NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Pertolongan

Aku pergi dengan langkah gontai.

Entah kemana aku harus membawa anak-anak pergi. Pagi masih buta, jalanan masih sepi, kabut masih tebal menyelimuti gang-gang kecil itu. Tas ransel di punggungku terasa berat, bukan karena isinya, tapi karena beban di hatiku.

Raffi tertidur di gendonganku, napasnya teratur di dadaku. Nisa menggandeng tanganku dengan langkah kecilnya yang sudah mulai pelan. Wajahnya terlihat pucat.

Sepanjang perjalanan aku terus berfikir kemana aku akan pergi.Pulang ke rumah orang tuaku? Tidak,itu tidak mungkin.

Aku tidak pernah ingin membuat keluargaku malu,apalagi ayah.

Aku masih ingat betul apa kata ayahku dulu, sehari sebelum aku menikah dengan Arman. Ayah menggenggam tanganku erat di ruang tamu rumah kami yang sederhana.

"Alya, dengarkan Ayah." ucap ayah dengan suara bergetar. "Sesulit apapun keadaannya nanti, jangan pernah kamu keluar dari rumah suamimu. Jangan pernah meninggalkan suamimu. Rumah tangga itu pasti banyak cobaannya. Bagaimana pun kamu harus selalu sabar, itu kunci surga untuk seorang istri."

Kalimat itu yang membuat ku bertahan selama lima tahun. Kalimat itu yang selalu mencegahku pergi saat aku sudah merasa lelah.

Tapi hari ini aku tidak akan lagi menyesali keputusanku.Terlepas aku akan dicap sebagai anak durhaka atau menantu durhaka.

Air mataku jatuh lagi.

"Ma, kita kemana Ma? Nisa lapar Ma," tanya Nisa pelan. Suaranya hampir tidak terdengar.

Aku berjongkok dan menatap wajahnya. Bibirnya kering, matanya sayu.

"Sabar ya nak, nanti kita cari makan," ucapku. Padahal hatiku rasanya perih sekali karena aku sama sekali tidak memiliki uang sepeser pun. Uang dua belas ribu hasil jualan kue kemarin sudah habis untuk susu Raffi. Uang belanja, sudah tiga hari aku tidak mendapatkan uang belanja dari Arman.

"Ya Tuhan, bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan," gumamku dalam hati.

Sepanjang perjalanan, aku tidak memperdulikan setiap mata yang menatap kami. Ada yang menghakimi, ada yang menatap kami dengan perasaan iba.

"Itu kan menantu Bu Ratna ya? Kok pergi bawa anak-anak pagi-pagi begini?"

"Kasihan, anaknya masih kecil-kecil..."

Aku terus berjalan. Meninggalkan komplek itu. Meninggalkan semua bisik-bisik itu.

Aku berjalan tanpa tujuan. Kakiku membawaku ke desa sebelah, desa yang agak jauh dari rumah Arman. Desa yang banyak sawahnya. Aku tidak tahu kenapa, tapi kakiku terus melangkah ke sana.

Sudah hampir dua jam kami berjalan. Nisa sudah tidak kuat lagi. Ia duduk di pinggir jalan dekat selokan kecil.

"Ma, Nisa tidak kuat jalan lagi Ma, kaki Nisa sakit Ma." keluh Nisa,keningnya berkeringat,wajahnya terlihat semakin pucat mungkin karna lapar dan juga lelah karna nisa belum pernah jalan jauh.

Aku juga sudah tidak kuat. Raffi mulai rewel karena lapar,dia terus saja menarik-narik bajuku.

Aku duduk di samping Nisa, di bawah pohon jati yang besar. Kami bertiga duduk di pinggir jalan seperti pengemis. Banyak orang berlalu lalang namun satu orang tidak kami kenal.

Saat itulah sebuah motor matic berhenti di depan kami.

Seorang perempuan paruh baya dengan gamis putih bersih dan kerudung lebar turun dari motor. Wajahnya teduh, bersih, ada senyum di bibirnya. Di belakang motornya ada karung kecil berisi sayuran.

"Assalamualaikum, Nak. Kenapa duduk di sini pagi-pagi?" sapanya dengan suara yang sangat lembut.

Aku terkejut,aku segera berdiri sambil menggendong Raffi.

