Demi balas dendam pada orang-orang yang sudah menjualnya, Aradella terpaksa setuju untuk menikah dengan Devandra, seorang CEO yang dingin dan arogan. Sebuah kisah pernikahan pilu tanpa adanya cinta.
Ketika cinta mulai menyatukan mereka, tiba-tiba saja seorang wanita lain datang mengaku sebagai tunangan Devandra.
~Follow Instagram @asti.amanda24
~Facebook : Asti Amanda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Ciuman Hangat
...🌷 •|| Beri like dan vote ||•🌷...
"Ibu! Ibu!" panggil Aline masuk ke dalam rumah. Gadis ini, seperti biasa hanya suka menghamburkan uang dan lebih peduli pada dirinya sendiri. Apalagi baru saja dari dari jalan-jalan bersama teman-temannya.
"Aduuh, apa lagi Aline! Ibu lagi sibuk nih itungin utang kita!" ujar Bu Kalista yang sedang duduk di sofa menghitung jumlah hutangnya yang dia pinjam dari Rentenir.
"Iiiih, Ibu!" panggil Aline kesal diabaikan oleh Ibunya sendiri. Berdiri di dekat Ibunya sambil menghentakan kakinya.
"Apa sih? Kamu ini selalu saja marah-marah. Kamu mau apa?" Bu Kalista mulai emosi dengan tingkah putrinya.
"Ini lho, Bu. Teman-temanku pada pamer tas keluaran baru bulan ini. Aku juga mau beli tas itu, Ibu kasih aku uang dong." Aline merengek, bertingkah manja di dekat Ibunya. Mencoba merayu Kalista agar diberi uang.
"Apa tidak ada lain yang bisa kau kerjakan selain meminta uang pada Ibu?" Bu Kalista semakin kesal ingin rasanya mencakar putrinya yang setiap hari meminta uang. Padahal kini ia mulai kekurangan uang bulan ini.
"Ayolah, Bu. Aku tidak mau ketinggalan, aku juga mau seperti teman-temanku yang eksis juga, Bu." Aline tetap saja memohon manja pada Bu Kalista. Tersenyum bagaikan meminta hadiah besar pada Ibunya.
"Tidak!" tolak Bu Kalista langsung berdiri dari sofa. Aline terperanjak mendengar satu kata ini, lalu ikut berdiri.
"Lho, kok Ibu malah nolak, sih! Aline kan cuma minta uang saja," Aline cemberut ditolak mentah-mentah oleh Ibunya.
"Apa kamu tidak pernah berpikir, kamu sudah tiga kali meminta uang pada Ibu hari ini. Gara-gara kamu juga, hutang kita menumpuk pada Rentenir! Apa kau tidak terpikirkan itu?" jelas Bu Kalista serius.
"Iiih, ini sih urusan Ibu. Aku kan cuma minta beberapa saja. Apalagi Ibu sendiri yang suka mainin uang di luar sana!" ketus Aline sedikit membentak.
"Beberapa saja? Kau pikir uang yang kamu minta itu sedikit?" Bu Kalista semakin kesal mendengar ucapan anaknya.
"Lihat, lihat ini," Tunjuk Bu Kalista pada buku hutangnya.
"Ini semua adalah catatan hutang yang Ibu pinjam demi memenuhi kebutuhanmu, kau setiap hari selalu meminta uang 500 ribu sampai 1 juta! Kau pikir itu sedikit?" geram Bu Kalista mencengkram kuat lengan Aline.
"Aaakh! Ibu, tanganku sakit!" rintih Aline menarik paksa lengannya.
"Aku tidak peduli dengan buku itu, aku mau Ibu kasih aku uang!" ujar Aline membentak sedikit Ibunya. Kesal karena merasa dirinya yang disalahkan.
Plak!
Tamparan langsung diterima oleh Aline. Bu Kalista sangat geram melihat putrinya membentak dirinya bahkan tak ada rasa terima kasihnya sedikitpun pada Bu Kalista.
"Anak sialan!" umpat Bu Kalista menarik paksa rambut Aline.
"Aaakh! Sakit--sakit, Ibu!" Jeritan Aline yang kesakitan tak dipedulikan oleh Kalista.
"Sekarang kau ikut dengan, Ibu." Bu Kalista menyeret Aline keluar dari rumah.
"Aaaakh, Ibu mau apa? Lepaskan aku, Bu!" Aline meronta-ronta ingin lepas.
"Ibu akan jual kamu hari ini!" decak Bu Kalista membuat Aline sangat kaget. Sungguh Bu Kalista bagaikan memiliki kelainan. Sudah menjual anak tirinya, malah ingin menjual anak kandungnya sendiri.
"Tidak, tidak. Lepaskan, aku!" ronta Aline menjadi-jadi. Tapi Kalista tak peduli dan merasa anaknya ini tidaklah berguna. Malah menambah beban hidupnya saja. Kalista menyeret Aline ke tempat yang sering dia datangi.
