NovelToon NovelToon
You Are Mine

You Are Mine

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Cintamanis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 5
Nama Author: An Nisa

Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita ~ Banyu Biru

Bagaimana perasaanmu jika hanya karena pesan dari mendiang kakekmu yang mengharuskan dirimu menikah diusia dua puluh enam tahun, ibumu menjodohkan dirimu dengan seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, karena kekasihmu selalu menolak lamaran darimu.

Banyu Biru, diminta oleh sang ibu untuk segera menikahi kekasih hatinya yang sudah ia pacari selama empat tahun lebih. Tetapi sialnya kekasihnya selalu saja menolak lamaran dari dirinya.

Pada akhirnya ibunda Banyu menjodohkan dirinya dengan seorang gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi dan bahkan masih memiliki kekasih, hanya karena Banyu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.

Apakah Banyu dan gadis itu akan menerima perjodohan tersebut?

Atau mereka akan menjalin pernikahan kontrak seperti novel-novel yang sedang booming saat ini?

Simak kisah mereka dalam cerita ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

"Emm, Mas Banyu masih cinta sama Mbak Celin?"

Banyu mengernyitkan keningnya, tanda tak mengerti arah pembicaraan istrinya. Ia pun bertanya kenapa menanyakan hal seperti itu.

Jingga pun menjawab, "kita kan sama-sama tahu, kalau pernikahan kita itu karena perjodohan, dan sebelum itu kita sama-sama memiliki kekasih ... "

"Lalu? Tidak usah bertele-tele, Ji!" potong Banyu tidak sabar.

"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian. Ya, semacam kontrak. Kita buat pernikahan ini hanya untuk beberapa bulan kedepan saja. Setelah itu kita bercerai dan kita bisa menikahi seseorang yang kita cintai" jelas Jingga.

Tak ada respon dari Banyu untuk saat ini. Hanya ada keheningan yang membalut kedua pasangan suami istri itu.

Jingga menatap suaminya. Raut wajah pria itu sama sekali tak terbaca. Sehingga Jingga dibuat gelisah sendiri jadinya. Ia jadi merasa bersalah menawarkan semua itu. Tapi hatinya yang masih terpaut pada Kevin, dan ingatannya kepada Celin membawa keberanian pada Jingga untuk mengatakan semua itu.

"Aku tidak setuju!" Satu kalimat singkat itu membawa kepala Jingga untuk mendongak dan bertanya kenapa dalam diam.

"Apa kamu benar-benar tidak mau menerima pernikahan ini, Ji?"

Jingga menggelengkan kepalanya cepat. Bukan tidak mau menerima hanya saja, ia selalu merasa tidak percaya diri jika mengingat bagaimana sempurnanya Celin.

"Lalu apa masalahnya? Atau kamu diam-diam masih berhubungan dengan mantan kekasihmu yang mengacau saat resepsi kemarin?"

Jingga kembali menggeleng. Meskipun sebenarnya masih ada setitik rasa untuk mantan kekasihnya itu. Tapi Jingga sudah berusaha untuk mulai melupakan Kevin.

"Jadi? Apa alasannya kamu menawarkan hal yang tidak masuk akal itu?" desak Banyu. Ia paling tidak suka membahas hal-hal yang tidak memiliki alasan. Terlalu berlebihan menurutnya.

"Aku hanya merasa tidak sepadan dengan mbak Celin. Bukankah kalian menjalin hubungan sudah bertahun-tahun? dan aku yakin Mas Banyu juga masih memiliki rasa untuk mantan Mas Banyu itu. Jadi, aku pikir jika lebih baik hubungan kita ini tidak perlu terlalu jauh dan lama. Jadi Mas Banyu bisa kembali lagi kepada mbak Celin suatu saat nanti." Jingga melirik suaminya diam-diam. Ia takut pria itu marah dengan ide gilanya ini. Benar saja, bahkan raut wajah kesal Banyu benar-benar kentara saat ini.

Suami Jingga itu membuang napas secara kasar. Ia tidak tahu bagaimana bisa istrinya berpikir seperti itu. Banyu tidak menampik untuk masalah perasaan, rasa cinta pada Celin tentu masih ada. Tapi bukan berarti ia tidak bisa mengalihkan hatinya pada sang istri suatu saat nanti. Sehingga akhirnya Banyu memberikan sedikit penjelasan kepada istrinya.

