Daven Alexander Murpy,pewaris tunggal dari kerajaan Bisnis Murpy group.Dia mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.Dia ditolong oleh seorang gadis yang sama sekali dia tidak tahu siapa.Karena merasa berhutang budi,Daven mengucapkan sebuah janji akan menikah dengan gadis itu,siapapun dia dan bagaimanapun keadaannya.Dia juga berjanji akan memberikan kebahagiaan buat gadis penolongnya itu.
Karena untuk menjaga reputasi keluarga, Daven akhirnya menikah dengan seorang gadis bernama Alena, yang bekerja sebagai cleaning service di perusahaannya,dengan perjanjian mereka akan segera berpisah bila Daven berhasil menemukan gadis penolongnya.
Akankah Daven akan menemukan gadis yang telah menolongnya? dan apakah Daven akan berpisah dengan Alena setelah gadis penolong itu ditemukan?
Penasaran? Monggo di baca!. Mohon untuk kritik dan sarannya. Happy readings everyone
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harta berharga apa?
Itu dia!" Teriak Daven sambil mendekatkan wajahnya ke layar monitor untuk bisa melihat dengan jelas.Lalu dia menekan tombol pause disaat wajah wanita itu sudah jelas. Sepersekian detik kemudian, kedua netra Daven membesar dengan mulut yang terbuka melihat wanita yang ada di layar monitor itu.
"A-Alena" Gumamnya dengan tubuh yang tersungkur ke belakang.
"Tu-Tuan sudah mengenal Nona Alena?" tanya perawat itu antusias.
"Kamu udah tahu namanya juga? " bukannya menjawab Daven justru bertanya balik,seraya bangkit berdiri.
"Se-sebenarnya aku hanya mendengar seseorang memanggil namanya waktu dia menerima telpon Tuan. Waktu itu ponselnya berbunyi,dan Nona Alena menyuruhku untuk menjawab dengan menekan loudspeaker.Karena kebetulan pada saat itu, proses pengambilan darahnya sedang berlangsung. Yang saya dengar Nona Alena dipecat dari pekerjaannya,karena telat datang bekerja. Karena itulah dia langsung berlalu pergi, untuk memohon agar tidak dipecat." tutur perawat itu menjelaskan.
Mendengar penuturan perawat itu, membuat hati Daven semakin dilingkupi rasa bersalah. Andrew yang awalnya kaget, sekarang merasa bahagia, karena dengan begitu, Daven tidak akan menceraikan Alena.Dengan begitu Alena akan hidup bahagia bersama dengan Daven.
"Andrew, buruan kita kembali ke Dublin sekarang! " Daven sontak berteriak dan lari meninggalkan ruangan Dokter Hans disusul oleh Andrew di belakangnya. Andrew bingung kenapa bosnya itu terlihat sangat panik.
" Bisa tidak kamu membawa mobil lebih cepat lagi?! Aku tidak mau terlambat sehingga aku bisa kehilangan Alena. " wajah Daven kini terlihat sangat panik. Seandainya dia bisa terbang,ingin sekali saat ini dia terbang untuk menemui Alena.
"Apa maksud anda dengan kata kehilangan? apa yang telah anda perbuat pada adik ku?" tanya Andrew, sembari melirik Daven dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
"Aku bodoh Ndrew! Aku bodoh....! aku telah menyuruh dia untuk keluar dari rumah tadi."
Andrew sontak mengrem mendadak mobil itu,begitu mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut Daven.
"Apa maksud anda Tuan?" suara Andrew terdengar meninggi dan langsung menolehkan kepalanya kebelakang untuk bisa menatap langsung Daven.
"Ndrew tolong bertanyanya ditunda dulu!sekarang bukan saatnya menjawab. Sekarang kamu tolong hubungi helikopter kita agar kita bisa cepat sampai di rumah."
Walaupun merasa geram dan marah, Andrew tetap melaksanakan perintah Daven. Andrew menyebut nama sebuah tempat yang ada landasan helikopternya, yang jaraknya lebih kurang 2km dari tempat mereka berada sekarang dan menyuruh helikopter itu, untuk menjemput mereka di sana secepatnya. Sedangka Daven langsung menghubungi Mommy Ellen, agar dia dan Daddy berangkat terlebih dahulu ke kediamannya untuk menahan Alena.
Daven dan Andrew langsung berlari ke arah helikopter yang sudah menunggu mereka berdua. Setelah mereka berdua naik, heli itu pun langsung terbang membawa Daven dan dan Andrew ke Dublin.
Daven dan Andrew tiba di Dublin, mereka mendarat di atas apartemen Daven yang tidak jauh dari rumahnya berada. Dengan secepat kilat Daven berlari turun kebawah disusul oleh Andrew. Dibawah sudah siap mobil untuk menjempuy keduanya.Andrew dan Daven langsung masuk kedalam mobil dan Andrew langsung melesatkan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di kediamannya, terlihat Harold dan Ellen,orangtuanya sudah menunggu di depan rumah.
"Ada apa ini Dave? apa yang terjadi?" Mommy Ellen langsung bertanya begitu melihat putranya turun dari mobil.
"Mommy dan Daddy kenapa ada di sini? kenapa tidak masuk? " bukannya menjawab Daven justru balik bertanya dengan raut wajah panik.
