NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Penyelidikan Sang Admin

Kecurigaan adalah makanan sehari-hari bagi seorang Kanaya Putri. Sebagai admin utama sekaligus moderator tertinggi yang biasa mengendus akun clone dan memburu penipu ulung di server Discord terbesar di Indonesia, insting detektif Naya langsung berada di level siaga satu. Dia tidak akan membiarkan ada satu pun kebohongan lolos dari radar pengawasannya, terutama setelah insiden voice channel malam tadi.

Pagi-pagi sekali sebelum bel masuk berdering, Naya sengaja tidak langsung menuju ke kelasnya. Dia memilih untuk mampir ke pos satpam di dekat gerbang utama dengan alasan pura-pura mencari kunci motornya yang hilang.

"Pak Joko, kemarin pagi pas jam enam lewat sepuluh, ada anak kelas XI yang udah dateng belum sih?" tanya Naya sambil menyandarkan tubuhnya di jendela pos satpam.

Pak Joko yang sedang merapikan seragamnya tampak berpikir sejenak. "Jam enam lewat sepuluh? Waduh, seingat Bapak baru ada satu anak, Neng. Tingginya se-Bapak, pake hoodie hitam besar sama masker medis. Jalannya buru-buru banget ke arah gedung lantai dua. Pas Bapak sapa, dia cuma ngangguk kaku terus kabur. Kenapa emangnya, Neng Naya?"

Naya langsung menyipitkan matanya. Tinggi, berhoodie hitam, jalan kaku, dan langsung menuju lantai dua. Semua kepingan puzzle mulai menyatu di kepalanya. "Oh, enggak apa-apa, Pak. Cuma nanya aja. Makasih ya, Pak Joko!"

Begitu Naya melangkah masuk ke ruang kelas XI-A, matanya langsung tertuju lurus ke arah satu target utama di barisan tengah kelas: Rendra Adijaya. Di atas meja Naya sendiri, sudah ada lagi satu cup kopi premium rasa baru dan sekotak salad buah segar tanpa nama pemilik. Naya sengaja tidak menyentuhnya dulu. Dia berjalan pelan, menaruh tasnya di pojok belakang, lalu mulai menyusun taktik interogasi amatir.

Sebelum bel jam pertama dimulai, Naya sengaja berjalan ke meja depan dan mencolek bahu Aldi yang sedang asyik bermain game di ponselnya.

"Di, gue mau nanya dong," bisik Naya dengan nada santai.

"Eh, Naya? Nanya apaan? Tumben bener lo ngajak gue ngomong duluan?" Aldi mendongak dengan wajah heran.

"Si Rendra... dia kalau tidur malam biasanya jam berapa sih? Lo kan sohib kentelnya," pancing Naya sambil melirik Rendra yang duduk tegap di sebelahnya, berpura-pura sangat fokus membaca buku teks Fisika.

"Wah, kalau si Rendra mah misterius, Nay. Tapi kadang kalau malem-malem gue tag di grup kelas buat nanya tugas jam sebelas atau jam dua belas malam, status WA-nya sering online kok. Tapi pas di sekolah, mukanya dipasang sok cool irit ngomong kayak orang kurang tidur. Kenapa? Lo naksir Rendra ya?" goda Aldi sambil terkekeh jahil.

"Najis. Nanya doang gue," sahut Naya datar. Dia melirik tipis ke arah Rendra.

Naya menyadari sesuatu yang sangat menggelikan. Meskipun Rendra pura-pura tidak mendengar obrolan mereka dan tetap menatap lurus ke arah buku Fisika di tangannya, kedua daun telinga cowok blasteran itu perlahan-lahan berubah warna menjadi merah muda. Bahunya menegang kaku seperti manekin yang semennya baru kering.

“Bagus... reaksi tubuh lo ga bisa bohong, pangeran setrikaan,” batin Naya tertawa sinis penuh kemenangan. Kecurigaannya kini melonjak tajam menjadi sembilan puluh persen.

(Jam Pelajaran Matematika - Pacing Diperpanjang)

Jam pelajaran kedua diisi oleh Pak Tono, guru matematika killer yang hobi menunjuk murid secara acak untuk mengerjakan soal rumus kalkulus di papan tulis. Suasana kelas XI-A mendadak tegang luar biasa, terkecuali Naya yang sejak tadi fokus mengamati gerak-gerik targetnya dari pojok belakang.

Rendra yang biasanya selalu tenang menghadapi soal sesulit apa pun, hari ini terlihat sangat gelisah. Di dalam saku celananya, tangannya kembali meremas pulpen mekanik hitam erat-erat.

“Mampus gue... dari tadi pagi Naya ngeliatin punggung gue terus. Dia bahkan nanya-nanya soal jam tidur gue ke Aldi! Gak salah lagi, dia pasti mulai menghubungkan omongan keceplosan gue semalem! Keledai bodoh! Kenapa mulut gue bisa se-ember itu di depan Naya?!” jerit Rendra dalam hati dengan kepanikan tingkat tinggi.

"Rendra Adijaya, silakan maju ke depan untuk mengerjakan soal nomor tiga," panggil Pak Tono dengan suara baritonnya.

Rendra tersentak kecil, membetulkan letak kancing seragamnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu berdiri. Dia melangkah menuju papan tulis dengan ritme tegap fabrikasinya yang biasa dia tunjukkan di depan umum untuk menjaga gengsi pangeran sekolah.

