NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pewaris Amazon

Reinkarnasi Pewaris Amazon

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: To Raja

Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.

Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.

Hanya ada satu hal, Balas Dendam!

Mari kila mulai permainannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Suara desahan

Jingga beristirahat beberapa saat sebelum akhirnya tidak tahan lagi dan mengambil sebuah tongkat yang disandarkan pada dinding lalu berjalan keluar dengan bantuan tongkat tersebut.

Di panci yang diletakkan di tungku, tersedia sup jamur yang terlihat begitu enak sementara tak jauh dari pondok kecil, seorang pria sedang menjemur pakaian perempuan bersamaan dengan pakaian dalam milik Jingga.

Jingga menutup mulutnya dengan satu tangan, memegang tongkat di tangannya dengan erat-erat, 'pakaianku! kenapa dia mencucinya?'

Tubuh Jingga membeku dengan sangat tegang saat Farhan berbalik menatap Jingga dengan sebelah alis terangkat tinggi.

"Kenapa keluar lagi?" tanya Farhan mendekati Jingga.

Langkah pria yang mendekat itu semakin membuat Jingga menjadi semakin tegang, apakah pria itu akan menggendongnya lagi?

"A.. aku akan masuk," ucap Jingga dengan cepat berbalik menutup pintu dengan keras membuat Farhan tersenyum lebar.

'Dia sungguh manis, tapi juga berbahaya,' Farhan terdiam memejamkan matanya, pemandangan yang ia lihat barusan benar-benar membuatnya tidak bisa menahan diri seandainya perempuan itu tidak menutup pintu.

Perempuan cantik yang berdiri dalam balutan kemejanya tertiup angin yang membuat cetakan tubuhnya terbentuk karena kemeja yang menempel erat-erat di kulitnya, sekali lihat saja siapapun bisa tahu dibalik kemeja itu sudah tidak ada apa-apa lagi, sementara kemeja itu adalah miliknya, bukankah itu sama saja dengan dia yang sedang menutupi tubuh perempuan itu?

Godaan ini terlalu parah, entah sampai kapan Farhan bisa menahannya.

Akhirnya sup yang ada di panci telah masak, Farhan membawanya masuk ke dalam rumah, menyiapkan dua set alat makan dan berjalan ke tempat tidur di mana Jingga sedang menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Mau bangun sendiri atau perlu bantuanku?" tanya Farhan.

Jingga yang sedang memejamkan mata di balik selimut langsung melotot, segera menyingkirkan selimut dan duduk menatap Farhan, "kau mau apa lagi?"

Alis Farhan terangkat tinggi melihat perempuan yang tampak waspada padanya, "apa sekarang kau takut padaku?" tanya Farhan penuh selidik.

Jingga terdiam, ini adalah kehidupannya yang kedua kali, tetapi menghadapi pria seperti Farhan ini benar-benar menguras tenaganya.

"Jangan khawatir, jika aku berniat buruk padamu, maka sudah dari tadi aku melakukannya. Kemarilah, ayo makan," kata Farhan melangkah ke arah kursi duduk di sana sambil menyendok sup jamur ke dalam mangkuk milik Jingga.

Jingga terdiam meramas selimut, 'benar juga, kalau dia berniat buruk, pasti sudah dari tadi dia menerkamku,' Jingga menenangkan dirinya lalu berjalan dengan langkah tertatih menuju meja.

Melihat Jingga yang kesulitan, Farhan segera bangkit dan kembali menggendong Jingga menuju kursi.

Tentu saja dengan hanya menggunakan kemeja milik Farhan, itu tidak cukup untuk melindungi tubuh perempuan itu sehingga sedikit sentuhan bisa membuat Farhan secara kasar merasakan bagian tubuh Jingga, benar-benar ujian!

Setelah selesai membantu Jingga duduk, Farhan kembali ke tempat duduknya, berusaha bersikap tenang sambil menikmati makanannya.

Jingga menahan dirinya untuk tetap tenang, ia mengambil sendok dan mencicipi sup jamur buatan Farhan.

Di luar dugaan, rasanya benar-benar enak!

"Bagaimana kau membuat sup jamur yang sangat enak ini?" tanya Jingga dengan mata berbinar-binar seperti melihat sebuah harta karun.

Di kediaman keluarga Amazon yang tidak kekurangan apapun, Jingga bahkan tidak pernah merasakan masakan koki yang seenak ini.

Tapi bagaimana bisa sup jamur di hadapannya yang tampak biasa-biasa saja mengalahkan makanan buatan koki di rumahnya?

"Ini jamur yang dipetik dari alam liar, tentu saja memiliki rasa yang jauh lebih enak daripada jamur yang biasa dijual di supermarket," jawab Farhan.

"Kau benar, rasanya benar-benar enak, bahkan lebih enak dari sup daging," kata Jingga dengan semangat menikmati sup jamur di mangkuknya.

"Makan pelan-pelan saja, tidak ada yang berebut denganmu. Di panci juga masih banyak, kau bisa tambah sepuasmu," kata Farhan dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya menatap Jingga yang terlalu imut seperti rusa kecil rakus.

