[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [27]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Luka yang membekas dalam hati terkadang akan pulih sangat lama. ...
...•Celine Celina...
Beberapa jam telah berlalu, bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu dan saat ini dia sedang membereskan buku-bukunya.
"Ris, lo pulang sama siapa?" tanya Celine.
"Gak tau, mungkin di jemput," jawab Iris.
"Lo lagi gak berantem kan sama Zhein?" tanya Celine.
"Engga lin, katanya sih Zhein ada urusan penting," jawab Iris.
"Urusan penting?" tanya Celine.
"Iya, gak tau apa urusannya," jawab Iris.
"Kenapa emangnya lin?" tanya Iris.
"Tadi juga katanya Ken lagi ada urusan penting, apa jangan-jangan... " jawab Celine sambil menatap ke arah Iris yang juga sedang menatap kearah dirinya.
"Gak, jangan bilang kalau mereka mau berantem," ucap Iris yang seperti sudah menebak isi pikiran Celine.
"Pasti gak beres," ujar Celine.
"Baru aja kemarin dapet cap biru-biru eh sekarang mau di tambah lagi," ucap Iris yang sudah jengah dengan perbuatan Zhein, seolah tidak pernah kapok bahkan tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri.
"Mau nyusul gak?" tanya Celine sambil memakai tas nya.
"Kemana?" tanya Iris yang masih memasukan beberapa pensil miliknya.
"Liat mereka, siapa tau belum pergi," jawab Celine.
"Tapi, emang Zhein gak bakalan apa-apa kalau kita kesana?" tanya Iris.
"Gue harap gak bakalan apa-apa tapi di sisi lain gue gak mau ken kenapa-kenapa," jawab Celine.
Apa yang dikatakan oleh Celine ada benarnya, siapa yang ingin melihat wajah lebam-lebam dengan di penuhi luka ketika Zhein datang menghampirinya, hal itu malah membuat Iris yang melihatnya sakit dan ngilu sendiri.
Bahkan hal terburuknya bisa jadi Zhein bernasib sama seperti Haiden yang di larikan ke rumah sakit. Tapi semoga saja Zhein tidak bernasib seperti itu.
"Yaudah ayo," ajak Iris sambil melangkahkan kakinya bersama dengan Celine.
Mereka berdua melangkahkan kakinya ketempat dimana Zhein dan yang lainnya sering berkumpul, antara di kantin belakang atau di rooftop.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di kantin belakang, namun di tempat tersebut tidak ada siapapun, biasanya di jam seperti ini Zhein masih berkumpul dengan teman-temannya.
"Kayaknya kita udah terlambat Ris," ucap Celine,
"Coba kita liat ke parkiran aja, siapa tau mereka masih disana," ujar Iris, tanpa menunggu jawaban dari Celine, dirinya langsung melangkahkan kakinya kearah parkiran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantin belakang itu.
"Ris, tungguin gue," teriak Celine sambil menyusul Iris yang sudah melangkahkan kakinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di parkiran, Iris tidak melihat ada motor milik Zhein atau pun motor milik ken dan Haiden, hanya ada beberapa motor yang mungkin milik murid lain.
"Kayaknya kita beneran terlambat deh Ris," ucap Celine.
Iris bukan ingin mengekang apa yang ingin di lakukan oleh Zhein, dia hanya tidak ingin Zhein kenapa-kenapa lagi pula semua ini demi kebaikan Zhein, itu saja.
"Iya deh lin, yaudah biarin aja, emang kebiasaan mereka kayak gitu," ucap Iris yang sudah pasrah.
"Yaudah dek kita pulang aja," ujar Celine.
"Lo naik bus?" tanya Iris.
"Iya, gue lagi males buat di jemput, lain kali pengen naik bus," jawab Celine.
"Yaudah gue ikut lo naik bus aja ya," ucap Iris.
"Ayo," ajak Celine sambil melangkahkan kakinya menuju ke halte yang jaraknya tidak terlalu jauh, cuman tinggal menyebrang jalan saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tanpa menunggu lama, sesampainya di halte, mereka langsung mendapatkan bus yang masih dalam keadaan belum penuh.
"Belakang Ris," ucap Celine sambil menuntun Iris untuk duduk di kursi belakang. Iris hanya mengikuti langkah Celine, akhirnya mereka berdua mendudukkan dirinya di kursi belakang.
Kring.. Kring..
Dering ponsel milik Iris berbunyi, menandakan ada panggilan masuk dari seseorang, Iris langsung mengangkat telpon tersebut tanpa melihat siapa namanya.
...Di telpon....
Halo. ucap Iris.
Ris, lo udah pulang? tanya pria yang menelpon Iris,
Udah Zhein, emangnya kenapa? tanya Iris yang sudah mengenali suara tersebut.
