Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidikan pertama
Ombak datang dan pergi dengan irama yang tak pernah tergesa.
Mobil sewaan Nadia berhenti di pelataran parkir berpasir, di bawah barisan pohon cemara laut yang daunnya berdesir dibelai angin. Begitu pintu dibuka, aroma asin menyergap hidung mereka, bercampur bau kayu lapuk dan ikan bakar dari warung-warung kecil di tepi pantai. Di kejauhan, laut membentang biru kehijauan hingga menyatu dengan langit yang bersih nyaris tanpa awan.
"Ya Tuhan, lihat itu!" Nadia melompat turun dengan tangan terentang. "Sudah berapa tahun aku nggak lihat laut? Danti, ayo!"
Danti turun lebih pelan. Ia berdiri di samping mobil, menatap hamparan pasir putih dan buih yang berkejaran di tepian, lalu menarik napas panjang sampai dadanya penuh.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah memotret.
Nadia menyerahkan ponselnya pada seorang bapak penjual es kelapa yang kebetulan lewat, memasang pose paling konyol yang bisa ia pikirkan, lalu menarik Danti ke dalam bingkai.
"Satu, dua, tiga! Senyum!"
Mereka berfoto berdua dengan latar laut yang berkilau. Nadia memeluk leher Danti sambil menjulurkan lidah, Danti tertawa terbahak hingga matanya menyipit. Foto kedua, mereka berlari kecil di tepian air dengan sandal di tangan. Foto ketiga, mereka berpose saling menunjuk dengan wajah dramatis, bergaya seolah sedang menuduh satu sama lain mencuri bekal.
Si bapak penjual es kelapa memotret dengan sabar, bahkan ikut tertawa melihat tingkah dua perempuan dewasa yang bertingkah seperti anak SMA.
Setelah beberapa lama, Nadia mengambil kembali ponselnya, melihat hasilnya, dan tiba-tiba berhenti. Alisnya bertaut, matanya membesar.
"Dan."
"Hm?"
"Sini, lihat."
Danti mendekat dan melongok ke layar. Di salah satu foto, ia sedang menoleh sambil tertawa, rambutnya melambai tertiup angin, cahaya matahari menimpa wajahnya dari samping. Nadia, yang berada di ujung bingkai, nyaris tak kelihatan.
"Ini bagus banget," bisik Nadia. "Kamu nyadar nggak sih?"
"Itu kan foto kita."
"Bukan. Ini foto kamu." Nadia mengangkat wajah dan menatapnya dengan sorot yang tiba-tiba bersemangat. "Dan, kamu harus foto sendirian. Kayak model!"
"Hah?" Danti tertawa. "Jangan aneh-aneh, Nad."
"Aku serius! Sekali aja. Aku yang fotoin."
"Aku nggak bisa pose."
"Nggak perlu bisa. Berdiri saja di sana, lihat laut, dan jangan mikir apa-apa."
Danti menatap sahabatnya, lalu laut, lalu ujung sandalnya yang tenggelam di pasir. Ia teringat betapa dulu ia benci difoto. Setiap foto adalah bukti yang tak bisa dibantah: lengan yang melebar, wajah yang bulat, senyum yang dipaksakan. Ia menghindari kamera seperti menghindari api.
Tapi hari ini, di bawah matahari yang hangat, dengan angin yang membelai rambutnya, ia tidak merasakan ketakutan itu.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Sekali."
"Sekali!" Nadia bersorak. "Oke, berdiri di sana, di tepi air. Ya, di situ. Angkat dagu sedikit. Tangan, tangan... santai saja, jangan kaku seperti tiang bendera!"
Danti tertawa dan mengendurkan bahu. Ia berdiri membelakangi laut, membiarkan gaun putihnya melambai, lalu menoleh sedikit, menatap Nadia dengan senyum yang lahir sendiri, tanpa dipaksa.
"Sekarang lihat ke arah jauh. Seperti mikirin sesuatu yang indah."
Danti menatap cakrawala, membayangkan hari-hari yang menunggunya di depan, dan senyum kecil menyentuh bibirnya.
"Sekarang putar badan! Biarkan rambutmu terbang!"
Danti memutar tubuhnya perlahan, tangan terangkat menyentuh rambutnya yang tertiup angin. Cahaya jatuh di bahunya, memantul di butiran air di kulitnya. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah film, tapi anehnya, ia tak merasa asing.
Ia merasa pulang.
Satu sesi foto menjadi dua, lalu menjadi sepuluh.
Mereka berpindah dari tepi air ke deretan batu karang, dari batang kayu hanyut ke dermaga tua yang catnya mengelupas, dari ayunan tali di bawah pohon kelapa ke perahu nelayan yang terparkir di pasir. Nadia berubah menjadi fotografer yang menuntut: mengatur sudut, memberi arahan, berlari mundur untuk mendapatkan bidikan terbaik, bahkan sempat berbaring di pasir demi mendapatkan sudut rendah.