"Hm.. aku tidak akan sungkan," ucap Jingga menikmati sup jamurnya, lagi pula dia juga sudah sangat lapar.

Setelah selesai makan, Farhan membersihkan mangkuk mereka dan kembali menemui Jingga yang duduk puas meraba perutnya yang sedikit membuncit karena terlalu banyak makan.

"Apa aku mengantarmu sekarang atau tunggu pakaianmu kering dulu?" tanya Farhan.

Jingga mengangkat kepalanya menatap sang pria yang berdiri begitu kokoh di hadapannya, kemeja hitam dan celana jeans panjang yang dikenakan pria itu membuat Farhan terlihat begitu gagah.

'Sial! aku tidak mungkin jatuh cinta secepat ini!' pikir Jingga dalam hati.

"Tunggu pakaianku kering, antara aku ke jalan raya besar, aku akan mencari tumpangan untuk kembali ke kota," ucap Jingga yang jelas tahu bahwa perkemahan pasti telah selesai dibereskan dan 3 orang itu entah bagaimana kabar mereka, yang jelas ketiganya tidak akan peduli bagaimana kabarnya.

"Kau mau langsung kembali ke kota, bukannya teman-temanmu masih di sini? Mungkin mereka sedang mencarimu," ucap Farhan.

"Mereka sibuk, tidak ada waktu untuk mencariku," kata Jingga.

"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kota nanti. Beristirahatlah di sini, aku harus mengecek perangkap yang ku pasang semalam," kata Farhan segera menutup pintu dan meninggalkan pondok kecil itu.

Tetapi Farhan bukannya pergi mengecek perangkap, ia pergi ke arah tempat Jingga berkemah dan mendapati tempat itu telah dibersihkan sementara 3 orang lainnya tidak ada di sana.

"Benar-benar sudah bersih?" Farhan mengangkat sebelah alisnya, Dia sedikit bingung tetapi tidak memperdulikannya lagi dan memilih masuk ke hutan untuk mengecek perangkap yang ia pasang semalam.

Di tengah perjalanannya, ia melihat 3 orang yang sedang sibuk berfoto di pinggir tebing.

"Perjalanan hari ini sangat menyenangkan, aku sangat menyukainya," kata Tasya sambil tersenyum ceria.

"Kalau begitu lain kali kita akan datang lagi ke sini," kata Arga sambil mengusap lembut kepala Tasya.

"Tapi Kak Arga, aku cemas memikirkan Kak Jingga yang entah di mana, dia--"

"Jangan pikirkan perempuan itu, dia sudah berani mencelakaimu, mendorongmu ke sungai dan hampir tenggelam!" ucap Arga memotong ucapan Tasya.

"Benar sekali, dia tahu kau tidak bisa berenang, jadi dia memanfaatkan waktu saat kami tidak ada untuk mencelakaimu. Entah dia hidup atau mati, itu urusan pribadinya, aku akan menyuruh seseorang untuk mencarinya setelah kita kembali dari sini," kata Brian.

Wajah Tasya tampak cemas, "tapi bukankah kita akan menginap dua malam lagi, kalau saat itu baru menyuruh seseorang untuk mencarinya, bukankah--"

"Siapa yang peduli? Ini adalah akibat karena dia berani mencelakaimu! Seandainya kami tidak mendengarmu berteriak dan tidak menyelamatkanmu, mungkin saat ini kau sudah tenggelam di sungai itu!" kata Brian kesal.

"Benar," Arga mengangguk, "biar dia merasakan akibat dari perbuatannya sendiri!"

Mendengar itu, Tasya langsung memeluk Arga dengan erat, "terima kasih sudah melindungiku. aku berjanji, di kehidupan kali ini akan selalu berada di sisi kalian," kata Tasya.

"Tentu saja," kakak Arga membalas pelukan Tasya, tangannya terjulur menarik resleting Tasya dan menurunkannya pelan-pelan.

"Kak Arga, kau ingin melakukannya di sini?" tasnya panik melihat sekitarnya.

Brian yang berada di belakang mengulurkan tangannya ke balik gaun Tasya dan meraba sesuatu yang pulen di sana, "kenapa? bukankah suasananya pas? lagi pula tidak ada orang di sini."

"Ah.. Aku..." Tasya yang berbicara langsung terbungkam oleh ciuman yang diberikan oleh Arga, sementara kakinya diangkat oleh Brian.

"Kau sangat memuaskan sayang, tidak seperti perempuan yang sok suci itu," bisik Arga dengan permainan tangannya yang begitu lihai menggelitik Tasya.

Farhan yang bersembunyi melihat ketiga orang itu hanya bisa merasa jijik sambil mengeluarkan ponselnya dan mendapatkan beberapa gambar gratis.

'Sekumpulan orang-orang menjiijikan,' ucap Farhan dalam hati sebelum akhirnya berbalik meninggalkan suara desahan yang semakin liar di belakangnya.

1
Allea
ahhh berarti si jingga ini awalnya bodoh y thor 😁
Soraya
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!