Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Nama yang Dikenal
Formasi berdenyut tidak teratur.
Cahaya tipis di perimeter Sekte Langit Abadi berkedip lalu meredup. Setiap denyut terasa seperti tarikan paksa pada dada Xu Tian. Udara berbau logam basah dan tanah hangus. Di kakinya, retakan memanjang, masih hangat.
Satu sosok berdiri di luar lingkaran cahaya yang tersisa.
Pemimpin penyerang itu tidak terluka parah. Pakaian luarnya sobek di bahu, darah mengering di sisi leher, tetapi napasnya stabil. Tatapannya tetap tajam, tidak tergesa.
Xu Tian menyadari satu hal sederhana.
Jika orang ini pergi hidup-hidup, malam ini akan terulang. Dengan nama yang berbeda. Dengan jumlah yang lebih banyak.
Pemimpin itu melangkah maju setengah langkah. Cahaya formasi menyentuh ujung sepatunya dan bergetar.
“Kau terlalu kaku,” katanya. Suaranya serak, tapi tenang. “Ini hanya peringatan kecil. Tidak perlu berdarah.”
Xu Tian tidak menjawab.
Tangan Xu Tian tetap rendah di samping tubuh. Jari-jarinya dingin, mati rasa akibat aliran qi yang dipaksa keluar terlalu lama.
“Kau tahu apa yang terjadi setelah ini?” lanjut pria itu. “Hadiah akan naik. Orang-orang akan datang bukan untuk menguji.”
Pria itu menyeringai tipis. “Dan aku termasuk yang murah.”
Xu Tian menggeser pandangan sesaat ke sisi kanan.
Chen Yu berdiri di balik garis kedua. Pedang latihan di tangannya tidak bergerak. Punggungnya lurus, tapi bahunya kaku. Nafas Chen Yu terdengar pendek, terpotong.
Xu Tian kembali menatap pemimpin penyerang.
“Aku tidak tertarik dengan harga,” kata Xu Tian.
Nada suaranya datar. Tidak tinggi. Tidak rendah.
Pemimpin itu mengangkat alis. “Kau seharusnya.”
Udara bergetar tipis.
Xu Tian melangkah maju, keluar setengah tubuh dari perlindungan cahaya formasi. Tekanan langsung menghantam. Dada terasa seperti ditekan batu basah.
Pemimpin penyerang menyempitkan mata. “Berani.”
Xu Tian berhenti satu langkah dari pria itu.
Jaraknya cukup dekat untuk mencium bau darah tua dan keringat. Cukup dekat untuk melihat garis halus di sudut mata lawan. Pria ini sudah sering selamat.
Xu Tian berbicara pelan. “Jika kau hidup, sekte ini tidak akan punya malam tenang.”
Pemimpin itu tertawa pendek. “Dan jika kau membunuhku, kau menyalakan api lebih besar.”
Xu Tian tidak menyangkal.
Telapak kaki Xu Tian menekan tanah. Qi mengalir dalam pola paling sederhana. Tidak ada teknik bernama. Tidak ada gerakan berlebihan.
Satu langkah ke dalam.
Siku Xu Tian menghantam tepat di bawah tulang rusuk kiri.
Suara retakan terdengar pendek. Nafas pemimpin penyerang terhenti. Tubuhnya tertekuk refleks.
Xu Tian tidak memberi waktu.
Telapak tangan Xu Tian naik, menghantam tenggorokan dengan sudut sempit. Tidak keras. Tepat.
Suara itu terputus.
Tubuh pemimpin penyerang terhuyung mundur dua langkah, lalu jatuh berlutut. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar. Darah mengalir lambat dari sudut bibir.
Xu Tian berdiri diam.
Detik berlalu.
Pemimpin penyerang roboh ke depan. Kepalanya menghantam tanah dengan bunyi tumpul. Tubuhnya tidak bergerak lagi.
Keheningan menyebar cepat.
Dua kultivator lain yang masih hidup di luar perimeter membeku. Tatapan mereka berpindah dari tubuh pemimpin ke Xu Tian.
Xu Tian merasakan sesuatu mengendur.
Bukan di luar.
Di dalam.
Panel sistem muncul singkat di sudut pandangannya.
[Konsekuensi Tercatat]
Tidak ada suara. Tidak ada getaran tambahan.
Darah meresap ke tanah. Bau besi semakin kuat.
Chen Yu melangkah satu langkah ke depan. Lalu berhenti. Pandangannya tertahan pada tubuh yang tergeletak. Tangan Chen Yu sedikit bergetar, lalu mencengkeram gagang pedang lebih erat.
Xu Tian berbalik setengah badan.
“Kembali ke posisi,” kata Xu Tian.
Chen Yu menelan ludah. “Ya, Guru.”
Dua penyerang tersisa mundur perlahan. Tidak ada kata ancaman. Tidak ada teriakan.
Mereka pergi dengan cepat.
Formasi berhenti diserang.
Cahaya meredup ke tingkat paling rendah, tapi tetap menyala.
Xu Tian menatap tubuh di tanah. Tidak lama. Tidak lama sama sekali.
Di lengan pemimpin penyerang, sebagian kain terbuka. Sebuah tanda kecil terlihat. Ukiran sederhana, tapi rapi. Xu Tian mengenal pola itu.