Danti, yang awalnya canggung, semakin lama semakin menikmati. Ia mencoba pose berbeda, duduk dengan kaki menjuntai di dermaga, berjalan menyusuri tepian dengan gaun terangkat sedikit, bersandar di perahu sambil menatap langit, tertawa lepas ketika sebuah ombak nakal menyambar kakinya.
Ia tak sadar betapa banyak yang telah berubah dalam dirinya. Cara berdirinya kini tegak, bahunya terbuka, dagunya terangkat. Tak ada lagi perempuan yang menyembunyikan diri dari kamera. Yang ada adalah seseorang yang akhirnya memperbolehkan dunia melihatnya.
"Cukup! Cukup!" Nadia akhirnya terengah, menjatuhkan diri di pasir dengan ponsel di dada. "Aku sudah nggak sanggup! Kakiku mati rasa!"
"Kamu yang minta!" Danti tertawa dan menjatuhkan diri di sampingnya.
"Aku nggak menyesal. Ini hari terbaik dalam hidupku."
Mereka beranjak ke sebuah pondok bambu beratap rumbia di tepi pantai, dengan meja kayu rendah dan bantal-bantal lusuh di lantainya. Seorang ibu penjual membawakan dua butir kelapa muda lengkap dengan sedotan dan sendok kecil. Uap dingin mengembun di permukaan batok, dan airnya manis bening seperti embun pagi.
"Ah," Nadia mendesah panjang setelah menyedot seteguk. "Inilah surga."
Danti bersandar pada tiang bambu, memandang laut yang berkilau, menikmati ketenangan yang jarang ia rasakan. Angin sore mulai berembus, menggoyangkan tirai-tirai anyaman di sisi pondok.
Nadia mengeluarkan ponselnya dan mulai memilih foto. "Aku mau unggah beberapa. Biar teman-teman kantorku iri."
"Jangan yang aneh-aneh ya."
"Tenang. Aku pilih yang bagus-bagus." Ia menggulir layar, mengetik keterangan, lalu mengunggah selusin foto sekaligus. Ia meletakkan ponselnya di meja dan kembali menyeruput kelapa mudanya. "Selesai. Mungkin sepuluh orang bakal like. Sebagian besar pasti ibu kosku."
Danti tertawa.
Mereka mengobrol tentang hal-hal ringan: rencana makan malam, resep sambal ikan bakar, kemungkinan menyewa sepeda. Beberapa menit berlalu dengan damai.
Lalu ponsel Nadia bergetar di atas meja.
Sekali. Dua kali. Lalu bertubi-tubi.
Nadia mengernyit dan melirik layar. "Eh? Notifikasi apa ini?"
Ia mengambil ponselnya, membukanya, dan seketika membeku.
"Nad?"
"Dan..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Dan, lihat ini."
"Apa?"
"Lihat ini!" Nadia memutar layar ke arah Danti dengan tangan gemetar.
Layar itu dipenuhi angka. Ratusan tanda suka. Puluhan komentar yang terus bertambah di setiap kali layar disegarkan. Dan di antara semuanya, satu foto menonjol paling mencolok: foto Danti yang berdiri di tepian laut dengan gaun putih melambai, menoleh dengan senyum lembut, rambutnya berkibar ditiup angin, cahaya senja menyelimutinya seperti lukisan.
Jumlah suka di foto itu melonjak setiap detik.
"AAAAAA!" Nadia menjerit sampai penjual kelapa menoleh dari warungnya. Ia berdiri, melompat-lompat di tempat, lalu menjatuhkan diri kembali dengan tangan menutup mulut. "Danti! Dan! Kamu lihat nggak? Kamu lihat?"
"A-aku lihat..."
"Aku nggak pernah punya segini banyak like seumur hidupku! Akunku itu lebih sepi dari kuburan! Sepi, Dan! Kadang cuma ibu kosku yang like, itu pun cuma buat nunjukin dia lagi online!" Ia mengguncang layar. "Ini... ini apa? Ini gila!"
Danti menatap layar itu tanpa berkedip. Jantungnya berdebar kencang. Ia melihat wajahnya sendiri, wajah yang bertahun-tahun ia sembunyikan, ia benci, ia anggap memalukan, kini dikagumi oleh ribuan orang asing yang tak mengenalnya.
Dan yang aneh, ia tidak merasa takut. Ia merasa seperti baru bangun dari tidur yang terlalu panjang.
"Mungkin... mungkin ada yang membagikan," bisiknya.
"Pasti!" Nadia mengangguk liar. "Tapi tetap saja! Itu karena foto kamu, Dan! Bukan karena aku! Bukan karena lokasinya! Karena kamu!"
Nadia tak bisa duduk diam setelah itu.
