Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Dengan wajah gelap, Felix akhirnya mengangkatnya.
"Gio, apa kau bosan hidup?" Katanya tajam.
"Apa aku mengganggumu, Fel?" Tanya Gio dengan hati-hati.
"Enn." Gumam Felix dingin.
"Cepat katakan! Aku benar-benar sedang sibuk."
"Ohh baiklah." Kata Gio cepat.
"Sebenarnya, aku hanya ingin bertanya apa kau sedang bersama Ivan?"
"Tidak... aku sedang di rumah Syerly." Jawab Felix.
"Kenapa?" Tanya Felix.
"Apa kalian bertengkar?"
"Tidak." Gio dengan cepat menjawab.
"Tadi Ivan bilang, ia mau pergi keluar bersamamu."
Felix diam sebentar.
"Sekarang kau sedang bersama siapa?"
"Aku di rumah Ivan, ada Elsa disini." Jawab Gio.
Felix terkekeh. Lalu nadanya berubah tajam.
"Apa kau gila?" Katanya
"Kau membawa pacarmu ke rumah oranglain. Bukankah itu tidak pantas?"
"Elsa bukan pacarku?" Jelas Gio.
"Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa tahu aku ada disini."
Felix mendesah pelan.
"Sekarang suruh gadis itu pergi!" Kata Felix.
"Aku sudah berkali-kali menyuruhnya pulang, tapi gadis itu bilang ingin merawatku." Kata Gio dengan nada sedih.
"Bilang saja, kau sudah sembuh."
"Baiklah aku mengerti. Aku akan menutup telpon."
Lalu panggilan itu berhenti begitu saja.
Felix melempar ponselnya dengan santai. Ia menoleh kearah Syerly yang berada tepat dibawahnya. Gadis itu menunggunya dengan sabar, senyum lembutnya membuat Felix tidak dapat menahan diri lagi.
Felix menundukkan kepalanya dan mencium bibir Syerly. Mereka menutup jarak diantara mereka. Felix menyentuh pipi Syerly dengan lembut. Dan Syerly membalas ciuman Felix dengan nafas yang berantakan.
Ketika api gairah mulai berkobar, suara dari nada dering mengganggu momen mereka lagi.
Syerly tertawa kecil, tapi Felix kali ini tidak ingin mundur.
Ketika Felix kembali ingin menciumnya, Syerly dengan santai mengambil ponselnya dan memamerkannya didepan Felix.
Wajah Felix semakin menghitam ketika melihat nama Peter ada didalam layar ponsel milik Syerly.
"Aku harus menjawab panggilan ini." Kata Syerly dengan tenang.
Ia mendorong Felix dan bangkit untuk duduk.
"Hallo, Peter." Nadanya sedikit melembut.
"Apa kau merindukanku?"
Sesaat kemudian tawa Syerly terdengar hangat. Ia berdiri dan berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Tapi aku sangat merindukanmu." Katanya dengan ringan.
Meski terdengar agak jauh, tapi Felix masih dapat mendengarnya.
Felix menatap punggung Syerly yang semakin menjauh. Dadanya tiba-tiba terasa sesak seolah seolah ada api kecil yang menyala di sana.
Meski ia tahu, Peter sudah mempunyai pacar. Tapi ketika mendengar nada Syerly yang begitu lembut ketika berbicara dengan Peter, Felix tetap saja tidak dapat menahan rasa cemburunya.
Dengan tangan terkepal erat, Felix mencoba menenangkan dirinya. Ia perlahan menghembuskan nafas panjang dan mulai bangkit dari tempat duduknya. Langkahnya berat ketika melangkah pergi.
Syerly duduk di depan laptopnya, suara dari speaker ponsel ia besarkan agar terdengar jelas.
Dari speaker ponsel terdengar suara Peter.
"Apa kau sudah mengerjakan tugasmu? Malam ini adalah batas waktu pengumpulannya."
Syerly mencondongkan badan ke depan, menatap layar laptopnya. Mencari disetiap file didalamnya.
"Sepertinya aku sudah mengerjakannya." Jawab Syerly.
Lalu beberapa saat kemudian, ia menemukan folder yang ia cari.
"Aku sudah menemukannya." Katanya sambil tersenyum lebar.
Terdengar Peter menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah kau tidak lupa." Katanya.
"Cepat kirimkan tugasmu!"
"Baiklah."
Saat hendak mengakhiri panggilan, suara seorang gadis terdengar dari ponsel Peter.
"Apa kau sedang bersama Thea?" Tanya Syerly dengan senyum kecil.
"Ya." Jawab Peter.
"Kalau begitu aku akan menutup telpon dulu."
"Tunggu!" Kata Syerly dengan cepat.
"Apa kalian sudah..."
"Syerly..." teriakan Peter terdengar tajam.
"Aku peringatkan kau, bersihkan kepalamu!"
Syerly tertawa.
"Jangan bilang kalau kalian belum tidur bersama!" Kata Syerly sambil menahan senyum.
Ia membayangkan kali ini, pasti wajah dan telinga Peter pasti sedang memerah.
"Aku akan menutup telpon." Kata Peter dengan cepat, lalu panggilan itu berakhir.
Syerly kembali teringat kenangan hangat bersama Felix yang tadi terhenti begitu saja.
Senyum kecilnya muncul tanpa sadar. Ia menutup laptop, lalu berdiri perlahan dan melangkah keluar ruangan, berniat mencari Felix.
Syerly membuka pintu kamarnya perlahan. Langkahnya terhenti begitu melihat Felix sudah berada di sana, berbaring santai di atas kasur. Pakainnya tidak tahu sejak kapan tersingkir. Dengan percaya diri memamerkan tubuhnya yang berotot seperti dewa yunani.
Felix menoleh begitu pintu terbuka. Senyum malas namun menggoda terukir di wajahnya, seolah ia sudah menunggu cukup lama. Satu lengannya menyangga kepala, matanya menatap Syerly tanpa berkedip, dengan sorot mata yang menggoda.
Syerly menghela napas kecil, ia menahan tawanya agar tidak keluar karena merasa geli.
"Aku pikir kau pergi mandi." Kata Syerly melangkah mendekat.
Felix bangun menarik Syerly lebih dekat.
"Aku menunggumu." Bisiknya sambil menciumi leher Syerly dengan lembut.
Syerly tersenyum kecil, lalu mendorong Felix pelan.
"Tunggu, Fel." Kata Syery pelan.
Tapi tangan Syerly tidak berhenti menyentuh dada Felix yang hangat dan kokoh, ia merasakan detak jantung laki-laki itu yang tidak beraturan. Jari-jarinya terus menyelusuri garis otot perutnya dengan sentuhan ringan. Tapi penuh godaan.
Felix menarik napas dalam, rahangnya mengeras menahan diri. Sentuhan gadis itu membuat tubuhnya menegang.
Syerly menatap Felix dengan mata yang berkilau.
"Tahan sampai pertandingan basketmu besok."
Lalu Syerly mundur perlahan, tapi wajahnya penuh godaan yang mengundang.
Felix terkekeh kecil.
"Kau menggodaku seperti ini, apa kau pikir aku dapat menahannya sampai besok?"
Lalu Felix dengan cepat menyusul Syerly, sebelum gadis itu menutup pintu kamar mandi.