahan, Dirga hanya melirik sekilas ke arah pintu sebelum kembali menatap berkas di tangannya.
"Anda tidak bisa masuk begitu saja, Pak!"
Seruan dari sesi keamanan begitu galak terdengar. Pria-pria dengan pakaian khas satpam itu menarik-narik lengan kekar sosok pria yang begitu lancangnya memasuki ruangan Dirga—bos mereka.
"Hufttt menyebalkan sekali."
Yang ditarikpun hanya melengos malas, tak bergerak sama sekali dari tempatnya meskipun kini tiga pria berusaha menyeretnya menjauh dari ruangan Dirga.
"Hei, Dirga!" laki-laki itu berseru, memamerkan bagian tengah alisnya yang bergaris. "Aku rasa kau harus merekrut orang-orang yang lebih berguna daripada mereka," celetukannya terdengar begitu lancang.
Dengan satu gerakan yang tak terbaca, laki-laki itu memutar tubuh, kakinya melayang ke belakang dan meratakan tiga orang satpam yang berusaha menyeretnya. Mereka langsung terkapar dan terpental ke dinding.
"Lihat? Aku bahkan belum memukuli mereka."
Laki-laki itu lanjut melipat lengan bajunya, memamerkan otot-ototnya yang padat dan meregangkan lehernya sebelum melangkah ke arah salah satu satpam. Hendak menonjok.
"Ini bukan tempat untuk berkelahi, Baskara."
Ucapan dingin Dirga sontak membuat laki-laki itu berhenti.
Seringai percaya diri perlahan-lahan menghiasi wajah tampan sosok yang terlihat begitu percaya diri. Dagu laki-laki itu terangkat tinggi, tampang berandalnya benar-benar pesona yang tak bisa ditandingi.
Dialah Baskara—orang kepercayaan Dirga yang akan mendapatkan tugas yang begitu penting setelah sekian lama.
Mencari keberadaan Loria.
...****************...
"Maaf, Lian, tapi Kak Dirga tak memberikan izin untuk aku keluar dari kamar."
Suara Hita terdengar sedih saat bicara pada Lian melalui telpon. Gadis itu meminta nomor Hita kemarin, saat mereka menghabiskan waktu bersama di ruang tamu.
Kemarin Hita telah berjanji pada Lian untuk mengantar gadis itu untuk berbelanja. Katanya, Lian juga ingin mengajak Hita berjalan-jalan keliling kota. Benar-benar seru sekali, tapi sayangnya Hita tak bisa melakukannya karena perintah Dirga.
"Ck, dan kenapa begitu? Kenapa Kak Dirga tak memberikan izin kakak untuk keluar dari kamar? Seperti hewan peliharaan saja."
Tolong jangan buru-buru sakit hati dengan perkataan Lian yang satu itu. Entah mengapa gadis itu susah sekali mengendalikan mulutnya. Tapi begitulah Lian Martadinata.
"Tidak tau," jawab Hita cemberut, bibirnya mengerucut. "Kak Dirga kelihatan kesal, katanya kemarin tubuhku panas."
"Panas? Maksudnya kakak sedang sakit?"
"Tidak tau, tapi sepertinya iya." Dengan polosnya Hita menempelkan telapak tangannya di dahi. "Sepertinya aku tidak menyadarinya."
"Astaga... memangnya bisa seperti itu? Aku rasa Kak Dirga hanya mengarang saja."
"Tapi Kak Dirga tidak seperti itu."
"Seperti apa?"
"Suka mengarang."
Terdengar helaan napas Lian di seberang telepon. Agaknya adik perempuan Dirga itu mulai gerimutan dengan kepolosan Hita yang begitu natural. Bagaimana pula ceritanya Hita tak sadar bahwa dia sedang sakit.
"Baiklah, mau itu mengarang ataupun tidak, tapi sekarang kakak merasa baik-baik saja, kan? Tidak sakit? Aneh sekali kedengarannya jika kak Dirga tiba-tiba peduli seperti itu."
Ucapan Lian seketika membuat Hita tersadar.
Apa yang dikatakan oleh Lian ada benarnya juga, untuk apa Dirga tiba-tiba peduli dengannya dan menyuruhnya menetap di kamar jika ia sedang sakit? Bukankah Dirga membencinya?
"Kau benar." Hita menghela napas. "Sepertinya Kak Dirga tidak melakukannya karena peduli."
Entah mengapa, ada kekecewaan yang tersirat di setiap ucapan Hita. Apakah ia berharap agar Dirga benar-benar peduli padanya? Bodoh sekali.