Ia menyedot habis separuh kelapa mudanya dengan gelisah, mengecek ponsel setiap tiga puluh detik, dan akhirnya berdiri sambil menyambar tasnya.
"Ayo, kita pergi."
"Hah? Ke mana?" Danti menunjuk batok kelapanya yang masih penuh. "Kelapa kita belum habis."
"Bungkus saja! Atau tinggalkan! Pokoknya kita harus pergi sekarang!" Nadia sudah menarik lengannya. "Aku tahu satu tempat. Tempat yang biasa dipakai orang buat foto-foto estetik. Dinding bunga, jembatan kayu, kafe dengan lampu gantung. Tak jauh dari sini."
"Nad, kita baru sampai..."
"Justru itu! Momentum, Dan! Kita nggak boleh buang-buang momentum!" Ia berhenti sejenak, menyadari kebodohan kalimatnya, lalu terkekeh. "Aku terdengar seperti manajer artis, ya?"
"Sedikit."
"Pokoknya ayo!"
Danti tertawa, menyerah, dan membiarkan dirinya diseret ke mobil, meninggalkan dua butir kelapa muda yang dagingnya masih utuh di meja pondok. Si ibu penjual hanya menggeleng sambil tersenyum, dan membereskan batok-batok itu dengan geli.
Tempat itu tersembunyi di balik jalan berkelok, sebuah taman kecil dengan lorong bunga bugenvil yang menjuntai dari atap besi tempa, dinding batu bercat putih yang dihiasi tanaman rambat, jembatan kayu mungil di atas kolam berisi teratai, dan sebuah ayunan besar yang tergantung di bawah pohon rindang. Lampu-lampu kecil berkelap-kelip di antara dedaunan, menunggu senja untuk menyala.
Beberapa orang sudah berada di sana, sebagian berpose dengan ponsel, sebagian mengatur kamera di tripod. Tapi tak ada yang terlihat sebahagia Nadia, yang berlari mengitari taman seperti anak kecil di toko mainan.
"Dan, di sini! Di bawah bunga ini!" Ia menunjuk ke lorong bugenvil yang bergemerlap merah muda. "Berdiri di tengah. Ya, di situ. Tangan di sisi, nggak usah apa-apa!"
Danti menurut, melangkah ke tengah lorong dengan hati-hati. Kelopak-kelopak bunga rontok perlahan, jatuh seperti hujan lembut di bahunya. Terusan putihnya tampak berpadu sempurna dengan latar bunga, dan cahaya sore yang menyusup dari celah dedaunan membuat kulitnya berpendar.
Nadia terdiam beberapa detik, memandangi layar.
"Dan."
"Apa lagi?"
"Aku punya firasat." Suaranya turun, sungguh-sungguh. "Aku pikir kamu bisa jadi model terkenal."
Danti menatapnya, lalu pecah dalam tawa. "Nad, kamu gila!"
"Aku serius!"
"Aku ini ibu rumah tangga..." Ia berhenti, menyadari kata itu tak lagi tepat. "...mantan ibu rumah tangga yang baru jadi janda dan kerja lepas ngetik data. Model?" Ia menggeleng sambil terkekeh. "Kamu kebanyakan kena matahari."
"Lihat foto ini!" Nadia menyodorkan layar. "Lihat! Ini bukan foto biasa! Ada sesuatu di wajahmu, di tatapanmu, yang nggak bisa dibuat-buat. Kamu punya kemampuan untuk membuat orang berhenti dan menatap."
Danti memandangi foto itu lama. Perempuan di sana tampak tenang dan hidup. Matanya memancarkan kepercayaan diri yang lembut, bukan kesombongan, melainkan keteguhan yang lahir dari pengalaman panjang.
Ia hampir tak mengenalinya. Tapi ia menyukainya.
"Mungkin ini cuma kebetulan," katanya pelan.
"Mungkin," Nadia mengangguk. "Tapi bagaimana kalau bukan?"
Danti terdiam. Di kepalanya, sebuah suara kecil yang dulu menertawakan setiap impian.
Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum.
"Baiklah, Nad," katanya. "Kita lihat apa yang terjadi. Tapi kalau kamu mulai bicara soal kontrak dan sponsor, aku pulang naik angkot."
"Deal!" Nadia berseru girang. "Sekarang, ke ayunan! Ayo, ayo, ayo!"
Danti tertawa dan berlari kecil mengikuti sahabatnya, melewati lorong bunga yang berguguran, menuju ayunan besar yang bergoyang pelan di bawah pohon. Sore turun perlahan, menyulut lampu-lampu kecil satu per satu, dan di tengah cahaya keemasan itu, ia duduk di ayunan dengan senyum paling lepas yang pernah ia miliki.
Dan Nadia membidikkan kamera, tanpa tahu bahwa foto berikutnya akan mengubah segalanya.
Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