Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstra Part 3
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Finn yang sedang menulis di bukunya menoleh ke samping, melihat Mamanya yang sedang menonton tv sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Bibir wanita itu dikerucutkan membuat Ia bingung, Ia saja sampai tak fokus belajar karena merasa ada yang aneh dengan sang Ibu.
"Mama kenapa?"
Arabelle menoleh tersenyum kecil pada Finn. "Mama gak kenapa-napa, memangnya ada apa?"
"Apa Mama menginginkan sesuatu?" Tanya Finn. Walaupun Ia masih kecil tapi sering mendengar kalau biasanya Ibu hamil selalu menginginkan sesuatu, kata lainnya ngidam.
Mendengar itu membuat Ara menatap tak percaya Finn, kenapa anak itu bisa tahu kalau sekarang Ia sedang ingin sesuatu?
"Eh enggak kok, Mamakan lagi nonton tv."
"Finn tahu Mama bohong, sekarang bilang saja Mama mau apa? Nanti Finn belikan."
"Tidak usah sayang, sudah ayo lanjutkan belajarnya."
Tapi Finn malah menutup buku tulisnya, anak itu memakai jaket yang tergeletak di sofa. "Mama mau mangga? Coklat? Atau cemilan?"
Ara tersenyum kecil lalu menggenggam kedua tangan Finn, astaga bagaimana bisa anak sekecil ini sudah bersikap seperti orang dewasa? Tanpa di ucapkanpun Finn sudah mengerti, Ia sangat beruntung memiliki anak sepengertian seperti Finn.
"Apa boleh sayang?"
"Iya Mama."
"Em sebenarnya Mama mau es krim."
"Hanya itu?"
"Iya hanya itu saja."
"Aku akan beli di toko dekat rumah, tunggu ya."
"Iya, hati-hati di jalannya."
Finn keluar rumahnya sambil bersenandung kecil, syukurlah ini masih pukul tujuh malam jadi jalanan masih agak ramai. Untuk ke market tidak terlalu jauh, hanya berjalan melewati beberapa rumah saja sudah sampai.
Anak itu membeli tiga es krim berbeda rasa, sedang untuknya hanya membeli permen loli saja. Finn bukan tipe anak yang banyak mau, Ia hanya akan membeli sesuatu jika sangat ingin saja.
Saat kembali pulangpun Ia banyak mendapat sapaan ramah dari beberapa orang, ya begitulah Finn. Anak kecil tampan yang ramah dan baik hati, tapi sifatnya ini pastinya hanya untuk orang tertentu saja. Terkadang Finn bisa menebak karakter orang dengan mudah walau pertama bertemu, dari tingkah laku dan cara bicaranya.
"Ma ini es krimnya."
Arabelle menerima kresek itu dengan senyuman lebarnya, tak lupa mengucapkan terima kasih. Segera wanita itu membuka satu es krim rasa strawbery dan memakannya dengan riang. Akhirnya keinginannya terkabul, sebenarnya sudah dari tadi sore. Ingin membeli tapi rasanya tidak bisa karena Angel sedang sakit dan terus merengek. Tapi akhirnya putranya mengerti, Ara sangat bersyukur.
"Ma."
"Ya sayang?"
Finn memainkan jari-jari tangannya, merasa gugup dengan perasaannya ini. Tapi Ia ingin bercerita, tidak ingin memendamnya sendiri.
"Ma kalau seandainya Papa selingkuh bagaimana?"
Seketika itu juga Ara langsung menoleh, Ia menatap tak percaya Finn. Tapi Ara langsung terkekeh geli sambil tangannya yang tak memegang es krim mengusap rambut Finn.
"Kamu ini masih kecil tapi sudah bicara seperti itu, memangnya Finn tahu apa itu selingkuh?"
"Tidak tahu pasti, tapi Finn sering lihat di film. Berhubungan dibelakang pasangannya, apa begitu?"
Ara menggeleng pelan. "Udah ah kamu ini bicaranya kok begitu, Papa gak mungkin kaya gitu, dia sayang sama kita."
Finn mengangguk kecil lalu menunduk, Ia sekarang malah menjadi malu dan merasa bersalah. Benar juga apa yang dikatakan Mamanya, Ia masih terlalu kecil untuk mengerti itu.
"Sekarang Finn ke kamar tidur, sudah malam, besokkan sekolah."
"Iya, selamat malam Mama."
"Selamat malam."
***
Arabelle melambaikan tangannya saat melihat Finn keluar dari gerbang sekolah, tapi keningnya mengernyit melihat seorang anak perempuan yang memeluk tangan Finn, sedang wajah putranya datar tanpa ekspresi.
