Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.
Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.
Pergi.
"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."
Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.
"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.
Carla tersenyum kecut.
"Mati atau tetap bersamaku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Suara hentakan kaki menggema di koridor kelas, diujung sana tepatnya di depan sebuah perpustakaan, terdapat dua sejoli yang tengah asik bercengkrama ria. Saling bertukar cerita yang dapat mengundang tawa di keduanya. Rona diwajahnya terlihat begitu jelas, Keisya menyampirkan anak rambutnya ke belakang telinganya sambil tersenyum malu - malu. Jarinya meremat kuat ujung buku yang tengah berada di tangannya. Sekarang dirinya persis seperti gadis biasa yang tengah kasmaran, tanpa ketakutan, kekangan, dan juga penyesalan. Yang ada hanyalah gugup, dan jantungnya yang berdetak abnormal.
"Keisya..."
Alunan suara yang memanggil namanya begitu merdu ditelinganya, Keisya semakin meremat kuat buku yang ada ditangannya seiring dengan irama jantungnya yang semakin bertalu. Mengapa ini begitu sulit?
"Hm i-iya..." Sahut Keisya, sembari matanya melirik ke segala arah. Selain menghindari tatapan lelaki dihadapannya ini, juga untuk mengawasi sosok lelaki yang selalu berusaha ia hindari. Dan apa ini, sial! Suaranya menjadi terbata.
"Hahahahaha."
Mendengar gelak tawa nyaring itu berhasil mengalihkan pandangannya, Keisya menoleh menatap lelaki itu yang tengah tertawa lepas. Entah apa yang dia tertawakan, tapi satu hal yang pasti dirinya tidak pernah melihat senyum serta tawa setulus dan seindah itu. Keisya terpaku sejenak, sebelum jentikan jari membuyarkan lamunannya yang otomatis membawa dirinya ke permukaan.
"Apa yang kau lamunkan?" Tanya lelaki itu dengan tawa yang belum pudar. Bahkan dirinya semakin dibuat tertawa, melihat tingkah Keisya yang menurutnya terlihat begitu menggemaskan.
"Haha, tidak ada.." Jawab Keisya sambil tertawa kikuk.
"Hahahaha, kau lucu sekali.."
"I-iyakah?"
Keisya menepuk jidatnya, lalu menutup mulutnya sendiri, sambil mengumpat pelan. Kenapa jawaban itu yang terlontar? Bikin malu saja.
"Iya Keisya, kau begitu manis. Hingga rasanya aku ingin membawamu per–"
**BRAK!!
KYAAAAA**
Sebagian siswa yang berada di sekitar perpustakaan berhamburan lari, suara seperti reruntuhan itu begitu keras. Keisya terbelalak, jantungnya berpacu cepat. "A-alden.." Gumamnya pelan, sambil langkah kakinya yang mundur perlahan hingga ia menubruk Melvin, lalu bersembunyi di belakang lelaki itu.
Entah dari mana keberaniannya untuk bersembunyi di belakang tubuh Melvin, tapi yang pasti hawa kemarahan Alden, jauh lebih menakutkan sekarang. Kilatan amarah serta tangannya yang mengepal erat, juga tatapan siswa - siswi yang mengarah padanya semakin membuat Keisya ketakutan. Entah apa yang akan ia lakukan sekarang.
"Keisya....ayo kemari.." Ujar Alden sambil mengulurkan tangannya, tidak ada pancaran kemarahan. Suaranya begitu lembut dan tenang, serta langkah kakinya yang santai. Bukannya merasa tenang, malah Keisya semakin menggigil ketakutan. "Ti-tidak mau.." Lirihnya sambil meremas kuat tangannya sendiri, ia tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang.
Melvin, laki - laki itu semakin kebingungan, ia tidak mengerti situasi ini. Tapi meski begitu, satu hal yang bisa ia tangkap. Gadis itu, Keisya tidak mau ikut bersama lelaki di hadapannya ini. Terbukti dengan dia yang masih bersembunyi di belakangnya dengan raut wajah yg ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Keisya, ayo ikut denganku...jangan melawan lagi.."
"T-tidak..jangan..hiks." Keisya semakin ketakutan, nada bicara lelaki itu yang tenang semakin membuatnya cemas. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya, juga jatuh begitu saja. Semua pasang mata juga mengarah padanya, ini memalukan. Pasti dirinya terlihat cengeng.
"Keisya..."
"Dia tidak mau ikut denganmu!"
"Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur!" Sentak Alden saat melihat lelaki kutu buku dihadapannya itu ikut berusaha melindungi Keisya.
"Memang ini bukan urusanku, tapi gadis ini seperti meminta bantuan dengan bersembunyi di belakangku. Kau bisa melihatnya bukan?" Balas Melvin dengan senyuman, sambil bersedekap dada.
"Jangan sok pintar! Hari masih pagi, jadi jangan coba - coba jadi pahlawan kepagian!" Ujar Alden dengan seringaiannya, seraya kakinya terus melangkah maju.
"Apa yang bisa kau perbuat? Ini area sekolah, dan semua pasang mata tengah mengarah padamu. Tidakkah kau malu? Memaksa seorang gadis untuk ikut denganmu, dan itupun di depan umum? Kau laki - laki bukan? Jadi jangan bersikap seperti seorang banci! Laki - laki sejati tidak akan pernah memaksa siapapun, apalagi kepada seorang gadis!" Cecar Melvin dihadapan wajah Alden. Ia paling tidak suka melihat pemaksaan, apalagi terhadap seorang gadis. Bukan sok mengajari ataupun menjadi pahlawan, tapi ini lebih baik dari pada saling adu otot.
"Heh, cuih! Kau jangan sok mengajariku!"
......tbc.......