"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 20
"Lin Wu, kamu kenapa Nak? Ibu perhatikan dari tadi kamu melamun terus. Katakan pada Ibu, sebenarnya ada apa? Apa ada masalah dengan pekerjaan mu?" tanya sang Ibu yang dilanda rasa penasaran.
Perempuan itu menghela napas sebelum akhirnya dia memilih untuk menceritakan semuanya pada sang Ibu perihal kejadian tadi siang.
"Bu, aku tadi bertemu dengan Yanshen." Akhirnya kalimat itu lolos juga dari bibir Lin Wu yang entah kenapa begitu berat untuk dia katakan pada Ibunya. Mungkin saja Lin Wu tidak ingin membuat Ibu nya bersedih saat dia kembali menyebut nama lelaki di masa lalunya.
"Apa, kamu bertemu dengannya? Bagaimana bisa, Nak? Bukankah dia sedang berada di kota Shanghai? Lalu ...." Ucapan sang Ibu terpotong begitu saja saat perempuan paruh baya itu tampak berpikir keras setelah mendengarkan ucapan putrinya. Secepat kilat Lin Wu menyahut berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya daripada sang Ibu hanya menerka-nerka saja.
"Jadi begini Bu, sebenarnya ... beberapa hari yang lalu rumah makan Lin Wu mendapatkan tawaran kerja sama sebagai penyedia catering untuk para buruh yang bekerja di proyek perusahaan Shen Wu. Bodohnya aku yang menerima begitu saja tanpa bertanya terlebih dulu siapa nama pemilik perusahaan itu," terang Lin Wu pada sang Ibu.
Lin Wu memejamkan matanya sesaat, sebelum kemudian dia melanjutkan kembali ucapannya.
"Entah kenapa waktu itu aku tidak menanyakan hal itu pada manager perusahaan tersebut. Tidak seperti biasanya aku yang selalu jeli dan menanyakan nama pemilik dari perusahaan yang ingin bekerja sama denganku. Kebetulan waktu itu aku sangat senang karena bisa bekerja sama dengan perusahaan raksasa di kota Hangzhou ini, membuatku lenga dan melupakan pertanyaaan itu," lanjut Lin Wu yang menyesali perbuatannya.
"Sudahlah Nak, kamu tidak perlu menyesalinya. Yang terjadi biarlah berlalu, bagaimana pun juga nasi sudah menjadi bubur. Kalian pun juga sudah bertemu, mungkin saja itu rencana Tuhan mempertemukan kalian dengan cara seperti itu. Kita juga tidak tahu skenario seperti apa yang telah Tuhan atur untuk kita kedepannya. Kita hanya bisa menerima dan menjalaninya dengan baik," sahut sang Ibu menasihati putrinya.
"Tapi Bu, Lin Wu masih belum siap untuk bertemu dengannya. Apalagi secara mendadak seperti tadi siang, sungguh itu tidak ada dalam pikiran Lin Wu untuk bertemu secepat itu dengannya. Aku masih ingat bagaimana dia dan keluarganya memperlakukan ku selama ini, dan tentu aku masih belum bisa melupakan perbuatan mereka yang semena-mena padaku Bu," balas Lin Wu mengeluarkan segala unek-uneknya yang telah lama dia pendam di benaknya.
Jujur saja kalau ada opsi lain, Lin Wu lebih memilih untuk tidak bertemu kembali dengan lelaki yang telah menorehkan luka di hatinya. Tapi apalah daya dirinya yang tidak bisa menghindari itu semua, bahkan dia tidak bisa mengubah takdir yang tertulis untuknya.
"Tenanglah Nak, Ibu tahu bagaimana perasaanmu sekarang ini. Tapi, sampai kapan kamu terus menghindar dan menyembunyikan rahasia besar darinya." Sang Ibu mengelus lembut punggung Lin Wu, berusaha menenangkan putrinya agar tidak terbawa suasana.
"Apa dia sudah tahu tentang mereka?" Lanjutnya sambil menatap wajah putrinya penuh intimidasi.
Lin Wu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Bu, dia tidak tahu. Dan aku juga tidak berniat untuk memberitahunya tentang mereka. Aku takut jika dia akan berbuat nekat dan mengambil mereka dariku. Tidak, hal itu tidak akan aku biarkan begitu saja. Mereka anakku bu, aku yang mengandung mereka, aku juga yang melahirkan mereka, aku pula yang membesarkan dan merawat mereka sampai tumbuh besar seperti sekarang ini. Dan dia ... sedikitpun tidak berhak apapun atas anak-anakku," ucap Lin Wu dengan dada yang naik turun, saat ini emosi tengah menguasai perempuan itu. Terlihat jelas sorot matanya yang memancarkan kebencian mendalam untuk lelaki itu.
"Nak, kamu jangan lupa jika Yanshen juga turut andil dalam menanamkan benih di rahim mu. Tanpa dia, tentu kamu tidak dapat memiliki mereka seperti sekarang ini. Jadi ... jangan pernah mengelak mengenai fakta itu meskipun kamu masih membencinya. Ingat, di dalam tubuh mereka mengalir darah keluarga Xie yang sampai kapanpun kamu tidak bisa menyembunyikan identitas mereka. Sepintar apapun dan sekuat apa kamu menyembunyikannya, bahkan sampai ke lubang semut pun tetap tidak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah pewaris tunggal keluarga Xie sesungguhnya. Kamu tidak bisa mengelak itu semua, Nak." Tak hentinya sang Ibu memberikan wejangan pada putrinya itu agar tidak salah dalam bertindak.
