Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantarkan Sekolah
"Sudah sampai."
Mobil Alex sudah tiba di depan sekolah Essa. Gadis itu hanya cemberut ketika disuruh turun, bukan karena tidak senang harus berpisah dengan Om tua itu tetapi sebelum berangkat Alex, meminta Essa memakai training atau celana panjang untuk menutupi paha mulusnya. Tentu saja permintaannya itu membuat Essa kesal.
"Om, aku terlihat culun hari ini. Apa aku harus memakai ini?" Tanyanya sambil menarik celana hitam yang melar itu.
"Rok mu terlalu pendek, tidak baik jika dilihat oleh lawan jenis."
"Tapi temanku juga memakainya. Dan teman lelaki ku tidak mempermasalahkannya. Setelah tiba di dalam aku akan membukanya," umpat Essa lantas menarik pintu untuk membukanya.
Sebelum pintu terbuka, tangannya tiba-tiba ditarik , membuat tubuhnya seketika berbalik dan berhadapan dengan Alex. Matanya membola saat jarak wajahnya begitu intim, Essa bisa merasakan hembusan nafas yang hangat menerpa wajahnya, ditambah posisi bibir mereka yang hanya berjarak satu inci saja.
Dadanya kembali naik turun, ketika tubuhnya meremang.
Oh Tuhan, apa ini ... kenapa Om tua ini harus dekat sekali, apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan menciumku, oh god ... ini tidak bagus. Haruskah dia melakukannya di sini, di depan sekolah.
"Ehm ... maaf Essa, aku menarikmu sangat kencang. Aku tidak bermaksud apapun." Alex, menjauhkan tubuhnya segera. Pandangannya segera berpaling ke arah jalanan padat yang dipenuhi para siswa.
Uhh, Essa ... kamu berpikir apa sih. Kamu terlalu banyak nonton film
Batin Essa lagi, gadis itu seolah berharap Alex akan menciumnya dan dia terlihat sedih karena kecewa.
"Apa kau mempunyai bekal? Maksudku uang jajan."
"Ah, iya. Bagaimana aku melupakan itu ... biasanya ibu akan memberikannya tapi sekarang siapa? Aku tidak tinggal dengan ibuku." Essa berkata dengan wajah murung.
Alex, merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet tebal yang mengambil selembar uang 100 ribu untuk diberikannya kepada Essa.
"Ini ambillah." Essa adalah tanggungjawabnya, tentu saja Alex akan memberikannya uang saku untuk bekal sekolah.
Seratus ribu ?!
Mata Essa membola, bibirnya seketika tertarik beberapa inci, ia langsung memasukkan uang itu ke dalam saku blezzernya.
"Om, terima kasih. Kalau begitu aku turun dulu, aku harus masuk sebelum bel berbunyi."
"Ehhm ... O ya, jam berapa kamu pulang?"
"Tidak menentu, nanti aku kabari jika sudah pulang."
Alex hanya mengangguk. Essa, pun turun ia melambaikan tangan sebentar sebelum akhirnya mobil Alex meninggalkan sekolah. Essa kembali merogoh uangnya, ia menatapnya sambil tersenyum dan berkata. "Tidak apa tidak dapat ciuman tapi aku mendapat bekal yang besar. Biasanya ibu memberiku 30 ribu tapi Om itu ... 100 ribu. Wah, aku sungguh senang hari ini aku akan jajan sepuasnya. Ibu, pernikahan ini sungguh menguntungkan aku."
Essa, memasukkan uangnya lagi lalu berjalan melewati gerbang. Tiba-tiba dua orang siswa dengan seragam yang sama berteriak memanggilnya.
"Essa!"
Essa, langsung menoleh. Ia tersenyum dan melambaikan tangan ketika melihat kedua sahabatnya Micha dan Eva. Keduanya memiliki rambut panjang, hanya saja rambut Micha lebih kemerahan, mereka selalu mengurai rambutnya kecuali Essa, yang akan mengganti ikatan rambut setiap harinya.
"Essa, kemana saja kau dua hari ini. Kau baru masuk, setelah malam itu. O ya, apa terjadi sesuatu malam itu?" Micha memepet Essa, untuk menggali informasi.
"Essa, chat mu yang kemarin masih mengganggu pikiranku. Kau benar-benar melakukannya dengan sugar daddy? Kau punya sugar daddy?" Eva sangat penasaran.
Kini tubuhnya dipepet kedua gadis itu. Essa, meregangkan kedua tangan untuk menjauhkan kedua ulat keket itu.
"Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak melakukan itu, kalian tahu saat di club itu, aku dijemput kakak iparku, dan aku dimarahi ibu."
Essa berbohong. Ia terpaksa mengatakan itu demi menutupi pernikahannya, walaupun mereka sahabatnya Essa belum siap jika pernikahannya diketahui, apalagi jika mereka tahu dengan siapa dia menikah. Pasti akan diejek, karena pria yang waktu di lift itu adalah suaminya.
Ya, itulah awal pertemuannya dengan Alex. Jika mengingat itu Essa tidak bisa menahan malu.
"Essa, kita pergi karoke, ya?"
"Tidak!" Essa dengan ketus. Kedua temannya mendelik. Lalu bertanya "Kenapa? Kamu tidak punya uang lagi?"
Essa memutar bola matanya malas, "Kalian tahu, kan jika uang jajanku tidak sebesar itu. Kalian ... kalian bisa belanja semua itu, sementara aku ..."