"Gimana kami bisa masuk? dari tadi Mommy dan Daddy sudah ber-ulang-ulang membunyikan bel itu, tapi tidak ada yang membukakan pintu buat kami. Memangnya Alena kemana? Dan kenapa kamu nyuruh Mommy dan Daddy untuk menahannya? " tanya Mommy Ellen beruntun.
Bukannya menjawab Daven langsung menerobos Mommy dan Daddynya, untuk membuka pintu dengan kunci miliknya. Setelah terbuka dia langsung berlari masuk dan berteriak memanggil nama istrinya itu.
"Alena.... Alena! "teriak Daven seraya mencari ke segala ruangan. Dia melihat di atas meja makan, kunci rumah baru dan sertifikat kepemilikan restauran dan butik yang dia berikan tadi pagi,masih tergeletak di atas meja.Letak posisinya sama sekali tidak berubah,dan itu berarti Alena tidak menyentuhnya sama sekali.
Daven kembali berlari ke atas menuju kamar Alena dengan gusar.Dia takut kalau Alena sudah pergi sebelum Mommy dan Daddynya tiba disana.
Dia mendorong pintu kamar Alena dengan kasar. Dia melihay kamar Alena benar-benar sudah kosong. Daven mencari ke dalam kamar mandi, walk in closet dan ke balkon. Namun, nihil. Alena sudah tidak ada. Daven membuka lemari, tampak pakaian-pakaian yang dibelikannya buat Alena masih berjejer tergantung rapi di sana. Demikian juga dengan tas-tas, perhiasan dan sepatu-sepatu mahal,semuanya masih utuh di tempatnya.
Andrew dan kedua orangtua Daven juga kini sudah ada di dalam kamar Alena. " Ada apa ini sebenarnya? Jangan buat Mommy bingung Daven !" Mommy Ellen kembali bertanya dengan suara yang tinggi.
Daven tidak mampu untuk menjawab,dia seperti membeku di tempatnya. Tanpa sadar airmatanya merembes. " Arghhhhh! teriakannya mengelegar sambil menjambak rambutnya dengan kencang. Detik berikutnya, dia mengayunkan tangannya untuk memukul tembok dengan keras. Darah segar pun merembes dari buku-buku tangan Daven.
Daven akhirnya tersungkur bersandar ditembok dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas lututnya.Dia berulang-ulang membenturkan kepalanya ke tembok. Untungnya, Harold- Daddynya cepat menarik Daven agar tidak berbuat nekad.
"Ada apa ini Andrew? bisa kamu jelaskan? " Harold menoleh ke arah Andrew untuk menuntut penjelasan.Karena untuk saat ini, yang sanggup untuk memberikan penjelasan itu cuma Andrew.
Andrew menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi, untuk bisa meredam sedikit amarahnya terhadap Daven. Lalu dia mulai menceritakan secara detai apa yang sudah terjadi tak ketinggalan mengenai Alena yang ternyata merupakan sosok wanita yang dicari oleh Daven selama ini.
Harold dan Ellen begitu terkesiap begitu mendengar kenyataan yang baru saja mereka dengar dari Andrew. Kedua tangan Harold terkepal dengan kecang,rahang nya kini terlihat mengeras. Awan gelap kini sudah menutup manik mata Abu-abu milik Tuan Harold. Dia menatap putranya itu dengan sorot mata yang penuh amarah.Dari kepalanya kini sudah keluar asap tebal dan hitam. Ingin rasanya dia memukul putranya itu, tapi begitu melihat kondisi Daven, amarahnya langsung surut berganti dengan tatapan yang prihatin.
Andrew melangkah mendekati nakas karena melihat ada sepucuk kertas di atasnya. Dia meraih kertas itu dan menyerahkannya pada Daven. Karena dia merasa dia tidak berhak membacanya.
Daven menerima kertas itu dan membuka lipatannya untuk mengetahui isi dari surat itu.
"Ka Daven, terima kasih atas cinta yang Kaka sudah berikan padaku.Kaka benar, tidak seharusnya aku memakai hati pada hubungan pernikahan kita.Aku yang salah ka! Aku terlalu berani untuk jatuh cinta pada kakak. Tapi kaka tenang saja, aku akan pergi jauh seperti keinginan kaka. Aku sudah cukup bahagia bisa mengenal dan hidup bersama kaka selama 4 bulan ini. Walaupun hanya sebentar, tapi cukup buatku untuk bisa merasakan indahnya jatuh cinta.Sekarang Alena pamit ka. Alena berdoa semoga kaka akan selalu hidup bahagia bersama wanita yang memang seharusnya jadi istri mu. Kakak tenang saja, kakak tidak perlu mengirimkan surat cerainya padaku, aku sendiri yang akan mengirimkannya buat kakak. Aku sudah cukup bahagia bisa membawa harta yang berharga bersamaku,yang bisa mengingatkanku pada mu kelak dan aku tidak perlu harta yang lain lagi. Sampaikan salam dan maafku buat Ka Andrew, Mommy dan Daddy. Love Alena.
Daven meremas kertas itu dengan kuat dan melemparkannya ke sembarang arah.Dalam benaknya bertanya- tanya harta berharga apa yang Alena bawa bersamanya.
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin Jejak ya gais.Please like vote dan Komen. Thank you🤗🤗