Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Hanya Sesaat
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun untuk melakukan kewajiban sebagai umat muslim. Seperti biasa, setelah sholat subuh aku langsung ke dapur. Memasak nasi, menghangatkan air untuk Arman mandi. Pagi ini aku hanya masak nasi goreng karena tidak ada sisa sayuran lagi di kulkas.
Jam setengah lima, Arman terbangun. Aku pikir ia akan langsung marah karena hanya ada nasi goreng. Tapi pagi itu wajahnya berbeda.
Ia duduk di meja makan kecil kami, menatapku yang sedang menyuapi Nisa. Raffi masih tidur nyenyak karena semalam sempat beberapa kali terbangun.
"Al," panggilnya pelan.
Aku menoleh,Jantungku berdebar. Sudah lama Arman tidak memanggilku dengan sebutan itu.
"Ya Mas?"
"Hari ini Mas libur," katanya sambil menyeruput teh yang kubuatkan. "Kita jalan-jalan ya. Sudah lama Mas tidak pernah ajak kamu jalan-jalan."
Mendengar ajakan itu rasanya seperti mendapatkan oase di tengah padang yang tandus.
Entah kapan terakhir kali Arman bicara begitu lembut padaku. Mungkin sebelum Raffi lahir. Mungkin sudah bertahun-tahun lalu.
"Jalan-jalan? Kemana Mas?" tanyaku, tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahku.
"Kemana saja Al, yang penting kamu dan anak-anak senang," jawabnya.
Dia tersenyum, senyum yang sejak lama tidak pernahku lihat lagi.Senyuman yang dulu membuatku yakin akan cintanya.
"Iya Mas," jawabku dengan senyum yang tidak bisa kutahan. Aku merasa begitu bahagia sampai aku lupa apa yang sudah terjadi beberapa hari ini. Aku lupa tentang fitnah uang seratus ribu, aku lupa tentang kue yang diinjak-injak, aku lupa tentang kata cerai itu.
Pagi itu kebetulan Ibu Ratna sudah pergi sejak subuh. Katanya mau ke rumah saudaranya di kampung sebelah,ada pengajian keluarga.
Rumah terasa lebih lega. Tidak ada tatapan menghakimi, tidak ada teriakan melengking.
Aku segera membangunkan Raffi, memandikan Nisa dan Raffi dengan air hangat. Aku memakai gamis terbaikku yang sudah lama tidak kupakai, gamis biru muda yang dulu Arman belikan saat Nisa baru lahir. Aku bahkan memakai sedikit bedak, karena aku ingin terlihat cantik di depan suamiku.
Jam delapan pagi, kami berangkat. Arman meminjam motor temannya. Nisa duduk di depan, Raffi kugendong di depan dengan kain jarik, aku duduk di belakang memeluk mereka berdua.
Kami pergi ke alun-alun kota. Tidak mewah, hanya alun-alun dengan taman bermain kecil dan penjual balon.
Tapi bagi Nisa, itu seperti istana.
"Wah, Ayah, ada ayunan! Nisa mau naik ayunan!"
"Iya sayang, sini Ayah temani."
Arman menggendong Nisa dan menaruhnya di ayunan. Ia mendorong ayunan itu pelan-pelan. Nisa tertawa lepas. Tawa yang sudah lama tidak kudengar.
Raffi yang ada di gendonganku juga tertawa melihat kakaknya.
Aku berdiri di samping Arman, menatap mereka. Air mataku hampir jatuh,bahagia sekali. Sesederhana ini ternyata bahagia itu.
"Mas, terima kasih ya Mas sudah ajak kami jalan-jalan," bisikku.
Arman menoleh padaku,Ia menggenggam tanganku sebentar.
"Maaf ya Al, Mas akhir-akhir ini sibuk, jadi jarang ajak kalian jalan."
Kata maaf itu.Kata yang sudah lama tidak kudengar dari mulutnya.
Kami membeli es krim sepuluh ribuan untuk Nisa, membeli balon warna pink. Raffi tertidur di gendonganku karena kelelahan. Kami duduk di bawah pohon besar, menikmati angin sembari bercerita banyak hal.
Untuk beberapa jam, aku merasa menjadi istri Arman seutuhnya,dalam hati kecilku berkata.Andai kami hidup jauh dari ibu,hanya berempat mungkin akan lain ceritanya, mungkin momen-momen seperti ini akan sering kami rasakan.
Kami pulang jam sebelas siang. Nisa tertidur di motor, balon pink masih dipegangnya erat. Raffi juga sudah terlelap.
Tapi kelegaan itu hilang seketika saat motor kami masuk ke gang rumah.
Di depan pagar rumah, Ibu Ratna sudah berdiri. Bersama dua koper besar dan wajahnya merah padam.
Jantungku rasanya seakan berhenti berdetak.
Ibu Ratna pulang lebih cepat.
"Darimana kalian!" teriaknya bahkan sebelum motor kami berhenti.
Arman mematikan motor dan Nisa terbangun karena teriakan itu.
"Bu? Ibu sudah pulang? Kami habis jalan-jalan Bu, mumpung libur."jawab Arman dengan nada masih santai.
"Jalan-jalan? Jalan-jalan itu pakai uang! Memangnya kamu ada uang?"Ibu Ratna menunjukku. "Pasti pakai uang belanja yang kamu berikan kan, Man? Pasti wanita itu yang memaksa kamu untuk pergi jalan-jalan kan man! Pantas saja stok sayuran di kulkas habis dan kamu bilang uang belanja sudah habis, ternyata uangnya mau dipakai foya-foya!"