"Waalaikumsalam Bu..."

Perempuan itu menatapku dari atas sampai bawah. Menatap tas ranselku, menatap Nisa yang pucat, menatap Raffi yang rewel, dan menatap pipiku yang masih memerah bekas tamparan semalam,karna bekas itu masih terlihat jelas.

Terdengar helaan nafas panjang.

"Kamu pergi dari rumah nak?" pertanyaan itu membuatku terdiam.

Aku tidak bisa menjawab. Air mataku langsung tumpah. Pertahanan yang kutahan sejak pagi tadi jebol seketika.

Aku mengangguk mengiyakan.

"Nak,ayo iku ibu.Rumah itu tidak begitu jauh dari sini.Kasian anak-anak, matahari semakin tinggi disini panas ,nanti mereka sakit."ucapnya dengan lembut.

Aku ragu karna aku tidak mengenalnya.

"Jangan takut, Nak nama ibu Maimunah. Orang-orang di sini panggil Ibu Ustadzah Munah. Rumah Ibu di ujung sana, yang ada kebun mangganya."

Mendengar nama Ustadzah, hatiku sedikit lega.

Aku kemudian mengangguk, menandakan aku setuju ikut dengannya.

Ustadzah Munah membonceng kami bertiga pelan-pelan. Nisa duduk di depan, aku di belakang menggendong Raffi dan tas ranselnya sementara karung kecil yang berisi sayuran itu ditinggal dijalan.

" Nanti ada yang ambil." kata ustadzah sebelum kami pergi.

Kurang lebih 5 menit kami sampai didepan sebuah rumah besar, mungkin tiga kali lipat dari rumah arman.Rumahnya tampak asri,halaman depannya luas penuh dengan bunga, ada kebun mangga di sampingnya, ada kolam ikan kecil. Rumah kayu jati yang bersih dan wangi.

"Nak, masuk dulu, sebelum istirahat kita sarapan dulu ya.Sudah siang,kasian anak-anak pasti lapar.Kebetulan ibu tadi pagi ibu sudah masak.

" Tidak Bu terimakasih!" Tolakku halus,aku merasa sungkan dan tidak enak.Apa lagi kami baru saja bertemu, rasanya aku benar-benar tidak enak.

" Jangan begitu nak,jangan sungkan.Rizki tidak boleh ditolak.Dosa!" ucapnya.

Tutur katanya begitu santun dan lembut.

Dalam sekejap aku membayangkan, alangkah bahagianya jika memiliki mertua seperti ustadzah muna.

Ustadzah muna mengajak kami kebelakang tanpa perduli dengan penolakanku.

Di dapur rumah Ustadzah Munah yang bersih dan wangi, ada nasi putih yang masih mengepul, sayur lodeh, telur balado, dan kerupuk tertata diatas meja makan. Makanan yang sudah lama tidak kulihat.

Nisa langsung menatap nasi itu dengan mata berbinar, tapi ia menahan diri dan menatapku dulu.

"Nisa lapar?" bisikku.

Nisa mengangguk pelan dengan wajah tertunduk.

Melihatku masih berdiri ustadzah muna mengambil piring dan mulai mengisinya dengan nasi lengkap dengan lauknya.

" Sudah-sudah ayo dimakan,jangan malu atau canggung anggap saja rumah sendiri."

Aku duduk disebelahku ada nisa dan disebelahnya lagi ustadzah Muna.

"Makan yang banyak ya, Nak. Jangan buru-buru." ucap ustadzah muna.Suaranya terdengar lembut,dia terlihat penyayang sekali.Keibuan dan sangat ramah.

Setelah selesai makan, Ustadzah Munah mengajakku duduk di teras belakang yang menghadap kebun.

"Nama kamu siapa nak,maaf ibu hanya be beberapa kali melihat kamu dikampung sebelah.Tapi ibu tidak mengenal kamu dan tidak tau siapa nama kamu."

" Namaku Alya Bu,ini Nisa anak pertamaku dan ini Raffi."

" Alya, kalau tidak keberatan kamu boleh menceritakan masalah yang sedang kamu hadapi kepada ibu.Barang kali ibu bisa bantu,kalau kamu keberatan dan belum ingin bercerita juga tidak apa-apa." lagi-lagi aku tersentuh dengan tata cara ustadzah muna dalam berbicara.Santun,tenang dan lembut.