Sama siapa? tanya Zhein.
Sama Celine, jawab Iris.
Zhein, lo dimana? jangan bilang mau berantem, gue gak bakalan obatin muka lo, sambung Iris.
Gak, udah dulu ya, hati-hati, jawab Zhein
Tut.
Tanpa menunggu jawaban dari Iris, Zhein langsung mematikan sambungan telponnya, dia seolah tidak ingin mendengar banyak nya lontaran pertanyaan yang akan Iris ajukan.
Sedangkan Iris hanya menghela nafasnya kesal dengan perlakuan Zhein yang seperti itu sambil memasukan ponselnya kedalam tas.
"Kenapa Ris?" tanya Celine yang mendengar helaan nafas Iris yang terdengar sedang menahan amarahnya.
"Kayaknya emang bener deh mereka bakalan berantem," jawab Iris.
"Yang tadi telepon itu Zhein?" tanya Celine.
"Iya," jawab Iris.
"Mereka dimana?" tanya Celine.
"Gak tau, tiba-tiba aja langsung di putusin sambungannya," jawab Iris.
Tiba-tiba saja di tengah percakapan antara Iris dan Celine ada seorang pria yang duduk di sebelah Iris. wangi dari pria tersebut mengingatkan Iris dengan seseorang yang dia kenal.
Revan. ucap Iris dalam hati, wangi dari pakaian pria tersebut mengingatkan Iris dengan Revan, masa lalu la nya itu.
Wangi dari pakaian itu pernah menjadi candu baginya, menjadi wangi kesukaannya, entah benar atau tidak, pria yang saat ini berada di samping Iris itu adalah Revan.
Dia tidak ingin menoleh kearah pria yang di sampingnya itu, seolah memang yang feelingnya mengatakan pria itu adalah Revan.
Semoga dia gak ngenalin gue. ucap Iris dalam hati.
"Ris," panggil pria yang ada di samping tersebut.
Deg.
Jantung Iris seolah berhenti saat itu juga, ternyata feelingnya tentang pria itu adalah Revan benar, bahkan dari suaranya saja Iris sudah bisa mendengar bahwa itu adalah Revan.
"Lo siapa?" tanya Celine yang menatap kearah Revan.
"Gue pacarnya Iris," jawab Revan sambil tersenyum.
"Pacar?" tanya Celine bingung.
"Iya, gue pacarnya Iris, iya kan Ris?" tanya Revan sambil mengacak rambut Iris dengan gemas.
Iris yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam mematung, dulu perlakuan ini selalu Revan berikan padanya ketika dia sedang marah.
"Ris, lo pacaran sama cowok ini?" tanya Celine yang belum mengetahui nama pria yang mengaku sebagai pacarnya Iris.
Iris langsung tersadar dari lamunannya itu, dia tidak ingin berlarut dalam. kenangannya yang bahkan dulu, Revan mencaci dirinya, tidak menginginkan Iris hadir dalam hidupnya dan Revan hanya menjadikan dirinya sebagai pelarian.
"Bukan." jawab Iris sambil menurunkan tangan Revan dari atas kepalanya.
"Ris, kenapa lo gak. ngaku kita pacaran?" tanya Revan.
"Semenjak kejadian lo caci maki gue, di saat itu juga gue benci sama lo van," jawab Iris sambil menatap tajam kearah Revan. Sedangkan Revan hanya diam saja menanggapi perkataan Iris yang membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa.
Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah meninggalkan Iris yang menangis menginginkan dirinya, tapi dia tidak menghiraukan panggilan pilu dari Iris. Dan saat ini, dia merasakan posisi tersebut, tapi Iris tidak membalas perbuatan bahkan perkataan yang keluar dari mulut Revan pada saat itu.
"Ris, lo kenal dia?" tanya Celine bingung.
"Lin, gue turun ya, udah sampai," jawab Iris.
"Eh Ris, lo punya hutang penjelasan ya," ucap Celine sebelum Iris melangkahkan kakinya turun dari bus tersebut.
"Iya lin, nanti lo tagih aja," ujar Iris sambil melangkahkan kakinya keluar dari bus tersebut.
"Ris," panggil Revan.
Saat Revan ingin menyusul Iris yang turun dari bus tersebut, Celine mencekal tangan pria tersebut dan menatap tajam kearahnya.
"Lo masih mau ngaku jadi pacarnya Iris?" tanya Celine dengan tatapannya yang tajam.
"Lepas." ucap Revan.
"Sekali lo sakitin Iris, habis lo gue aduin," ujar Celine sambil melepaskan cekalan tangannya pada Revan saat bus sudah mulai menjauh dari Iris.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