"Tapi tetap saja aku tidak bisa pergi, Lian," lanjut Hita, teringat akan Dirga yang memerintahkan Wisnu untuk berjaga.
"Dan kenapa begitu? Kak Hita tak mau menemaniku?"
Hita buru-buru menggeleng panik begitu mendengar Lian yang tampaknya kecewa.
"Tidak, tidak, tidak," ucapnya cepat. "Kak Dirga... dia menyuruh Wisnu untuk mengawasiku..." lirihnya.
"Apa? Tapi bukannya Wisnu ditugaskan untuk memimpin pencarian Kak Loria?"
Hita mengendikkan bahu, tak tahu menahu soal ini. "Aku tidak tau, tapi kak Dirga sendiri yang mengatakan itu."
"Ck, kak Dirga itu merepotkan sekali." ujar Lian dari seberang telepon. "Tapi kakak tenang saja, kita akan tetap pergi jalan-jalan hari ini. Aku akan mengurus semuanya."
Hita mengerjap, entah mengapa firasatnya tidak enak mendengar ucapan adik iparnya itu.
"Caranya?" tanya Hita. "Bagaimana caranya?"
Terdengar jeda yang cukup lama saat Lian tak menjawab. Jeda hening yang membuat jantung Hita berdebar-debar.
Barulah saat Lian menjawab, jawaban gadis itu langsung membuat Hita terbelalak dengan jantung yang nyaris copot dari dadanya.
"Aku akan mengerjai Wisnu dan menguncinya di kamar mandi."
...****************...
"Berhentilah menuang minuman jika sudah tidak kuat lagi, Dirga."
Nada sinis itu dilontarkan oleh Baskara begitu melihat Dirga yang berkaca-kaca.
Sahabatnya sejak sekolah menengah itu tentunya sudah dikenal baik oleh Baskara. Meskipun tak selalu bertemu, tapi Baskara tau persis bahwa Dirga tak kuat dengan alkohol sejak dulu.
Dentingan keras terdengar begitu Dirga meletakkan gelasnya dengan sedikit goyah di atas meja.
"Kaulah yang memaksaku," ujar Dirga dengan suaranya yang serak, kepalanya bersandar pada kursi putar.
Baskara menyeringai, senang sekali saat berhasil memancing ego sahabatnya itu.
"Aku? Aku tidak memaksamu sama sekali," katanya begitu polos, lanjut memasukkan anggur merah ke dalam mulut. "Kau saja yang tak bisa ditantang."
Dirga melemparkan tatapan tajam, tubuhnya terasa gerah dan sulit dikendalikan karena alkohol yang mengambil alih.
Baskara itu memang menyebalkan, dialah yang awalnya membuat kerusuhan dan memaksa Dirga untuk minum, tapi kini berperangai tak melakukan apa-apa.
"Jadi, apa yang membuatmu memanggilku kemari?" tanya Baskara, sebelah kakinya ditekuk di atas kursi, sementara mulutnya sibuk mengunyah.
"Aku dengar kau sudah menikah juga dengan wanita itu—siapa namanya?"
"Loria."
"Nah, itu dia." Baskara mengangguk asal. "Loria."
Baskara lanjut menuangkan minuman keras itu ke dalam gelas, menciptakan warna kekuningan yang tampak menggoda—namun tak dengan rasanya.
"Aku lupa memberikan selamat, aku terlalu sibuk," ucapnya seraya menegak minuman dalam satu kali telan.
Dirga memperhatikan Baskara dengan jengkel, bertanya-tanya mengapa sahabatnya itu kebal sekali dengan alkohol.
Dirga jadi teringat saat ia ambruk di luar club saat malam di mana Loria dikabarkan menghilang. Ia dengan bodohnya bergabung dengan pria-pria yang katanya mengetahui keberadaan Loria dan mencekokinya minuman. Pada akhirnya malah ia dirampok seperti adegan penipuan di sinetron.
Dan bagian tak terduganya, malam itu ia terbangun dan berada di kamar Hita dengan perempuan itu yang hendak mengompresnya.
"Tidak ada yang pantas untuk diberikan selamat," ketus Dirga, dengan nada dingin dan sensinya yang biasa. "Itulah kenapa aku membutuhkan bantuanmu sekarang."
"Maksudnya?" Baskara menaikkan sebelah alis, menatap Dirga dari balik gelas.
"Loria kabur," jelas Dirga tanpa repot-repot berbasa-basi. "Tepat satu hari sebelum pernikahan kami."
