Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
setelah makan mereka pun keluar dari ruangan itu, Nita melihat jam tanganya, masih jam tujuh ada waktu satu jam untuk bersantai dengan Peno, pak Supri dan pak Basuki tentunya, maka ia memutuskan mengajak ketiganya duduk santai disofa lobi sambil menikmati kopi dan pastinya ngobrol.
Nita memang begitu penasaran dengan sosok Peno, seorang pemuda yang tampil apa adanya dan jujur pastinya, ia ingin kenal Peno lebih jauh.
"mas Piano sudah berapa kali menang main catur?" tanya Nita mulai membuka obrolan.
"kalo menang ya sudah ga keitung, tapi kalo juara baru satu kali kemarin dikabupaten!" jawab Peno.
"ooh, baru pertama ikut turnamen berarti ya, kalo pak Supri sama pak Basuki apanya mas Piano!?" kata Nita dan beralih bertanya sama pak Supri dan pak Basuki.
"kami orang kabupaten yang mendampingi Peno non!" jawab pak Supri.
"oooh, jadi setiap kabupaten ada perwakilannya ya, biasanya diadakannya memang disini, tapi saya ga pernah nonton, dan biasanya papah yang nonton, papah saya juga suka sama permainan catur, tapi ga pernah ikut kejuaraan!" ucap Nita menjelaskan kalo baru kali ini ia tertarik untuk melihat kejuaraan catur dihotel milik keluarganya.
"iya non, tahun kemarin juga saya kesini mendampingi peserta dari kabupaten!" kata pak Basuki yang memang setiap tahun ia mendampingi perwakilan dari kabupaten untuk bertanding ditingkat propinsi.
"ih, jangan panggil non pak, panggil nama saja, kita kan sudah berteman!" protes Nita sebab dipanggil non oleh pak Basuki dan pak Supri.
"ah, ga enak lah kalo panggil nama saja, panggil mba saja ya!" kata pak Supri.
"ya udah terserah pak Supri sama pak Basuki saja, yang enak yang mana, tapi mas piano harus manggil nama, ga boleh ada embel embel mba atau non!" ucap Nita lagi.
"oke nama, ngomong ngomong disini boleh merokok ga ya!?" cletuk Peno.
"ih, bukan nama, tapi Nita, malah manggil nama beneran!" gerutu Nita sedikit kesal pada Peno.
"ooohh, kirain ganti lagi, dari Nita ke Nota lalu sekarang nama, terus besok ganti apa ya, he he he.....!?" kata Peno yang memang sengaja meledek Nita.
"stop, ga usah diganti apa apa, cukup Nita, tuh kalo mau merokok di halaman depan!" ucap Nita sambil menunjuk ke arah taman depan hotel.
"oke, aku kesana dulu, lumayan habis satu batang sebelum kerja keras angkat benteng!" ucap Peno lalu pergi kearah taman depan hotel itu, sedangkan pak Supri dan pak Basuki melanjutkan ngobrol dengan Nita dilobi.
Habis rokok sebatang Peno pun kembali kelobi, lalu mengajak semuanya untuk naik kelantai tiga, dimana turnamen catur itu digelar, Nita dengan semangat mengikuti, meski ia tak mengerti catur itu bagaimana dan tak tahu juga cara mainnya, tapi ia senang jika Peno meraih kemenangan dan juga berharap Peno akan jadi juara.
Jam delapan pertandingan dimulai, ini pertandingan ketujuh Peno, ia harus menang lagi kalau masih mau tetap dijalur juara, sebab nanti jika semua peserta sudah bertemu dan poin rangking teratas berjumlah sama maka akan diadakan pertandingan lagi untuk menentukan juaranya.
Kali ini lawan Peno lumayan sulit, sebab dia adalah pemuncak klasmen sementara dengan poin enam, dan jika kali ini Peno bisa memenangkan pertandingan maka dia akan menjadi pemuncak klasmen sementara.
Hampir satu jam berlalu, namun Peno dan lawanya belum menyelesaikan pertandingan juga, sementara beberapa meja yang lain sudah kosong, pertanda kalau pertandingannya sudah selesai.
Satu jam lebih lima menit pertandingan selesai, Peno dan lawanya saling berbagi poin setengah, sebab hasilnya adalah remis, setelah bersalaman Peno menghampiri tempat duduk pak Supri dan yang lain.
"pertandingan kedua nanti kamu wajib menang No, lawanmu rangking terbawah diturnamen ini!" ucap pak Supri setelah Peno duduk disampingnya.
"iya pak, tapi ya tetap harus hati hati, kata embah jangan pernah menyepelekan lawan!" jawab Peno lalu ia berdiri dan melangkah kearah stand kopi, tapi langkahnya dihentikan oleh Nita.