"Essa, kamu ingin seperti kita? Aku bisa memberitahumu caranya. Kamu pikir aku mendapatkan semua ini dari uang jajanku? Ya, tentu tidak. Mana mungkin ibu dan ayah memberikan uang jajan lebih dari 30 ribu," ucap temannya.
Mereka masih pelajar dan orang tua mereka tidak akan memberi uang jajan yang besar setiap harinya. Tetapi untuk teman Essa, mereka selalu pergi belanja, nongkrong di kafe, dan jalan-jalan hingga menghabiskan uang lebih dari 30 ribu. Namun, mereka punya cara lain untuk mencari uang tambahan.
"Essa, kau lihat di belakangmu," bisik temannya menyuruh Essa, untuk menoleh ke arah Alex yang berada di belakangnya. Essa, pun menoleh sebentar lantas kembali menghadap ke depan.
"Kita harus mengencani Om-om biar dapat uang lebih."
Essa terbelalak, mulutnya sampai menganga mendengar celotehan temannya. "Jadi kalian ...."
"Ssst ... Om-om tidak buruk. Lihatlah pria di belakangmu, dia cukup keren, tampan, dan masih muda. Mungkin perselisihan usia 7 tahun denganmu. Itu tidak buruk."
"Gila!" umpat Essa lalu menggeleng.
"Essa, disaat ada kesempatan kamu jangan sia-siakan. Kamu, harus tahu sugar daddy itu perlu."
"Hah!" Nafas Essa terasa sesak, otak polosnya sudah diracuni kedua teman-temannya.
"Jangan gila, kalian. Sugar Deddy apa, yang ada nanti ibu dan ayahku marah besar. Aku ini masih suci, tidak akan terkontaminasi."
"Yeah ... kamu pikir kita itu bakteri."
"Ya, habisnya kalian suruh aku cari Sugar Daddy."
"Jaman sekarang gak ada anak seusia kita gak punya sugar daddy. kamu terlalu polos deh," ejek temannya. "Menurutku Om ganteng itu cukup tampan, cobalah kenalan dulu."
"Ih ... gak mau. Gak level aku sama Om-om."
Alex mendongak, ia menatap sinis ke arah Essa. Dia mendengar perkataan Essa, sebelumnya yang sedikit menyinggung hatinya.
Apa mereka membicarakan aku, ya?
Essa, terus di dorong oleh kedua temannya. Walau kedua kakinya tetap kokoh menjadi benteng pertahanan tetapi, Essa tidak bisa menghindar ketika kedua temannya mendorong keras tubuhnya hingga terpental.
Tangannya yang memegang es Boba tidak sengaja menumpahkan es itu kepada Alex.
Alex tertegun, bersamaan dengan mata Essa, yang membola. Baju bersih Alex, harus basah oleh cairan coklat dari minuman milik Essa.
"Oops!" Kedua temannya menutup mulut. "Essa, tinggal dirimu yang selesaikan, oke." Kedua temannya langsung pergi setelah lift terbuka. Tapi Essa dia masih diam menatap Alex, yang menatapnya tajam.
"Aduh ... Om, maaf ... aku tidak sengaja. Aku bersihkan sekarang, ya."
Essa, mengambil selembar tisu dari dalam tasnya, hendak membersihkan noda boba pada kemeja Alex, malah tangannya ditepis kasar oleh Alex.
Essa menganga lebar, sedangkan Alex, menatapnya tajam.
"Lain kali, jangan bawa minuman yang mudah tumpah ke dalam lift. Dan satu lagi, aku bukan sugar daddy seperti yang kamu katakan. Aku tidak akan tergoda oleh gadis cabe-cabean seperti kamu."
Ya, cabe-cabean. Julukan pertama dari Alex untuknya, tapi siapa sangka gadis cabe-cabean itu menjadi istrinya sekarang.
"Essa, hei!" teriak Micha dan Eva, seketika membuyarkan Essa dari bayangan di dalam lift kala itu. "Essa, kau melamun terus."
"Ah, tidak memangnya kenapa?"
"Kakak ipar mu menjemput? Essa, kenapa kamu tidak memberitahuku, aku sangat ingin bertemu dengan Tuan Darren," rengek Micha dengan manja.
"Untuk apa? Untuk menggodanya? Jangan harap. kalian tidak akan bisa menggoda kakak iparku."
"Ck, dasar pelit."
"Sudah, ayo kita masuk kelas jangan sampai pak Tomy sudah masuk duluan."
"Hei, ngomong-ngomong aku belum selesaikan PR ku."
"Itu urusanmu."
Ketiga siswa itu terus mengobrol, semua topik mereka bahas. Hingga sampai di dalam kelas mereka masih saja berkicau.
Di tempat lain Alex memarkirkan mobilnya di area basemen perusahaan. Alex pun turun setelah benar-benar memarkirkan mobilnya dengan benar. Alex, hendak berjalan meninggalkan mobilnya tapi tiba-tiba sebuah notif pesan menghentikannya.
Merasa ada yang bergetar dalam sakunya tangan Alex merogoh benda pipih yang terus menyala. Satu pesan dari nomor yang tidak dikenal, membelalakkan matanya.
Alex, aku ada di tanah air, jika ada waktu aku ingin bertemu dengan mu. Kau tidak menghapus nomorku, kan?
Entah siapa pengirim pesan itu, hingga membuat Alex menegang.
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.