"Hah?" Baskara memasang tampang bingung yang terlihat bodoh, menganggap mungkin Dirga mengatakan hal itu karena mabuk.
"Loria kabur," ulang Dirga dengan kekesalan yang nyata. "Satu hari sebelum pernikahan kami."
"Tapi bagaimana mungkin?" Baskara menaikkan nada bicaranya, terlihat sekali tak menyangka. "Aku dengar-dengar pernikahan kalian dilaksanakan secara live di banyak media dan televisi, bagaimana mungkin sekarang kau mengatakan bahwa Loria kabur sebelum kalian menikah?"
Ucapan Baskara itu membuat Dirga terdiam sejenak. laki-laki itu memejamkan matanya dan menikmati bagaimana tubuhnya terasa panas dan terbakar oleh alkohol.
"Yang mereka lihat itu bukan Loria."
"Lalu?"
"Saudari tirinya," jawab Dirga. "Anak haram Arseno."
Ada jeda hening setelah Dirga melontarkan kata-kata pengakuan itu. Baskara tampak tercengang, matanya bahkan tak berkedip begitu memproses informasi ini.
Pembohongan publik yang begitu hebatnya.
"Anak haram... Arseno?" ulang Baskara hati-hati, memastikan apa yang ia dengar tak salah lagi. "Bukankah mertuamu itu hanya punya satu anak saja?"
Dirga mengangguk.
"Memang satu yang dia kenalkan pada dunia." Dirga menuang minuman lagi. "Yang satunya lagi disembunyikan, anak haram hasil perselingkuhan."
Baskara mengangguk hati-hati, sebiji anggur lagi ia masukan ke dalam mulut. "Lalu di mana dia sekarang?" tanyanya. "Istri penggantimu itu?"
"Di rumah," jawab Dirga, lalu menegak minumannya. "Aku tak ingin menampungnya berlama-lama di rumahku, oleh karena itu aku memanggilmu kemari."
"Aku dan anak-anak buahku sudah berusaha mencari keberadaan Loria, ditambah pula dengan orang-orang Arseno. Tapi begitulah, belum ada yang bisa kami temukan sampai sekarang selain... rekaman kamera pengawas."
"Rekaman kamera pengawas?" Baskara menyipitkan matanya. "Rekaman seperti apa?"
"Rekaman keberadaan terakhir Loria," jelas Dirga begitu tenang, meskipun hatinya berdenyut nyeri saat mengingatnya. "Dia datang ke sebuah hotel bersama seorang pria."
"Maksudmu kabur bersama pria?" Begitu santai Baskara menebak, langsung disambut tatapan tajam Dirga.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa yang aku katakan itu salah?" lagi-lagi Baskara berucap, begitu tengilnya sambil mengunyah anggur di dalam mulut.
Dirga menghela napas, berusaha bersabar.
"Katakan saja seperti itu," ucapnya pada akhirnya, terlihat tak iklas. "Dan aku ingin menyeretnya kembali padaku, karena sejak awal harusnya dia menjadi milikku."
Kata-kata posesif Dirga itu sejenak membuat Baskara tersenyum geli. Bagaimanapun sepertinya ia tau alasan mengapa Dirga begitu cinta mati pada Loria.
Itu karena sejak sekolah menengah Dirga benar-benar terobsesi untuk memiliki primadona cantik itu, yang menjadi idaman semua anak laki-laki di sekolah mereka.
Cantik, putih, montok, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Loria Wijaya?
Baskara mengangguk, terlihat asal dan acuh. "Baiklah, baiklah, terserahmu saja." laki-laki itu mengibaskan tangan. "Jadi berapa bayaranku nanti? Saat aku berhasil membawa Loria kembali padamu? Dan bagaimana pula nanti nasib anak haram Arseno itu?"
Rasanya Dirga benar-benar pusing mendengar pertanyaan Baskara yang bertubi-tubi.
Sudahlah ia oleng karena alkohol, pusing karena keadaan, dan sekarang temannya ini begitu cerewet.
Tepat saat Dirga hendak membuka mulutnya untuk menjawab, tiba-tiba getaran di sakunya membuat atensinya teralih.
Dengan gerakan sedikit ceroboh Dirga mengeluarkan ponselnya itu, matanya yang berat dan berkabut tampak bersusah payah membaca pesan di layar.
Wisnu :
selamat sore, Pak, maaf jika mengganggu.
saya ingin memberitahukan bahwa Nona muda dan Nona Pramahita telah kabur dari rumah.
maaf saya baru bisa memberitahukan karena saya baru bisa keluar dari kamar mandi setelah terkunci selama beberapa jam🙏
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga