NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKHIR PERNIKAHAN

Mobil yang ditumpangi Nafisa akhirnya berhenti di depan rumah. Setelah ia membayar, ia turun dan merapikan tas yang tersampir di bahunya sebelum melangkah menuju pintu.

Namun, baru saja ia tiba di depan rumah, pintu itu mendadak terbuka dari dalam.

Damar muncul di baliknya, berdiri tepat di ambang pintu hingga menghalangi jalan masuk.

Nafisa yang melihat keberadaan pria itu langsung mengalihkan pandangan. Ia sama sekali tidak berniat meladeni suaminya. Tanpa sepatah kata pun, ia mencoba melewati Damar untuk masuk ke dalam rumah. Seketika pria itu justru bergeser, kembali menghalangi jalannya.

Nafisa mengembuskan napas kasar. Dengan terpaksa, ia mengangkat wajah dan menatap pria yang kini sudah tak ingin lagi ia sebut sebagai suaminya itu.

“Ada apa lagi?” tanyanya ketus.

Damar menatapnya lekat-lekat. “Dari mana?”

Nafisa terkekeh sinis. Ia bahkan tak habis pikir Damar masih berani menanyakan hal seperti itu kepadanya.

“Apa urusannya denganmu? Memangnya kamu peduli apa?”

Rahang Damar terlihat mengeras. Namun, tatapannya tak beralih dari wajah Nafisa.

“Kamu masih istriku, Nafisa.”

Senyum sinis langsung terukir di bibir Nafisa. Ia menggeleng pelan, lalu menatap Damar dengan sorot mata penuh kekecewaan.

“Itu kemarin, sebelum aku tahu kamu bermain di belakangku bersama ibuku sendiri.” Suaranya bergetar menahan amarah. “Sekarang ...”

Nafisa membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah ia siapkan. Tanpa ragu, ia menempelkan amplop itu tepat di dada Damar.

“Sekarang, kita sudah gak punya hubungan apa-apa lagi.”

Damar menunduk, menatap amplop yang menempel di dadanya, sebelum kembali memandang Nafisa.

“Ini apa?” tanyanya.

“Surat cerai.” Nafisa menarik tangannya, lalu menyilangkan kedua lengan di depan dada. “Cepat tanda tangani. Setelah itu, kamu bebas bersama ibuku tanpa perlu bersembunyi lagi di belakangku, Mas.”

Nafisa tak ingin membuang waktunya lebih lama lagi hanya untuk berhadapan dengan pria yang sudah menghancurkan kepercayaannya. Ia pun melangkah maju, menerobos celah di samping Damar yang masih berdiri mematung.

Damar hanya terdiam di depan pintu, menatap amplop cokelat yang kini berada di tangannya.

Perlahan, ia membuka amplop itu dan mengeluarkan beberapa lembar kertas di dalamnya. Namun, begitu membaca tulisan di bagian atas, matanya seketika membesar.

Surat perceraian.

Jemarinya mencengkeram kertas itu semakin erat. Ia buru-buru membaca lembar demi lembar. Namun, semakin jauh ia membaca, semakin tak percaya dirinya dibuatnya.

Di dalam surat tersebut tercantum sejumlah poin perjanjian perceraian. Anehnya, sebagian besar isinya hampir sama dengan kesepakatan yang pernah ia susun bersama Nafisa.

Damar menelan ludah. Tangannya mulai gemetar ketika sampai pada bagian pembagian harta.

“Dia benar-benar ingin cerai?” gumamnya, nyaris tak percaya.

Damar kembali memeriksa lembaran itu, memastikan dirinya tidak salah membaca. Namun, hasilnya tetap sama.

“Bahkan gak ada pembagian harta gono-gini?”

Rahangnya mengeras. Tanpa membuang waktu, Damar berbalik dan melangkah cepat menyusul istrinya.

“Nafisa!”

Tak ada jawaban.

Langkahnya semakin lebar ketika menyadari Nafisa sudah masuk ke kamar yang dulu mereka tempati bersama. Damar mengekor hingga tiba di depan pintu, lalu mengetuknya keras-keras.

Tok! Tok! Tok!

“Nafisa! Cepat keluar!”

Beberapa saat kemudian, pintu akhirnya terbuka. Nafisa muncul di hadapannya dengan wajah datar.

“Ada apa lagi?” tanyanya dingin.

Damar langsung mengangkat surat perceraian di tangannya.

“Kenapa kamu serakah sekali, Nafisa?” hardiknya. “Kenapa gak ada pembagian harta gono-gini?! Di sini seharusnya aku dapat kenapa semua hartanya kamu makan semua?”

Nafisa menatapnya beberapa detik tanpa menunjukkan reaksi berarti. Kemudian, ia mengembuskan napas pelan, seolah pertanyaan Damar hanya membuang-buang waktunya.

“Tunggu sebentar,” jawabnya tenang. “Aku ambil sesuatu dulu supaya Mas bisa ingat.”

Damar terdiam.

Keningnya berkerut mendengar jawaban itu. Pintu kamar kembali tertutup, meninggalkan Damar yang masih berdiri di depan sana dengan surat perceraian di tangannya.