Seketika suasana berubah menjadi hening. Ucapan sang Ibu sukses membuat Lin Wu terdiam membisu, tak ada sepatah katapun yang terlontar di bibirnya itu.
Ting ... tong ... ting ... tong ....
Terdengar suara bel rumah yang memecah keheningan, membuat Lin Wu tersadar dari lamunannya.
DEG!
Tiba-tiba saja jantung Lin Wu berdetak kencang saat mendengar bunyi bel rumahnya. Mengingat saat ini sudah malam, tidak biasanya ada seseorang yang bertamu di jam seperti ini ke rumahnya.
"Bu, sebentar ya Lin Wu buka dulu pintunya." Perempuan itu langsung beranjak di tempatnya kemudian berjalan menuju pintu utama.
Ceklek ....
DEG!
Kembali jantung Lin Wu berdetak kencang saat melihat penampakan yang ada di hadapannya saat ini. Seketika tubuhnya membeku dengan sorot mata yang masih menatap lurus ke arah sosok itu.
"Kau ...." Mata Lin Wu membulat sempurna saat melihat sosok lelaki yang sangat dia hindari.
Sungguh dia tak menyangka bila lelaki itu dapat menemukan tempat tinggalnya. Dia lupa bahwa lelaki itu seorang yang berpengaruh dan memiliki kekuasaan yang tentu saja tidak sulit bagi lelaki itu untuk menemukan keberadaan dirinya saat ini.
Lelaki itu tak lain adalah Yanshen yang sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang memerah, karena disebabkan oleh suhu dingin di kota Hangzhou yang saat ini sedang turun salju. Tampak lelaki itu memakai mantel berwarna hitam senada dengan celana bahan.
Keduanya saling bersitatap satu sama lain, hingga akhirnya Lin wu yang terlebih dulu memutus kontak pandangannya.
"Ngapain kau disini?" sinis Lin Wu tanpa menatap Yanshen.
"Tentu saja aku ingin bertemu denganmu," sahut Yanshen yang masih setia menatap wajah istri cantiknya.
Sungguh Yanshen tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri seolah lelaki itu tak ingin melewatkan hal yang selama ini dia inginkan. Lelaki itu sangat merindukan sang istri yang sanga dicintainya, menyesal karena telah terlambat menyadari perasaannya itu.
"Tidak perlu! Lebih baik kau pulang saja. Jangan pernah datang kesini lagi," balas Lin Wu dengan sinis sambil bersedekap dan menatap ke arah arah lain.
DEG!
Jantung Yanshen seolah berhenti detik itu juga. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Bagaimana bisa istrinya itu berubah secepat itu menjadi perempuan kasar dan juga jahat. Berbeda jauh dengan dulu yang selalu bersikap hangat dan lembut kepadanya.
"Pergilah! Ini sudah larut dan aku tidak menerima tamu di malam hari," seru Lin Wu yang secepat kilat perempuan itu hendak menutup pintu, tapi lagi dan lagi dia kalah cepat dengan tangan besar Yanshen yang segera menahannya.
"Lin Wu, tunggu! Aku masih ingin bicara dengan mu," lirih Yanshen yang masih menahan pintu. Sekuat tenaga lelaki itu berusaha agar Lin Wu tidak menutup pintu rumahnya.
"Aku tidak ingin bicara dengan mu. Pergilah, dan jangan datang lagi kesini. Ingat, kita sudah bercerai Yanshen! Jadi ... kau tidak pantas malam-malam datang ke rumahku," sinis Lin Wu yang tetap mempertahankan pertahanannya. Hingga akhirnya terdengar suara dari dalam yang cukup menarik perhatian Yanshen.
"Mommy ... ada siapa di luar? Kenapa lama sekali?" Suara cempreng Ji Chan mengagetkan Lin Wu. Beda halnya dengan Yanshen yang dibuat penasaran oleh suara itu.
"Sebentar Nak, Mommy sedang mengusir tikus perusuh rumah kita," sahut Lin Wu asal.
Yanshen tersentak kaget mendengar ucapan istrinya, bagaimana bisa perempuan itu menganggap dirinya sebagai tikus perusuh rumahnya. Sungguh hal itu membuatnya geram sampai ke ubun-ubun, tapi sebisa mungkin Yanshen menahan amarahnya demi menggaet kembali hati istrinya.
Dia rela jika sang istri menganggapnya sebagai tikus atau apa, asal itu membuat istrinya senang. Tentu dia tidak akan masalah, yang terpenting baginya dia bisa bertemu dengan istrinya itu.
"Mommy ... mana tikusnya? Biar Jun Jie saja yang mengusir tikus got itu." Tiba-tiba datanglah bocah laki-laki yang sudah berdiri di samping Lin Wu sambil membawa sapu yang siap menangkap tikus got itu.
"Mommy ...." Sorot mata Yanshen menatap lurus pada bocah laki-laki yang ada di hadapannya. Sungguh Yanshen dibuat terkejut melihat wajah yang persis dirinya pada bocah laki-laki itu.
.
.
.
🥕Bersambung🥕