"Ji, aku memang belum bisa melupakan Celin. Tapi bukan berarti aku masih menginginkan gadis itu dan berkeinginan untuk cerai sama kamu. Cita-cita ku dari dulu hanya ingin menikah satu kali seumur hidup. Entah itu dengan kamu atupun Celin atau Kikan sekalipun. Aku tidak peduli!"

Banyu mengambil tangan Jingga, menggenggamnya lembut dan menatap mata gadis itu.

"Ayo kita mulai hubungan kita dengan sungguh-sungguh. Kita ikuti alur yang Tuhan berikan untuk kita. Jika kita memang berjodoh kita tidak akan bisa kemana-mana, sekalipun kita berusaha untuk menghindar. Dan jika Tuhan hanya menakdirkan kita untuk bersama sesaat, mari kita berpisah dengan baik-baik tanpa dendam dan tanpa sakit. Tapi, aku mohon padamu untuk mencoba membangun hubungan kita dengan baik-baik. Kita coba untuk saling mencintai. Bersama-sama kita lupakan masa lalu untuk merengkuh masa depan. Tidak perlu terburu-buru, pelan-pelan saja, dan nanti kita lihat bagaimana hasilnya."

Jingga hampir saja meneteskan air matanya. Mendengarkan apa yang Banyu sampaikan benar-benar membuatnya terharu. Begitu manis dan menyentuh hati. Ia jadi merasa bersalah sendiri sekarang.

"Mungkin semua ini memang berat, tapi ... " Banyu menatap mata istrinya semakin dalam. "Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita."

Ya, Banyu benar. Sejak awal Jingga memang telah diberi pilihan, dan Jingga memilih untuk membangun hidup baru dengan Banyu. Entah nanti bagaimana hasil dari pilihannya, seharusnya Jingga berusaha untuk menerimanya dan berusaha untuk memberikan hasil yang terbaik untuk masa depannya kelak. Mungkin saat ini mereka masih belum saling mencintai, tapi siapa yang tahu kapan Tuhan akan membolak-balikan hati hambanya?.

"Bagaimana kamu mau kan?"

Jingga hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ya, Jingga akan berusaha untuk menerima semua ini dengan tulus. Tidak ada salahnya jika ia ingin mencoba.

Sudut bibir Banyu tertarik ke atas. Senang? Ya, pria itu sangat senang. Tidak tahu apa yang membuat hatinya merasa sesenang ini. Bukankah itu kewajiban mereka berdua untuk mencoba saling mencintai? Tapi, memang tak bisa dipungkiri jika sudut hati Banyu merasakan sebuah kebahagiaan.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Banyu segera mengajak sang istri untuk istirahat, karena besok mereka harus memulai kembali aktivitas mereka.

*

*

*

Jingga terbangun dari tidurnya. Hidungnya mengendus-endus mencium sesuatu beraroma begitu sedap. Melihat tidak adanya sang suami di dalam kamar, Jingga menerka aroma yang tercium saat ini berasal dari dapur. Mengobati rasa penasarannya, Jingga segera melangkah keluar. Didapatinya Banyu tengah menggunakan apron, masih dengan kaos putih dan celana pendek yang semalam dipakai pria itu untuk tidur. Jingga pun berjalan mendekat pada suaminya.

"Sudah bangun?" tanya Banyu setelah menyadari ada orang lain di dapur.

"Aroma masakan Mas sampai ke kamar. Jadi aku kebangun. Perutku juga langsung laper," jawab Jingga dengan satu cengiran.

Banyu terkekeh mendengar penuturan istrinya. Sepertinya setelah pembicaraan semalam istrinya ini jadi lebih berani untuk bicara. Pasalnya selama Banyu mengenalnya dalam dua minggu ini, gadis itu jarang bisa menimpali pembicaraannya layaknya teman. Gadis itu lebih sering diam, mengangguk, dan menggeleng.

"Kamu mandi dulu," suruh Banyu. "Kamu hari ini ada kuliah kan?" tanyanya kemudian.

"Nggak mau dibantuin dulu, Mas?" tawar Jingga. Meskipun ia tidak tahu bisa membantu apa. Yang terpenting menawarkan dulu bukan?.