🌷
🌷
🌷
Hanya beberapa menit saja lewat, mobil hitam berhenti di depan rumah Ella. Seorang pria turun dari mobil tersebut, yang tak lain adalah Devan. Devan mengerutkan dahinya merasa rumah ini terlihat sepi.
Aradella turun diikuti May-maysha. Maysha yang pertama kali datang kemari langsung memeluk Ella. Takut dengan suasana yang sedikit mencekam. Sementara Hansel memarkirkan mobil dengan baik.
Kini mereka berdiri di depan pintu. Maysha hanya bisa digendong oleh Devan.
"Hansel, ketuk pintu ini. Jika tidak terbuka juga, maka dobrak saja seperti waktu itu." kata Devan menyuruh Hansel.
"Baik, Presdir." patuh Hansel mengerti. Hansel mulai pertama mengetuknya. Sudah beberapa kali diketuk, tapi tetap saja tak ada yang menyahut dari dalam apalagi pintu masih tertutup.
"Presdir, apa saya harus dobrak pintunya?" Hansel memberi usulan.
"Ya, dobrak saja sampai rusak!" ucap Devan berlagak coolnya. Hansel dengan senang hati menerimanya, tapi Ella segera berdiri menghalangi Hansel di depan pintu.
"Tidak! Jangan rusak pintu rumah ini lagi. Rumah ini adalah peninggalan Ayahku, dan ingin aku jadikan panti asuhan. Mohon, Presdir jangan mendobrak pintu rumahku."
Hansel tersetak mendengar ucapan Ella yang mau menjadikan rumahnya sebagai panti asuhan. Hansel pun melihat Devan dan memberinya kode.
"Presdir, apa aku harus lanjutkan?" tanya Hansel melihat pintu kayu di depannya.
"Lanjutkan sampai pintunya terbuka!" kata Devan mantap dan tersenyum smirk.
Hansel ikut tersenyum, memang ini yang dia sukai.
"Maaf, Nona. Saya harus laksanakan perintah Presdir." Hansel segera menarik Ella jauh dari pintu dan mendobraknya hanya menggunakan kakinya saja.
Brak!
Ella terkejut dengan mulut terbuka lebar melihat Hansel sungguh merusaki pintu rumahnya. Tatapannya langsung tertuju pada Devan. Tatapan sinis bercampur amarah.
"Presdir, kenapa anda merusak pintu rumahku lagi!" ujar Ella begitu kesal dan tak terima.
"Ck, pintu ini terlalu lemah seperti dirimu. Tapi, kau tak usah kuatir, aku juga akan menggantinya yang lebih bagus lagi. Pintu seperti ini tak ada apa-apanya bagiku." kata Devan melihat Ella lalu dengan angkuhnya masuk ke dalam rumah diikuti Hansel juga.
"Iiiih, sombong banget. Ucapannya bikin aku semakin kesal! Mentang-mentang dia orang kaya, dia sesuka hati merusak apa-pun!" gerutu Ella menghentakkan kaki ikut masuk ke dalam.
Tapi ternyata, tak ada seorang pun yang dia lihat di dalam rumah. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain mereka. Maklum, Bu Kalista akan lama di tempatnya. Entah bagaimana nasib Aline sekarang.
"Presdir, sepertinya tidak ada orang. Apa kita harus pergi?" Hansel bertanya.
"Tidak, kita tunggu sampai mereka datang." ucap Devan duduk santai di sofa bersama Maysha lalu melirik Ella.
"Dan kamu, bikinin aku teh es manis!" Tatap Devan pada Ella.
"Baik, Presdir." Ella hanya bisa patuh lalu pergi ke dapur. Kini cuma Devan, Maysha dan Hansel yang duduk di sofa.
"Nih, Presdir." Ella meletakkan teh esnya. Devan melirik teh itu lalu meminumnya. Rasa hausnya dari tadi langsung sirna. Ella ikut duduk di dekat Maysha. Sementara Hansel berdiri ingin mengecek rumah ini.
Ella menaiki tangga mau ke kamarnya untuk berganti pakaian. Karena terlalu lama di dalam kamar, Devan yang dari tadi menunggu, akhirnya ikut naik juga meninggalkan Maysha pada Hansel. Dan ternyata, saat membuka pintu, Ella malah ketiduran di sofa miliknya. Devan mendekati Ella dan tersenyum sedikit.
"Apa dia begitu lelah hari ini?" pikir Devan duduk di atas pinggir sofa lalu perlahan menyentuh rambut istri kecilnya.
"Dia ... kalau tidur, lumayan manis juga." Senyuman kecil kembali terlihat. Devan mulai perlahan mencium kening gadis miliknya ini.
Cup!
Kecupan hangat berhasil diberikan untuk Ella malam ini.
yg bener masuk ke dalam selimut atau ke dlm bed cover...