Lima tahun aku menikah dengan mas pramudia dan di karuniai anak satu laki laki yang sekarang berusia empat tahun, mas Pram adalah kakak angkatku lulusan teknik sipil, aku rela menjadi ibu rumah tangga setelah lulus kuliah demi menemani beliau mulai dari nol, aku meminta teman ku yang anak pengusaha untuk investasi ke perusahaan suamiku sehingga perusahaan properti mas Pram maju dan berkembang tapi setelah pamit kerja keluar kota, tiba tiba dia bawa madu untukku, kemudian dia pura pura bangkrut untuk mengurangi jatah nafkah ku dan tidak dapat harta gono gini bila menuntut cerai, dikira aku sangat mencintai dan bertahan, Karena aku tidak berpenghasilan, mereka meremehkan aku. ku bikin bangkrut beneran biar tahu rasa, laki laki seperti itu yang tidak tahu terima kasih yuk ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 09 Nasehat Oma
Aku menjemput Zidan ke sekolah, sambil melamun apa yang harus aku lakukan, aku akan mencari pengacara biar dia yang mengurusi percarianku, atau aku daftar sendiri ke pengadilan, Aku sudah nggak mungkin lagi mempertahankan orang yang suka beli apem di luar, sedangkan di rumah sudah punya apem hangat yang selalu tersedia.
Sampai di sekolah Zidan, dia belum keluar, ku tunggu sebentar, akhirnya dia keluar berjalan menuju aku parkir sepeda motorku, Zidan naik ke boncengan sepeda ku, lanjut kulajukan sepeda motorku ke rumah Oma, dan sampai disana aku ketemu oma, aku nangis minta maaf pada Oma, dulu nggak bisa di nasehati oleh beliau dan aku buta karena cinta.
" Nggak apa apa nduk, itu bisa buat pembelajaran hidup dan menguji kita agar bersikap bijak" kata Oma Lidya.
Aku menangis, siapa coba yang kuat melihat kenyataan, kalau keluarga yang kubina selama ini hancur dan yang menghancurkan adalah suami yang selama ini perhatian, sabar dan sayang sama aku.
Sebenarnya setelah pulang dari luar kota, aku mau bikin pengakuan kalau aku punya uang, dan bisa melanjutkan pembangunan rumah bagaian atas, sesuai dengan angan angan ku.
" Mona kamu ajak Zidan pergi beli makan di lantai dasar dan belikan Zidan jajanan" kata Oma Lidya
" Siap oma, ayo Zidan kita belanja di lantai dasar" Ajak Mona.
Zidan ikut Mona belanja dan aku lanjut menangis, dan memberikan rekaman yang tadi aku dengarkan di rumah Mita, kepada oma dan beliau mendengarkannya
" Menangislah sepuasmu, tapi setelah ini kamu bangkit, pertama kamu periksa takut ada penyakit menular yang di sebabkan sek bebas, dan janah lupa kamu pap smear, buat jaga jaga" kata Oma Lidya.
" Aku mau gugat cerai saja Oma aku nggak mau punya suami suka jajan di luar sana" kataku
" Iya lah langkah kedua, kumpul kan semua bukti biar perceraian kamu lancar, nggak usah mikir harta Gono gini, kalau di hitung harta mu pasti lebih banyak nduk, untung masih kami sembunyikan dan di titipkan ke oma dan Valen " kata Oma
" Iya Oma, kan mas pram akan pura pura bangkrut, aku jual saja saham ku biar di akuisisi orang yang beli sahamku, pasti mas pram, nggak akan jadi direktur utama"; Jawabku masih meneteskan air mata.
" Percantik dan bahagiakan dirimu setelah cerai dan kerja sana ke Singapura biar kamu bahagia bersama dengan sahabat mu" kata Oma Lidya.
" Kalau sudah, jangan lupa makan karena menghadapi kerasnya dunia butuh energi, sayang" kata oma sambil terkekeh
Mbak mona datang di bawa rice bowl, empat buah dan di bagi kami satu satu, sesuai nasihat Oma kita harus makan, kalau ingin menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan dan penghianatan.
Rice bowl dengan lauk daging sapi lada hitam, enak banget dan anak ku juga makan, dia sangat suka apalagi kalau di sini dia akan makan dengan lahap, makanan pilihan oma memang enak dan selalu cocok di lidah
" Zidan itu es cream kamu" kata mbak Mona, hadeh Zidan habis makan nasi malah makan es cream, biarlah.
" Kamu nggak di kasih uang nafkah ini ATM kamu bawa dan kamu pakai, takut kamu kekurangan" kata oma.
" Nggak usah oma, nanti saja Oma transfer saja secukupnya ke rekeningku buat bertahan hidup biar nggak ada yang curiga" kata ku
Selesai aku menangis, bercerita, dan menyusun rencana,juga makan aku bangkit lagi, Hati yang rapuh kembali bangkit walaupun masih tertatih tatih.