"Emang kamu bisa bantuin apa?" tantang Banyu. Ia sudah tahu bahwa istrinya tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, Banyu berusaha untuk tidak membebankan pekerjaan rumah pada istrinya.

Jingga tersenyum kikuk dan membenarkannya. Ia kemudian pamit kepada Banyu untuk mandi dan bersiap.

Satu jam berlalu. Banyu dan Jingga sudah mulai menyendokkan makanan untuk sarapan mereka.

"Emm, masakan Mas enak," puji Jingga.

"Kamu orang ke ... " Banyu berpikir. "Kamu orang ke lima puluh sembilan yang bilang masakan aku enak," lanjutnya sambil tertawa.

Jingga juga ikut tertawa. Tapi tak melanjutkan pembicaraan dan segera menghabiskan sarapannya.

...

Banyu membantu istrinya melepaskan helm. Mereka telah sampai di depan gerbang kampus Jingga. Pasangan pengantin baru ini menjadi sorotan setiap mahasiswa yang lewat.

"Kamu nanti pulang jam berapa?" tanya Banyu sembari membantu merapikan rambut istrinya.

"Biasanya sih jam dua udah selesai," jawab Jingga sembari melirik kanan kiri. Ia merasa tak nyaman menjadi bahan tontonan. Tapi ia juga tidak bisa menghentikan apa yang Banyu lakukan.

"Kalau kamu pengen langsung pulang kamu telpon aku aja, entar aku jemput. Atau kamu mau nungguin aku kerja dulu juga nggak papa. Kamu langsung ke kafe aja. Tahu kan kafe tempat aku kerja yang mana?"

Jingga mengangguk.

"Ya sudah, kalau gitu aku tinggal," pamit Banyu.

"Hati-hati, Mas!" Banyu tersenyum dan melambaikan tangan.

Jangan lupa like dan komen

1
Endah Ing
Emang sdh gak boleh Nyu, bukan karena tempatnya tapi ada hati yg harus kamu jaga, bojomu Nyu
Endah Ing
Lagian ya Celin, emang dgn menikah, kamu gak bisa bantuin keluarga kamu lagi? banyu larang kamu bekerja?
Endah Ing
bundane yg jatuh cinta
Sri Udaningsih Widjaya
Bagus ceritanya thor
Tsalis Fuadah
aneh za melibatkan mantan yg walau secara visualisasi baik sempurna,,,,,, tp ttp aja mantan g baik terlalu dekat ato melibatkannya dlm kehidupan kita,,,,,
Tsalis Fuadah
ibu panti tp kok g punya hati
Tsalis Fuadah
jingga sakit dg interaksi suami n mantan tp g mikir reaksi suami lihat istri di cium mantannya
Sastri Dalila
👍👍👍
Caca Marica
Luar biasa
karina apriyanti
ceritanya bagus
sherly
Trus bagaimana dgn Iren dan Icha?
sherly
ternyata jodoh ABG Ken tu celin.. OMG
sherly
dah 3 mantan yg dah muncul.. ada brp lg mantan kamu Bayu?
sherly
OMG bayuuu suami idaman, sayang banget Ama jingga dah gt bisa ngk tergoda Ama mantan sejauh ini ya..
sherly
hari yg akan selalu diingat oleh jingga, ultahnya adalah Hari dia kehilangan bayinya
sherly
Irene tu ngumpet, ntar juga nyesel mama jingga dah pilih kasih... Iren yg di banggakan akan membuat dia sakit jantung kalo tau kelakuan anak kesayangannya
sherly
Dave modus aja tu, biar tau Kikan cinta ngk sama dia.. semangat
sherly
tinggal celin nih kasi coowok biar ngk ngerep banyu lg
sherly
betul tu jingga keluarin aja unek2nya... kalo kamu juga cemburu hahahah arti kamu dah cinta donk ..
sherly
sakit nih Bu pantinya, jingga ngk ada salah dicuekin.. boleh ngk sih ngarep si Icha sakit keras Trus ninggal aja biar ngk usah ke panti lg si banyu biar ngk ada akses jumpa celin ... walaupun banyu biasa aja tp kyknya celin msh ngerep
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!