Namun, tak lama kemudian, pintu itu kembali terbuka. Nafisa muncul sambil membawa sebuah ponsel. Tanpa banyak bicara, wanita itu menekan layar ponselnya, lalu memutar sebuah rekaman suara.

“Aku, Damar Adityawarman, berjanji bahwa jika suatu saat aku mengkhianati istriku, Nafisa Hanum Salsabila, maka saat kami bercerai nanti, seluruh harta ini akan menjadi milik istri sahku.”

Damar seketika membeku.

Belum sempat ia mencerna kalimat tersebut, suara Nafisa kembali terdengar dari rekaman yang sama.

“Aku, Nafisa Hanum Salsabila, berjanji bahwa jika aku berselingkuh, seluruh harta yang kami miliki akan diberikan kepada suamiku. Namun, jika kami sama-sama berselingkuh, harta tersebut akan dibagi dua.”

Klik.

Rekaman itu berhenti.

Damar menatap ponsel di tangan Nafisa dengan wajah tegang. Ingatannya perlahan kembali pada janji yang mereka buat setelah menikah. Kala itu, ia sendiri yang mengusulkan perjanjian tersebut. Ia ingin memastikan bahwa tak seorang pun di antara mereka akan mengkhianati pernikahan tanpa menanggung konsekuensinya.

Namun, siapa sangka, justru dirinya sendiri yang melanggar janji itu.

‘Sial.’

Damar mengepalkan jemarinya, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai menguasai dirinya.

“Gimana, Mas? Masih ingat?”

Pertanyaan Nafisa membuat Damar perlahan mengangkat wajah. Ia menatap wanita yang pernah menjadi istrinya itu, berharap menemukan sedikit celah untuk mempertahankan dirinya. Namun, tatapan Nafisa begitu dingin hingga membuat kata-kata yang semula ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokan.

“Masih gak mau terima?” Nafisa menyilangkan tangan di depan dada. “Lagian, yang membuat janji seperti itu, kan, kamu sendiri, Mas. Kenapa sekarang malah kamu yang koar-koar gak terima? Menyesal, ya, sekarang?”

Ia ingin membantah, tetapi untuk apa? Semua yang dikatakan Nafisa memang benar.

“Enggak ada gunanya menyesal, Mas.” Nafisa memasukkan ponselnya ke saku, lalu menatap Damar tanpa sedikit pun keraguan. “Ibuku sudah hamil anakmu. Jadi, cepat tanda tangani surat cerai itu supaya kamu bisa segera menikahi ibuku.”

Damar mengembuskan napas panjang. Pandangannya beralih pada surat perceraian yang masih berada di tangannya.

“Pena,” pintanya lirih.

Nafisa tak menjawab. Ia hanya mengambil sebuah pena, kemudian menyodorkannya kepada Damar.

Damar menerima benda itu dengan jemari yang terasa berat. Ia menunduk, membuka lembar terakhir surat perceraian, lalu membaca kembali bagian yang harus ditandatanganinya.

Untuk beberapa saat, akhirnya, Damar menggoreskan tanda tangannya di atas kertas tersebut.

Nafisa masih memperhatikan tangan Damar yang bergerak membubuhkan tanda tangan di atas surat perceraian.

“Sudah selesai. Sekarang kita bukan suami istri lagi.”

Nafisa tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangan, menerima surat perceraian itu, lalu memeriksa tanda tangan yang tertera di bagian bawahnya untuk memastikan Damar benar-benar telah menandatanganinya.

“Oke.”

Setelah memastikan semuanya, Nafisa mengangkat kepala. Senyum di bibirnya menghilang.

“Silakan angkat kaki dari rumahku, Mas. Sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi di rumah ini.”

Ia melipat kedua tangan di depan dada, berusaha menjaga ketenangannya meski ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam hati.

“Mas, aku harap kamu gak melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan padaku. Anggap saja semua ini sebagai pembelajaran supaya ke depannya kamu gak mengulangi kesalahan yang sama.”

Nafisa tak menunggu jawaban. Ia segera menarik pintu dan menutupnya tepat di hadapan mantan suaminya.

Klik.

Begitu pintu tertutup rapat, tubuh Nafisa perlahan bersandar di sana. Kedua tangannya masih menggenggam surat perceraian yang baru saja ditandatangani Damar.

“Sekarang, pernikahan ini benar-benar sudah hancur,” gumamnya pelan.

Nafisa memejamkan mata sembari menarik napas panjang, kemudian mengusap sudut matanya sebelum air mata sempat jatuh.

“Enggak boleh menangis. Sekarang fokus ke depan,” bisiknya kepada diri sendiri.

Ia harus belajar mengikhlaskan semuanya.

Kling!

Suara notifikasi dari ponsel di atas meja membuat Nafisa membuka mata. Lalu melepaskan punggung dari pintu dan berjalan menghampiri meja.

Tangannya meraih ponsel. Begitu layar menyala, sebuah pesan dari Pak Dewangga muncul di bagian pratinjau.