"kalo mau kopi kita keruangan sebelah saja mas, aku sudah pesan kopi sama cemilan!" ucap Nita, Peno pun menoleh pada Nita, "wiiihhhh mantap, oke, ayo kesana, ayo pak Supri, pak Bas!" jawab Peno lalu mengajak pak Supri dan pak Basuki.
Mereka pun masuk keruangan yang lebih kecil dari meeting room, dan tempatnya persis bersebelahan, ruangan itu sengaja dipesan Nita untuk tempat khusus Peno istirahat sebelum bertanding lagi, diruangan itu Peno, pak Supri dan pak Basuki juga bisa bebas merokok, Nita sudah meminta pada pegawai hotelnya agar ruangan itu bisa digunakan untuk merokok.
"nah, ini baru nikmat, minum kopi sambil ngrokok, ditambah ada cemilannya, bikin otak tambah encer!" ucap Peno, ia duduk disofa empuk diujung ruangan, pak Supri dan pak Basuki pun ikut duduk disana, sedangkan Nita duduk disofa depannya.
"papahku mau ketemu mas Piano, nanti setelah pertandingan kedua langsung saja masuk kesini lagi!" kata Nita meberi tahu kalo papahnya mau ketemu.
"memangnya papah kamu tahu aku?" tanya Peno.
"tahu, karena aku yang kasih tahu, ada anak muda yang lagi ikut turnamen catur dan dia kandidat juara!" jawab Nita dengan entengnya.
"kandidat dari mana, ini masih setengah perjalanan, belum bisa dipastikan, bisa saja dipertandingan selanjutnya aku kalah terus!" kata Peno merendah.
"ya jangan kalah dong, harus berusaha menang!" ucap Nita, suaranya sedikit meninggi karena tidak suka dengan kepesimisan Peno.
"nah, diomelin saja mba, masa calon juara lemah kaya gitu!" saut pak Supri malah mengompori Nita agar memarahi Peno.
"iya nih pak, jadi orang itu harus optimis, percaya diri, yakin pasti bisa menang dan jadi juara!" ucap Nita lagi.
"lah, malah diomelin, iya, aku bukannya lagi pesimis, tapi dipermainan itu ada kalah ada menang, jadi kita harus siap menghadapi keduanya, tenang saja, aku akan berusaha, he he he.....!" kata Peno sambil cengengesan.
"ya makanya jangan bilang kaya tadi, kesannya kan kaya orang pesimis, kaya orang ga percaya diri!" kata Nita masih sedikit kesal.
"wis, aku mau masuk lagi, sudah waktunya cari poin, bismillah kuat angkat benteng!"ujar Peno sambil melangkah keluar ruangan menuju arena lagi.
Pak Supri dan pak Basuki yang sedang menikmati rokoknya pun langsung mematikannya dan menyusul Peno, Nita pun segera ikut menyusul.
Pertandingan dimulai kini Peno memiliki enam poin, posisinya masih diperingkat dua, ia berharap pemuncak klasmen akan kalah dipertandingan ini, agar selisih poinnya menjadi setengah jika Peno bisa menang.
Dan apa yang dikatakan pak Supri memang benar, lawan Peno kali ini cukup mudah, hanya butuh waktu empat puluh lima menit Peno sudah bisa mengalahkannya, poin Peno bertambah satu sekarang menjadi tujuh.
Sesuai apa yang diminta Nita tadi Peno, pak Supri dan pak Basuki kembali keruangan yang sudah disiapkan Nita, tentunya setelah sesi malam resmi ditutup dan akan dilanjut esok pagi jam delapan.
Peno menikmati kopi dan rokoknya lagi, kali ini ia terlihat sedikit lega dan rileks, " Nit, kamu kuliah apa memang sudah kerja?" tanya Peno membuka obrolan dengan Nita.
"masih kuliah, tapi kadang bantu bantu papah mengurus perusahaan!" jawab Nita yang sekarang wajahnya juga ikut rileks, sebab Peno membuktikan ucapanya, yaitu tidak pesimis, buktinya tadi Peno bisa menang.
"memangnya kamu ga punya kakak atau sodara yang lainnya?" tanya Peno lagi, mereka kini duduk hanya berdua, oak Supri dan pak Basuki memilih duduk dibalkon sambil menikmati pemandangan malam ibu kota propinsi.
"aku punya kakak dua, yang pertama tinggal di ibu kota, mengurus perusahaan pusat, yang kedua tinggal dikota rawon, juga mengurus perusahaan, yang disini cuma aku sama papah, sama mamah dan adik perempuanku masih sekolah!" jawab Nita dengan antusias menceritakan keluarganya.
jgn lsma2 thor updatenya
terimakasih thor
ada ya?