Aku langsung turun dari motor sambil menggendong Raffi.
"Bu, kami tidak foya-foya Bu, kami cuma ke alun-alun.Kami juga tidak makan diluar,hanya jajan es krim dan balon untuk Nisa. Satu lagi Bu,saya tidak pernah memaksa Arman untuk pergi jalan-jalan.Saya di ajak Bu! Di ajak!"
"Diam kamu! Perempuan boros! Tidak tahu diri!" Ibu Ratna menarik tangan Arman. "Arman, kamu lihat! Istrimu dandan cantik pakai gamis bagus, pakai bedak, jalan-jalan sama kamu padahal di rumah beras habis! Sayur habis! Dia tidak mikirin Ibu di rumah! Dia malah mentingin jalan-jalan istri macam apa itu!"
Bu Ratna terus saja menghasut Arman.
"Bu, kalau ibu lapar didalam masih ada nasi goreng, saya masak nasi goreng tadi pagi Bu.Bisa kalau mau dihangatkan lagi." ucapku.
Aku marah,aku benci dengan semua perlakuan ibu mertuaku yang terus saja mencari celah untuk menyalahkanku.
"Nasi goreng? Kamu kasih Ibu nasi goreng,nasi sisa kemarin ,nasi goreng sisa Kamu sarapan tadi pagi?Kamu mau Ibu sakit? Nasi goreng itu minyak semua! Kamu mau Ibu kolesterol! Mau Ibu cepet mati!"
Aku terdiam,karna apapun yang kukatakan akan salah.
Arman yang tadi pagi begitu lembut, kini wajahnya mulai berubah. Ia menatapku dengan kesal.
"Alya, kamu mau kasih sisa nasi goreng untuk Ibu?"
"Mas, cuma itu yang ada."
"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau stok sayuran habis,tau gini tadi mas tidak ajak kalian keluar jalan-jalan."
"Mas! Kamu nyesel sudah ajak aku dan anak-anak keluar jalan-jalan? Kamu nyesel sudah mengeluarkan uang untuk tawa anak kamu?" ucapku,aku menatap tak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar.
" Inikah kamu mas?" batinku yang begitu merasa kecewa.
"Cukup! Jangan banyak alasan!"
Balon pink Nisa meletus karena Nisa meremasnya,gadis kecil itu ketakutan mendengar ayahnya membentak.
Nisa langsung menangis kencang.
"Balon Nisa... balon Nisa meletus..."
Aku ingin memeluk Nisa, tapi Ibu Ratna lebih cepat.
"Lihat! Anakmu jadi manja! Balon meletus saja nangis! Semua gara-gara kamu, Alya! Kamu suka manjain anak!"
Ibu Ratna kemudian melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Ia masuk ke dalam rumah, mengambil panci berisi nasi goreng yang kumasak pagi tadi, dan membawanya keluar.
Dengan satu gerakan, ia membuang semua nasi goreng itu ke tempat sampah di depan rumah.
"Nih! Makan tuh nasi goreng! Ibu tidak Sudi makan makanan yang kamu buat dari nasi sisa,apa lagi itu sisa kamu dan anak kamu sarapan.Kamu ini anggap ibu apa!"
Nisa melihat itu dan menangis semakin kencang.
"Makanan Mama dibuang Nenek..."
Raffi yang terbangun akhirnya juga ikut menangis karna melihat kakanya menangis.
Aku berdiri di sana, di depan pagar rumah, di depan tetangga yang mulai keluar karena mendengar keributan lagi.
Aku menatap nasi goreng yang sudah bercampur tanah. Aku menatap Arman, mencari sedetik saja belas kasihan dimatanya.
Arman menatap tempat sampah itu. Aku melihat ada rasa bersalah di matanya. Sedetik saja.
Tapi Ibu Ratna langsung memegangi dadanya lagi. Sandiwara yang sama.
"Arman,sakit hati mama nak! Istri kamu tega sekali memberi mama makanan sisa.Apa dia tidak menghormati mama? Apa dia tidak menghormati kamu sedikit saja?"
Arman langsung panik.
"Bu, Ibu jangan begitu Bu, Ibu tenang Bu..."
Lalu ia menatapku dengan marah.
"Alya! Minta maaf sama Ibu! Sekarang!"
Air mataku yang kutahan sejak pagi akhirnya jatuh. Deras. Tidak bisa dihentikan.
"Mas, sampai kapan Mas? Sampai kapan aku harus minta maaf terus? Sampai kapan aku harus meminta maaf untuk sesuatu yang tidak pernah aku lakukan!Aku cape mas!"
"Jangan drama kamu, Alya! Kamu yang bikin Ibu menangis! Minta maaf!"
Aku berlutut di depan pagar rumah. Bukan karena aku mau minta maaf. Tapi karena kakiku sudah tidak kuat lagi berdiri.
Nisa memelukku. Raffi menangis di gendonganku.
Di depan rumahku sendiri, di depan tetangga yang menonton, aku menangis sejadi-jadinya.
Pagi yang tadi seperti oase, kini berubah menjadi padang tandus yang lebih kering dari sebelumnya.
Dan aku baru sadar, kebahagiaan tadi pagi hanyalah pinjaman. Pinjaman yang harus kubayar dengan tangisan yang lebih menyayat hati.
Bersambung...