Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi itu, seperti biasa. Freya pergi ke resort ditemani Nova.
Para wisatawan sudah banyak berdatangan. Dari dalam kota mau pun luar kota. Bahkan ada yang dari luar negeri.
Cisaat benar-benar berubah menjadi tempat wisata. Dan itu berkat Freya.
Saat akan sampai ke kantornya, Freya berpapasan dengan Safwan yang sedang lari pagi.
"Selamat pagi, A Safwan." Freya menyapa dibarengi senyum kecil.
"Pagi, Teh Freya" Safwan membalas dengan senyuman juga, tapi terlihat hambar.
Freya berhenti sejenak, menyuruh Nova masuk duluan. "Wajah A Safwan pucat sekali? Aa sakit?" tanyanya.
Safwan meringis. "Sepertinya iya, Teh. Akhir-akhir ini ... saya selalu merasa sangat lelah, lesu dan malas bergerak. Ini juga maksain buat lari pagi. Soalnya Umi terus-terusan nyuruh saya berolahraga."
"Hm, begitu ya?" Freya mengangguk. "Coba diperiksa, A. Takutnya ada penyakit yang tak terdeteksi. Menjaga lebih baik daripada mengobati," sarannya.
"Iya, Teh. Nanti siang deh saya pergi ke dokter."
Freya tersenyum, lalu berpamitan untuk masuk ke kantornya.
Tiba di ruangannya, Freya merogoh ponselnya yang bergetar dari tadi. Nama Lingga tiba-tiba muncul mengirimi dua pesan. Dari Lastri juga ada.
Freya memilih membuka pesan dari Lastri dulu.
Bu Lastri: Freya ... nanti siang kamu datang dong ke rumah saya. Kita makan siang sama-sama. Sekalian saya mau curhat.
Freya buru-buru membalas pesan itu. "Siap, Bu. Nanti saya ke sana."
Bu Lastri: Makasih, Freya. Tapi jangan ajak Nova. Kamu sendiri saja.
"Siap." Freya tersenyum samar setelah mengirim pesan tersebut.
Lalu ia membuka pesan dari Lingga.
Mas Lingga: Freya ... soal perasaanku waktu itu. Aku ingin meminta maaf. Kamu jangan marah dan tolong jangan menjauhiku. Dan sebagai permintaan maafku ... aku ingin mengajakmu makan malam di apartemenku. Besok malam, kamu mau kan?
Mas Lingga: Tolong datang ya, Freya.
Freya menyeringai sinis. "Lingga ... Lingga ... aku tidak bodoh. Kau pasti ingin menjebakku kan? Sayangnya, aku tak akan tertipu. Dan satu hal yang harus kau tahu ... bahwa besok malam itu tak akan ada. Hari ini ... kamu dan keluargamu akan hancur."
Freya membalas pesan itu dengan kalimat singkat yang meyakinkan. "Iya, Mas. Aku mau." Ia tersenyum.
Balasan dari Lingga cepat datang. "Terima kasih, Freya." Pesan itu dibubuhi emoji tertawa.
"Tertawalah Lingga, sebelum kau mengeluarkan air mata darah."
_______
Sesuai janjinya tadi pagi, Freya pun datang menemui Lastri.
Mereka makan siang bersama, dan setelah makan siang itu usai ... Lastri tanpa basa-basi langsung memuntahkan keluh kesah yang ada dalam benaknya.
"Freya ... dugaanku tentang suamiku yang bermain gila di belakangku selama ini ... ternyata bukan isapan jempol belaka. Tadi malam ... aku tak sengaja menemukan lipstik ini di saku jasnya." Lastri memberikan lipstik bermerk ternama kepada Freya dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca dan memerah.
"Ya Tuhan ..." Freya pura-pura syok dan iba, padahal hatinya bahagia.
"Dan bukan cuma ini, Freya ..." Suara Lastri pecah, nyaris menangis. "Aku juga menemukan struk belanja lingerie dan celana dalam wanita di tas kerjanya ..." Tangis Lastri akhirnya pecah. Punggungnya bergetar hebat.
Freya beringsut, pura-pura peduli. Lalu memeluk Lastri. "Ibu yang kuat ya. Jangan lemah, Bu. Mari kita buktikan kecurigaan Ibu." Freya mulai memprovokasi.
"Maksud kamu?" Di sela isaknya, Lastri bertanya.
"Kita buntuti Pak Zainal. Apakah Ibu tahu jadwal dia hari ini apa saja?"
Lastri mengangguk cepat. "Tahu, Freya. Jam dua nanti, ia ada pertemuan dengan para relawan untuk memerintahkan melakukan serangan fajar. Sekarang ... mungkin dia masih di posko."
"Ya sudah. Kalau begitu, ayo kita ke posko, Bu. Kita buntuti ke mana Pak Zainal pergi."
Tanpa membuang waktu ... Lastri langsung bangkit dan pergi ke kamarnya untuk mengambil dompet.
"Ayo Freya." Ia kembali dengan cepat.