" Oma, aku belum bikin desain, masih belum fokus maaf ya aku pulang dulu, ingin lihat perkembangan di rumah, sekarang sudah kuat kok" kata ku
" Iya hati hati hadapi semua dengan pikiran dingin, tahan emosi" nasehat oma
Sampai di rumah, ternyata nggak di kunci dan aku pun masuk dan langsung ke kamarku, sementara Zidan ingin main di kamar nya, aku sholat dhuhur dulu kemudian aku tidur, seperti nya Dewi tidur di kamar tamu.
Aku bangun mendengar Zidan menangis kenapa dia, aku pun keluar kamar,
" Ada apa kamu nangis?" tanya ku
" Jajan ku di kulkas habis bund, pasti di makan bibi Dewi, rakus dia masak semua di habiskan" kata Zidan
Kelakuan Dewi bikin pusing, kan anakku menangis dan tantrum karena jajannya di makan dia, apa suaminya nggak ngasih uang buat jajan, sampai dia makan jajan anak kecil, ayah nya datang dan bertanya,
" Semua jajan Zidan hilang yah, pasti di habiskan sama bibi Dewi" adu Zidan
" Nggak usah nangis kamu anak laki laki, Ayo kita beli lagi, apa yang kamu inginkan, bunda yang traktir" kata ku
Zidan pun berhenti menangis dan ku bawa ke supermarket ku temani dia beli jajan,
" Beli secukupnya besok beli lagi, takut kalau hilang" kata ku menasehati Zidan.
" Iya Bun, besok saja beli lagi" jawab anak ku
Aku mengantar anakku beli jajanan, sebagai ganti jajanan yang di makan dan dihabiskan Dewi dan dia hanya mengambil secukupnya, berupa cemilan seperti keripik, katanya nanti di taruh di kamar saja, nggak usah di taruh di kulkas
Di sini banyak umkm tapi kalau jam segini belum buka nanti kalau makan malam kesini lagi.
Kami pun pulang dan masuk rumah ada mas Pram dan Dewi lagi makan, seperti nggak berdosa saja padahal baru saja menghabiskan jajanan Zidan.
" Dek Ini buat kalian berdua, mas tadi beli nasi lauk rendang" kata mas Pram. Nasi bungkusan kecil paket hemat tapi lauknya rendang, aku sering beli seperti itu dulu awal nikah.
" Zidan maaf kan ayah, tadi ayah yang makan jajanan kamu, bukan mama Dewi" kata mas Pram membela Dewi.
" Dek maaf kan mas, bulan ini aku kurangi uang nafkah mu, karena rejeki mas lagi seret, barusan sudah mas transfer" kata dia
Ku lihat uang masuk ke dalam rekening ku tidak sampai setengah dari biasanya,
" Kalau cuma segini, buat Zidan saja nggak cukup mas, untuk listrik, air, iuran RT dan wifi kamu bayar, ini hanya untuk uang jajan Zidan dan bayar sekolah Zidan" kata ku
" Iya nanti aku transfer lagi, kalau mas dapat uang, ini Dewi juga butuh buat periksa ke dokter" kata dia
" Masalah Dewi dan yang lain bukan urusanku mas, aku hanya minta hak Zidan walau kamu terpikat kepada perempuan lain, jangan lupa sama tangung jawab pada anak mu" jawabku
" Kamu ini di kasih nafkah bukannya, terima kasih malah kurang terus, harusnya kan masak sendiri biar nggak boros" kata Dewi
" Aku masak buat garangan, ogah ! kan ada kamu pasti kamu di kasih nafkah lebih banyak, wong kamu mempel terus, aku dan Zidan hanya dapat sisa sisa dari kamu" jawabku sarkas
" Sudah di terima saja dek nanti kalau kurang aku tambah, Kamu nggak usah marah, bangunan perumahan yang terakhir labanya dikit harap maklum ya sayang, itu kamu makan dulu nasi Padang" kata mas Pram.
" ya iyalah kamu kerja sambil zina, ya seret rejekinya" jawabku asal.
" Mbak kamu mau nggak nasinya, kalau nggak mau aku makan nih, aku kurang, isinya cuma sedikit" kata Dewi
" Makan saja aku nggak selera kok" jawabku
" Dewi kamu kok rakus banget sih punya Erina mau kamu makan" kata mas Pram
" Biar saja mas, mbak Erina nggak mau kok dari pada mubazir lebih baik ku makan" kata Dewi
" Makan saja aku masih kenyang kok nanti aku beli sendiri" kataku
" Ayah ! Zidan minta di suapi, dong" kata Zidan manja
Mas pram pun membuka satu bungkus dan dia siap menyuapi Zidan
" Bentar yah aku sembunyikan jajananku dulu biar tidak ada yang mencuri" kata Zidan memasukan jajanannya kedalam kamar.
Dewi melotot dan tersedak karena mendengar omongan Zidan dan di ambilkan minum oleh mas Pram.
Mereka makan bertiga di meja makan dan Dewi manja sama mas Pram, aku jijik lihat nya.
Aku masuk kamar, nggak perduli apa yang mereka lakukan, aku cari buku nikah, yang ku simpan dalam lemari, KTP dan apa saja ya besok aku tanya ke pengacara nya Oma ah.
Bersambung.
terimakasih sudah update 😀👍
penasaran gmn nasib pram klo udah beneran bangkrut