Bukan kultivator liar.
Xu Tian mengalihkan pandangan.
Langit di timur mulai memucat. Malam bergerak menuju akhir.
Xu Tian berdiri di tempat darah pertama tumpah di wilayah sektenya.
Dan tahu, tanpa perlu kata, bahwa jalan kembali sudah tertutup.
...
Darah mulai mengering.
Xu Tian berlutut di samping tubuh pemimpin penyerang. Tanah di bawah lututnya dingin dan lembap. Bau besi bercampur tanah basah menempel di udara.
Xu Tian membuka kain di lengan mayat itu dengan dua jari. Ukiran kecil terlihat jelas di kulit, belum sepenuhnya pudar. Garisnya rapi, sudutnya presisi. Bukan tanda spontan.
Xu Tian menyentuh tepinya. Kulit di sekitar ukiran lebih keras dari jaringan biasa.
“Terorganisir,” gumam Xu Tian pelan.
Chen Yu berdiri dua langkah di belakang. Chen Yu tidak mendekat. Pandangan Chen Yu tertahan di tangan Xu Tian yang berlumur darah.
Xu Tian merogoh pakaian mayat itu. Sebuah token jatuh ke telapak tangan Xu Tian. Logamnya dingin. Permukaannya halus, tapi beratnya tidak wajar.
Di satu sisi, terukir simbol awan berlapis tiga.
Xu Tian mengencangkan genggaman.
Simbol itu tidak asing.
Xu Tian memasukkan token ke lengan bajunya. Gerakannya cepat. Tidak ada upaya menyembunyikan dari Chen Yu.
Chen Yu melihatnya. Chen Yu tidak bertanya.
Formasi bergetar lemah. Cahaya di perimeter berkedip, lalu stabil di tingkat paling rendah.
Panel sistem muncul singkat.
[Status: Konflik Eksternal Aktif]
[Nama Pendiri: Tercatat – Lingkup Lokal]
Xu Tian menutup panel tanpa membaca ulang.
Xu Tian berdiri. Otot-otot di punggungnya terasa kaku. Setiap tarikan napas membawa rasa logam ke paru-paru.
“Bersihkan area ini,” kata Xu Tian. “Bawa tubuhnya keluar batas.”
Chen Yu mengangguk. Chen Yu memberi isyarat pada dua murid lain. Gerakan mereka kaku, tapi patuh.
Saat tubuh itu diangkat, darah menetes membentuk garis tipis menuju luar perimeter. Tanah menyerapnya tanpa reaksi.
Xu Tian menatap garis itu sampai terputus.
Jika darah ini terlihat oleh pihak yang tepat, pesan akan sampai lebih cepat.
Langit mulai terang. Cahaya pertama menyentuh batu penanda formasi. Bayangannya memanjang, tipis, dan tidak rata.
Xu Tian berjalan kembali ke dalam wilayah inti. Setiap langkah terasa lebih berat dibanding malam sebelumnya.
Chen Yu mengikuti di belakang. Jaraknya satu langkah. Tidak lebih dekat.
“Guru,” kata Chen Yu setelah beberapa saat. Suaranya serak. “Mereka akan kembali?”
Xu Tian berhenti. Xu Tian menatap ke depan, bukan ke Chen Yu.
“Mereka akan digantikan,” jawab Xu Tian.
Chen Yu mengangguk pelan. Chen Yu menggenggam pedang latihan sampai buku jarinya memutih.
Di luar wilayah Sekte Langit Abadi, jauh dari perimeter yang rusak, seorang kurir berhenti di lereng berbatu. Kurir itu mengeluarkan token yang identik. Permukaannya retak halus di satu sudut.
Kurir itu menutup mata sejenak. Lalu berbalik arah.
—
Di Aula Batu Sekte Awan Giok, udara terasa dingin meski fajar sudah tiba.
Seorang tetua berdiri di depan meja batu. Di atas meja, token logam yang sama terletak diam. Darah kering masih menempel di tepinya.
“Nama itu muncul kembali,” kata tetua tersebut.
Tetua lain duduk tanpa bergerak. “Xu Tian.”
Keheningan jatuh singkat.
“Dia seharusnya mati,” ujar tetua pertama.
Tetua kedua mengetukkan jari ke meja batu. Bunyi itu pendek dan keras. “Sekarang dia mendirikan sekte.”
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya perhitungan.
“Sekte kecil,” kata tetua pertama. “Fondasi rapuh.”
Tetua kedua mengangguk. “Justru itu masalahnya.”
Di luar aula, lonceng kecil berbunyi satu kali.
Keputusan tidak diumumkan dengan suara keras.
Namun perintah sudah bergerak.
—
Di Sekte Langit Abadi, Xu Tian berdiri sendirian di tengah wilayah inti. Cahaya formasi berdenyut lemah di sekelilingnya.
Xu Tian membuka telapak tangan. Token dingin itu tergeletak di sana.
Xu Tian menutup jari-jari perlahan.
Angin berputar rendah. Qi di udara bergerak tidak teratur.
Xu Tian tahu, sebelum matahari benar-benar naik, nama itu sudah berjalan di jalur yang tidak bisa dihentikan lagi.