"Ayo, Bu. Saya yang nyetir," ujar Freya.
Dua wanita itu bergegas masuk ke dalam mobil.
Posko yang dimaksud adalah sebuah tempat di mana Zainal membangun strategi, dan mendiskusikan tentang pencalonannya dengan para relawan, dan pendukungnya.
Freya sengaja menghentikan mobilnya agak jauh dari posko itu. Bersamaan dengan itu, Zainal keluar dari posko, lalu masuk ke mobilnya. Sendirian, tanpa sopir dan asistennya.
"Freya! Itu suami saya!" seru Lastri heboh.
"Iya, Bu. Kita ikuti dia." Setelah mobil Zainal melaju, Freya pun melajukan mobilnya tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh.
Dua wanita itu begitu fokus, hingga mobil Zainal berbelok ke sebuah hotel.
Seketika, mata Lastri membeliak tajam. "Freya ... lihat itu. Mobil suamiku berbelok ke hotel," pekiknya dengan emosi mendidih.
Freya menoleh ke Lastri sambil memelankan laju mobilnya. "Tenang, Bu. Biarkan Pak Zainal masuk dulu. Setelah itu, baru kita menyusulnya. Jangan gegabah. Kita harus mendapatkan bukti nyata."
Lastri menarik napas berat, mencoba meredam emosinya.
Setelah sepuluh menit berlalu, barulah Freya memasukkan mobilnya ke area hotel, lalu mengajak Lastri keluar.
Lastri masuk ke lobi dengan langkah tergesa dan langsung menanyakan ke resepsionis tentang Zainal Buana berada di kamar nomor berapa.
"Maaf, Bu. Tapi kami tidak bisa memberitahu Ibu. Itu termasuk privasi tamu," kata resepsionis itu memberikan penjelasan dengan sopan.
Emosi Lastri nyaris meledak, kalau saja Freya tak menenangkannya. "Tenang, Bu Lastri. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik." Lalu Freya mengambil alih berbicara ke resepsionis. "Mbak, jadi begini ... dia pun menceritakan seluk beluk permasalahannya."
Setelah penjelasan itu selesai ... petugas resepsionis itu mengangguk paham. "Tunggu sebentar ya, Bu, Mbak ... saya akan menghubungi dulu manajer hotel." Petugas itu buru-buru menelepon sang manajer.
"Freya ... kita harus cepat. Aku sudah tak sabar ingin memergoki mereka," desis Lastri gelisah.
"Sabar Bu Lastri. Jangan terlalu grasak-grusuk ... justru dengan adanya hal ini, kesempatan kita memergoki Pak Zainal semakin terbuka lebar. Maaf sebelumnya ... tapi mungkin saja dengan memperlambat waktu ... kita bisa memergoki hubungan badan Pak Zainal dan selingkugannya itu." Perkataan Freya tersebut menghantam dada Lastri dengan keras, membuat wanita itu memejamkan mata dengan erat.
Ia mendadak membayangkan adegan panas suaminya dan ani-ani itu. Dadanya langsung terasa sesak. Ia jadi ingin menangis sekaligus mengamuk.
Beberapa menit kemudian, sang manajer hotel datang menghampiri mereka. Dan dengan suara bergetar ... Lastri memohon agar bisa masuk ke kamar yang dipesan suaminya.
Setelah meminta bukti dan mendengarkan cerita, manajer pun mengizinkan.
"Terima kasih." Lastri berucap lega dengan air mata yang nyaris jatuh. Ia mengeluarkan dompet dan mengambil semua uang cash yang ada di dalamnya. "Ini tip untuk kalian," katanya menyimpan dua puluh lembar uang merah di atas meja resepsionis. Lalu setelah itu menarik Freya untuk menghampiri suaminya.
Mereka masuk ke dalam lift. Keadaan Lastri sudah tak menentu, gelisah tak terkira.
"Bu ..." Freya menepuk pundak Lastri. "Relaks. Ibu harus tenang. Dan ikuti perkataanku."
"Apa Freya?" tanya Lastri dengan suara bergetar.
"Ibu harus menghidupkan kamera ponsel. Rekam semua kejadian secara live. Mau itu live ig, tiktok, atau apa pun. Yang penting ... saat ini juga, semua orang harus tahu kebobrokan Pak Zainal. Biar banyak yang mendukung dan simpati pada Ibu. Dan juga, agar Pak Zainal dan selingkuhannya tidak bisa memutarbalikan fakta apa lagi mengelak."
Tanpa pikir panjang, Lastri langsung menganggukkan kepala. "Siap, Freya. Aku akan melakukan apa yang kamu perintahkan," katanya mantap.
Freya tersenyum samar. "Bagus. Ingat ya, Bu. Tenang. Aku akan menunggu di sini saja." Pintu lift terbuka, dan Lastri langsung berlari menuju kamar di mana Zainal berada sambil menghidupkan live tiktok.
satu keluarga bejat smua tinggal usir smua warga yg kerja d perkebunanmu fre mereka juga tega sama kamu.