Pak Dewangga: Di mana? Kata Oma kamu sudah pulang.

Nafisa membaca pesan itu sebentar sebelum mengetik balasan singkat.

Ya.

Tak lama kemudian, pesan berikutnya masuk.

Pak Dewangga: Kenapa tidak menunggu saya? Saya sudah beli makan malam.

Tanpa sadar, sudut bibir Nafisa terangkat membentuk senyum tipis. Ia kembali mengetik.

Tak perlu repot-repot, Pak.

Kling!

Notifikasi kembali terdengar. Nafisa melirik layar ponselnya, tetapi kali ini ia tak segera membuka pesan tersebut. Ia hanya meletakkan ponsel di atas meja, tepat di samping surat perceraian yang masih berada dalam genggamannya.

Sementara itu, di tempat lain, Dewangga masih menatap kesal ke arah ponselnya. Sejak tadi, tak ada balasan baru dari Nafisa setelah perempuan itu mengirimkan pesan singkat kepadanya.

Ia mengetuk layar ponselnya, memastikan pesan terakhirnya sudah terkirim. Benar saja, pesannya sudah masuk, tetapi Nafisa tak kunjung membalas.

Dewangga lalu mengalihkan pandangan ke arah makanan di atas meja. Nasi goreng yang sengaja ia pesan khusus untuk Nafisa itu masih utuh, lengkap dengan tingkat kepedasan ekstra yang sudah ia siapkan untuk mengerjai perempuan tersebut.

Sayangnya, rencana itu justru berantakan karena Nafisa pulang lebih dahulu tanpa menunggunya.

“Ada apa, Wangga?” tanya Oma Rima yang sejak tadi memperhatikan tingkah cucunya.

Dewangga segera mengalihkan pandangan. Ia berusaha memasang senyum, meski wajahnya jelas menunjukkan kekesalan.

“T-tidak ada apa-apa, Oma.”

Oma Rima mengangkat sebelah alis, tampak tak sepenuhnya percaya.

Sementara itu, Dewangga kembali melirik nasi goreng di atas meja. Dalam hati, ia mengumpat kesal.

‘Mana sudah pesan nasi goreng ekstra pedas buat ngerjain Nafisa. Eh, korbannya malah pergi. Masa aku yang harus menghabiskan? Ini namanya menggali lubang untuk diri sendiri.’

Ia mengusap wajahnya sekilas, menyesali keputusannya sendiri. Seandainya tahu Nafisa akan pulang lebih dahulu, ia tak akan memesan makanan sepedas itu hanya demi mengerjai perempuan tersebut.

“Dimakan, Wangga. Jangan cuma dilihatin begitu,” ujar Oma Rima sambil menunjuk piring di hadapan cucunya.

Dewangga menoleh dengan senyum kaku. “I-iya, Oma.”

‘Terpaksa, deh.’

Dengan berat hati, ia mengambil sendok dan menyendok nasi goreng tersebut. Bahkan, ia sempat tersenyum kecil, berusaha meyakinkan dirinya bahwa makanan itu tak akan seburuk yang dibayangkan.

Namun, baru beberapa kali dikunyah, matanya langsung membelalak. Rasa pedas yang menyengat seketika menyerbu lidahnya hingga ia nyaris tak sanggup menelan makanan tersebut.

“PEDAS!”

Dewangga buru-buru bangkit dari kursinya. Ia berjalan cepat menuju wastafel, lalu memuntahkan nasi goreng yang masih berada di mulutnya. Tangannya segera meraih gelas untuk mengambil air, kemudian meneguknya berkali-kali demi meredakan rasa terbakar di lidah.

Namun, rasa pedas itu seolah tak mau menyerah begitu saja.

“Ya ampun!” keluhnya sambil mengipasi mulut dengan tangan. “Siapa juga yang sanggup makan beginian?!”

Dari meja makan, Oma Rima justru terkekeh melihat tingkah cucunya.

“Itulah karma,” celetuknya santai.

Dewangga yang masih sibuk meredakan rasa pedas segera menoleh. Ia menatap Oma Rima dengan ekspresi tak percaya.

“Oma, kok malah senang lihat Wangga tersiksa begini?”

Bukannya menjawab, Oma Rima justru tertawa semakin lepas. Bahunya sampai berguncang, sementara satu tangannya menepuk-nepuk meja.

Dewangga hendak mengeluh lagi, tetapi kata-katanya mendadak terhenti. Ia memperhatikan wajah sang oma lekat-lekat.

Wanita tua itu sedang tertawa.

Dewangga terdiam di dekat wastafel. Rasa pedas yang sejak tadi menyiksa lidahnya seolah terlupakan begitu saja saat menyaksikan pemandangan di hadapannya.

Sejak kepergian putra dan menantunya, ia jarang sekali melihat Oma Rima tertawa seperti itu. Wanita yang biasanya lebih banyak diam dan menyimpan kesedihan itu kini terlihat begitu lepas, seolah beban yang selama ini menghimpit hatinya sedikit terangkat.

‘Oma tertawa.’

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!