Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .
‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi menyingsing di kediaman Dirgantara, namun suasananya lebih mirip penjara bawah tanah bagi Nadia. Meskipun koper sudah siap di depan pintu kemarin, Nadia memutuskan untuk bertahan satu malam lagi—bukan karena cinta, tapi karena ia tahu jika ia pergi sekarang tanpa strategi, Larasati akan dengan mudah menghapus hak waris Arka.
Namun, harga yang harus dibayar Nadia sangatlah mahal.
Pagi itu di meja makan, Bramantyo duduk di kursi rodanya, namun auranya sangat mendominasi. Di sampingnya, Larasati duduk dengan jubah sutra mahal, tampak begitu rapuh namun dimanja.
Nadia datang membawa nampan berisi bubur khusus untuk Larasati karena para pelayan sedang sibuk. Saat Nadia meletakkan mangkuk itu, tangannya sedikit gemetar karena kurang tidur. Sedikit bubur tumpah ke pinggiran mangkuk.
"Kau tidak bisa melakukan hal sederhana seperti ini dengan benar?" suara Bramantyo menggelegar, dingin dan tajam. "Larasati sedang sakit, dia butuh ketenangan dan kesempurnaan. Jika kau tidak becus menjadi istri, setidaknya jadilah perawat yang berguna."
Nadia menarik napas panjang, menatap suaminya. "Aku sudah tidak tidur semalaman karena menjaga Arka yang demam, Bram. Kenapa kau tidak menyuruh pelayan saja?"
"Pelayan tidak punya utang budi pada Larasati, tapi kau punya!" bentak Bramantyo. Ia kemudian berbalik ke arah Larasati, suaranya berubah drastis menjadi sangat lembut dan penuh kasih. "Maafkan dia, Laras. Dia memang kasar. Makanlah pelan-pelan, biar aku yang memegang sendoknya untukmu."
Arka turun dengan langkah gulai, wajahnya masih pucat karena demam. Ia ingin memeluk ayahnya, namun sebelum ia sampai, Bramantyo sudah mengangkat tangan—isyarat agar Arka menjauh.
"Arka, jangan dekat-dekat dulu. Ayah sedang sibuk menyuapi Tante Laras. Suaramu bisa membuat kepalanya sakit," ucap Bramantyo tanpa menoleh sedikit pun pada anaknya.
Arka terdiam, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menoleh ke arah Nadia, yang hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja. Rasa sakit melihat anaknya ditolak oleh ayahnya sendiri jauh lebih pedih daripada hinaan Bramantyo padanya.
Siang harinya, saat Bramantyo pergi ke ruang kerja, Nadia masuk ke kamar Larasati untuk mengganti botol infus. Saat itu, Larasati sengaja menjatuhkan gelas kaca hingga pecah berkeping-keping.
"Bram! Tolong!" teriak Larasati histeris.
Bramantyo masuk dengan cepat menggunakan kursi rodanya. Ia melihat Larasati menangis ketakutan dan Nadia berdiri di depannya.
"Dia mencoba melukaiku, Bram! Dia bilang aku tidak pantas di sini!" fitnah Larasati sambil terisak.
Tanpa bertanya, Bramantyo mencengkeram lengan Nadia dengan kasar hingga memar. "Keluar dari sini! Mulai malam ini, kau tidur di kamar pelayan di lantai bawah. Aku tidak sudi berbagi lantai dengan wanita yang mencoba mencelakai orang sakit!"
"Bram, dia berbohong! Lihatlah matanya!" teriak Nadia.
"Cukup, Nadia! Kau beruntung aku tidak menyeretmu ke polisi karena mencoba mencelakai Larasati. Pergi dari hadapanku sekarang!"
Nadia akhirnya mengalah. Ia membawa Arka ke kamar kecil di area pelayan. Di sana, di atas kasur tipis, ia memeluk anaknya yang masih panas. Nadia menyadari bahwa Bramantyo yang lembut saat amnesia dulu kini telah sepenuhnya mati, digantikan oleh monster yang dikendalikan oleh rasa bersalah dan manipulasi Larasati.
Nadia mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi salah satu teman lama yang sekarang ptofesinya menjadi dokter.
Nadia menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong.
Nadia menghapus nomor Adrian, lalu mencari satu nama Dokter Julian.
Dengan suara bergetar, Nadia menekan tombol panggil.
"Julian... ini Nadia. Aku butuh bantuanmu," bisik Nadia sambil terisak pelan di sudut kamar pelayan yang sempit. "Bisa kau jemput aku dan Arka sekarang? Arka demam tinggi, dan aku... aku sudah tidak aman di sini."
Julian tidak banyak bertanya. Ia tahu sejarah kelam Nadia dengan keluarga Dirgantara. "Sepuluh menit, Nadia. Aku akan masuk lewat gerbang belakang. Siapkan Arka."
Nadia menggendong Arka yang masih lemas. Ia tidak membawa koper besar, hanya tas kecil berisi dokumen penting dan obat-obatan Arka. Saat ia melintasi lorong, ia melihat Bramantyo sedang duduk di balkon kamar utama, masih terjaga sambil mengusap rambut Larasati yang pura-pura tertidur di pangkuannya. Bramantyo bahkan tidak menyadari bahwa separuh jiwanya sedang melangkah keluar dari rumah itu.
Julian sudah menunggu dengan mobilnya. Begitu melihat kondisi Nadia yang pucat dengan memar di lengannya, rahang Julian mengeras.
"Apa yang dia lakukan padamu, Nadia?" tanya Julian sambil membantu membaringkan Arka di kursi belakang.
"Bukan sekarang, Julian. Tolong, bawa kami pergi dari sini," jawab Nadia lemah.
Setibanya di klinik pribadi Julian, Arka segera ditangani. Sambil memeriksa suhu tubuh dan denyut jantung Arka, raut wajah Julian berubah menjadi sangat serius.
"Demamnya bukan karena flu biasa, Nadia," ucap Julian sambil menunjukkan hasil tes darah cepat. "Arka terpapar zat kimia penenang dalam dosis kecil. Seseorang telah memasukkan sesuatu ke dalam makanannya secara rutin."
Nadia terpaku. "Apa? Siapa yang tega melakukan itu?"
"Zat ini biasanya digunakan untuk pasien gangguan jiwa agar mereka tetap tenang dan lamban. Jika ini diteruskan, Arka bisa mengalami kerusakan saraf permanen," Julian menatap Nadia dalam-dalam. "Siapa pun yang melakukannya, dia ingin Arka terlihat 'sakit' dan 'lemah' agar tidak mengganggu."
Nadia teringat pada bubur yang sering diberikan Larasati kepada Arka dengan alasan "ingin membantu menjaga". Amarah yang selama ini ia pendam kini berubah menjadi api yang dingin. Bramantyo telah membawa iblis ke dalam rumah mereka, dan iblis itu mencoba melenyapkan masa depan Arka.
membuat saya ingin terus membacanya