Namun, saat dia selesai menuliskan rumus di papan tulis dan berbalik badan untuk kembali ke kursinya, pandangan mata Rendra tidak sengaja berbenturan langsung dengan mata tajam Naya yang sejak tadi tidak lepas memperhatikan setiap jengkal gerakannya dari pojok kanan belakang kelas.

Naya sengaja menopang dagunya dengan satu tangan, lalu memberikan seulas senyum tipis yang penuh dengan nada intimidasi terselubung. Dia menaikkan satu alisnya seolah sedang berkata: “Gue tahu rahasia lo.”

DEG!

Rendra merasa seperti tersengat aliran listrik berkekuatan sejuta volt tepat di ulu hatinya. Saklar obsesinya mendadak mengalami korsleting total bercampur panik yang amat sangat. Jantungnya berdegup kencang mirip detak jarum jam bom waktu yang siap meledak. Dia langsung membuang mukanya ke arah pintu kelas dengan gerakan patah-patah yang sangat tidak natural. Wajah blasteran Indo-Jermannya mendadak memerah padam sampai ke leher, membuat beberapa siswi di barisan depan berbisik heboh mengira Rendra sedang sakit.

Naya yang melihat reaksi spontan dan sangat berlebihan dari Rendra langsung menahan tawa geli di kursinya. “Ketahuan lo, ya. Pangeran sekolah yang katanya sedingin es batu dan tak tersentuh oleh bumi, ternyata langsung salah tingkah dan mukanya merah padam cuma karena gue liatin. Suara paniknya semalem di Discord... kalau ditekan sedalam mungkin, emang identik banget sama suara si kaku Rendra ini.”

(Jam Istirahat Kedua - Momen Konfrontasi Awal)

Saat kelas sedang sepi melompong karena sebagian besar murid pergi ke kantin untuk mengisi perut, Naya sengaja berjalan perlahan melewati meja Rendra. Rendra sendiri sengaja tinggal di kelas, berpura-pura sangat sibuk membaca buku Biologi tentang struktur sel hewan untuk menghindari interaksi dengan manusia lain. Padahal, matanya sama sekali tidak bergerak membaca sebaris kalimat pun di buku itu.

Naya menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja Rendra, bersandar santai di pinggiran meja Aldi yang kosong. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Rendra dari atas dengan pandangan menusuk yang sangat lekat.

"Rendra," panggil Naya dengan nada yang sengaja dibuat santai tapi penuh dengan jebakan psikologis.

Rendra mendongak perlahan dengan gerakan kaku, memaksakan wajahnya agar sedatar mungkin untuk menutupi jiwanya yang saat ini sedang menggelar konser musik cadas di dalam dada. "Ya? Ada apa, Kanaya?" jawab Rendra, mencoba menekan suaranya sedalam mungkin.

"Tugas kelompok kita buat analisis teks eksplanasi udah kelar gue cari contohnya di internet. Nanti malam mau gue kirim ke nomor WA lo yang kemarin, atau..." Naya sengaja menggantung kalimatnya, memajukan wajahnya sedikit demi menatap lurus ke dalam manik mata Rendra yang mulai bergetar panik hebat. "...mau gue kirim langsung lewat DM Discord lo aja, King_Ren?"

BLARRR!!!

Rendra merasa seperti ada petir raksasa yang menyambar tepat di atas kepalanya di siang bolong yang terik ini. Tubuhnya mendadak membeku sekeras semen pondasi jalan tol. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan lidahnya mendadak kelu tak bertulang.

"D-Discord? Apa itu? Aplikasi game ya? Gue... gue ga pernah main aplikasi kayak gitu. Tugas kelompok kirim ke WA aja," jawab Rendra dengan suara yang mendadak agak cempreng dan pecah di bagian ujung kalimat, berusaha melakukan penolakan mati-matian demi menyelamatkan silsilah harga dirinya yang tersisa.

Naya hanya mendengus geli melihat akting Rendra yang teramat sangat berantakan dan amatir di matanya.

"Oh, ga main ya? Ya udah deh, gue cuma nanya doang kok," cetus Naya dengan seulas senyum sarkasnya yang mematikan, menepuk pundak Rendra sekali dengan santai. "Soalnya muka lo kalau lagi panik dan tremor gini... mirip banget sama shortcut desktop kesayangan gue di internet. Kapan-kapan ajarin gue main game ya, Pangeran."

Setelah mengucapkan kalimat yang menghancurkan mental itu, Naya langsung berbalik badan dan berjalan santai meninggalkan ruang kelas dengan langkah ringan, meninggalkan Rendra yang membeku sendirian di kursinya dalam kondisi lemas tak bertulang.

Wajah Rendra pucat pasi laksana mayat yang baru keluar dari freezer. Dia merosot dari kursinya ke lantai kelas yang sepi dalam mode keputusasaan tingkat dewa.

"Mampus gue... Naya beneran udah tahu identitas asli gue," rengek Rendra pelan dengan suara cempreng aslinya, menjambak rambut pirang gelapnya dengan frustrasi luar biasa. "Gimana ini?! Saklar obsesi gue malah bikin gue masuk ke kandang macan! Nanti malam pasti dia bakal masang jebakan maut yang lebih parah di Discord! Gue harus gimana, Tuhan?!"

Bom waktu rahasia sang pangeran sekolah kini sudah resmi menyalakan sumbu pendeknya, bersiap meledak total nanti malam di dunia digital tanpa ada jalan untuk kembali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!