Aku menghela nafas panjang, menetralkan perasaanku yang masih bercampur tak menentu.

Dan aku mulai memberanikan diriku ,untuk pertama kalinya, aku mulai menceritakan semuanya pada ustadzah Muna.Semua yang terjadi dari awal hingga aku memutuskan untuk pergi dari rumah suamiku.

Ustadzah Munah mendengarkan tanpa memotong,sesekali wajahnya terlihat terkejut dengan apa yang aku katakan.Aku mengatakan semua yang sebenarnya tanpa aku kurangi atau dilebih-lebihkan.

"Astaghfirullah... Sabar ya, Nak Alya. Kamu perempuan yang kuat. Ingat nak,Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya."

Kata-kata itu seperti angin yang menyejukkan.

"Bu Ustadzah, saya bingung Bu, saya harus kemana Bu? Saya tidak bisa pulang ke orang tua saya Bu, saya malu Bu..."

Ustadzah Munah terdiam lama. Lalu ia menatap ke arah pojok kebunnya. Di sana ada sebuah rumah kecil dari kayu, ukurannya tidak besar, tapi terlihat bersih dan kokoh. Ada satu kamar, dapur kecil, dan kamar mandi di luar.

"Nak Alya, kamu lihat rumah kecil di pojok kebun itu?"

Aku mengangguk.

"Itu dulu rumah Pak Karim, tukang kebun Ibu. Sekarang Pak Karim sudah pulang kampung, jadi rumah itu kosong. Kalau kamu tidak keberatan, kamu tinggal di situ saja dulu bersama anak-anak. Tidak usah bayar sewa, anggap saja kamu menemani Ibu di sini. Ibu tinggal sendiri, suami Ibu sudah meninggal, anak-anak Ibu semua di kota."

Aku ternganga merasa tidak percaya.

"Bu,apa ibu serius? Kami boleh tinggal di situ Bu?"

"Boleh, Nak. Bersihkan saja, nanti Ibu bantu. Di situ ada kasur lipat dan tikar. Listrik dan air sudah ada. Kamu bisa masak sendiri karna disana juga ada dapur dan sudah lengkap dengan peralatan masak bekas dulu pak Karim dan istrinya.

Air mataku jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih.

Aku langsung bersujud di lantai teras itu. Sujud syukur karna sudah dipertemukan dengan orang baik.

Pertolongan Alloh begitu nyata didepan mata.Aku masih tidak percaya.

"Terima kasih Bu, terima kasih banyak Bu Ustadzah..."

Ustadzah Munah mengangkatku.

"Sudah, Nak, jangan bersujud sama Ibu. Bersyukurlah sama Allah."

Siang itu juga, aku dan Nisa membersihkan rumah kecil itu. Rumah kayu yang wangi, lantainya masih bagus, atapnya tidak bocor. Ada jendela kecil yang menghadap kebun mangga.

Nisa berlari-lari senang di dalam rumah kecil itu.

"Mama apa ini rumah kita? Apa kita akan tinggal disini?" celoteh Nisa,wajahnya tampak begitu ceria.

Raffi merangkak di lantai kayu itu sambil tertawa.

Aku menatap mereka. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat tawa tulus di wajah anak-anakku tanpa rasa takut.

Malam harinya, setelah sholat maghrib bersama Ustadzah Munah di rumah besar, kami kembali ke rumah kecil kami.

Aku menidurkan Nisa dan Raffi di atas kasur lipat. Angin dari kebun mangga masuk lewat jendela. Untuk pertama kalinya aku meras tinggal dengan tenang,aman dan nyaman didalam rumah.

Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Tidak ada drama air mata palsu.

Hanya ada suara napas anak-anakku yang damai.

Di atas sajadah kecil yang dipinjamkan Ustadzah Munah, aku berdoa lagi.

"Ya Allah, terima kasih sudah mengirimkan malaikat untuk kami."

Dan malam itu, di rumah kecil ini kami bisa istirahat dengan nyaman meskipun hati kecilku terasa sakit karna pada kenyataannya aku jauh dari suamiku, anak-anakku jauh dari ayahnya.Tapi ini sudah jadi pilihanku,jalanku.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!