"Hallo tante cantik!" Sapa anak perempuan itu sambil melambaikan tangan padanya, tapi tangan satunya masih memeluk tangan Finn.
"Hai cantik, nama kamu siapa?"
"Nama saya Lilia, pacar Finn."
Mendengar itu Finn langsung menoleh, Ia menyentak kasar tangan wanita itu yang dari tadi terus memeluknya. "Enak saja, jangan dengarkan dia Mama!"
"Haha jadi kapan kalian sudah jadian, kenapa Mama tidak tahu Finn?" Goda Ara, entahlah Ia selalu senang sendiri menjahili putranya itu.
"Ck Ma ayo kita pulang!"
"Kami baru kemarin berpacaran. Bukankah kami pasangan kekasih yang cocok tante? Cantik dan tampan."
"Kau centil bukan cantik!" Ketus Finn dengan wajah datarnya.
Lilia tak tersinggung, Ia malah kembali memeluk tangan Finn dan anak laki-laki itu berusaha melepaskannya tapi Lilia memeluknya erat. Sedang Ara yang melihat kedekatan mereka terkekeh geli, astaga mereka masih kecil tapi bersikap seperti orang dewasa. Di umurnya dulu saat sekecil ini Ia sama sekali belum mengenal apa itu berpacaran.
"Apa boleh Lilia panggil tante Mama?"
"Tidak boleh!"
Itu bukanlah jawaban Ara, melainkan Finn. Tentu saja Finn tidak mau Lilia memanggil Ara dengan sebutan Mama, memangnya dia siapa? Tapi Lilia tidak mempedulikannya.
"Kata Papa, Mama Lilia sudah bahagia di Surga. Sejak kecil, Lilia tidak pernah merasakan bagaimana memiliki Mama. Apalagi menyebut orang lain dengan sebutan Mama, tapi melihat tante Ara, Lilia seperti melihat Mama."
Arabelle yang mendengar itu dibuat diam, aneh matanya langsung berkaca-kaca. Ia lalu berjongkok, mengusap pipi Lilia pelan. Kasihan anak sekecil Lilia sudah ditinggal Ibunya, apalagi dari bayi sudah di tinggalkan. Lilia anak manis, cantik dan ceria. Padahal ini awal pertemuan pertama mereka, tapi anehnya Ara sudah menyayangi anak itu.
"Iya, Lilia boleh kok manggil tante Mama."
"Makasih.. Mama."
"Sama-sama sayang."
Rengekan Angel di pangkuannya membuat Ara kembali berdiri, bayi cantik itu dari tadi tertidur lelap di pangkuannya.
"Lilia pulang sama siapa sekarang?"
"Lilia dijemput supir kok tante."
"Oh syukurlah, kalau begitu Mama pulang duluan tidak apa-apa? Angel kayanya udah pengen minum susu."
"Hehe iya Mama, sampai jumpa lagi." Lilia mengecup pipi kanan Ara, tak lupa mengecup kedua pipi Angel gemas. Tapi saat akan mencium Finn, anak itu langsung menahan kepalanya.
"Finn kita harus melakukan tanda perpisahan dulu." Rengek Lilia berusaha mencium Finn.
"Tidak mau!"
Finn segera berlari masuk ke mobilnya yang tak terlalu jauh, menghindari wanita mengerikan itu. Hari-harinya di sekolah berubah semenjak anak baru itu pindah. Finn kira biasa saja, tapi ternyata anak perempuan itu sangat aktif dan mengejar-ngejarnya terus. Bahkan tak malu mengungkapkan perasaan, dan sampai bilang pada seluruh murid kalau Ia adalah pacarnya. Gila!
Walaupun Finn sudah menolak puluhan kali dan berusaha menghindar, tapi tetap saja Lilia terus mengejarnya, bahkan anak itu semakin agresif. Karena Ia sudah lelah dan menyerah akhirnya Finn pasrah saja apa yang dilakukan Lilia. Toh percuma saja karena Lilia anak perempuan yang bertekad kuat.
"Sayang sepertinya Lilia anak yang manis." Ucap Ara.
Mobil melaju dengan tenang, bukan Ara yang menyetir tapi ada supir pribadi. Sedangkan Ia duduk disamping Finn sambil memberi asi pada Angel, sedang putranya asik memainkan game di handphonennya.
"Manis dari mana? Dia itu cerewet, centil dan kasar!" Degus Finn.
"Tapi cantikkan?"
"Gak!"
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.